
Tidak ada masa orientasi siswa, tidak ada perkenalan klub sekolah, tidak ada acara bersama untuk merayakan penyambutan murid baru. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Saling adu keberuntungan di dalam judi, melakukan trik, menjadi wasit, menaruh taruhan untuk penjudi di depan. Di setiap pojok sekolah tak ada kata sepi. Ruang-ruang kosong selalu digunakan untuk tempatnya mereka bertanding karena penuh.
Kantin penuh, ruang kelas penuh, tengah lapangan penuh, gedung olahraga penuh.
Yuuji, Kenji, dan Hiro berjalan-jalan menyusuri lorong sekolah yang tak sepi di jam sekolah. Banyak murid berlalu-lalang, membawa alat-alat judi mereka, atau sekadar lewat sambil haha-hihi bersama temannya.
"Hari pertama rame banget, ya," gumam Kenji sambil melihat anak-anak seangkatannya yang sudah berjudi di beberapa tempat.
"Bukannya kalau judi gitu kita tetep bayar taruhannya?" tanya Hiro mengikuti arah yang dilihat Kenji.
"Iya. Kita habis bayar *****-bengek peralatan sekolah aja habis 50 dollar lebih, kok mereka bisa santai banget?" Yuuji menghela napas saat kedua temannya hanya mengangkat bahu singkat sebagai jawaban.
Ketiganya sudah selesai berkeliling, tidak semua spot mereka kunjungi karena gedung sekolah yang terlalu besar. Tapi setidaknya beberapa tempat yang bagus sudah mereka datangi.
Dikarenakan kelas Yuuji dan kedua temannya berbeda, mereka harus terpisah di lapangan tengah. Dengan jarak setiap gedung kelasnya yang lumayan jauh, Yuuji melangkahkan kakinya sambil melihat sekitar.
Dari tempat ia berdiri, terlihat gerbang Kelas Diamond. Hari ini dia sudah merasa cukup untuk berkeliling dan memilih untuk segera masuk ke kelasnya. Namun ketika sampai di gerbang, ada beberapa anak berseragam kelas lain yang berdiri dengan hormat di bagian dalam gerbang, sementara di sekelilingnya terdapat beberapa anak Kelas Diamond yang meledeknya.
"He.. ada apa ini?" Yuuji dengan tingkah polosnya mendekati salah satu anak kelasnya. Mereka menatap Yuuji dari atas sampai bawah, lalu dapat menyimpulkan jika Yuuji adalah murid baru di sini.
"Dia nantangin anak Kelas Diamond dan kalah, gini deh ganjarannya. Mampus." Jawaban itu membuat Yuuji cukup terkejut. Ia tahu memang bullying sudah biasa di setiap sekolah. Tetapi yang membuatnya terkejut adalah murid Kelas Diamond yang tampak elegan ternyata masih melakukan hal buruk seperti ini.
Meski dirinya bukan korban bullying sebelumnya, tetapi penindasan seperti ini membuat Yuuji muak. Tahun demi tahun, selalu ada kejadian seperti ini. Dirinya yang lelah dan berharap hal serupa tak akan terjadi di sini, justru kelas yang dipilihnya adalah sarang dari segala kebusukan.
Rasa tidak terimanya Yuuji membuatnya merusak kesenangan kakak kelasnya. Ia menarik satu per satu anak Kelas Clover yang menjadi korban bullying. Tentu ini membuat perhatian kakak kelas sekaligus korban bullying tersita, mereka heran. Beberapa kakak kelas mulai menyoraki aksi sok heroiknya, diikuti murid lain yang entah tahu permasalahannya atau hanya lewat saja. Yuuji tidak peduli dengan cemooh tentang tanggapan dirinya sok keren.
Namun puncak kekesalannya terjadi ketika seorang seniornya mendekat dan memukul pipinya karena Yuuji tak menanggapi. Amarah yang sejak tadi ditahannya langsung meluap hebat. Ia membalas pukulan telak di hidung kakak kelasnya, membuat pemuda lebih tua setahun darinya itu terpental dan tersungkur di lantai gerbang. Hal ini semakin membuat sorakannya mengeras.
Yuuji mendorong anak-anak Clover itu untuk segera pergi sebelum mereka menyerangnya.
Kini, Yuuji sendiri, berhadapan dengan belasan bahkan puluhan kakak kelasnya yang tidak suka dengan sikapnya. Hinaan tak henti meluncur dari mulut mereka, tapi keberanian Yuuji sama sekali tak runtuh. Rasa takutnya tak mampu mengalahkan kekesalannya akibat kenyataan pahit di depan matanya dan pukulan keras di wajahnya.
"Sini bangun!" seru Yuuji kepada kakak kelasnya yang masih sulit berdiri. Yuuji terkekeh kecil, seolah meremehkan. "Padahal pelan, beraninya keroyokan, sih. Duel satu lawan satu ya loyo, bos," ledekan itu mengalir santai dari bibir Yuuji.
Memang ada benarnya, dan kalimat itu berhasil mendapatkan ikan. Kakak kelas lainnya langsung bergerombol menghajarnya, habis-habisan. Jeritan dari siswi Kelas Diamond semakin keras ketika suara rintihan dan teriakan bersatu. Tapi seperti buta dan tuli, guru maupun penjaga sekolah tidak mengacuhkannya.
__ADS_1
Entah, apakah Yuuji akan selamat di hari pertama ia sekolah atau justru menjadi prajurit yang berhasil mengalahkan ribuan pasukan lawan di medan perang. Yang pasti, Yuuji kini menanggapi mereka dengan semangat. Itung-itung untuk pelampiasan amarahnya.
...* * *...
Tentu saja kabar Yuuji yang dikeroyok sudah menyebar. Bukan hanya di Kelas Diamond, kelas lainpun sudah mendapat kabar iu dari majalah dinding sekolah atau dari mulut ke mulut. Banyak pro dan kontra karena ulah Yuuji. Untuk orang-orang yang menjadi korban bullying Kelas Diamond pastinya menaruh simpati pada Yuuji, tapi tidak sedikit pula orang tak bermasalah menganggap Yuuji melakukan langkah pertama yang salah dan berpikir Yuuji hanya mencari sensasi. Sementara mereka yang tak ingin terlibat atau tidak peduli memilih menganggap kabar ini sebagai bagian dari laporan jurnal hariannya.
Kenji dan Hiro bergegas mendatangi gedung kesehatan di sekolahan ini. Bukan hanya mereka berdua, tapi sudah banyak murid yang sebatas kepo bertengger di depan pintu UKS dan mengantri untuk mengintip di dalam.
"YUUUUJJJJJJIIII!!!"
Keduanya berteriak, membelah gerombolan murid yang sejak tadi menutupi jalan. Mereka berseru dan marah dengan siswa-siswi yang sulit diberitahu. Tak sedikit omelan dari orang-orang lain mengiringi jalannya Kenji dan HIro untuk menemui Yuuji.
Yuuji, tengah berbaring di ranjang UKS dengan perban yang mengelilingi kepalanya. Tak lupa wajah yang biru-biru akibat tonjokan dari berbagai manusia mendarat mulus tanpa hambatan. Yuuji terkekeh ketika kedua sahabatnya sudah datang menjenguknya.
"Sebelum kalian khawatirin aku, kenapa kalian ga bawa jeruk atau buah gitu, sih?"
"YEEE! Malah mikirin makanan!"
Kenji dan Hiro menatap sahabatnya yang babak belur. Rasa kesal, sedih, dan bangga terpancar di bola mata. Yuuji hanya tersenyum, seolah menganggap semua baik-baik saja dan ini adalah hari pertama masuk sekolah yang indah. Kenji maupun Hiro sebenarnya tidak perlu memikirkan kondisi Yuuji setelah baku hantam, yang ia sayangkan adalah nasib orang-orang yang kini justru lebih parah dari Yuuji.
Keroyokan mungkin memiliki kesempatan besar untuk menang dari Yuuji yang sendirian. Namun di antara keroyokan dan sendiri itu terdapat bakat bela diri--atau kasarnya adu jotos--yang perlu diperhatikan. Yuuji memang sendiri, dia tidak ada pasukan, tetapi berkat latihan yang keras saat di SMP---atau tawuran antar SMP--membuat Yuuji memiliki bekal jika hal ini terjadi.
"Ga nyangka aja bakal punya musuh di hari pertama," gumam Yuuji yang lagi-lagi meremehkan masalahnya. Kenji yang kesal langsung memukul kepalanya yang berbalut perban. Tidak ada rasa iba, Kenji sudah lelah dengan kelakuan sahabatnya yang mirip sekali dengan ayah Yuuji. Terlalu santai dalam mencampuri urusan orang lain dan menyepelekan kejadian yang sebenarnya bisa mengancam keselamatan.
"Lagian ngapain, siihhh? Aneh-aneh aja, itu bukan urusanmu juga," kini Hiro mulai menirukan gaya Ibu Yuuji ketika Yuuji pulang dengan wajah bonyok.
"Kesel aja, sih." Singkat, dan sebenarnya ini sudah jelas menjadi alasan Yuuji. Mereka tahu jika Yuuji paling tidak suka dengan penindasan, apalagi dilakukan oleh lingkungannya--di mana sekarang Kelas Diamond menjadi lingkungan utamanya.
Kenji dan Hiro enggan melanjutkan pembicaraan mereka yang pastinya akan disangkal Yuuji. Keduanya hanya diam di pinggir ranjang sambil memandangi korban pukulan Yuuji yang berjejer layaknya ikan teri di ranjang maupun lantai dan sofa. Saking banyaknya, UKS tidak mampu menampung mereka di ranjang.
Hiruk-pikuk murid yang penasaran mulai berkurang, hingga tidak tersisa karena guru-guru juga mengusir mereka untuk tidak mengintip atau berusaha mencari informasi lebih dari para korban--meskipun guru-guru itu bingung siapa korbannya.
...* * *...
Hari sudah berjalan hampir seminggu, luka-luka Yuuji sudah mulai pudar, Ia selalu mengunjungi UKS untuk mengobati memarnya. Dirinya hanya tidak mau terlalu lama terlihat sakit, karena hal ini bisa menjadi kesempatan para pembencinya untuk menghajarnya. Ia tahu jika sekolahan ini tidam peduli dengan keselamatan muridnya. Selagi adanya cuan mengalir, ia tidak peduli dengan urusan siswa-siswi dengan kontribusi kecil.
Selama hari-hari sebelumnya, Yuuji terus memikirkan cara untuk menghentikan mereka. Ia sangat tahu kekerasan bukan cara murid Casino School. Jika bukan ilmu pengetahuan, maka jalur judi satu-satunya arah yang ditempuh. Ia akui jika otaknya pentium 3, tidak mampu berpikir terlalu berat dan jauh. Namun selama ia tahu, judi tidak sesulit itu.
__ADS_1
Hanya butuh keberuntungan saja.
"Pemenangnya adalah.. Sean dari Kelas Diamond!"
Untuk kesekian kalinya, koin milik Yuuji ditarik wasit dan diiberikan pada Sean, lawan judinya saat ini. Benar, Yuuji tengah melakukan serangan mendadak, sebuah perjudian dengan mempertaruhkan semua uangnya untuk menghentikan pembullyan di Kelas Diamond kepada kelas lain.
Tapi bukannya untung, malah buntung.
Yuuji sudah kalah dari tantangannya sendiri. Dia memang menang di kekuatan fisik dan kecerdasan bertarung, tetapi kecerdasan itu bukan berarti bisa membantunya untuk menang di perjudian. Mengalahkan puluhan murid tanpa kritis sudah cukup menguras keberuntungannya.
Sean tertawa sinis setelah menerima koin taruhan Yuuji. Ia beranjak dari kursi dan digantikan murid yang menjadi lawan Yuuji selanjutnya. Wajah Yuuji sudah kusam dan pahit, ia sudah tahu endingnya seperti apa.
Bukan sebuah perjudian yang sulit, ini hanya masalah bermain kartu seperti biasanya. Tetapi memang pada dasarnya Yuuji tidak pernah terjun langsung ke bidang ini dan hanya melihatnya dari balik layar ponsel. Ini membuat Yuuji kesulitan.
Dan uang taruhan terakhirnya sudah jatuh di lawannya lagi. Habisnya uangnya mengakhiri perjudian antar murid Kelas Diamond ini. Memang tidak banyak sebagai taruhan di setiap pertandingan, tetapi uang sisa Yuuji sudah habis tak bersisa. Yang perlu ia pikirkan sekarang adalah cara untuk mengisi perut sampai bulan depan.
Kenji dan Hiro langsung membawa Yuuji untuk menjauh dari tempat perjudiannya. Ketiganya bergegas pergi ke kantin. Kenji membawakan makanan untuk Yuuji, begitupun Hiro yang membelikan minuman.
"Bodo banget, sih!"
Yuuji tak mampu membela diri. Bahkan kini beberapa murid kelasnya sengaja datang ke kantin untuk melihat Yuuji dan meledeknya. Hal ini berlaku untuk murid dari kelas lain yang baru saja mendengar kabar Yuuji. Seolah menjadi lelucon di siang bolong, mereka mendatangi Yuuji dan bertanya untuk memastikan--atau malah menjatuhkan mental Yuuji.
Kedua sahabatnya tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa membantu Yuuji dalam hal mentraktir makan dan minum. Lantas ketika merasa sudah lebih baik, Yuuji diantar ke depan gerbang Kelas Diamond. Yang pasti kedatangan mereka disambut oleh anak-anak Diamond lain. Olokan dan hinaan sudah mendarat ke Yuuji meski dirinya baru berdiri di depan gerbang.
"Hahahah! Sok kuat banget!"
"Percuma kuat berantem tapi otaknya ga jalan!"
"Preman bisanya cuma berantem! Logika? Ga pake, bos!"
Lagi--lagi Yuuji tak bisa menjawab. Ia terus melangkah ke dalam. Di setiap lorongnya pasti ada hinaan maupun poster fotonya dengan nama 'LOSER' besar. Ia tidak tahu harus pergi ke mana, yang pasti ia terus mecari spot yang sekiranya jauh dari orang-orang itu. Tapi sayangnya, seluruh murid kelasnya sudah menganggap dirinya sebagai penghianat dan perusak.
Tak beda dengan Jaken serta teman-temannya yang menatap punggung Yuuji dengan tempelan kertas 'LOSER'. Mereka hanya tersenyum, sebagian tertawa mengejek.
"Bodoh banget kalo jadi orang sok hebat di sini."
...* * * * *...
__ADS_1