
Hari minggu yang panjang telah berlalu. Tak terasa, waktu terus bergulir hingga jatuh tempo di mana hari pertandingan dimulai. Di mana pada tanggal 1 Desember ini para murid dari Casino School kembali mengerami asrama mereka dan mengikuti berbagai jenis judi.
Sekolahan melegalkan segala cara pertandingan untuk mendapat poin dan uang. Permainan berbahaya yang dulu pernah digunakan Rosalina untuk menyingkirkan pejabat diizinkan, walau pada akhirnya akan terdengar kabar kematian dari peserta judi.
Pihak sekolah tidak peduli. Toh, sudah banyak orang mati karena perjudian. Bukan hal aneh.
Yuuji, berangkat dengan diantar kedua orang tua dan kakaknya. Di gerbang, ia segera masuk setelah memberi kecupan manis kepada keluarganya.
Langkahnya tergesa menuju gedung asrama. Di mana di depan asrama sudah ada tiga temannya yang menunggu. Kenji, Hiro, dan Kuro. Mereka sudah siap dengan mengalungkan kartu peserta di leher.
"Tunggu sebentar, aku taruh bajuku dulu," ucap Yuuji sembari melewati mereka.
Pemuda itu masuk ke dalam kamar dan menaruh tas berisi pakaiannya ke sembarang tempat. Lalu mencari kartu VVIP miliknya yang sudah diberi tali untung menjadikannya kalung. Tak lupa kartu peserta biasa ia simpan di dalam saku celana.
Bersamaan dengan Fuji yang papasan di jalan, keduanya bergegas mendatangi ketiga teman lainnya.
"Di mana Tama?" tanya Yuuji.
"Di ruang tahta. Sebentar lagi kita akan berangkat," jawab Kuro, terlihat rautnya dingin dan pucat. Tampak gugup dan takut.
Dahi Yuuji mengernyit. "Berangkat?" Belum sempat Yuuji ingin bertanya lebih, Tama sudah datang.
"Ayo. Mobilnya sudah datang," ajak Tama diikuti keempat teman lainnya. Yuuji sendiri masih diam di tempat, dia ketinggalan berita.
Tama segera menarik tangannya karena Yuuji tak kunjung bergerak.
"Nanti aku jelasin di mobil," tukas Tama kemudian.
Lantas keenam remaja itu masuk ke dalam limousine milik Casino School. Mobil panjang warna hitam itu bertengger manis di depan gerbang sekolahan. Setelah semuanya masuk, si supir melajukan mobilnya menuju arah kota.
"Jadi.. apa yang terjadi?" tanya Yuuji yang tidak bisa menahan diri untuk bersabar.
"Tamu VVIP bertanding di kasino milik Hebihime," jawab Tama.
Kelima temannya diam sejenak, lalu menghela napas berat. Sudah jelas mereka pasti akan dibawa ke kasino, mengingat kartu mereka mirip seperti kartu VVIP kasino tersebut.
"Lalu kamu tadi ke ruang tahta untuk apa?"
"Suzuki memberitahuku untuk segera berangkat karena peserta lain sudah siap di sana," balas Tama.
"Jaken maksudnya?" koreksi Fuji.
"Bukan. Kartu VVIP ini bukan berjumlah 7 seperti yang kita kira," jawab Tama.
__ADS_1
"Lalu berapa?"
Tama hanya menggeleng. Yang pasti bukan hanya 7 orang. Kini mereka jauh melangkah ke belakang, perkiraan yang meleset. Mereka kira mereka tahu strategi Jaken dan bisa mengalahkannya. Tapi ternyata salah lagi.
...* * *...
Perjalanan menuju kasino sudah selesai. Keenam anak itu langsung turun dan memperhatikan sekitar. Banyak mobil mewah berjajar di area parkir sebelah kiri gedung. Tampak seperti kasino biasanya, selalu ramai dengan para pengunjung kasino.
Salah satunya adalah seorang pria tua yang pernah ditemui Kenji di bagian slot klasik. Pria itu memberi senyuman kepada Kenji. Rautnya masih sama, terlihat ramah dan seolah tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam kasino.
Seorang pelayan mendekati mereka dan membawa mereka masuk. Di mana di dalam kasino masih sama seperti kasino yang dulu mereka datangi. Ramainya, nuansanya. Masih sama. Tidak ada yang berbeda. Lalu kenapa mereka ke sini?
"Apa kita akan melawan mereka?" Yuuji menyeletuk. Tama hanya mengangkat bahu tak tahu. Mereka mengikuti pelayan tersebut. Di mana mereka dibawa ke lantai atas. Jika diingat, keenamnya belum pernah naik ke lantai ini.
Sesampainya di atas, mereka didudukkan di dua sofa merah dan diminta menunggu peserta lain datang.
Sembari menunggu, mereka memperhatikan sekitar dan berjalan ke sana-sini. Di lantai ini hanya ada sofa-sofa berjejer, yang sepertinya hanya untuk lantai pertemuan atau pesta. Di setiap sisi dinding terdapat lukisan-lukisan dengan torehan nama pelukis terkenal. Sudah pasti harga dari selembar kertas itu seharga rumah—atau lebih. Tertata rapi vas-vas tanah liat dengan nuansa mewah, serta beberapa patung yunani kuno yang dibeli dari pelelangan tahunan.
"Habis berapa puluh miliar, ya?" gumam Hiro.
"Yang jelas hanya Hebihime yang bisa beli," jawab Kenji, disusul tawa kecil Hiro.
Mereka kembali duduk ketika pelayan tadi membawakan minuman dan camilan.
"Sebentar lagi peserta lain akan naik. Mohon siapkan kartu VVIP untuk absensi," ucap pelayan itu lalu meninggalkan mereka.
"Oya? Yuu!"
Walau sudah lama tidak bertemu, tapi berkat Ryuuji, Yuuji bisa mengenalinya. Dia adalah Kyousuke Yoneya, sahabat kecilnya Yuuji.
"Kyou—"
"Yuu! Akhirnya!"
Kyousuke berhambur mendekati Yuuji dan memeluknya erat. Pipinya ia gesek-gesekkan di pipi Yuuji, lalu mengecupnya sebelum melepas pelukan. Raut bahagia terpancar jelas di wajah Kyousuke. Tapi berbanding terbalik dengan Yuuji yang kebingunan, sama dengan kelima teman lainnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Yuuji melirik ke orang-orang di belakang Kyousuke yang ternyata hanyalah bodyguard. Kyousuke menyuruhnya turun sebelum menjawab Yuuji.
"Apa Bibi belum memberitahumu kalau aku pindah ke sekolah ini?" tanya Kyousuke sambil menempel pada Yuuji dan menyingkirkan Hiro yang semula duduk di sebelahnya.
"Tapi kata ibu, kamu pindah ke sini awal tahun."
"Yap. Tapi orang bernama Jakun itu memasukkanku ke dalam pertandingan. Sialan," gerutu Kyousuke, bersedekap kesal.
__ADS_1
"Jakun?"
"Raja. Raja di sini," lanjut Kyousuke.
"Jaken maksudnya?" koreksi Tama.
"Ya itu pokoknya. Rambutnya panjang mirip gembel, bedanya dia wangi," Kyousuke menimpali lagi dengan senyum tanpa dosa.
"Siapa yang kamu sebut gembel?"
Suara berat itu muncul dari balik ruangan sebelah. Jaken dan anak buahnya datang mendekati mereka. Dengan jas rapi ala bos mafia, Jaken menatap sinis Kyousuke.
"Sialan. Aku baru ingin bermain tahun depan!" teriak Kyousuke.
"Berisik. Aturan di sekolah adalah aturanku," balas Jaken.
"AtUrAn Di SeKoLaH aDaLaH aTuRaNkU." Kyousuke mengikuti kalimat Jaken dengan berlebihan, membuat Jaken semakin kesal. Tetapi pemuda itu segera mengalihkan perhatian karena Suzuki datang bersama Xia Zhu dan Emma.
Suzuki bergegas mendekati kekasihnya, diikuti dua teman lainnya.
"Xia Zhu?" Fuji terlihat paling terkejut di antara lain. Xia Zhu melempar tatapan sinis dan menyunggingkan senyuman remeh padanya.
Tidak sampai di situ, Aoyama juga ikut naik ke lantai dua. Di belakangnya ada Ichiro dan Paulo. Kedatangan Aoyama dan Ichiro cukup membuat mereka terkejut. Walau Ichiro bagian dari Jaken, tapi mereka tidak menyangka jika Jaken akan menurunkan Ichiro.
"Kurang dua orang," ucap Suzuki.
"Siapa?" tanya Tama.
Suzuki melirik, lalu berjalan menuju tangga dan turun. Bermaksud menjemput sisa peserta lain. Beberapa saat kemudian Suzuki kembali bersama dua perempuan.
"Rosalina dan Meiko," jelas Suzuki sekembalinya berada di samping Jaken.
Yuuji dan Kyousuke terkejut bukan main. Mereka berdiri dan mendekati Meiko. Fuji sendiri mendekati Rosalina yang selama ini sudah menjadi kekasihnya—mereka CLBK.
"Apa yang kamu lakukan di sini?!" Pertanyaan yang sana terlontar di ketiga mulut pemuda itu.
"Aku diundang Jaken," jawab Rosalina santai.
Meiko sendiri kebingungan. Rautnya terlihat cemas dan takut. "Aku- aku tidak tahu," jawab Meiko.
"Bagaimana kamu bisa ke sini?" tanya Yuuji lagi.
"Sudah cukup reuninya. Ayo ke meeting room," potong Suzuki.
__ADS_1
Jaken tersenyum puas. Ia pun berbalik dan berjalan lebih dulu menuju ruang pertemuan di sebelah. Diikuti para peserta VVIP lain.
...* * * * *...