
Kekesalan Jaken tidak berhenti di sana. Kepergiannya dari meja blackjack membuat Suzuki sedikit kewalahan. Perkara tidak lagi bertemu Tama untuk menunjukkan eksistensinya, Suzuki harus dibuat repot dengan menenangkan Jaken di ruang VVIP.
Tidak ada kata yang diucapkan, Jaken lantas beranjak dan meninggalkan Suzuki di ruangan. Suzuki sempat menahannya, tetapi tatapan tajam Jaken menghempaskan tangan Suzuki dari lengannya.
Suzuki ditinggal di ruangan itu. Entah ke mana Jaken pergi, kemungkinan terkecil adalah pulang, dan kemungkinan terbesarnya adalah menemui Nyonya Hebihime.
...* * *...
Sudah terlalu lama mereka berada di kasino. Langit sudah menggelap dari setengah jam lalu, kini saatnya keenam pemuda kita kembali. Bersama Tuan Kuga, mereka berpamitan kepada Nyonya Hebihime yang baru saja keluar dari ruangan pribadinya. Tuan Kuga menemuinya sebentar untuk berbincang sebelum pergi.
Dalam pertemuan terakhir ini, mata Tama cukup jeli menangkap perbedaan Nyonya Hebihime tadi dan sekarang. Dengan segera Tama menyenggol Kuro dan Fuji yang ada di dekatnya dan memberi kode.
Seorang wanita kaya sepertinya memang memiliki banyak setelan atau gaun mahal, dengan berbagai model dari merek terkenal, tak heran Nyonya Hebihime sering bergonta-ganti pakaian. Kini ia keluar dengan gaun warna hitam legam dan syal menutupi leher, walau begitu mata Tama masih bisa menangkap sedikit bekas merah di lehernya.
"Apa hawanya dingin?" bisik Tama pada Kuro, dijawab senyum tipis—mencoba untuk menahan diri agar tidak tertawa.
Oh, sepertinya Nyonya Hebihime sedang melakukan sesuatu di dalam. Terlihat juga rambut Nyonya Hebihime yang tidak serapi sebelumnya.
"Seperti orang bangun tidur," celetuk Fuji.
"Siapa?" tanya Yuuji tiba-tiba yang tidak sengaja mendengar bisik-bisik seniornya. Ketiganya menggeleng dan membuang muka.
"Hei, siapa yang bangun tidur?" Yuuji kembali mengulangi dengan nada lebih keras.
Kalimat Yuuji tertangkap telinga Nyonya Hebihime dan spontan wanita itu menoleh dengan tatapan kaget. Walau begitu ia berusaha untuk tenang dan kembali menatap Tuan Kuga walau pikirannya melayang ke mana-mana.
Tangan lentiknya berusaha menarik syal untuk lebih menutupi leher. Sedetik kemudian tangannya sibuk menata rambut yang sedikit berantakan. Tuan Kuga cukup mengerti dan langsung berpamitan.
Nyonya Hebihime tak mengantar mereka sampai depan pintu kasino. Setelah mereka berbalik badan dan melangkah menjauh, Nyonya Hebihime bergegas masuk ke ruangan pribadinya. Di mana di sana adalah kamar yang ada di kasino untuk 'membungkus' seseorang.
Di dalam, ia mengunci pintu dan mendekat ke ranjang besar. Di mana di atas sana ada sosok pemuda berbadan kekar dengan surai hitam panjang, tengah berbaring sambil memainkan ponsel.
Ia mendekat dan segera naik, melepas syalnya dan membuangnya sembarang, lantas menempel di dada bidang pemuda tersebut, sambil merengek.
"Sepertinya mereka tahu aku baru saja melakukan sesuatu di sini. Ini memalukan," adu Nyonya Hebihime, menenggelamkan wajahnya ke dada tersebut.
Tangan yang memegang ponsel itu segera turun, menaruh gadget itu di meja sebelah, lalu merangkul tubuh bak gitar spanyol tersebut. Tidak ada kata yang diucapkan, pemuda itu hanya diam.
"Sayangku, kamu berjanji akan membuat pertunjukan hebat, kan?" tanya Nyonya Hebihime.
__ADS_1
"Iya. Aku sudah mengaturnya."
"Aku akan memberitahukan rahasia tentang Keluarga Kuga setelah kamu memuaskanku."
Pemuda itu menoleh. Nyonya Hebihime tahu ini akan memancing reaksinya.
"Kamu tahu kalau aku dekat dengan Tuan Kuga. Pastinya kami pernah bertransaksi dan melakukan bisnis. Saling bertukar informasi."
Nyonya Hebihime melepas pelukannya dan menatap pemuda itu. Perlahan ia melucuti gaunnya dan naik ke atas tubuh kekasihnya.
"Kamu tidak harus membayar mahal untuk informasi penting ini. Mafia akan melakukan apapun demi tujuannya, kan?"
Setelahnya ia menunduk, mendekati wajah tampan itu, lalu merenggut bibirnya. Menciumnya.
Tangan kekar itu bergerak ke pinggang Nyonya Hebihime, mulai naik, dan menekan tubuhnya untuk menempel.
...* * *...
"Apa kita akan makan-makan sebelum pulang?" tanya Yuuji kepada ayahnya yang tengah menyetir mobil. Tuan Kuga menggeleng.
"Ibumu sudah menelpon dan menyiapkan makan malam," jawab Tuan Kuga.
"Hei! Kalian berhemat hari ini! Ayo makan di rumahku!" ajak Yuuji.
Kelimanya tampak senang mendengarnya, mereka mengangguk setuju. Dari kaca depan, Tuan Kuga melirik dan tersenyum. Ia pun memacu mobilnya hingga ke daerah kediamannya.
Sampainya di sana mereka segera turun. Dengan disambut Bu Miwa dan Ryuuji, keenam anak itu berkumpul di ruang tengah. Satu per satu dari mereka bergantian untuk mandi, pada saat
ini giliran pertama, yaitu Yuuji di kamar mandi atas dan Hiro di lantai bawah. Bu Miwa menggunakan kesempatan ini untuk mengenal teman-teman baru Yuuji—Fuji, Tama, dan Kuro.
Sambil menunggu antrian, ketiga senior Yuuji menyantap camilan yang dibuat Bu Miwa tadi siang. Ia membuat kukis bersama teman kecilnya Yuuji.
"Seorang gadis?" tanya Fuji memastikan.
Bu Miwa mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya. Tampak sorot bahagia terpancar jelas di bola mata. Seolah Bu Miwa sedang memamerkan sesuatu yang patut dibanggakan dan perlu diperlihatkan ke siapapun terutama teman anaknya.
"Namanya Meiko," jawab Bu Miwa.
Keempat teman Yuuji ber-oh. Kenji sudah cukup tahu tentang Meiko, tapi dia tidak menyangka gadis itu akan mendatangi rumah Yuuji. Dia penasaran sedekat apa Meiko dengan keluarga Yuuji ini.
__ADS_1
"Apa itu kekasih Yuuji?" tanya Kuro, kepo.
"Mmm, bukan. Tapi dia sering datang ke rumah untuk membantuku belajar membuat kue. Dia suka memasak kue, manis, kaaan?"
Dari cerita Bu Miwa, teman-teman Yuuji sudah paham dan menangkap sesuatu. Ya ini cewek yang ditaksir Yuuji.
"Kalau boleh tahu, Meiko itu seperti apa?" tanya Kuro lagi.
"Oh! Kalian pasti beranggapan sama denganku. Dia sangat maniiiis! Tunggu, aku punya fotonya."
Bu Miwa beranjak dari sofa tamu dan pergi ke kamar di lantai atas untuk mengambil ponsel. Ketika wanita itu pergi, Tuan Kuga menemui mereka dengan senyum tipis.
"Kalian menginap di sini saja. Ini sudah malam," ucap Tuan Kuga.
"Besok bareng aku aja," sahut Ryuuji dari belakang ayahnya.
Keempatnya mengangguk setuju. Tak lama Hiro datang dan segera bergantian dengan Kenji. Kedatangan lainnya dari Bu Miwa dan Yuuji, yang bersamaan menuruni tangga dan menemui mereka di ruang tengah.
"Sana gantian." Yuuji menatap ketiga seniornya yang belum mandi. Tetapi mereka menggeleng dan malah melihat Bu Miwa yang asik mengotak-atik ponselnya.
"Kenapa?" tanya Yuuji kepada ibunya.
"Tunggu sebentar.. nah! Ini."
Bu Miwa segera memperlihatkan layar ponselnya. Di mana di dalam sana ada seorang gadis dengan surai hitam gelap panjang, bola mata yang bulat, bibir ranum berpoles lipgloss merah jambu, setelan manis ala cewek kue. Gadis bernama Meiko yang sedang mengangkat sebuah gelas berisi parfait. Di sebelahnya ada Bu Miwa, tampaknya mereka berada di sebuah kafe.
"Ini diambil waktu kami jalan-jalan bulan lalu. Manis, kan?"
Seketika Yuuji membeku. Teman-temannya tersenyum penuh makna begitu ibunya menarik ponselnya sebelum Yuuji protes. Bergegas ia meninggalkan anak-anak muda itu, begitu pula dengan Tuan Kuga dan Ryuuji.
"Ahem!"
Tama berdehem, kemudian pergi ke lantai atas untuk mandi. Melarikan diri sebelum hal buruk terjadi di antara dirinya dan Yuuji.
...* * * * *...
Meiko
__ADS_1