Casino School

Casino School
Episode 20


__ADS_3

"Tamaaa! Kita pergi dulu!" pamit Kuro lalu keluar bersama Fuji. Tama melambaikan tangannya sampai pintu kamar benar-benar tertutup. Kedua anak itu sudah janjian dengan Yuuji dan kawanannya untuk pergi ke gamezone. Mumpung hari minggu katanya.


Ruangan itu sepi. Hanya suara samar-samar dari luar, para murid yang bercanda atau langkah kaki di lorong kamar asrama. Dari balik jendela kamar tepatnya di halaman depan asrama, suara kencang Yuuji terdengar hingga lantai 4 ini. Mereka sangat bahagia dan tidak sabar untuk pergi ke tempat penuh dengan segala jenis mainan. Tama melihat dari kaca, mengamati kelima anak itu berjalan keluar gerbang asrama setelah memberi salam pada satpam yang berjaga. Terukir senyum kecut di bibir Tama, pemuda itu menolak pergi dengan alasan ingin belajar. Padahal sebenarnya Tama ingin menghabiskan waktu bersama amplop yang diberikan Jaken.


Ia lalu duduk di kursi belajarnya. Meraih laci dan membukanya, sedikit mengeluarkan beberapa barang sampai mencapai benda yang diinginkan. Menaruh kembali barang-barang lain di dalam laci dan meletakkan amplop itu di atas meja belajar.


Di ujung kanan bawah amplop tertulis simbol strip dan titik-titik sandi morse yang jika semua dibaca menjadi tatanan huruf J-A-K-E-N.


"Kuno," komentar Tama. Membuka perlahan amplop itu dan mengeluarkan sebuah surat yang sudah dilipat 2x. Di sisi atas lipatan pertama ada tulisan 'sandi morse tidak kuno', yang mana Jaken sudah bisa menebak komentar Tama tentang sandinya.


Tama tertawa kecil, kemudian membuka surat tersebut dan membacanya. Bagian awal ada salam pembuka formal seperti pada surat resmi biasanya, walau tidak ada cap lainnya. Tapi sudah jelas ini dari Jaken pribadi. Seperti surat-surat penting yang sering Jaken berikan dulu ketika bermain sebagai spy.


Tidak ada yang aneh sebelum Jaken menyebutkan tentang acara perjudian akhir tahun. Tertulis dengan jelas di sana jika Jaken mengajak Tama untuk ikut serta dan mengundang kelima temannya. Di bawah sudah ada barcode yang bisa Tama scan untuk mencetak undangan VVIP milik Jaken.


Sebenarnya acara akhir tahun seperti ini sudah biasa dilakukan. Tapi jika Jaken mengundang sendiri, itu banyak kemungkinan. Bukan hal yang bagus tentunya. Apa yang sebenarnya dilakukan Jaken?


Tama mengulik di setiap sudut kertas, siapa tahu ada tanda lain dari surat Jaken. Tetapi tidak ada. Semua bersih. Seolah yang ditangannya adalah surat Jaken mendeklarasikan perang padanya.


Bergegas Tama pergi ke ruang guru dan mencetak undangan dari barcode. Para guru tak menaruh atensi padanya. Hanya memberikan 6 buah kartu VVIP warna merah-hitam mengkilap dan membiarkan Tama bergeming di depan meja cetak.


Di tangan Tama benar-benar nyata. Itu bukan sekadar undangan kalangan elit. Tapi ini undangan tantangan!


...* * *...


Yuuji dan Kuro sudah menghabiskan lebih dari 50 dollar demi membeli koin di gamezone. Mengumpulkan kupon yang bisa ditukar dengan benda-benda lucu atau camilan. Tetapi yang sebenarnya terjadi, mereka hanya ingin menumpuk ratusan kupon sebagai ajang pertandingan. Siapa yang lebih banyak mendapat kupon, maka dia yang berhak ditraktir steak.


Sementara itu Kenji, Hiro, dan Fuji hanya mengikuti mereka. Terkadang berpisah dan main sendiri. Pada akhirnya Fuji menyingkir untuk pergi ke food court. Fuji berpamitan dan tinggal di salah satu meja setelah memesan ramen serta jus buah yang cukup mahal di sini. Sembari menunggu makanannya jadi, ia menghabiskan waktu untuk membuka akun sosial medianya.


Ibu jarinya bergerak dari bawah ke atas di layar ponsel. Scroll, scroll, dan scrolling beranda. Tidak ada yang seru. Hanya postingan teman-temannya yang kurang menarik. Jika diingat, Fuji hanya menambah beberapa orang sebagai teman.

__ADS_1


Rasa bosan mulai menyerang. Jika ramennya tidak datang, Fuji pasti memilih menggeletakkan kepalanya di meja dan tidur. Kedatangan pesanannya diantar oleh salah satu pramusaji perempuan.


"Selamat menikmati makannya," ucap pelayan tersebut sebelum meninggalkan Fuji. Terbesit sesuatu yang familiar. Kepalanya menoleh menatap punggung perempuan itu. Mengamati dari ujung kepala hingga pinggang.


Surai pirang hingga bawah bokong. Postur tubuh sedang, sedikit montok meski terbalut seragam kerja. Cara berjalan yang dikenali Fuji. Rasa penasaran menyeruak ke dalam hati Fuji, mendorongnya untuk memanggil pelayan tersebut sebelum benar-benar jauh.


"Rossie?"


Perempuan itu berhenti, perlahan menoleh ke belakang dengan senyum menggembang di bibir. Kedua mata Fuji terbelak, sedetik kemudian dia beranjak dari kursi dan berlari mendekati pelayan tersebut. Kedua tangannya menarik dan mendekap tubuh itu ke dalam pelukan.


Kejadian itu ditonton orang-orang di pujasera. Ada yang bergumam, memotret, atau membiarkan, ada pula yang menganggap ini salah satu cuplikan drama dan sedang merekam sehingga mereka mencari letak kamera dan sutradara.


"Akhirnya ketemu," ucap Fuji pelan. Penuh rindu, ia memeluk perempuan itu seerat mungkin. Membuat sosok 'Rossie' tersebut kesulitan bergerak. Ia melirik ke rekan kerja di stand, tetapi mereka memilih diam dan pura-pura buta.


"Fu-fuji..," panggilnya sambil mendorong pelan tubuh Fuji. Pemuda itu segera melepas dan mengajaknya duduk di kursi yang sudah ia gunakan sebelumnya.


"Kamu kerja di sini?" tanya Fuji sambil menoleh ke stand ramen yang menjadi tempat menggali uang. Perempuan itu mengangguk malu.


Hanya sekali mendengar suaranya, Fuji sudah yakin jika dia adalah sosok yang dicarinya selama ini. Perempuan yang pernah mengisi hari-hari dan hatinya, tetapi kemudian berpaling karena seseorang lain. Dia adalah Rosalina.


Rosalina, mantan kekasih Fuji saat SMP hingga Rosalina masuk SMA. Dengan Fuji yang lebih muda setahun, hubungan mereka tampak normal, bahkan terbilang couple goals. Mereka juga digambarkan sebagai Bonnie and Clyde karena mereka pasangan judi yang terkenal di kalangan anak SMP. Sayangnya hubungan mereka kandas karena Rosalina bergabung dengan Jaken. Ini membuat hubungan mereka renggang. Ditambah ketika Jaken mengusir Fuji dari tatanan pejabat dengan menggunakan Rosalina. Itu tanda akhir kisah mereka dan harus mengubur kesempatan untuk kembali bersama. Tetapi setelah menyingkirkan Rosalina demi dendam dan rasa sakit hati, Fuji menyadari jika perasaannya tak bisa berbohong jika cintanya hanya untuk Rosalina. Rindu membara seiring jalannya waktu, rasa bersalah mencambuk dirinya dengan rasa kesepian. Pada akhirnya Fuji berhasil menemukan Rosalina, gadis kesayangan di sini, dengan cara tak terduga. Mungkin ini disebut jodoh.


"Kenapa engga telpon aku?" tanya Fuji sembari mengelus pipi Rosalina lembut.


"Buat apa?" tanya Rosalina pelan, menurunkan tangan Fuji dari wajahnya. Walau berusaha untuk menjawab ketus dan tak peduli, tapi Fuji bisa merasakan bahwa Rosalina kesulitan dan membutuhkan bantuannya.


Fuji paham betul Rosalina tidak akan menerima bantuannya karena beberapa konflik di masa lalu membuatnya harus berselimut malu.


Tetapi Fuji sendiri sudah tidak peduli dengan segala masalah yang pernah mereka ributkan. Selama ada Rosalina, Fuji tidak peduli. Masa lalu adalah masa lalu. Di depannya ada seseorang yang sebenarnya diinginkan sejak dulu. Rosalina yang dulu, bukan Rosalina yang menjadi boneka Jaken. Ia tahu Rosalina berusaha untuk menjadi gadis hedonis yang mencintai uang seperti imejnya di sekolah, tapi itu bukan Rosalina yang asli. Fuji lebih paham tentang sifat nyata Rosalina. Ini hanyalah topeng demi popularitas yang selalu diimpikan Rosalina.

__ADS_1


Sekarang Rosalina jatuh dan hancur. Fuji melakukannya dengan alasan ingin Rosalina kembali. Tapi tanpa disadarinya, Fuji sudah mengerahkan ego tertinggi untuk mengambil semua yang dimiliki Rosalina dan hanya ingin Rosalina bersarang di kadang emasnya. Rasa bersalah terus menyiksanya hingga saat ini.


"Ayo, tinggal di rumahku, ya? Aku hubungin orang tuaku." Fuji segera meraih ponselnya yang sejak tadi ada di sebelah mangkuk ramen. Tetapi Rosalina menahan dan menarik ponsel tersebut.


"Jangan," ucap Rosalina, menolak ajakan Fuji.


"Aku ingin coba tinggal sendiri. Biarkan aku mandiri, Fuji." Kalimat yang sangat mustahil dilakukan Rosalina. Fuji selalu memanjakan Rosalina dengan cara memberikan apapun yang Rosalina butuhkan. Sebagai partner judi sejak menengah pertama, Fuji jarang memberikan kesempatan Rosalina untuk turun tanganβ€”kecuali jika Rosalina terus merengek dan sudah memahami alurnya. Tidak mau melihat kekasihnya berjuang sendiri demi mendapatkan sesuatu, bahkan sampai di SMA-pun Rosalina menempuh jalan mudah untuk menang karena terbiasa dimanjakan. Dan sekarang saatnya Rosalina berjalan dengan tongkatnya sendiri.


Fuji bergeming untuk detik-detik berikutnya, kemudian tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu Rosalina mengembalikan ponsel Fuji.


"Sebentar. Bisa ketik kontakmu lagi di situ?" tanya Fuji. Rosalina mengangguk kecil, kemudian mengetuk layar ponsel. Ketika layar menyala, ia melihat di layar kunci Fuji dengan wallpaper foto mereka berdua saat SMP. Foto yang sangat lama dijepret ketika pertama kali berkencan di kelas 2 SMP.


"Aku kelihatan polos di situ," komentar Rosalina dengan senyum masamnya. Fuji mengangguk lalu membantu Rosalina untuk membuka pola kunci yang sama seperti dulu waktu mereka masih berpacaran. Itu adalah pola yang dibuat Rosalina. Setelah itu Rosalina mengetik nomor dan akun sosial mendianya. Usai memberiksn kontak, ia mengembalikan ponsel Fuji. Fuji menaruh ponselnya dan menatap lekat Rosalina.


"Sekarang juga masih polos," balas Fuji. Keduanya hanya diam saling berpandang, lalu beralih ke arah lain ketika seorang pegawai di kafe Rosalina datang, meminta Rosalina untuk kembali bekerja.


"Aku kerja dulu. Sampai jumpa lain waktu," pamit Rosalina dan beranjak dari tempat Fuji. Fuji hanya menatap Rosalina yang menjauh, kemudian kembali melihat mangkuk ramen yang sudah mendingin. Yah, ya sudah. Makan ramen dingin.


Cukup lama Fuji melahap makanannya, Kenji dan Hiro menyusul lalu duduk di kursi sebelah dan seberang. Mereka istirahat sejenak setelah berjalan agak jauh. Di belakang sana ada duo idiot yang membawa banyak barang dan pritilan kecil sebagai hadiah tukar kupon. Tanpa merasa bersalah, mereka menaruh semuanya di atas meja dan debgan barbarnya mereka berjalan ke setiap stand untuk mencari makanan.


"Emang anak-anak sialan," komentar Fuji sebelum meneguk jusnya. Hiro menghela napas berat, Kenji hanya mengangkat kedua bahu dan beranjak untuk mengikuti dua temannya yang sudah sibuk lagi, seolah tidak merasa lelah meski sudah mengitari gamezone seluas itu.


Tak lama Hiro menyusul untuk memesan makanan. Di kepergian mereka, ponsel Fuji berbunyi. Sebuah pesan masuk dengan nama Rosalina. Fuji segera membuka pesan tersebut. Senyumnya mengembang saat membaca kalimat di layar ponselnya.


"πš‚πš‘πš’πšπš πš”πšŽπš›πš“πšŠπš”πšž πšœπšŽπš‹πšŽπš—πšπšŠπš› πš•πšŠπšπš’ πš‘πšŠπš‹πš’πšœ. π™ΊπšŠπš•πšŠπšž πš–πšŠπšž πš™πšžπš•πšŠπš—πš πš‹πšŠπš›πšŽπš—πš, πšŠπš”πšž πšπšžπš—πšπšπšž πšπš’ πš™πšŠπš›πš”πš’πš›πšŠπš—."


Tanpa babibu, Fuji membayar makanannya dan mencari keempat temannya untuk pulang lebih dulu. Tak ada yang protes, Fuji langsung capcus ke parkiran dengan semangat45.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2