Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mencintai Tanpa Syarat #2


__ADS_3

"Serius amat."


Kasih lagi serius membuat tugas desainnya dan dikagetkan oleh Septi temannya sejak semester 1.


"Astaghfirullah, kamu Sep bikin kaget aja." Kasih sampai mengusap dadanya.


"He he he. Kamu ya kalau sudah di depan laptop nggak bisa diganggu sama sekali."


"Emang tugas kamu udah." Tanya balik Kasih ke Septi.


"Ya jelas dong... Belum.. He he he."


"Kebiasaan."


Kasih menghadapi laptopnya lagi.


"Kan ada kamu yang jago."


Septi sambil mencolek dagu Kasih.


"Buat sendiri."


Kasih berlagak jutek tapi ya aslinya nggak tega.


"Please... Nanti tak belikan batagor deh."


"Kurang...!"


"Ya sama jus juga boleh, ya.. Buatin Kasih Sayang..." Dengan muka memelas kayak anak kecil Septi membuat Kasih tertawa.


"Tapi buat di rumah aja ya, Aku mau buru-buru ke warung ambil tempat kue ibu soalnya tadi katanya pesanannya nambah."


Kasih membereskan laptopnya dan mengemasnya ke tas.


"Oke, aku ikut ya. Nanti mampir beli jajan dulu ya."


"Oke.."


Mereka berdua menuju ke parkiran, karena Septi ambil sepeda motor sendiri jadi mereka berdua berjalan beriringan.


Sesampainya di warung nasi biasanya dan setelah tadi Mereka membeli jajan untuk dibawa pulang, Kasih memarkirkan sepeda motornya di depan dan masuk ke dalam sedangkan Septi menunggu di sepeda motornya saja karena tidak akan lama.


"Assalamualaikum Bude."


"Waalaikumsalam."


jawab Mereka yang ada di sana karena sudah lewat jam makan siang jadi tidak terlalu penuh.


"Gadis ini datang juga."


Dalam hati Akmal yang kebetulan baru makan siang di sana, ya walaupun tadi memang sengaja siapa tahu bisa bertemu dengannya lagi namun setelah hampir habis nasinya dan tak kunjung juga datang, dia mulai menyerah mungkin belum rejekinya.

__ADS_1


"Kasih.. Mau ambil tempat ya."


Kata Ibu yang punya warung.


"Iya Bude, tadi kata Ibu suruh ambil buat kue besok."


Akmal memperhatikan Mereka yang sedang berbicara.


"Kasih, namanya. Cantik kayak orangnya." Dalam hati Akmal


"Iya, tadi pagi Bude ditelepon ibu kamu dan ini sekalian uangnya ya yang kemarin."


"Makasih Bude."


"Iya sama - sama, besok jangan kesiangan ya."


"Insyaallah Bude, kalau berangkat kuliah Kasih langsung ke sini."


"Baiklah, pulangnya hati - hati."


"Iya Bude, makasih. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Kasih melangkahkan kakinya keluar dari warung dan Akmal pun segera membayar makannya untuk bisa berbicara dengan Kasih di luar.


"Permisi Mbak."


Kasih dan Septi sontak menatap ke arah pria yang berdiri di hadapannya.


"Iya Mas." Jawab Kasih lembut.


"Hmm.. Maaf sebelumnya saya mengganggu ya."


"Ada apa ya Mas, saya buru - buru mau pulang." Kata Kasih bersiap menyalakan mesin motornya.


"Sebentar aja, Kenal nama Saya Akmal boleh nggak saya berkenalan dengan Mbaknya." Kata Akmal sambil mengulurkan tangannya.


Kasih menatap ke arah Septi yang hanya senyum-senyum saja yang sudah paham dengan maksud dari Akmal ini.


"Maaf kalau saya lancang, tapi Saya ingin berkenalan dengan Mbak.."


Kasih menatap ke arah Akmal melihat pakaian yang ia kenakan terlihat rapi dan raut wajahnya juga sudah dewasa pasti usianya juga jauh di atasnya begitu yang ada di dalam pikirannya.


"Maaf Mas, saya buru - buru. Assalamualaikum."


Kasih menyalakan sepeda motornya.


"Waalaikumsalam, baiklah Saya tunggu lain hari Mbak." Kata Akmal yang tak kecewa walaupun belum mendapat sambutan yang hangat dari Kasih.


Kasih menjalankan sepeda motornya menuju ke arah rumahnya bersama Septi.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Kasih, Mereka berdua memarkirkan sepeda motor di teras dan mengucapkan salam masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Ibunya Kasih lalu mereka berdua meraih tangan Ibunya dan mencium punggung tangannya.


"Mbak..." Adiknya yang kecil suka menyambut kedatangannya.


"Jawab salam dulu dong, Kirana."


Ajar Kasih kepada adiknya.


"Waalaikumcayaam."


"Pinter, Salim sama Mbak Septi."


Kirana meraih tangan Septi dan menciumnya.


"Pinter banget kamu, ini jajan buat kamu." Septi sengaja tadi memberikan jajanan untuk adiknya kasih.


"Bilang apa Dik."


"Makasih.. Mbak Septi."


"Sama - sama."


Kasih lalu mengajak Septi ke kamarnya untuk mengerjakan tugas yang sebelumnya tadi sudah bilang ke ibunya.


"Kasih..."


Kata Septi yang tiduran di kasur kamar Kasih.


"Kenapa." Kasih mempersiapkan laptopnya.


"Cowok tadi sepertinya suka sama kamu, kenapa kamu nggak mau diajak kenalan tadi. Ganteng lho, nggak nyesel kamu." Septi memandang Kasih yang hanya tersenyum sekilas saja.


"Kenapa, kamu naksir. Tadi kenapa nggak Kamu aja yang kenalan."


"Kamu itu ya, ada cowok ganteng mendekat malah kayak gitu. Dia kayaknya kerja di kantoran dan sudah mapan kelihatan dewasa juga."


Septi sampai mengingatnya raut wajah dari Akmal.


"Ganteng hanya casing aja, yang pentingkan hatinya."


"Susah ya ngomongin cowok sama kamu. Emang kamu emang kamu tuh nggak mau pacaran kayak temen-temen kita."


"Nggak, aku mau langsung nikah. Tapi nanti kalau udah lulus sarjana."


"Mulai sekali kamu itu Kasih Permata."


Kasih hanya tersenyum saja lalu serius dengan tugasnya lagi

__ADS_1


😉😉😉


__ADS_2