
Round 21 dimulai dari Yu Zi. Pemuda itu mulai percaya diri dan melempar anak panah lebih baik dari sebelumnya, meski di babak 21 ini Yu Zi malah meleset dan out. Rosalina tak berisik seperti sebelumnya karena poin Yuuji yang tertinggal sangat jauh.
Di sisi lain Kenji tak ingin membuat Yuuji harus menerima tusukan panah lagi. Wajah Yuuji sudah capek untuk tegang karena was-was tercoblos. Tapi Kenji sudah berangsur lebih tenang saat Yu Zi berhasil mencetak angka besar.
"Kenji, fokus ke bagian bawah," ujar Yuuji saat giliran Kenji beraksi. "Angka 20 di jarum jam 8, kamu bisa fokus di sana."
"Yuuji, kamu kalo nyuruh gampang, lah."
"Fokus aja di angka 20, angka kecil bisa kita cari di akhir," tegas Yuuji membungkam mulut Kenji yang hendak protes lagi.
Sayangnya Kenji melempar dan mengenai bagian papan bawah. Lemparan yang terlalu rendah. Tapi setidaknya Kenji bisa mencetak angka besar.
Permainan itu semakin menegangkan lantaran anak panah Yu Zi menancap di bullseye hijau lagi. Angka 25 sudah didapatnya. Antara takjub dan takut, mental Kenji mulai goyah kembali. Pasalnya bagi Kenji, untuk mendapat bullseye harus benar-benar fokus. Apa mungkin karena Yu Zi terlalu hoki? Ah, harusnya Kenji meminjam tangan Yu Zi untuk gacha akun FGOnya.
"Jangan sampai Yu Zi nge-distrek kamu, Kenji! Ayoo semangaaat!" seru Hiro.
"UDAH KENA DISTRACT!"
...***...
"Wah. Serem juga Yu Zi itu."
"Kayaknya Rosalina menang lagi, deh."
"Udah jelas, sih. Rosalina bisa ngalahin banyak pejabat sebelumnya, masa sama mantan benteng ini kalah, sih?"
"Aku heran, kayaknya keberuntungan Rosalina gede, ya~ dia mau gachain akun Genshin-ku ga, ya?"
Ledekan dan tawa terdengar di berbagai meja kantin sambil terus menonton pertandingan Yuuji dan Rosalina. Poin besar yang didapat Yu Zi tidak sesering itu. Ada kala dirinya menancap di angka-angka kecil bagian papan atas dart. Tapi sungguh, poin Yuuji dan Rosalina sangat jomplang.
Di babak ke 29 ini, lagi-lagi tangan Yu Zi berhasil mendapatkan nilai triple ring di angka 20. Yang mana artinya Rosalina menambah nilai 60.
Terlihat di layar televisi kantin, Yuuji dan Kenji sangat panik dan gusar. Pucat wajah mereka, di sisi lainnya Rosalina tertawa mengejek.
Siswa-siswi yang menonton ikut serta menghina. Mencemooh Yuuji yang sial setiap melawan Rosalina. Bahkan anak Diamond lebih mengeraskan suara untuk memaki Yuuji, yang mana padahal mereka sekelas.
Di salah satu meja, tiga serangkai tengah memperhatikan jalannya permainan. Salah satunya mencatat poin-poin yang didapat setiap tim.
Fuji, Tama, dan Kuro.
Fuji menulis sambil mendengarkan setiap kata Ichiro. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hingga di babak 35, sekali lagi Yu Zi menyentuh bullseye dan mencetak angka 25.
"WOAAAHH!! Itung Rosalina dapat berapa poin?!"
Keramaian itu semakin memuncak saat Kenji tidak berhasil membalaskannya. Anak panah Kenji meleset ke badan Yuuji, meninggalkan luka baru lagi.
Di dalam ruang pertandingan, mental Kenji semakin goyah. Ia bahkan tak sanggup menatap Yuuji karena takut.
"Kenji! Lihat aku! Fokus!" seru Yuuji mencoba menenangkan Kenji. Tapi tampaknya pemuda itu tidak bisa berdiri tegak untuk kembali dalam permainan.
Di saat seperti ini adalah kesempatan Rosalina untuk lebih mendongakkan kepala, menatap remeh Kenji. Tatap hinanya menyerang Kenji, dan tumbanglah anak spade itu.
"Biar aku yang menggantikan Kenji!" seru Hiro langsung berlari ke arah Kenji. Menyeret sahabatnya itu untuk minggir dan berdiri di tempat Kenji bertarung sebelumnya.
__ADS_1
Rosalina tertawa kencang. Pandangannya tak lepas dari Kenji yang berdiri di samping Ichiro.
"Lemah banget. Kamu cuma beban buat Yuuji ternyata~ 100 dollar Yuuji melayang karena kebodohan temennya. Yuuji yang malang, punya temen ga berguna."
"Jaga omonganmu, Rosalina!" teriak Yuuji. Terpancing sudah emosinya. Itulah yang menjadi tujuan Rosalina. Memancing amarah Yuuji, lalu menghancurkan rasa percaya diri Hiro dan Kenji.
Kenji tak membalas, hatinya terluka. Merasa omongan Rosalina benar, dirinya tidak bisa membantu Yuuji. Pada akhirnya hanya Yuuji yang menanggung semuanya.
"Jangan munafik, Yuuji. Lihat aja hasilnya kayak gimana sekarang. Mereka cuma ngedorong kamu buat masuk ke jurang~"
Kepala Yuuji semakin panas. Tapi ini bukan saatnya untuk memanjakan emosi yang meletup atau pertandingan ini tidak kunjung usai. Dirinya juga harus tetap tenang dan jangan sampai keceplosan apapun. Yuuji hanya perlu bersabar sedikit sebelum membalikkan posisi Rosalina.
Menarik napas panjang dan membuangnya, Yuuji semakin mengatur dirinya. Setelah merasa tenang, Yuuji memperbolehkan Ichiro melanjutkan permainan.
Yuuji menatap lekat sahabatnya yang ada di seberang. Hiro memandangnya, lalu tersenyum. "Kamu pasti bisa, Hiro," ucap Yuuji dijawab anggukan mantap.
"Hah. Menghayal aja terus!" cibir Rosalina, namun tak ada tanggapan dari keduanya.
Yang semula panik, takut, dan putus asa, perlahan tim Yuuji mulai bangkit. Hiro mempersiapkan kuda-kudanya untuk melempar anak panahnya. Meski dirinya belum pernah bermain dart, tapi Hiro sering melihat saudara dan sepupunya main dart di rumah. Setidaknya dia tahu beberapa teknik setelah mengamati bertahun-tahun.
Pertama-tama Hiro harus berdiri tegap dengan posisi menyamping. Sepupunya pernah bilang jika menghadap lurus ke depan, lemparan tidak akan stabil. "๐๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ด. ๐๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ต!"
Lantas menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan di depan, di mana karena tangan dominan Hiro menggunakan bagian kanan. Tak lupa Hiro memeriksa ujung kaki tidak melewati ocheโgaris lempar.
Bahu dan pinggang yang diluruskan tidak luput dari perhatian Hiro. Selain dengan posisi, Hiro cukup paham dengan cara memegang anak panah. Dengan 3 jari untuk melempar anak panah, Hiro tak mengendorkan genggamannya.
Meski bermata minus, Hiro menggunakan mata kanan sebagai bidikan dominannya. Ia mengarik napas sejenak sebelum benar-benar melempar.
Setelah memiringkan ujung anak panah dan membidik garis lurus targetnya, Hiro melempar anak panah dengan pergelangan tangan dan siku untuk mempercepat lemparan. Tak lupa menyentakkan anak panah ke depan saat terlepas dari genggaman.
Poin 40 berhasil dicetak Hiro. Hal ini membuat tim Yuuji memiliki harapan. Kenji yang berada jauh di sana perlahan mulai tenang. Harapannya terhadap Hiro sangat kuat. Kini mereka bertumpu pada kemampuan Hiro.
"Cuma lagi beruntung aja, ga usah seneng dulu~" sindir Rosalina. Hiro dan Yuuji hanya melirik, membuat Rosalina sedikit kesal karena tidak bisa memancing mereka.
Babak selanjutnya, Hiro kembali memukau penonton maupun peserta. Meski begitu, Yu Zi tidak melunak. Tidak merasa tertekan. Yang mana dirinya malah semakin brutal untuk melempar.
Dan di babak ke 40 ditutup Yu Zi dengan mencetak triple ring 20 lagi. Poin 60 sudah ditambah sebagai goncangan mental terhadap Hiro.
"Tim Yuuji mendapat 321 poin. Tim Rosalina mendapat 436 poin. Tim unggul sementara adalah Tim Rosalina."
Ketertinggalan mereka tidak sejauh tadi. Selama Hiro mendapat angka besar, hal ini bisa mengejar Rosalina. Tapi tampaknya Rosalina tidak panik melihat jarak poin mereka.
Tapi tidak ada cemooh dari mulutnya. Hanya sebuah tatapan sinis sebagai obrolan singkat mereka sebelum kembali memulai babak 41.
Waktu istirahat mereka hanya dipakai untuk merilekskan pikiran. Kenji mendekat Yuuji yang tampak mulai santai dengan alur permainan.
"Yuuji, maaf..," gumam Kenji menunduk. Yuuji tak menjawab dan langsung merangkul Kenji erat. Ia menepuk-nepuk bahu Kenji.
"Bukan salahmu, Kenji. Kamu udah berjuang keras! Aku bangga kamu di sini," ucap Yuuji enggan melepas rangkulannya.
"Lagian poin sebanyak itu setengah lebihnya dari lemparanmu, lho. Kamu jangan ngerasa gitu, dong. Tanpa kamupun, kita ga akan dapet poin sebanyak ini!" timpal Hiro.
"Tapi kalo dari awal Hiro yang lempar, pasti bakal lebih banyak dari inโ"
__ADS_1
"HAHAHA," tawa Hiro mengeras, membuat Rosalina dan Yu Zi terkejut di tempat istirahatnya. "Ck! Berisik!" teriak Rosalina.
Hiro hanya tersenyum remeh pada Rosalina dan kembali menatap Kenji. "Aku ga akan seberani itu kalo ga ada motivasi buat maju. Dan tumbangmu itu jadi motivasiku buat berani, heheh."
Jawaban yang sebenarnya tidak ingin Kenji dengar akhirnya ia dapat dengan sangat jelas. "Numbalin mentalku dulu baru kamu mau?" Meski tidak dijawab, Kenji sudah tahu jawaban itu adalah iya.
Waktu yang sedikit memangkas percakapan ketiganya. Kini Kenji mulai membaik ketika melihat kedua sahabatnya berjuang di depan sana. Ichiro telah memberi aba-aba.
Di beberapa babak 41 ini, Hiro kembali memusatkan diri ke angka 20. Yang mana mereka berhasil mencetak 40 poin lagi. Setidaknya mereka bisa mengurangi jarak yang jauh dengan Yu Zi.
Namun mau sebanyak apapun, kekurangan poin mereka masih tetap banyak. Tapi Rosalina masih membutuhkan banyak poin juga untuk mendapatkan angka 501. Tentunya menghabiskan poin sampai tepat 0 sangat sulit. Yuuji hanya bisa berharap Yu Zi akan menginjakkan anak panah ke angka besar agak busted.
Di babak selanjutnya Yu Zi mendapatkan angka kecil. Selagi Yu Zi menurunkan poin yang didapat, Hiro terus berfokus untuk mengejar poin yang tertinggal dengan teknik yang sudah dipelajari sebelumnya.
Babak 43, Yu Zi berhasil mendapat double ring 15. Poin 30 menambah nilai dan mendekati angka 501. Tentu tak lelah Kenji memanjatkan doa agar Yu Zi busted. Toh semua tahu jika semakin kecil poin tersisa, akan semakin sulit diselesaikan. Hal ini menjadi kesempatan Yuuji untuk mengejar.
Selanjutnya Hiro melempar di angka 20 single ring. Meski begitu, poin 20 sudah termasuk besar.
"Poin 25 untuk Yu Zi!"
Anak panah Yu Zi menancap bullseye hijau lagi. Nilai yang semakin sedikit sangat sulit didapat. Melihat ini, Yuuji tak lagi menggubrisnya dan fokus pada Hiro sembari mengarahkan.
"Poin 5 untuk Yu Zi! 501 berhasil dimenangkan tim Rosalina!"
Sorak dari luar ruangan terdengar keras sampai ke dalam tempat pertandingan. Rosalina turun dari papan kayu pijakannya dan meletakkan dart di meja, lantas tersenyum penuh kemenangan. Ichiro menulis total poin yang didapat kedua tim.
Namun kesenangan Rosalina berbanding terbalik dengan tim lawannya. Yuuji baru saja memalingkan atensinya dari Yu Zi, tapi kenapa pemuda itu meruntuhkan kepercayaan dirinya?
Kenji dan Hiro diam menatap papan tulis yang berisi angka-angka. Hiro bergegas mengambil ponsel dan menghitung semuanya di kalkulator.
"... ga mungkin.. aku coba itung ulang..."
Gemetar, Hiro kembali mengetik angka-angka di papan. Diikuti Kenji untuk memastikannya. Mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi. Pasti tidak semudah itu, kan?!
"13, 3, 4, 5, 15, 1, 25, 18, 50, 5, 1, 13, 4, 5, 25, 18, 5, 13, 4, 1, 15, 60, 1, 5, 4, 13, 5, 25, 13, 4, 3, 60, 4, 1, 30, 25, dan.. 5."
"501!"
Berapa kalipun keduanya menghitung, hasilnya selalu sama. 501 pas, tidak kurang ataupun lebih.
Kesenangan Rosalina menginjak Yuuji untuk kedua kalinya. Yuuji menatap Rosalina yang kini berdiri angkuh di depannya. Rosalina mendekati Yuuji dan tak henti untuk tertawa.
"Masih mau kasih aku uang berapa lagi, Yuuji? Udah jelas kamu kalah!"
Yuuji tersenyum tipis. Ia menatap tajam Rosalina. "Hah? Masih berani natap aku gitu? Bener-bener ga punya malu! Baru kali ini aku lihat anak Diamond sesampah ini~!"
Hinaan Rosalina terus dilontarkan. Namun tingkah sombongnya berhenti saat pintu ruangan terbuka. Rosalina pikir itu adalah fans yang kagum. Gadis itu sudah bersiap untuk memberikan tanda tangan.
"Rosalina kalah! Pemenangnya tim Yuuji!"
Tiga pemuda tinggi berjalan masuk ke ruangan. Mendekati kumpulan peserta.
Tatapan yang semula tajam dan angkuh menjadi lunak. Rosalina terkejut, matanya terbelak. Langkahnya mundur.
__ADS_1
Yuuji berjalan mendekati ketiganya. "Terima kasih sudah datang tepat waktu, FujiTamaKuro."
...\=\=\=\=\=...