Casino School

Casino School
Episode 6


__ADS_3

Hari demi hari, Yuuji masih terus mengumpulkan informasi tentang Benteng I. Namun tampaknya Benteng I menyadari jika banyak yang mengawasinya, akhirnya ia berhenti bermain dan tidak pernah muncul di arena judi lagi.


Hal itu membuat Hiro si informan kesulitan mendapat bahan untuk diskusi. Yuuji beberapa kali mencoba berbicara dengan Benteng I, tapi gadis itu menolak ajakan obrolannya dan memilih diam.


"Susah bangettt! Dia tertutup banget," keluh Yuuji saat mereka di taman Kelas Spade.


Hiro mengangguk setuju, sementara Kenji asik ngemil.


Sejak Benteng I berhenti berjudi, ketiganya tidak bisa menggali informasi lebih. Yuuji mencoba bertanding dengan orang-orang yang Benteng I kalahkan. Bertaruh informasi tentang Benteng I pun tidak ada kemajuan karena informasi yang diberikan kurang lebih sama dengan yang Yuuji tahu.


Bahkan permainan Benteng I dalam kartu tidak begitu menonjol. Seperti para pemain pada umumnya dan mengandalkan keberuntungan. Tampaknya Benteng I bukan tipikal orang yang begitu antusias untuk perjudian.


"Tapi kenapa dia mau jadi Benteng I? Kenapa repot-repot cari 100 dollar per bulan kalau dia bukan orang yang antusias?" tanya Yuuji tiba-tiba.


Kedua sahabat itu setuju dengannya.


Benteng I tidak sesering itu terlihat di perjudian. Tapi sekalinya dia turun lapangan, dia bisa menghasilkan banyak chip dan menghilang lagi. Tempat yang sering dikunjungi hanya ruang tahta dan perpustakaan. Dia hanya makan bersama lalu tidur di meja baca.


Pada akhirnya mereka tumpul dan hampir menginjak tombol menyerah. Opsi melewati Benteng I akan segera ia pilih jika tidak ada perkembangan.


"Oh. Masih ada Fuji, kan?" celetuk Yuuji. Hiro dan Kenji menoleh ke arahnya, memberikan tatapan seolah Fuji bukan pilihan yang tepat.


Yuuji tersenyum. "Daripada tidak sama sekali."


Dengan cepat Yuuji berdiri dari kursinya, lalu melangkah ke kelasnya. Di mana Fuji berada.


Kedua sahabatnya enggan ikut dan memilih menunggu di Taman Spade. "Hati-hati, Yuuji!"


...* * *...


Yuuji pribadi bingung apa yang membuatnya harus hati-hati. Ancaman tentang bullying sudah tidak dirasakan semenjak memegang tahta. Anak-anak yang dulu merundungnya bahkan tidak berani menatap matanya.


Ia berjalan ke tangga menuju lantai atas. Di mana kelas-kelas berada. Kelas pada sekolah umumnya, mulai dari kelas 1A sampai 1H.


Langkahnya kembali menghitung para anak tangga, menyusur ke setiap kelas di lantai atasnya. Kelas 2, di mana Fuji berada.


Banyak pasang mata menemuinya, memandang dirinya dengan tatapan heran dengan gelagat Yuuji seakan mencari seseorang. Pasalnya, bukan hal biasa murid kelas 1 masuk ke lantai kelas 2 kecuali ingin menantang seseorang. Tapi mereka tahu Yuuji sudah menjadi bagian dari tahta. Apa Yuuji ingin menantang orang lagi untuk mendapatkan gelar tahta lebih tinggi? Tapi siapa?


"Cari siapa?"


Suara yang cukup dikenal Yuuji menepis fokusnya. Yuuji menoleh ke sumber suara.


Fuji berdiri di belakangnya.


"Oh. Aku cari kamu," jawab Yuuji santai. Keduanya saling berhadapan.


Pemuda yang berdiri di depannya tersenyum, tahu apa maksud Yuuji menemuinya. "Soal Wu Xia Zhu?"


"Siapa?"


"Nama asli Benteng I, Wu Xia Zhu. Mau informasinya, kan?"


Yuuji mengangguk. "Oke. Aku kasih informasi Wu Xia Zhu setelah kita bertanding," jelas Fuji.


Mata Yuuji terbelak. "Maksudnya?"


Fuji terkekeh. Ia menepuk pundak Yuuji, memberikan tatapan remeh padanya.

__ADS_1


"Ini caramu cari informasi tentang Benteng I, kan? Pakai informasi Benteng I sebagai taruhan. Karna aku pion, kenapa engga pake cara itu juga, Kuga Yuuji?"


Mungkin bukan perkara bullying yang dikhawatirkan kedua sahabatnya, tapi banyak yang mencoba membuat Yuuji terpeleset.


...* * *...


"Jangan tanya. Aku ga dapet apa-apa."


Ucapan Yuuji membungkam mulut Kenji dan Hiro setelah kembalinya Yuuji dari Kelas Diamond. Keduanya tidak bereaksi lebih dan hanya diam, saling pandang.


Prediksi mereka benar, Yuuji tidak akan mendapat informasi itu dengan mudah. Melihat pemuda kelas 2 yang tiba-tiba datang menawari informasi sudah sangat mencurigakan.


Setelah menolak penawaran Fuji, Yuuji langsung pergi menemui kedua temannya. Meski mendapat tolakan kedua kalinya, Fuji masih menunggu Yuuji untuk kembali lagi nantinya.


Entah kenapa ini membuat Yuuji curiga. Apalagi dia tidak tahu siapa Fuji. Memang benar dia menggali informasi dengan cara itu. Tapi firasatnya tidak bagus saat Fuji menawarkannya.


Setelah kejadian itu, ketiga serangkai tersebut masih berusaha mencari informasi tentang Xia Zhu dan tetap tidak ada hasil yang memuaskan. Yuuji bisa saja bertanya dengan anggota tahta lain soal Benteng I, tapi itu bisa membuat Yuuji terlihat ingin menggulikan mereka satu per satu dan dicap ancaman. Justru mereka mentolerir usaha Yuuji dengan mencari informasi ke sana-sini.


Hiro akhirnya mencari informasi lain yang ada kaitannya dengan Benteng I. Di mana seseorang yang pernah mengalahkan Benteng I.


Mustahil jika Xia Zhu pernah kalah dalam pertandingan saat menjadi Benteng I. Di mana jika benar demikian, Xia Zhu harusnya turun tahta menjadi pion. Tapi kali ini memang benar adanya, sosok yang pernah menantang Xia Zhu tapi tidak mau mengambil tahta di jajaran catur.


"Namanya Rosalina. Dia kelas 3 Heart," jelas Hiro setelah pertemuan yang kesekian kalinya.


"Banyak pejabat yang dia kalahkan. Mereka yang guling tahta tidak pernah terlihat lagi di perjudian, kemungkinan mereka keluar sekolah karena malu. Dan hanya Xia Zhu yang masih bertahan menduduki tahta Benteng I meski sudah dikalahkan Rosalina."


"Kenapa masih bertahan? Bukannya Rosalina bisa jadi Benteng I?"


"Rosalina jadi pion dari kelas 1 sampai kelas 3. Dia mengalahkan para pejabat tanpa taruhan jabatan, tapi uang sejumlah harga posisi mereka."


Yuuji ber-oh, seolah tahu maksud Rosalina. "Dia cuma nyari cuan?" Kenji bertanya, memastikan. Dan dijawab anggukan mantap dari Kenji.


Hiro menghela napas berat saat mendengar pertanyaan itu. Seolah jawaban yang ia emban sangat sulit dikatakan. "Sayangnya aku tidak tahu karena dia selalu bermain di ruang private. Tidak boleh ada yang tahu dan menyebarkan jalannya pertandingan."


Jawaban Hiro mengejutkan kedua temannya. "Aku tanya ke orang lain dan jawaban mereka kurang lebih sama. Pertandingan Rosalina dan pejabat lain itu privasi. Sisa Xia Zhu, kita harus tanya dia kalau mau tahu permainan Rosalina kayak gimana."


"Yuuji, kamu harus tanya Xia Zhu langsung."


...* * *...


Makan siang kali ini Yuuji habiskan di ruang tahta. Di sana sangat ramai. Tentunya ada Jaken juga dan ratunya. Perbincangan basa-basi mereka mengiringi jalannya jarum jam. Tidak ada bahasan penting selain obrolan soal drama dan pelajaran.


Tampak seperti pelajar di SMA umumnya.


Semenjak masuk sekolah ini, Yuuji merasa bukan menjadi anak SMA lagi. Pikirannya melayang mengingat dulu dia mendambakan kehidupan SMA normal dan memiliki kekasih, mungkin tawuran juga boleh. Tapi justru kali ini lebih dari tawuran dan paling parahnya.. ga punya pacar.


Makanan Yuuji sudah habis, sisa wortel dan potongan kacang panjang. Menu yang ia pesan sirloin steak, cukup cocok dan enak untuk lidah kampungnya.


"Makananmu enak, Kuga Yuuji?" tanya sosok perempuan yang menduduki tahta ratu. Murid kelas 3 Diamond, Suzuki.


Paras ayu dan dewasanya membius Yuuji untuk beberapa detik sampai Yuuji sendiri sadar. "Oh, iya," jawab Yuuji sekenanya.


Suzuki tersenyum, kemudian pandangannya berpindah ke gadis yang duduk di sebelah Yuuji. "Xia Zhu, kamu kayaknya cuek banget ke Yuuji. Padahal sama-sama benteng. Kenapa, Xia Zhu?"


Xia Zhu menaikkan pandangannya yang semula masih asik dengan nasi goreng pesanannya. Sorot matanya datar seolah tidak tertarik dengan pertanyaan Suzuki. Meski begitu Xia Zhu tetap meresponnya.


"Apa aku harus akrab?"

__ADS_1


Pertanyaan Xia Zhu cukup mengejutkan Yuuji. Xia Zhu terlihat berani. Suzuki hanya tersenyum saja.


"Masih belum nerima kalau Aoyama kalah, ya? Apa kamu ngerasa terancam karena Yuuji lagi nargetin posisimu?"


Makdeg!


Anjing, gitu batin Yuuji saat ini.


Xia Zhu yang semula datar langsung tersenyum lebar. Ia tertawa renyah. Sesaat kemudian sorot matanya berubah tajam dengan ukiran licik di bibirnya.


"Kalo iya, kenapa?"


Umpatan Yuuji dalam hati semakin banyak ketika Suzuki dan Xia Zhu berseteru di depannya. Rasanya Yuuji ingin segera beranjak dari sana. Niat hati ingin mendekati Xia Zhu untuk menggali informasi langsung diurungkannya.


Mereka.. seram.


Segera Yuuji beranjak dari kursi dan berpamitan, lalu meninggalkan ruang tahta yang menakutkan.


Kepergian Yuuji mengheningkan ruang tahta sejenak. Namun tak lama, seluruh pejabat termasuk Xia Zhu tertawa. Menertawakan Yuuji yang ketakutan.


Tampak mereka menjadi lebih cerah dari sebelumnya. Menikmati obrolan mereka yang perlahan menjerumus ke bahasan penting dalam organisasi. Membuka seluruh topeng yang mereka tunjukkan di depan Yuuji.


Benar.


Bersikap biasa saat Yuuji berada di sekitar untuk mengelabui karena tahu tentang rencana Yuuji untuk menjatuhkan mereka. Ia tahu Yuuji masuk ke sini untuk menggali informasi lebih. Maka dari itu setiap pertemuan, mereka tidak pernah membahas hal penting dan membuat Yuuji tidak betah berlama-lama dengan mereka.


Jaken, Sang Raja. Jaken telah memilih orang-orangnya untuk menduduki setiap posisi, termasuk Aoyama. Cara ini sudah dijalankan sejak lama. Jaken tidak mau ada orang luar yang duduk di kursinya. Memang benar ada banyak orang bukan pilihan yang berhasil mengalahkan anak buahnya, tapi Jaken bisa menyingkirkan mereka dengan cara mudah.


Yaitu dengan Rosalina.


Setelah kekalahan mereka, Jaken akan memecat mereka dengan alasan tidak lagi diterima. Tapi ini pengecualian untuk Xia Zhu. Jaken merilis berita palsu tentang kekalahan Xia Zhu untuk menjadi penjelas jika Rosalina memang mencari uang dari para pejabat. Dengan ini, para murid tidak akan menaruh kecurigaan terhadap hilangnya para mantan pejabat dan menganggap mental Xia Zhu kuat.


...* * *...


Yuuji, Hiro, dan Kenji sudah mendatangi Kelas Heart. Di mana Rosalina berada.


Perempuan itu duduk santai di atas meja kelas sambil menatap ketiga pemuda di depannya. Raut wajah tak sukanya sangat jelas di mata. Rosalina tidak suka dengan kehadiran mereka bertiga.


"Aku udah bilang, aku ga butuh jabatan. Lagian, kamu aneh banget malah datengin aku. Udah jelas aku ini 'Pembunuh Para Pejabat', kok masih dateng? Mau aku matiin karirmu?"


"Ayo tanding!" tantang Yuuji yang langsung direspon Rosalina dengan seruan.


"Ngeyel banget, sih! Kamu mau kasih berapa emangnya?" tanya Rosalina meremehkan.


Yuuji langsung mengeluarkan 2 chip hitam. "200 dollar."


"Gamau, ah. Masa kamu datengi aku tapi cuma segitu?" olok Rosalina, masih menolak ajakan Yuuji.


"Heh! Yang jadi benteng siapa, kok situ yang ngatur?!" Kenji langsung emosi, tapi Hiro menahannya untuk tetap sabar dan menariknya ke belakang agar lebih menjauh dari Yuuji.


Kini di depan Rosalina hanya ada Yuuji yang tiba-tiba mengeluarkan 1 chip hitam lagi. Hal itu membuat Kenji, Hiro, maupun Rosalina terkejut.


"Yuuji! Jangan banyak-banyak!" peringat Hiro.


Namun terlambat. Rosalina sudah mengambil ketiga chip hitam tersebut dan tersenyum lebar.


"300 dollar aku terima dan kita bisa lanjut main sekarang."

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2