Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Malaikat Tak Bersayap (1)


__ADS_3

Bruuukkkk...


"Aduh..."


"Aduh..."


"Lia...."


Teriak teman - temannya.


Mereka menyenderkan sepedanya di pinggir jalan lalu menghampiri Lia yang menubruk pesepeda lain di depannya dan mereka berdua jatuh tersungkur di jalan.


"Aduh, gimana sih Mbak."


Seorang laki-laki yang ditabrak oleh Lia tertindih sepeda miliknya dan mengerang kesakitan.


Sedangkan Lia dia juga tersungkur di jalan namun sepedanya tidak mengenai dirinya.


"Aduh..."


Lia mencoba bangun lalu dibantu teman temannya.


"Lia, kamu nggak papa."


Sisi yang cerewet khawatir dengan keadaan Lia terlihat darah keluar dari pelipisnya.


"Aku nggak papa."


Lia terduduk di pinggir sepedanya.


Lia lalu melihat seorang laki-laki yang ia tabrak duduk di pinggir jalan dan di tolongin orang.


"Mas, maaf ya. Saya nggak sengaja menabrak rem saya blong."


Laki-laki itu menatap Lia sambil memegangi lututnya yang sakit sepertinya juga berdarah.


"Lia, pelipis kamu berdarah."


Ratna teman satunya menyeka darah Lia dengan tisu.


"Gimana sih Mbak, rem blong dipakai sepedaan bisa membahayakan orang lain."


"Maaf Mas, maafin saya. Saya beneran nggak sengaja."

__ADS_1


"Luka kaki saya ini."


Laki -laki itu mengusap lututnya yang memang berdarah karena benturan dengan aspal.


"Rat, tolong alkohol."


"Kamu sendiri terluka Lia."


Ingat Sisi yang jengkel Sama Lia malah peduli dengan orang itu.


"Aku nggak papa, makasih Ratna."


Lia bangun di bantu Ratna lalu mendekat ke cowok itu yang masih duduk sambil minum.


"Saya bersihkan lukanya Mas, maafin saya Mas tadi rem sepeda saya juga masih bisa tapi nggak tahu tiba-tiba tadi di turunan malah nggak bisa ngerem."


Lia mengambil duduk di samping cowok yang dia tabrak tadi.


"Dicek dulu mbak sepedanya."


Laki-laki itu sedikit nyolot suaranya.


"Mas kok nyolot sih, teman saya kan sudah minta maaf namanya juga nggak sengaja." Sisi yang tak sabar menghadapi laki-laki itu.


Lia mengingatkan temannya itu untuk diam saja daripada masalah makin panjang.


"Saya korban, saya baik-baik sepeda di pinggir kenapa tiba-tiba ditabrak dari belakang. Saya kalau nggak terima bisa melaporkan kamu." Cowok itu menatap Sisi dengan tajam.


"Maafin temen saya Mas, permisi ya Mas saya bersihkan lukanya."


Lia membasahi kapas dengan alkohol yang dia bawa dan memang sengaja dia selalu membawanya siapa tahu di butuhkan.


"Tahan dikit ya Mas."


"Aoowww... Pelan Mbak, sakit ini."


Cowok itu menahan perih di lututnya.


"Maaf Mas, tahan dikit ya."


Lia masih membersihkan lukanya pelan-pelan dan penuh perasaan.


Cowok itu menahan rasa perih karena sentuhan alkohol dari Lia sambil mengamati pelipis Lia yang juga berdarah.

__ADS_1


"Itu pelipis kamu juga berdarah."


"Lia menyeka pelipisnya dan nampak darah di jarinya."


"Nggak papa luka dikit aja."


Katanya.


Cowok itu nampak menganggukkan kepalanya dengan masih menahan perih di lukanya.


Ratna dan Sisi tak habis pikir kenapa temannya itu lebih memilih mengobati cowok itu daripada lukanya sendiri.


"Teman kamu itu keras kepala, padahal lukanya lumayan juga."


Ucap Sisi yang memang karakternya suka blak-blakan orangnya.


"Kamu kayak nggak tau Lia itu gimana."


Jawab Ratna.


"Terlalu peduli sama orang lain sampai suka berkorban demi kebahagiaan orang lain tanpa memikirkan kebahagiaannya sendiri."


Kata Sisi dengan lagaknya seperti biasa mengejek Lia dan Ratna malah terkekeh sendiri.


"Sudah Mas, Saya plester ya lukanya nggak terlalu dalam kok nanti kalau masih sakit atau dirasa pegal silahkan datang ke klinik Kasih Sayang, cari saya."


Pesan Lia dan lagi-lagi Sisi dan Ratna tak habis pikir.


"Oke, kamu nggak bohong kan kalau di sana."


"Saya nggak bohong, cari aja Lia."


Kata Lia sambil membereskan peralatannya.


"Oke.."


Lalu cowok itu berdiri dan mengambil sepedanya.


"Makasih ya."


ucapnya sebelum mengayuh sepedanya kembali.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2