
Tiga tahun berlalu setelah hadirnya kedua buah hati Lindsey dengan Domanick. Kedua anak kembar berjenis laki-laki itu semakin hari semakin jahil dengan kakak perempuan mereka, saat Naura akan les matematika Steiner dan Stanley terus menangis meminta ikut dengan Naura.
"Ih mom, Nola engga suka ade-ade ikut ketempat less!"
Naura ngambek dan duduk disofa sambil cemberut sementara kedua adik kembarnya terus menerus memegangi kaki tangan kiri Naura kiri dan kanan.
"Memangnya kenapa? Kan perginya sana momy, nanti ade-ade engga ganggu kok disana!" ujar Lindsey.
"Tapi mom, ade-ade itu selalu maksa ikut masuk kelas terus gangguin temen-temen Nola!"
"Engga kali ini, momy janji momy jagain! Boleh ya nak?"
"Iya deh ya sudah!" dengan nada terpaksa.
"Itut kakak," kata Stanley.
"Ade uga mau itut," kata Steiner.
"Iya bawel, kalian ikut kakak tapi awas ya nakal lagi seperti kemarin nanti engga kakak temenin maen lagi loh!"
Kedua adik kembarnya itu mengangguk sambil tersenyum karena senang Naura mengizinkan keduanya untuk ikut.
Sedang bersiap-siap untuk mengantar Naura less matematika! Tiba-tiba Domanick pulang ke rumah padahal hari masih sore, bersama dengan Gilbert keduanya buru-buru mencari keberadaan Lindsey.
Sampai di ruang tamu, Lindsey sedang menggandeng kedua anak kembarnya dan ada Naura juga yang sudah memakai tas untuk less hari ini.
__ADS_1
"Itu Dady!" kata Naura.
"Loh iya, kenapa jam segini sudah pulang ya Nola?"
"Kangen momy mungkin,"
"Kau ini, sejak ada kalian dihidup Dady dia sudah tidak pernah lagi merindukan momy!"
Domanick dan Gilbert menghampiri Lindsey dan anak-anaknya.
"Dad, ada apa?"
"Kita pergi ke ruang sakit sekarang!"
"Memangnya ada apa?"
"Astaga! Ayo anak-anak, kita ke rumah sakit lihat Opa!"
Domanick menggendong Stanley, sementara Lindsey menggendong Steiner dan Naura digendong Gilbert.
Padahal Naura sudah berusia tujuh tahun tidak perlu lagi digendong, tapi Gilbert masih memperlakukannya dengan manja.
Setibanya di rumah sakit, sudah ada Britney dan Daniel yang telah tiba lebih dulu. Britney langsung memeluk Domanick begitu melihat Domanick datang.
"Kak Nick, Dady kak!"
__ADS_1
"Kenapa bisa masuk rumah sakit lagi Brit? Kemarin Dady kan sudah membaik?"
"Entahlah tadi Dady kesulitan bernafas, kata Dokter penyakit jantungnya semakin parah meskipun sudah dipasang ring, Dady tetap kesulitan bernafas!"
"Momy dimana!"
"Sedang menelepon kak Bright!"
"Tenanglah Brit, Dady pasti kuat percaya pada kakak!"
"Keluarga Tuan Lan!" Dokter keluar dari ruangan Dady Lan.
Domanick pun menghampiri Dokter, dari raut wajah Dokter, Domanick melihat sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Mohon maaf, kami sudah melakukan segala yang terbaik tapi Tuhan berkata lain!"
Tangisan Domanick pun pecah, bukan hanya Domanick tapi juga dari para menantu Tuan Lan ikut merasakan duka yang sangat mendalam karena kematian Tuan Lan.
Selama tiga tahun belakangan ini, Tuan Lan memang sudah sering sakit-sakitan mungkin juga karena faktor usia yang menyebabkan segala penyakit datang menggerogoti tubuhnya.
Bahkan Tuan Lan tidak menunggu kedatangan Bright, Anna dan Darrel dulu! Dia sudah lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya.
Sebagai seorang istri yang selama ini setia mendampingi Dady Lan, tentu saja momy Larisha sampai pingsan berkali-kali! Bahkan hingga prosesi pemakaman Dady Lan, momy Larisha sempat pingsan diarea pemakaman.
Satu hari pasca meninggalnya Dady Lan, pengacara pribadinya Dady Lan datang untuk menyampaikan bela sungkawa yang sangat mendalam secara pribadi atas kepergian Tuan Lan sekaligus untuk menyampaikan surat wasiat yang sudah sejak lama disiapkan oleh Tuan Lan.
__ADS_1
Isi dari surat wasiat itu, semua aset akan diserahkan sepenuhnya kepada istrinya yaitu momy Larisha, adapun harapan Dady Lan ketika Momy Larisha sudah memikirkan matang-matang tentang pembagian harta warisan milik Tuan Lan, maka momy Larisha berhak untuk membuat surat wasiat lagi untuk ketiga anak-anaknya nanti.