Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Seandainya.. The End


__ADS_3

Semenjak malam itu mereka berkomitmen untuk menjaga cinta hingga nanti waktunya untuk bersatu.


Di kampus Qila dan Angga bersikap biasa saja seperti tidak ada apapun di antara mereka berdua. Sampai Silvi juga tidak mengetahui hubungan di antara mereka.


Hingga siang hari saat kuliah sudah selesai dan mereka kini sudah memasuki semester 7 mulai persiapan untuk membuat skripsi, Angga mengajak Qila untuk menemaninya mencari buku sekaligus mau jalan berdua yang sangat jarang mereka lakukan hanya kadang Angga mengantarnya pulang.


"La, kamu mau langsung pulang atau ada acara." Tanya Silvi.


"Aku pulang Sil, kenapa."


"Nggak papa, aku juga mau ke kos aja pusing kepalaku."


"Iya Sil, buat istirahat jangan terlalu capek revisi dipikir nanti lagi " Kata Qila sambil tersenyum.


"Ya, La. Aku duluan ya."


"Heem.. hati - hati ya Sil."


"Oke."


Setelah Silvi pergi, Angga yang tadi sudah berjanji untuk menunggu Qila datang lagi ke ruangan karena yang ditunggu tak kunjung datang.


"Sayang, kok masih di sini. Mas nunggu lama lho." Suara Angga mengagetkan Qila apalagi dia memanggilnya dengan sayang.


"Mas, kalau ada yang denger gimana."


Qila bukannya menjawab pertanyaan dari Angga tadi malam protes.


"Nggak ada orang, kamu lama banget."


Angga menghampirinya dan mengambil buku yang di bawa Qila.


"Qila bisa bawa sendiri Mas."


"Ayo, Mas laper nih kita makan dulu ya."


Angga tidak mendengarkan Qila malah berjalan dengan membawakan buku Qila.


Mereka keluar dari kelas dan Qila mengamati kanan kiri takut ada yang mengetahuinya.


"Kita langsung ke mall ya."


Tanya Angga dengan menoleh ke belakang karena Qila di sana.


"Ke perpus bentar Mas, itu balikin buku." Katanya sambil mensejajarkan langkah dengan Angga.


"Oke, ayo buruan."


Mereka berdua ke arah perpus tapi tanpa mereka sadari ada yang mengamati.


Setelah dari perpus Angga mengajak Qila ke mall untuk menemaninya. Sesampainya di sana Mereka langsung makan karena Angga sudah merasakan lapar dari tadi.


"Qila... Angga...."


Mereka berdua kaget begitu melihat Silvi ada di hadapan mereka dengan nada yang membentak.


"Silvi."

__ADS_1


Qila terlihat bingung dan merasa tidak enak.


"Kamu La, ngapain pergi ke mall berdua sama Angga katanya mau pulang."


Silvi sudah terlihat tidak suka.


"Sil, aku bisa jelasin."


"Kamu tega La sama aku, ternyata ya... selama ini aku curhat sama kamu tapi nyatanya apa kamu menikung dari belakang."


Angga merasa kasihan Qila dikatakan menikung.


"Sil, kamu salah paham."


Qila meraih tangan Silvi namun di tepis


"Salah paham apa.."


Angga sudah tidak bisa diam saja melihat kekasih hatinya disakiti, Dia berdiri dan meraih tangan Qila.


"Silvi, kamu tega sama teman kamu sendiri. Asal kamu tau aku nggak pernah punya rasa sama kamu dan aku cintanya sama Qila."


Qila dan Silvi melongo mendengar Angga jujur seperti itu.


"La... Hah.. Kamu tega." Silvi memerah wajahnya.


"Sil, aku jelasin."


Qila masih menahan Silvi yang hendak pergi.


Kata Silvi yang kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Kamu nggak papa sayang."


Angga meminta Qila untuk duduk kembali.


"Hiks... Mas kenapa jujur."


Qila gak bisa menahan tangisnya pikirannya kacau sudah kehilangan sahabat.


"Itu yang terbaik, mau sampai kapan kita diam dan menyembunyikan semuanya."


"Tapi aku belum siap Mas."


Angga menatap Qila dalam dan menggenggam tangannya.


"Kamu malu jika orang lain tau hubungan kita."


Qila langsung menatap Angga balik tak menyangka dia bicara seperti itu, air matanya lolos begitu saja.


"Sampai kapan La, ayo kita kasih tau kepada semua orang tentang hubungan kita. Aku juga mau mereka tau kalau kamu itu milik Ku."


Qila masih diam dan menangis perlahan.


"Aku kehilangan sahabat yang selama ini menemani ku."


"La, aku juga bisa jadi sahabat kamu, akan selalu ada untuk Kamu."

__ADS_1


"Mereka akan menggunjing ku."


"La, kita hadapi bersama. Genggam tangan Mas kita jalan bersama menghadapi semuanya."


"Aku nggak tau Mas sanggup atau tidak menghadapi ini. Rasanya berat untuk maju."


Angga melepas tangannya, dan mengatur nafas. Lalu dia berdiri dan berjongkok di depan Qila.


"Sayang, Kita hadapi bersama. Mas sayang sama kamu, Mas janji nggak akan ninggalin kamu akan selalu ada untuk kamu."


"Kita pulang Mas, Qila mau sendiri dulu."


Qila berdiri dan diikuti Angga, Mereka meninggalkan makan siangnya yang belum habis.


Angga mengantar Qila pulang, sesampainya di rumah Angga pun langsung pamit. Tadi di sepanjang jalan mereka berdua hanya saling diam.


Keesokan harinya Qila sudah fresh kembali setelah semalam mendapat banyak wejangan dari ibunya. Dia merasa bersalah dengan Angga yang begitu sabar menghadapi dirinya.


Qila mengambil ponselnya dan menghubungi Angga untuk menjemput dirinya dan dia sudah bertekad hari ini untuk tampil bersama di depan umum tentu saja disambut dengan bahagia oleh Angga.


Satu kampus heboh, dan banyak sekali cecaran yang menghampiri Qila. Banyak yang mengatakan Dia menikung sahabatnya sendiri. Rasanya mau menangis dan menghilang dari sana tapi Angga selalu menguatkannya dan selalu ada disisinya.


Akhir kisah...


Tak terasa perjuangan Mereka telah selesai, wisuda di depan mata dan setelah ini Angga akan segera mencari kerja sedangkan Qila mau fokus dengan usaha onlinenya yang sudah mulai ia rintis semenjak masih kuliah.


Nasib berpihak kepada mereka Angga di terima di sebuah perusahaan BUMN dan usaha Qila terus berkembang.


Janji Angga untuk segera melamar kekasih hatinya pun terwujud, malam yang bahagia ini sebagai saksi bahwa tingkat strata lagi mereka akan menyatukan cinta mereka di dalam mahligai rumah tangga.


Janji Angga kepada Rendi sudah di tepatinya dengan sekarang semua mendoakan kebahagiaan mereka setelah beberapa menit yang lalu Angga telah mengucapkan ijab qobul atas diri Qila dengan Rendi sebagai wali nikahnya menggantikan Bapaknya.


Tangis haru tak terelakan apalagi, sang sahabat Silvi yang sempat tidak baik karena kesalahpahaman dan keegoisannya ikut datang.


Qila semakin bahagia dengan hadirnya orang-orang yang dia cintai hadir di hari bahagianya bersama Angga.


"Sayang, makasih sudah mau berjuang bersama." Angga memeluk erat Qila dari belakang saat sudah berada di dalam kamar mereka.


"Makasih ya Mas, selalu sabar menghadapi Qila. Makasih sudah menjadi imam Qila."


Angga membalik tubuh istrinya untuk menghadap ke arah dirinya.


"Sayang, seandainya waktu itu Mas nggak berani mengungkapkan perasaan ini mungkin Mas akan menjadi manusia yang paling menyesal di dunia ini membiarkan kamu dengan yang lain."


"Mas, seandainya juga Mas tidak mengungkapkan perasaan mungkin Qila juga sudah menyerah dengan perasaan ini."


Angga menangkup wajah Qila dengan kedua telapak tangannya


"Kamu nunggu Mas ya."


Qila tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Maaf Sayang, sudah membuat kamu menunggu. I Love You."


"Love You More...."


😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2