
Larisha membawa Lindsey masuk kedalam salah satu kamar membiarkan gadis yang masih perawan menangis dalam pelukannya.
"Aku tidak bisa menerima hal ini mom aku tidak bisa,"
Ingin rasanya Lindsey memaki Domanick tapi untuk apa semua tidak ada gunanya, karena tidak akan merubah apapun. Sementara Domanick mengajak Raline berbicara berdua.
"Kau puas sekarang?"
"Maaf Nick aku hanya ingin Naura mengetahui siapa ayahnya dan memiliki status yang jelas,"
"Kau sadar kau menjebak ku Raline?"
"Aku tau aku salah tapi Naura tidak bersalah apapun padamu, aku tidak meminta mu menikahi aku Nick! Tapi tinggal lah bersama dengan ku dan Naura,"
"Kau gila Raline sampai mati aku tidak akan pernah mau tinggal denganmu!"
"Keluarga ku bangkrut dan ayahku mati dihabisi musuhnya,"
"Aku tidak peduli dan aku hanya akan memberikan mu uang untuk anak itu!"
Brugg...
Tiba-tiba Raline jatuh pingsan dan Domanick santai saja membangunkan Raline.
"Lin bangunlah jangan acting!" seraya menyentuh pipi Raline.
Tapi pipinya terasa sangat dingin wajahnya pun memucat, Domanick yang panik lantas menggotong tubuh Raline disaat yang sama Lindsey, Larisha, Tuan Lan dan yang lainnya melihat Domanick menggotong Raline.
Rasanya hati terasa disayat-sayat melihat suami sendiri menggotong tubuh wanita lain, terlebih wanita tersebut menghadiahinya seorang anak. Tak sempat bertanya apapun Tuan Lan ikut dengan Gilbert sambil menggendong Naura mengikuti Domanick yang akan pergi ke rumah sakit.
Sedangkan Lindsey dan Larisha bertahan di rumah karena Tan dan Laluna sedang dalam penerbangan menuju negara ini, sebagai orangtua Tan dan Laluna sangat kecewa dengan apa yang menimpa putrinya, Domanick benar-benar tidak bisa dipercaya.
Setibanya di rumah sakit Raline langsung mendapatkan penanganan serius dari Dokter, sementara Domanick dan yang lainnya hanya bisa menunggu sampai Dokter memberikan keterangan dengan apa yang terjadi dengan Raline.
Naura menatap wajah Domanick dengan tatapan menggemaskan namun Domanick justru memalingkan wajahnya.
"Sudah Naura jangan dilihat laki-laki itu monster!" kata Tuan Lan.
"Itu bukan Dady?"
"Bukan sayang itu monster galak nanti kau bia dimakan,"
"Uhhh selemm,"
"Kenapa anak kecil itu lucu?" dalam hati Domanick.
__ADS_1
Setelah beberapa lama Dokter akhirnya keluar dan langsung disambut oleh rasa penasaran Domanick dan yang lain.
"Apa yang terjadi dengannya Dok?"
"Nyonya Raline menderita kerusakan ginjal akut, setelah saya periksa menyeluruh sepertinya pasien bahkan pernah melakukan pencangkokan tapi gagal!"
"Apa tidak bisa diobati Dok?"
"Kerusakanya sudah sangat parah Tuan dengan sangat menyesal saya katakan tidak ada yang bisa kita lakukan selain memanfaatkan sebaik mungkin sisa usia yang tersisa,"
Domanick dan Tuan Lan langsung menatap anak kecil yang masih cengengesan tanpa paham bahwa Ibunya ternyata hidup tidak akan lama lagi.
"Masuklah kau harus bicara dengan ibu dari anak mu!"
Domanick pun menurut dan masuk kedalam ruang perawatan untuk melihat kondisi Raline.
"Nick kau disini rupanya?"
"Kau sudah sadar?"
"Iya aku baru membuka kedua mataku dan melihat sekeliling ternyata aku di rumah sakit, membosankan!"
"Kau sudah tau penyakit mu separah apa?"
"Aku akan minta izin terlebih dahulu pada istriku!"
"Sampaikan juga maafku padanya maaf aku sudah egois sekali tanpa peduli perasaannya,"
Malam itu Domanick tidak pulang dari rumah sakit dan Lindsey menginap di rumah Tuan Lan sambil menunggu Luna dan Tan datang.
Hari semakin larut dan Lindsey masih berharap Domanick datang untuk menenangkan hatinya walaupun ternyata Domanick ternyata tak kunjung datang, membuat Lindsey semakin dirundung kecewa dan kesedihan mendalam oleh sikap Domanick yang seolah tidak peduli sama sekali dengan perasaannya.
Apalagi wajah panik Domanick saat menggendong tubuh Raline, terbayang-bayang dalam ingatan Lindsey sampai sulit sekali untuknya memejamkan kedua matanya.
Ditempat berbeda Domanick pun merasakan kegelisahan yang luar biasa memikirkan perasaan Lindsey bagaimana sekarang, disisi lain Domanick semakin merutuki dirinya betapa tidak pantas dia untuk wanita sebaik Lindsey.
"Maafkan aku Sey kau harus bahagia selama hidup denganku hanya kesedihan yang kau dapatkan!"
Sementara Larisha dan Tuan Lan tidur bersama dengan Naura anak malang itu tidak berdosa apapun, dan Tuan Lan menerima kehadirannya sebagai cucunya.
Keesokan harinya Lindsey baru terbangun setelah dini hari tadi baru bisa memejamkan kedua matanya, saat membuka kedua matanya sudah ada Tan dan Luna yang ternyata sudah tiba entah pukul berapa.
"Loh momy Dady sudah sampai? Kok engga bangunin aku?"
"Kami tidak tega melihat mu tidur sangat nyenyak," Luna membelai rambut anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Dady ambilkan sarapan dulu untuk mu ya!"
"Iya dad, terimakasih Dady ku sayang,"
Tan pun mengacak-acak rambut Lindsey padahal dia tau sekali Lindsey sedang berusaha terlihat tegar agar Tan dan Laluna tidak ikut merasakan kesedihan yang saat ini luar biasa dia rasakan.
Dimeja makan Tuan Lan dan Larisha sedang sarapan bersama dan ada Naura juga yang sedang memakan roti.
"Halo anak manis," Tan mengusap rambut Naura.
"Halo Paman,"
"Loh Paman? Panggil aku grandpa, bisa?"
"Glanpa,"
"Anak pintar,"
"Tan bagaimana keadaan Lindsey?" tanya Tuan Lan yang khawatir sekali dengan menantunya.
"Aku tidak pernah melihat wajahnya sesedih itu Kak Lan, dia bahkan berusaha menutupinya tapi kedua matanya tidak bisa menutupinya,"
"Maafkan Nick ya Tan kami sangat bersalah tidak bisa mendidik Nick menjadi laki-laki yang baik untuk Lindsey!" Larisha kembali menitihkan air matanya.
"Kalian apa-apaan si janganlah terlalu diporsir memikirkan masalah ini, biarkan Lindsey dan Nick yang mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah ini, kita dukung saja apapun jalan yang mereka pilih!"
Pagi itu Domanick baru kembali dari rumah sakit, melihat mertua dan orangtuanya sedang berada dimeja makan Domanick langsung menghampiri.
"Dady Tan sampai jam berapa?" dengan tatapan mata sayu.
Tan bisa melihat Domanick juga tidak baik-baik saja dengan masalah ini.
"Tadi pukul 04.00 pagi, sarapan dulu Nick kau pasti begadang kan semalaman?"
"Tidak usah diberi perhatian Tan dia kan menantu tidak tau diuntung!" ketus Tuan Lan.
"Aku mencari Lindsey dad,"
"Dia di kamar dengan momynya kau kesana saja jika memang mau bicara, suruh momy Luna kemari biar sarapan bersama kami!"
"Baik dad terimakasih!"
Domanick pergi ke kamar tempat Lindsey berada, disana Laluna melihat kedatangan Domanick dan rasanya campur aduk sekali melihat Domanick tapi mau bagaimana lagi Laluna hanya bisa diam tak mau ikut campur.
"Mom boleh aku bicara dengan Lindsey?"
__ADS_1