Casino School

Casino School
Episode 23


__ADS_3

Dua hari setelahnya, Tama mengirim video pada Kuro, Fuji, dan Yuuji. Hiro sendiri mengirim video pada Kenji. Keempat anak yang baru mendapat video segera membukanya. Mereka mengamati video yang dikirim beberapa menit lalu. Video yang berbeda-beda.


Tama telah meminta bantuan pada beberapa anak cheerleader untuk membuat video dan foto belajar, mengeditnya sesimpel mungkin. Video yang membawakan materi politik kelas 2.


Video milik Fuji, ada selipan foto Rosalina yang membawakan materi politiknya. Tama tidak tahu apa hubungan pasti keduanya, tapi mendengar cerita dari Kenji, Tama akhirnya menghubungi gadis yang pernah ia permalukan dulu. Tidak begitu terkejut, tapi Tama tak menyangka jika Rosalina akan mengiyakan permintaan Tama yang terbilang aneh.


Sementara video milik Yuuji dan Kenji memiliki konsep yang sama. Dengan gabungan antara materi dan perjudian, mereka berhasil membuat kombinasi yang bagus agar bocah judi ini mengerti pelajaran untuk ujian nanti.


Metode ini efektif dan mampu membuat keduanya lebih ringan untuk mengajari anak-anak idiot di depannya. Walau begitu, Tama dan Hiro masih harus menyisipkan beberapa materi tambahan karena mereka tidak bisa memasukkan semuanya ke dalam video. Beruntungnya mereka, keempat anak itu mulai membuka diri untuk materi-materi lain.


Setelah bimbingan yang lumayan rumit dan 'asik', jadwal ujian pun tiba. Selama seminggu penuh mereka bergulat dengan lembar kertas soal dan jawaban. Menandai jawaban yang dianggap benar dan menulis essai. Berparagraf dan lembar jawaban hampir penuh, terkadang ada yang mengisi asal-asalan, menulis ulang pertanyaan agar terlihat penuh dan niatโ€”ayo jujur, siapa yang suka begini?


Jam ujian telah usai dan secara bergilir mereka menumpuk jawaban dan soal di meja guru. Berjajar keluar dari ruang ujian dengan perasaan campur aduk. Ada yang langsung capcus ke kantin demi mendinginkan kepala, pihak cuek dengan nilai hanya akan pergi ke gamezone atau berjudi lagi, ada pula yang pesimis dengan jawaban dan akhirnya pulang ke asrama untuk menenangkan diri.


Hal sama terjadi pada keenam anak muda kita. Mereka bertemu di markas andalan, yaitu meja kantin paling pinggir dekat jendela besar. Memesan makanan dan minuman untuk melancarkan otak yang tersendat. Sekolah sudah mengumumkan libur selama seminggu penuh untuk minggu depan. Tepatnya minggu terakhir di bulan November.


"Hari ini udah dibuka pendaftaran pertandingannya. Di tanggal 1 nanti mulai pertandingan," jelas Tama sambil menaruh segelas jus pesanannya.


"Kita ga perlu daftar, kan?" tanya Yuuji memastikan. Tama mengangguk santai. "Kita udah dapat undangan. Yang pasti hari sebelum pertandingan dimulai, pihak sekolah bakal kasih pengumuman baru," lanjut Tama lalu meminum jus apelnya.


"Tama.. kamu udah pernah ikut pertandingan akhir tahun, kan?" tanya Yuuji, mencoba menggali contekan di tahun lalu. Tama mengangguk santai, mengiyakan, tapi enggan menjelaskan lebih. Sebenarnya dia tidak benar-benar ikut selama 30 hari berturut. Nyawanya sudah melayang di hari ke 12 karena lelah.

__ADS_1


Tahun lalu, Aoyama yang menduduki peringkat pertama. Acara yang digelar di gedung sekolahan selama 30 hari, seluruh murid bisa bermain selama 24 jam, tanpa henti. Di mana ini adalah neraka sekaligus surga bagi orang-orang yang ambisius dengan kemenangan. Entah, pada saat itu Tama tidak memperhatikan gerak-gerik Aoyama karena terlalu fokus dengan poin dan uang.


"Hadiah dari juara pertama itu apa?" tanya Hiro sambil membayangkan jumlah uang yang lebih besar dari hadiah lotre kemarin. Ah, ya. Seribu dollar sebagai hadiah lotre ith hanya tipuan belaka, sampai saat ini tidak ada yang memenangkan lotre tersebut. Mungkin ini strategi marketing agar murid-murid mulai menggeluti permainan lotre?


"Liburan.. ku rasa. Hadiahnya bukan uang," jawab Fuji mengingat acara tahun lalu. Aoyama tidak mendapat uang apapun. Hanya gelar pemenang dan tiket berwarna emas. Sampai sekarang tidak ada yang tahu tiket itu untuk apa. Hanya pihak Jaken dan Aoyama yang mengetahuinya.


Sementara itu, Aoyama sudah lama tidak terdengar. Semenjak ditumbangkan dulu, Aoyama menghilang. Namanya tidak muncul lagi di berita sekolah. Kemungkinan dia keluar dari sekolahan atau dikeluarkan paksa oleh Jaken karena membuat malu. Begitupun Xia Zhu. Hari di mana Fuji menggulingkannya dari kursi tahta, Xia Zhu tak pernah terlihat lagi. Walau namanya masih ada di daftar murid, tapi wujudnya tak pernah kelihatan.


Perbincangan mereka terhenti saat beberapa murid berhambur keluar dari kantin setelah suara pengumuman pendaftaran dibuka. Tidak banyak yang tinggal di meja-meja kantin. Mayoritas bergegas, berdesakan demi mencapai ruang pendaftaran yang berada di dekat ruang tahta.


Siswa maupun siswi, mereka antusias dalam pertandingan kali ini. Dari berbagai kelas, mereka menyodorkan kartu pelajar untuk pendaftaran. Setelah menerima kartu peserta, anak-anak itu kembali ke kantin dan mulai flexing. Selfie, fotbar, upload di sosial media dengan keterangan, '๐š›๐šŽ๐šŠ๐š๐šข ๐š๐š˜ ๐š๐š˜'.


Kartu peserta mereka berbeda-beda, sesuai dengan warna kelasnya. Kelas Diamond berwarna biru, Heart berwarna merah, Spade berwarna hitam, dan Clover berwarna hijau. Tampilannya hampir mirip dengan kartu VVIP, hanya warnanya yang berbeda. Kartu milik Yuuji lebih mengkilap dan tebal dibanding kartu peserta biasa.


Mata Tama menyipit dan menghela napas. "Sudah siap uangnya?" tanya Tama. Kuro dan Yuuji menggeleng.


"Kalian bisa mengurusnya setelah acara ini. Kita tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan Jaken. Akan repot kalau kita membuat rencana sekarang," peringat Tama.


"Sebenarnya kamu takut apa, sih?" Kuro mendengus, tidak terima.


"Kita ini tamu VVIP Jaken. Tentunya ini termasuk rencana Jaken. Apa yang akan dia lakukan pada kita?" Tama menatap kelima temannya.

__ADS_1


Kuro bersedekap, memejamkan mata untuk berpikir dengan otak yang baru dipasang di kepala. "Mungkin dapat bonus lebih," tebak Kuro positif. Tama hanya menggeleng, Jaken tidak berhati malaikat dan Kuro tahu itu.


Pemuda idiot itu beranjak dari kursi, lalu menyeret Yuuji yang asik duduk sambil mengudak buburnya. Musim dingin sudah tiba dan dia perlu makanan hangat. Tapi Kuro memaksanya untuk berpisah dengan mangkok bubur ayamnya. Entah apa yang akan dilakukan Kuro, yang jelas tanpa sepatah kata ia meninggalkan keempat teman lainnya.


Kenji yang lapar segera meraih mangkok milik Yuuji dan melahapnya. Lumayan makanan gratis katanya.


"Kuro- eh! Mau ke mana?!" teriak Yuuji berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Kuro.


"Aku tahu Tama pasti khawatir. Kamu bawa kartu pelajarmu, kan?" tanya Kuro sambil membawa Yuuji ke kerumunan para murid.


"Apa maksudmu?"


Kuro berhenti, melepas genggamannya di tangan Yuuji. "Sini, berikan kartu pelajarmu."


Walau enggan, Yuuji akhirnya memberikan kartu pelajar. Kuro langsung mengambilnya. Ia mengantre. Tak lama mencetak kartu peserta pertandingan dan membawanya ke Yuuji. Kini mereka punya kartu peserta biasa dan VVIP.


"Kamu mau ngapain, sih?" Yuuji kembali bertanya. Kuro tidak menjawab, kemudian menarik Yuuji ke tempat yang lebih tenang. Ruang pendaftaran sangat ramai dan sumpek.


Sampai di salah satu sisi lorong, mereka berhenti dan menunjukkan kartu pesertanya. "Ini buat jaga-jaga. Tama bakal lebih protektif. Dari dulu dia selalu serius kalau ada hal yang berhubungan sama Jaken. Dia terlalu was-was," ucap Kuro yang tidak menjelaskan apapun.


"Trus.. kartu baru ini buat apa?"

__ADS_1


"Bersenang-senang. Kemungkinan kita bakal sulit bergerak bebas kalau cuma jadi tamu VVIP. Sama seperti yang Tama bilang, pasti ada rencana di balik kartu VVIP itu," jawab Kuro. Walau masih kurang paham dengan alur yang diterka Kuro, tapi saat ini Yuuji cukup mengikutinya. Mungkin saja Kuro bisa membantu dirinya di kondisi sulit.


...* * * * *...


__ADS_2