
Sofa merah empuk, meja kaca mengkilap, air conditioner bersuhu 16°C, aroma sandalwood yang tenang dan hangat. Di dalam ruang kaca transparan tersebut Yuuji dan kelima temannya duduk. Kartu VVIP Kuro dan Tuan Kuga diletakkan di atas meja beling, keenamnya saling memandangi.
Sudah jelas jika kartu yang dimiliki mereka adalah kartu anggota VVIP Kasino Hebihime Gyanburu. Kembali lagi pada ucapan staff sebelumnya, di mana kartu mereka hanya bisa diakses saat pertandingan akhir tahun dimulai.
Kuro yang biasanya membawa kartu-kartu langsung mengeluarkan kartu peserta biasa. Menaruhnya di samping kartu VVIP miliknya. Tama menoleh, menatapnya dengan raut terkejut.
"Iya, iya. Aku dan Yuuji mencetak kartu ini untuk berjaga-jaga kalau Jaken melakukan sesuatu yang merugikan," jelas Kuro sebelum kena semprot. Tama hanya diam, aura tertekan tersirat jelas di bola matanya. Tapi ia segera mengenyahkan pikiran beratnya dan kembali pada perbincangan serius mereka.
"Tama, pertandingan tahun lalu diadakan di mana?" tanya Yuuji sambil meraih kartu peserta biasa milik Kuro, mengamatinya, dan mengambil kartu VVIP Kuro. Menyandingkan dan mencocokkan.
"Gedung sekolah," jawab Tama sembari menyebar pandangan ke luar ruangan. Dari tempatnya duduk, Tama bisa melihat orang-orang berlalu-lalang, keluar-masuk ruang VVIP lain.
Tidak ada tanggapan dari Yuuji. Pemuda itu masih asik memperhatikan setiap detil kedua kartu. Tidak ada yang berbeda selain warna dan sebuah simbol. Yuuji melirik ke kartu VVIP ayahnya dan menyadari simbol yang tertera di kartu VVIP milik Kuro adalah simbol Kasino Hebihime Gyanburu.
"Ah! Ini simbol yang kita pertanyakan dulu, kan? Ini simbol kasino," jelas Yuuji menaruh kedua kartu tersebut, di mana kelima temannya segera mendekat ke meja untuk memperhatikannya juga. Benar, simbol yang dikira simbol khusus jabatan ternyata simbol dari kasino itu sendiri.
"Jika bukan simbol Sekolah Kasino.. apa itu artinya kita bertanding di kasino ini?" tebak Hiro. Kelimanya saling menatap dan menyadari jebakan apa yang sedang dihadapi.
Jaken telah mempersiapkan semuanya. Entah ini sebuah peringatan untuk tidak mengganggu rencananya atau balas dendam karena telah menghancurkan piramida susunan anak buahnya. Yang jelas sekarang Jaken berani turun tangan dan mendorong keenam anak bermasalah ini ke jurang. Jika Jaken sampai mengurusnya sendiri, itu berarti ketenangannya terusik.
Tidak ada yang tahu pasti apa maksud dan rencana Jaken. Terlebih sebuah kartu VVIP lain belum diketahui siapa pemiliknya. Jaken tidak akan memberikan itu secara cuma-cuma kepada murid biasa. Kemungkinan besar pemilik kartu VVIP itu ada sangkut pautnya dengan mereka, mengingat kemungkinan rencana Jaken untuk menghentikan pergerakan. Tapi siapa? Rekan yang mana?
__ADS_1
"Apa di antara kita ada relasi lebih dekat dengan orang lain di sekolah?" Pertanyaan Tama dijawab gelengan kepala yang hampir serempak. Tentunya tidak ada. Sejak menghapus Rosalina dari daftar siswi, keenamnya selalu pergi ke mana-mana bersama. Tidak ada orang luar, tidak ada jembatan relasi lain selain mereka.
"Apa kalian masih ingat tamu VVIP tahun lalu siapa saja?" tanya Yuuji. Ketiga seniornya diam sejenak, mengingat siapa yang menjadi tamu VVIP pertandingan tahun lalu.
"Mmm.. Aoyama, Xia Zhu, Paulo, Emma, Suzuki.. sebentar..," Tama kembali diam untuk mengingat.
"Rosalina jadi tamu VVIP juga," lanjut Fuji diiyakan Kuro yang hanya diam.
"Ah.. Jaken sendiri juga menjadi tamu VVIP," Tama menimpali.
Keenamnya tiba-tiba diam dan menyadari sesuatu.
"Jangan-jangan tamu VVIP terakhir adalah Jaken?" Pertanyaan yang hampir bersamaan mereka ucapkan.
"Sialan. Aku hampir melupakan Jaken yang menjadi tamu VVIP tahun lalu," gumam Tama, mulai kesal karena lemot semenjak bergabung dengan para idiot di depannya.
"Tunggu sebentar. Mari kita berpikir positif. Kalau tahun lalu tamu VVIPnya itu Aoyama dan lainnya yang mana mereka adalah anak buah Jaken sendiri, apa ini bisa menjadi arti lain kalau Jaken akan mengangkat kita sebagai penerus?" Kuro, si negatif yang mendadak menjadi manusia terpositif sedunia jika di situasi mendesak.
"Mana mungkin, bodoh!" Pukulan ringan di kepala menjadi respon paling tepat untuk menyadarkan Kuro yang mulai oleng dari prinsip negatifnya. Fuji mendengus, kemudian menyesali kenapa berteman dengannya.
"Jaken tidak mungkin seperti itu. Dia pasti punya dendam dan berencana menendang kita di pertandingan. Kalau anak buahnya tidak bisa menyingkirkan kita, sudah jelas dia akan turun tangan," jelas Tama.
__ADS_1
Detik itu juga atmosfer berat dan penuh tekanan terasa di ruangan tersebut. Mereka saling pandang. Tatapan cemas yang jelas terlihat dari sorot mata mereka. Tidak bisa dipungkiri mereka sudah terjebak dalam situasi menegangkan ini, mereka sudah masuk ke perangkap Jaken. Yang lagi-lagi mereka baru sadar jika langkah mereka semakin jauh dari Jaken berdiri. Jaken telah menguasai lapangan, menguasai medan perang dan tengah mengarahkan ujung pedang tajam ke leher mereka.
Sialan. Umpatan demi umpatan terlontar di setiap lubuk hati mereka. Merasa bodoh dan tidak berguna. Seolah rencana yang ditata sebelumnya hancur seketika hanya dengan sebuah senggolan kecil jari kelingking Jaken.
Tama yang semakin tertekan segera bangkit dari duduknya dan keluar ruangan. Entah ke mana ia pergi, kemungkinan ke toilet untuk membasuh muka. Yang lain masih anteng di sofa panjang merah, meremas kecemasan hatinya, dan mengakhirinya dengan helaan napas berat.
"Aku mau ke toilet," pamit Fuji lalu keluar.
Hiro menoleh ke arah meja kecil di pojok ruangan. Ada sebuah telepon dan buku menu untuk memesan. Jika diingat, sejak tadi mereka belum memesan makanan atau minuman. Hiro segera pergi mendekat dan membuat pesanan.
"Kalian mau minum apa?" tanya Hiro sembari menatap ketiga temannya. Tetapi tidak ada jawaban, mereka masih terkejut dengan keadaan yang dihadapi.
"Moktail, jus, atau soft drink untuk mencairkan hati yang panas. Ada?" tanya Hiro kepada pelayan di seberang sana.
"Oke, itu saja. Mmm, makanan untuk memperlancar otak ada? ... Oh, oke. Kalau untuk menyembuhkan idiot?"
Mendengar percakapan Hiro, Kuro dan Yuuji langsung mendekat dan melempar pukulan. "Siapa idiot yang ingin kamu sembuhkan?" protes keduanya sambil terus memukuli Hiro.
Kini Kenji mengambil alih panggilan, di mana pelayan tersebut mulai khawatir karena tidak ada makanan yang dimaksud. "Lupakan saja, Nona. Bawakan kami makanan yang bisa menenangkan hati. ... Iya, coklat juga boleh. ... Di ruangan Kuga Yuuma."
Setelah itu panggilan ditutup. Kenji menoleh pada Hiro yang babak belur, kemudian duduk di sofanya, membiarkan sahabatnya dipukuli.
__ADS_1
...* * * * *...