
"Selamat datang, Jakenku yang gagah," sapa Nyonya Hebihime setibanya Jaken di ruang VVIP milik Paulo. Jaken tersenyum ramah kepada pemilik kasino tersebut, tak lupa memberi kecupan di punggung tangan Hebihime sebagai suatu kehormatan.
Hubungan bisnis keluarga Jaken dan Hebihime sudah terjalin lama dan erat. Sebagai penerus, Jaken harus bersikap sopan. Dengan begitu geng mafianya tidak akan kekurangan dukungan secara finansial.
Hebihime dikenal luas sebagai wanita ular yang melilit siapapun dengan segala yang dimiliki. Iming-iming besar yang terlihat menguntungkan tapi sesungguhnya itu hanya jebakan sebelum Hebihime menyemburkan bisanya.
Kamu mau harta? Tahta? Wanita? Atau Renatta—oke, yang ini Hebihime ga bisa kasih, ya.
"Selamat malam, Nyonya Hebihime. Anda terlihat sangat cantik," sapa Suzuki di belakang Jaken, bersiap memberi salam kehormatan yang sama seperti yang Jaken lakukan.
"Oh, selamat malam, Nona Muda. Apa aku terlihat tidak cantik sebelumnya?" Hebihime tersenyum, memandang Suzuki remeh, lantas berpaling pada Jaken tanpa mengacuhkan tangan Suzuki yang hendak meraihnya.
Untuk kesekian kalinya Suzuki dipandang tidak berguna di mata wanita kaya raya ini. Tentu saja. Suzuki hanyalah alat sebagai perantara bisnis. Lagipula derajat Suzuki tak lebih dari secuil kuku kakinya. Hanya menjadi mata tukar untuk keperluan geng mafia, Suzuki bukan apa-apa.
"Ayo, Jaken. Duduk sini denganku," ucap Hebihime menggandeng Jaken menuju sofa. Pemuda itu tak mengelak ketika lengannya dirangkul manja. Seperti sifat genit Hebihime biasanya, wanita itu duduk bersama Jaken dan menempel. Seolah tak menganggap Suzuki ada, yang mana sekarang gadis itu duduk di sebelah Paulo.
"Bagaimana acara akhir tahunmu nanti? Aku sudah membantumu, lho."
Jemari lentik itu bergerak mendekati dada Jaken. Mengelus bagian sensitif dari luar jas. Senyumnya mengembang ketika raut Jaken tak berubah, masih santai dan tak berkutik dengan kenakalannya. Hebihime semakin liar.
"Aku ingin kamu nanti bisa menghiburku," ucap Hebihime. Jaken tersenyum dan mengangguk.
Melihat Jaken yang menurut membuat Hebihime semakin bringas dan gemas. Wanita tua itu semakin menempelkan diri dan hendak meraup bibir Jaken. Namun Suzuki yang berdiri membuatnya terdiam.
"Maaf, Nyonya Hebibime. Tapi Jaken kekasihku. Tolong untuk lebih menjaga sikap," peringat Suzuki sembari menatap keduanya.
__ADS_1
Jaken hanya memandang Suzuki kosong, seolah sorot matanya tidak mengiyakan ucapan Suzuki tentang statusnya sebagai kekasih. Hebihime diam sejenak, menatap Jaken lalu berpindah ke Suzuki.
Polesan lipstiknya melengkung ke atas, mengukir senyum kemenangan. Jaken tak merespon apapun yang mana itu menjadi hal memalukan untuk Suzuki. Seolah hanya dia yang menganggap hubungan mereka adalah pasangan kekasih.
Tangan Hebihime menjauh dari Jaken dan segera beranjak dari sofa. Membenarkan posisi rambutnya yang sedikit berantakan karena terlalu menempel pada Jaken. Lirikannya beralih sejenak ke Jaken, kemudian menyorot Suzuki tajam.
"Sepertinya kamu yang harus belajar untuk menjaga sikap dan tahu tempat, Nona Suzuki," sindir Hebihime, membungkam mulut Suzuki yang menganga karena melihat respon Jaken sebelumnya.
Hebihime mendekat ke Jaken dan mengecup pipinya singkat, meninggalkan bekas lipstik di sana. Tidak ada penolakan dari Jaken hingga wanita kaya itu meninggalkan ruang VVIP Paulo.
Setelah perginya Hebihime, cuitan Suzuki memenuhi ruangan. Gadis itu mendekati Jaken dan mengelap bekas lipstik di pipi Jaken. Semerbak aroma parfum Hebihime masih tercium. Walau tak bisa dipungkiri jika wanginya menyenangkan, tapi rasa kesal dan cemburu masih membakar hati, Suzuki masih tidak terima kekasihnya digoda tante senang Jaken.
Tak ingin mengganggu, Paulo bergegas keluar dari ruangan dengan alasan ini menemui Emma yang memang sejak tadi tidak kembali.
"Aku butuh bantuannya. Sebagai mafia, ini sangat penting," jawab Jaken enggan memandang Suzuki. Sudah pasti gadisnya tengah menangis di lengannya.
"Tapi.. bisakah kamu menghentikan dia saat melakukan itu?" Pertanyaan itu tak dijawab Jaken. Pemuda itu hanya mengambil gelas whiskey dan menenggaknya.
Pelukan Suzuki semakin erat setelah melihat respon Jaken. Tidak terima. Apa sebegitu pentingnya Hebihime sampai Jaken tidak memanusiakan dirinya di ruangan ini? Harus sampai kapan?
Suzuki ingin menanyakan lebih tentang hubungan mereka yang selalu dianggapnya serius, tapi tampaknya hubungan ini hanya dijalani sepihak. Walau tahu menyakitkan, tapi Suzuki tidak bisa melepasnya. Entah perkara karena hubungan bisnis atau jatuh cintanya, Suzuki memilih untuk tidak menyerah.
...* * *...
Langkah Paulo menemui Emma harus terhenti ketika menyadari sosok tak asing di seberang sana tengah menatapnya. Walau tidak begitu yakin, tapi Paulo sadar pemuda itu memang memperhatikan gerak-geriknya.
__ADS_1
Otak Pentium II-nya memutar kembali memori yang disimpan. Familiar dan sering ditemui di suatu tempat, hampir setiap hari. Paulo diam di sana, terus berpikir hingga tak menyadari sosok itu mendekat dengan senyum mengembang.
"Kamu menghabiskan waktu liburan di kasino?" pertanyaan dengan suara familiar berhasil menampar ingatan Paulo. Sosok itu yang pernah menduduki jabatan di tahta Sekolah Kasino.
Paulo tersenyum dan mengangguk, kemudian membawa pemuda itu untuk menemui Emma. Emma yang asik bermain blackjack harus berhenti karena Paulo merengek untuk bermain bersama. Dengan menuruti sifat bocah kekasihnya, Emma berpindah meja dan bermain bertiga.
"Sudah lama tidak ketemu, Aoyama," gumam Emma ketika menaruh taruhan.
Pemuda itu, Aoyama, mengangguk. "Aku pindah ke kasino ini setelah keluar dari Sekolah Kasino," jelas Aoyama sambil memandang dealer cantik di depannya.
"Apaaa? Kamu di sini? Heeh~ aku tidak pernah melihatmu saat aku bermain ke sini," sindir Paulo mengetuk meja sebagai tanda tambah kartu. Kartu ditambahkan dan dibuka, berakhir dengan busted di putaran pertama. "Aah— sialan!" umpatnya.
Aoyama tersenyum tipis. "Kamu kira kasino ini hanya sebesar daun kelor?" balas Aoyama tak digubris Paulo. Pemuda Spanyol itu mengeluh dan merengek ke Emma di sampingnya karena kalah judi—atau kalah karena sindiran Aoyama.
Emma tak menanggapi dan menaruh taruhan baru untuk split card. Sebuah blackjack segera didapat dengan sekali permainan. Dealer itu tersenyum dan memberikan uang kemenangan Emma.
Chip milik Emma segera diberikan pada Paulo untuk mengganti kekalahan sebelumnya. "Emma! Kamu sangat perhatian! Aku semakin mencintaimu~" Paulo memeluk tubuh Emma erat, lalu melepasnya dan kembali membenarkan posisi duduknya.
"Bagaimana bisa kamu begitu sombong dengan Aoyama padahal permainan kartumu sangat jelek." Emma mulai menyatir dan berhasil membuat Paulo terpancing. Pemuda itu mendengus, menatap Aoyama tajam. Untuk kesekian kalinya Emma membela kekasih Xia Zhu itu dan mulai berpikir apakah Emma berselingkuh dengannya sampai sebaik ini pada Aoyama.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya memperingatkannu untuk tidak tinggi hati hanya karena kamu lebih mampu dari Aoyama," lanjut Emma sambil menaruh taruhan baru.
Paulo bergeming. Untuk putaran kedua dia tidak ikut bermain. Pada akhirnya ia mundur dari meja blackjack dan pergi meninggalkan keduanya di sana.
...* * *...
__ADS_1