Casino School

Casino School
Episode 18


__ADS_3

Bagaimana cara mendapatkan uang lebih selain slot dan bingo? Lotre! Setiap minggu, para murid dari Casino School bisa membeli kartu lotre di pihak sekolah. Lagi-lagi ini salah satu cara sekolah untuk membantu murid kismin.


Ini adalah cara yang dicetuskan Kenji karena kedua temannya sudah hopeless dengan cara mengumpulkan uang. Mereka tidak tahu lagi cara untuk menyelenggarakan tantangan. Karena keduanya sama-sama pejabat, mereka harus memasang taruhan sesuai dengan posisi yang ditantang. Benar-benar aturan merepotkan untuk orang berandal seperti Kuro.


Kenji membawa keduanya ke ruang bingo lagi. Di mana di sana mereka menjual kartu lotre juga. Lotre akan diumumkan pada minggu depan di papan pengumuman.


"Ada beberapa jenis lotre. Tapi lotre yang akan kalian beli adalah lotre paling simple di sini," jelas Kenji setelah sampai di loket tiket.


Penjaga loketnya adalah caller kemarin. Yuuji yang melihatnya kembali teringat dengan kesialan yang mereka alami sebelumnya.


"AAH! Sialan! Kenapa kamu kelarin bingonya sebelum aku selesaikan 4 corners?!" seru Yuuji menyesal. Pria itu hanya tersenyum masam karena tidak tahu harus menjawab apa, padahal dalam batinnya dia mengumpat betapa bodohnya Yuuji saat itu.


Walau begitu, Yuuji dan Kuro tetap membeli 3 tiket lotre. Lotre di sekolahan ini memiliki desain sendiri di mana ini gabungan dengan lotre gosok dan powerball. Mereka bisa membeli berapapun tiket lotre, tetapi mereka tidak bisa memilih atau menebak angka apa saja yang didapat. Mereka baru bisa menggosoknya dan menunggu hasilnya setelah pengumuman.


"Kalau tidak ada yang punya angka sama, gimana?" tanya Kuro sambil mengamati kartu mereka. Ia menggosok kartu itu dan mendapati 6 digit untuk lotrenya.


"Kita ambil angka paling terdekat dengan hasilnya," jawab pria penjaga loket. Kuro mengangguk-angguk paham.


Setelahnya ketiga orang itu pergi meninggalkan ruang bingo dan kembali ke kantin untuk menemui ketiga teman lainnya. Di mana Tama sibuk membaca buku sudoku, Hiro dan Fuji menonton konser AKB48. Mereka ngewota dengan riang sambil membawa lightstick yang dipesannya beberapa hari lalu. Tampaknya Hiro sudah menemukan sohibnya untuk mengagumi oshi-oshi di grup itu.


"Mau heran tapi ini temenku," gumam Kenji lalu duduk di sebelah Tama, masih asik berkutat dengan buku yang sama. Walau Kenji tidak tahu apa yang dibaca, tapi Kenji merasa Tama sedikit tertarik dengan sudoku. Apa mungkin untuk berjaga-jaga jikalau Kuro dan Yuuji bertanding?

__ADS_1


Yuuji menunjukkan 3 tiket lotrenya dan menaruhnya di atas meja. Pamer dengan tiket yang dibawa. Ketiga kartu itu masih bersih, belum ada yang digosok. Sementara Kuro sudah terbuka semua. Benar-benar tidak sabaran.


Tangan Yuuji mendorong sebuah kartunya ke arah Tama. Tama melirik, lalu menutup bukunya. "Kenapa?" tanyanya datar. Ia mengambil kartu tersebut dan mengamatinya.


"Aku yakin tanganmu wangy wangy! Jadi tolong gosokin kartuku!" jawab Yuuji sambil memposisikan diri memohon pada Tama.


Kedua mata Tama menyipit. Dahinya mengerut bingung. Lotre memang memerlukan kehokian yang lumayan, sama halnya dengan bingo. Tetapi untuk lotre di sekolahan mereka agak sulit karena bukan seperti lotre gosok biasanya.


Walau kurang percaya dengan kewangian tangan Tama, tapi Tama tetap menggosoknya demi Yuuji. Dia juga tidak tahan jika anak itu terus mengeluh betapa kosong dompetnya dan kegagalan dalam bermain bingo. Setidaknya kali ini Tama mendoakan yang baik-baik dengan tulus demi ketenangan pribadinya.


"Sudah," ucap Tama lalu mengembalikan kartu milik Yuuji. Yuuji terlihat senang, kemudian memberikan 2 kartu lain padanya.


"Nih! Kalau ampas jangan salahin aku," peringat Tama. Yuuji memberikan jempolnya, menunjukkan dia setuju.


"Tenang aja! Kalau ampas, biar Fuji ku pukulin," jawab Yuuji santai.


"Lah- HEH! KOK AKU LAGI?!" seru Fuji.


Mereka lantas tertawa. Kembali bercanda. Ada pula yang balik ngewota atau ngewibu. Yang jelas menghabiskan waktu bersama di kantin.


Entah kenapa rasanya jalan cerita ini mereka tidak pernah ke kelas untuk ikut pelajaran, ya? Jelas. Mereka anak berandalan—atau tepatnya hampir semua anak bolos kelas. Toh, tujuan sekolah ini bukan soal materi pelajaran, tetapi juga perjudian.

__ADS_1


Benar, sekolah ini adalah kasino berkedok sekolah. Mereka melegalkan segala cara untuk menyebarkan candu perjudian kepada generasi muda. Di mana setelah lulus, mereka akan haus dengan judi. Ada kasino asli yang menaungi Casino School—atau mudahnya Kajino Gakkou.


Yaitu Kasino Hebihime Gyanburu. Kasino ini didirikan oleh keluarga raksasa Hebihime. Mereka membangun kasino besar yang dikenal orang Jepang dan selalu dikunjungi oleh orang-orang ternama. Beberapa diantaranya adalah artis papan atas dan raja judi dari luar negeri. Lalu keluarga ini membangun sekolah khusus judi untuk mencari anak-anak muda berbakat di perjudian untuk menaikkan popularitasnya.


Secara tidak langsung juga, para murid akan diarahkan ke kasino itu semisal mereka semakin kecanduan dengan perjudian. Hal ini bisa berdampak baik dan buruk.


Baiknya adalah untuk para jenius, mereka bisa berlomba menjadi raja judi atau setidaknya duduk di peringkat atas dan dikenal banyak orang. Dengan begitu, akan banyak penawaran judi dengan hadiah yang melimpah menunggu mereka. Tentunya hal ini sangat menggiurkan untuk para haus uang. Tetapi ini bisa menjadi hal buruk untuk orang-orang bodoh yang mudah terjerumus tanpa memikirkan banyak konsekuensi. Di mana mereka akan jatuh dan gulung tikar karena dunia kasino bukan tempat kaleng-kaleng. Mereka harus siap mental untuk menerima kekalahan maupun kemenangan.


Mental yang tidak siap mempengaruhi jalan mereka ke depannya. Untuk kekalahan, kita pasti tahu. Kemungkinan besar mereka akan depresi dan ujungnya menghabisi nyawa sendiri. Tetapi dampak buruk pada mental tidak siap dari kemenangan adalah, mereka akan menghabiskan lebih banyak uang untuk mencari hasil yang lebih lagi. Inilah tujuan utama kasino berdiri. Mereka akan menjebak para mental lemah untuk menghamburkan uang dan meraup keuntungan melimpah dengan cara memberikan kesenangan palsu.


Dunia kasino yang seram. Dan pemuda-pemuda tampan kita ini sudah terlanjur kecanduan. Apalagi Kuro yang semakin gila judi karena tergiur dengan uang yang bisa ia gunakan untuk pergi ke hostess klub dan menemui hostess favoritnya.


"Yuuji, berjanjilah! Kalau kamu menang, kamu harus traktir aku!" Kuro memegang kedua tangan Yuuji dengan harap.


"Iya- iya.. kita tunggu minggu depan. Lagian kenapa ga minta tolong Tama aja tadi?" tanya Yuuji sambil mencoba melepas genggaman Kuro.


"Habisnya, aku nafsuan," jawab Kuro santai sambil melepas tangan Yuuji dan kembali bermain ponselnya. Lantas ia membuka aplikasi pesannya. Terdapat sederet nama yang mengirimi pesan padanya. Kebanyakan adalah para perempuan dari kelas-kelas lain maupun dari luar sekolahan.


Playboy. Itu yang bisa digambarkan Yuuji pada Kuro sekarang.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2