
Jiwa Cassanova Domanick bangkit menggebu-gebu menuntut untuk sebuah penyelesaian atas apa yang sudah dilakukan oleh Lindsey terhadapnya. Mulanya Domanick sangat halus menciumi leher Lindsey tapi lama kelamaan Domanick menye sap setiap inci leher jenjang Lindsey dengan rakus.
Meskipun satu tangannya sedang luka dan diperban, tapi tangan satunya lagi sangat aktif menyusuri lekuk tubuh Lindsey! Satu tangan Domanick meraih pengait b r a yang dike na kan oleh Lindsey sementara diatas sana leher Lindsey habis dihi sapnya, sampai bekas merah itu tak terhitung lagi ada disana.
"Lehermu penuh bekas hisa pan kakak, kau marah?" Domanick mengentikan sejenak aktifitasnya untuk melihat respon wajah Lindsey yang selalu dia sukai saat sedang tinggi hasrattnya.
"Tidak, teruskan saja,"
"Kau menyukainya?"
Lindsey mengangguk dengan raut wajah yang sudah diselimuti oleh bira hi hingga membuat Domanick gemas jika Lindsey memasang wajah seperti itu.
"Aku suka melihat wajahmu saat sedang keenakan begini, seksi dan membuat kakak semakin tidak bisa mengendalikan naf su ingin menikmati tubuhmu!"
"Emth kakak hentikan jangan menatapku seperti itu!" Lindsey menenggelamkan wajahnya karena salah tingkah Domanick menatapnya sampai seperti itu.
"Hei jangan sembunyikan wajah bergai rah mu itu! Sini, jangan sembunyi kakak ingin lihat,"
Lindsey pun menurut laku tersenyum tak lagi bersembunyi dibalik bantal, keduanya saling mendekatkan bibir untuk berciuman tapi tiba-tiba.
Dor.
Dor.
Terdengar suara tembakan yang membuat Domanick dan Lindsey terperanjat kaget.
"Kak itu suara tembakan?" Lindsey langsung beringsut mencari-cari bajunya.
"Kau tunggu disini Sey, kunci pintunya!" Domanick langsung turun dari ranjang lalu keluar kamar untuk melihat ada kejadian apa.
Saat turun kelantai bawah 3 orang pelayan bahkan sedang ketakutan akibat mendengar suara tembakan di halaman rumah Domanick.
"Mana Gilbert?"
"Tuan Gilbert didepan rumah Tuan!"
Domanick berlarian mencari tau apa yang sedang terjadi didepan rumahnya. Di sana Gilbert dan dua orang security tengah waspada dan terus mondar-mandir.
"Bert, ada apa?"
"Tuan, penguntit itu mengirimkan itu!" Gilbert menunjuk papan bunga besar yang bertuliskan (Jangan cari tau aku, atau aku akan membuatmu dan istrimu lebih tidak tenang).
"Brengsek! Apa kau melihat orang yang menaruh ini?"
"Tidak Tuan, tapi kedua security ini yang melihatnya!"
"Laki-laki itu memakai penutup kepala Tuan, memakai mobil berwarna hitam dan langsung pergi! Aku sempat menembak dan hampir mengenai ban mobilnya tapi dia berhasil lolos!"
__ADS_1
Belum selesai kekesalan Domanick dengan ulah si penguntit yang sudah berani datang ke rumahnya! Handphone Domanick bergetar.
Dert.
Dert.
Panggilan masuk dari nomor tidak dikenal Domanick yakin ini pasti telepon dari si penguntit itu, diangkatnya telepon masuk itu oleh Domanick.
"Bagaimana Tuan Cassanova sudah terima bunga pemberian dariku?" dengan suara yang memakai aplikasi samaran.
"Siapa kau bajin gan breng sek jangan seperti pecundang datang padaku dan bertarung denganku secara jantan!" Domanick membentak.
Hahaha...
"Aku pecundang? Kaulah yang pecundang Domanick Limson kupikir ucapan mu benar seorang Cassanova tidak mengenal cinta dan tidak mengenal pernikahan, ternyata itu omong kosong! Kau jatuh cinta dan kau menikah!"
"Lalu apa urusannya denganmu baji ngan? Aku bersumpah aku pasti akan menemukanmu dan aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,"
"Aku percaya kau pasti akan menemukan aku, seorang Domanick Limson tidak mungkin tidak bisa menemukanku! Tapi kita lihat begitu kau menemukan aku, apakah kau sanggup membunuhku? Atau sebaliknya kau akan menangis?"
Telepon itu terputus membuat Domanick meremat handphone miliknya dengan wajah penuh ketegangan, karena jujur Domanick masih tidak paham dengan maksud orang ini masuk kedalam kehidupannya.
Tak lama kemudian Lindsey datang menghampiri Domanick.
"Kak Nick ada apa?" Lindsey melihat papan bunga itu.
"Astaga penguntit itu benar-benar semakin berani, dia bukan hanya mengikuti ku kemana pun aku pergi tapi juga berani datang ke rumah ini!" keluhan Lindsey.
"Aku hanya tidak mau memperkeruh suasana saja kak, tapi beberapa hari ini aku merasa sedang diikuti,"
Dert.
Dert.
Pesan masuk dari si penguntit yang bertubi-tubi.
(Percayalah jika kita bertemu masalah mu lebih runyam dibandingkan saat ini).
Kedua tangan Domanick mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Lindsey mulai besok pagi kau akan berangkat dan pulang kerja denganku, aku tidak akan membiarkan mu sendirian!"
"Iya kak, tapi apa itu salah satu musuh group Limson?"
"Bisa iya bisa juga entahlah yang jelas aku tidak mau sampai kau kenapa-kenapa!"
"Kakak kau khawatir padaku?"
__ADS_1
"Tentu saja aku khawatir mana mungkin aku tidak khawatir pada istri ku sendiri,"
Gilbert yang sejak tadi menyimak percakapan Lindsey dan Domanick hanya bisa menahan senyum melihat Domanick begitu khawatir pada Lindsey. Hanya Lindsey yang bisa membuat Domanick merasa khawatir seperti sekarang.
Dirangkulnya pundak Lindsey oleh Domanick.
"Ayo masuk!"
"Kenapa merangkul ku seerat ini?"
"Jangan bawel, suruh siapa keluar kamar tidak pakai b r a," bisik Domanick.
"Hah? Kakak lihat?" Lindsey langsung menutupi kedua semangka import miliknya dengan kedua tangannya sendiri.
Jadi sejak tadi Domanick yang sedang kesal dan khawatir masih sempat-sempatnya melirik kearah dua gundukan yang bisa dia tebak tidak memakai br a karena terlihat ada dua pucuk yang menjendol dibalik baju Lindsey.
"Kakak benar-benar ya sempat-sempatnya memperhatikan ini,"
"Tentu saja sempat memang apa salahnya aku memperhatikan milikku sendiri," dengan terus berjalan bersama menuju kamar.
Lindsey hanya bisa menggelengkan kepala, Domanick benar-benar otak semangka dalam keadaan apapun. Meskipun dihadapan Lindsey, Domanick sudah bersikap tenang dan biasa tapi didalam pikirannya Domanick bertanya-tanya siapa orang yang melakukan semua ini.
Dibelakang Lindsey dan Domanick, Gilbert mengikuti.
"Bert besok.kau harus cepat pergi ke taman hiburan itu! Aku tidak bisa ikut besok, pekerjaanku banyak, dan aku tidak mau jauh dari Lindsey!"
"Baik Tuan aku paham!" sambil menahan tawa karena Domanick bisa juga bersikap manis seperti ini pada seorang wanita.
"Ya sudah kau istirahatlah!"
"Baik Tuan, aku permisi!"
Gilbert pergi lalu Domanick dan Lindsey masuk kedalam kamar mereka keduanya naik keatas ranjang, Domanick menarik selimut untuk menyelimuti Lindsey.
Kemudian didekatinya Lindsey yang saat ini sudah berbaring dengan nyaman.
"Sey maaf kakak kurang perhatian padamu sampai-sampai kau diikuti orang pun kakak tidak tau, tapi kedepannya kakak akan berusaha untuk menjadi suami yang bisa kau andalkan!"
"Yang aku andalkan seperti menemani ku ke taman bermain? Shopping? Nongkrong di cafe? Makan malam romantis, seperti itu kak?"
"Hmm seperti itu!" Domanick membelai rambut panjang Lindsey dengan penuh rasa sayang.
♥️♥️♥️
Jangan lupa di like ya sayang-sayangku, buat yang masih nahan-nahan belum mau keluarin votenya ayo dong di vote 😁
__ADS_1
Bawel banget maak othor ye, jangan kapok dibawelin ya!!!
Semoga terhibur!!