
"Sep... Septi..."
Kasih memanggil temannya itu yang berjalan duluan keluar dari parkiran.
"Kasih..."
Septi dengan kehebohannya melambaikan tangan ke arah Kasih.
"Tumben pagi banget."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke ruang.
"Biasa... He he he..."
Septi mengedipkan mata.
"Kebiasaan, tapi tumben semalam nggak gangguin aku."
Kasih menatap ke arah Septi yang biasanya kalau ada tugas malam harinya pasti minta ke Kasih.
"He he he... Mas Ku pulang semalem."
Katanya sambil tersenyum sendiri habis di apelin pacarnya yang tugas diluar kota.
"Cie... Diapelin."
Ledek Kasih.
"Eh.. Gimana kelanjutannya kamu sama itu cowok..."
Selidik Septi dengan menatap Kasih.
"He he he... Nanti ya ceritanya. Jadi nggak nih tugasnya.." Kasih mengalihkan pembicaraan.
"Ada yang kamu sembunyikan ya."
"Ayo.. Ini buruan kerjakan."
Kasih langsung membuka laptopnya begitu sampai di ruang agar Septi tak membicarakan itu lagi.
"Wah.. Bener - bener ini ada yang disembunyikan."
"He he he..."
Tak lama perkuliahan pun di mulai, Septi dan Kasih dengan serius mengikutinya.
"Ayo.. Ke kantin dan kamu harus cerita."
Septi menarik tangan Kasih ke kantin karena sudah tidak tahan lagi untuk mendengarkan ceritanya.
"Gimana kabarnya cowok itu."
Septi sudah mulai mencecarnya.
"He he.. "
Kasih mengeluarkan kertas kecil dan menunjukkannya kepada Septi.
"Wao.. Ini kartu namanya. Berarti kalian udah bertukar nomor HP dong, kapan."
Kasih tersenyum malu.
"Kemarin siang, dia pas ke warung dan ketemu."
"Tuh kan.. Bener tebakan Ku. Dia itu sengaja mau deketin kamu."
"Kebetulan aja kali, Sep."
"Ih.. Gemes aku Sama Kamu."
Septi seperti mau menerkam Kasih, karena temannya itu kurang peka.
"Aku itu takut ber..."
Belum selesai kasih ngomong, HP nya berbunyi....
"Siapa." Tanya Septi
"Ini.."
Kasih memperlihatkan layar ponselnya ke arah Septi dan terlihat nama Akmal di sana memanggil.
"Tuh.. Kan..."
Teriak Septi sehingga orang yang ada di sekitar mereka memperhatikan mereka berdua.
"Pelan suara kamu."
"Udah buruan di angkat."
Titah Septi.
__ADS_1
"Mau ngomong apa." Kasih masih mikir.
"Udah angkat dulu, di loud speaker."
Kasih lalu menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya dan menyalakan mode loud speaker namun volumenya dikurangi.
"Assalamualaikum." Ucap Kasih.
"Waalaikumsalam, Kasih dimana."
Suara Akmal terdengar lembut.
Septi menggerak - gerakan mulutnya.
"Di kampus Mas."
"Kok pesannya nggak di balas, lagi sibuk ya aku ganggu."
"Hmm ... Nggak kok Mas, baru selesai jam kuliah."
"Kirain dimana, sudah kirim pesan dari tadi kok tidak dibaca."
"Maaf Mas baru buka Hp."
"Iya nggak papa, siang ini ada waktu. Mau ngajak makan siang itu kalau Kasih lagi longgar."
"Iya.. Iya..." Bisik Septi namun Kasih masih mikir.
"Siang ini Mas.?"
"Iya Kasih siang ini, gimana.?"
"Dimana Mas, Kasih boleh ajak temen."
"Boleh, kamu kuliah dimana.?"
"Universitas Komputer, Mas."
"Oke, dekat situ ada cafe Oke. Saya perjalanan ke sana."
"Oh... Iya Mas, Saya sama teman ya."
"Iya, sampai ketemu Kasih. "
"Iya Mas, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dilain tempat Akmal, keluar dari ruangannya kemudian mencari Ridho di dalam ruangan kerjanya.
"Astaghfirullah... Ngagetin aja kamu Mal."
Ridho yang sedang serius menghadap ke arah layar laptopnya dikagetkan dengan kedatangan Akmal yang langsung membuka pintu.
"Yuk, ikut aku sekarang."
"Kemana."
"Makan.. Cepetan..!"
Dengan memaksa seperti dia kalau sedang memberi tugas kepada Ridho penuh dengan paksaan dan tekanan.
"Ngajak makan, kayak mau ngajak berantem."
"Buruan, nggak usah banyak bicara."
"Iya..."
Ridho menutup layar laptopnya lalu mengikuti Akmal yang sudah berjalan duluan di depannya.
"Kemana sih."
Tanya Ridho yang sudah duduk di sebelah kemudi.
"Temenin ketemu cewek kemarin."
Jawab Akmal sambil menjalankan mobilnya meninggalkan kantor.
"Mau kencan, ngajak orang pakai maksa lagi. Mau dijadiin obat nyamuk aku."
"Nggak usah protes deh, dia itu nggak mau kalau cuman ketemu berdua. Terus dia juga ngajak temennya masa aku sendirian."
"Terus... Aku yang kamu suruh nanti ngobrol sama temannya. Kamu sama Dia."
"Udah nggak protes deh, kita lihat aja nanti yang penting kamu ikut."
"Iya.. Nasib bawahan gini."
"Makan gratis sepuas kamu."
"Udah harus kalau itu, pakai acara ngancem."
__ADS_1
"Ya udah, kamu tinggal duduk manis aja ikut makan."
"Oke...oke... Tapi, awas ya sampai kamu nggak berhasil mendapatkan dia. Aku cap ganteng - ganteng nggak laku."
Lagak Ridho dengan mengejek.
"Kurang asem kamu, dengarkan ya jangan sebut aku Akmal kalau nggak bisa mendapatkan dia."
"Ha ha ha.... Aku catat Bro..."
Tawa Ridho dengan mengejek.
Tak lama mobil Akmal sudah merapat di depan cafe di mana dia membuat janji dengan Kasih.
"Disini Bro."
"Iya, dia kan kuliah di situ." Tunjuk Akmal ke arah kampus yang ada di depannya.
"Wah.. Anak jenius dong, pasti pinter IT nya ini."
"Sepertinya, anaknya cerdas."
Ucap Akmal dan dia tersenyum sendiri.
"Kenapa kamu senyum - senyum sendiri." Ridho memandang Akmal yang aneh.
"Itu dia datang."
Ternyata Akmal melihat Kasih yang mengendarai sepeda motornya menuju ke cafe itu.
"Dari jauh aja kamu bisa ngenalin Dia."
"Udah melekat di hati Bro."
Akmal pun masih tersenyum ke arah kedatangan Kasih yang datang bersama Septi.
Dia masih menunggu di parkiran hingga Kasih pun memarkirkan sepeda motornya tak jauh dari Akmal.
Kasih pun melihat Akmal sudah menunggunya dan Dia bersama Septi mendekat ke arahnya.
"Assalamualaikum Kasih."
"Waalaikumsalam Mas, maaf Mas saya telat." Kata Kasih.
"Nggak kok, Saya juga baru aja datang. Kita masuk yuk lama - lama bisa kering disini he he he..." canda Akmal.
"Iya Mas ."
Akmal memberi kode kepada Kasih untuk berjalan duluan, lalu dirinya bersama Ridho mengikuti dibelakang.
"Duduk dimana Mas."
Kasih berhenti dan menatap ke arah Akmal.
"Gimana kalau pojok sana aja lebih santai." Tunjuk Akmal.
"Baiklah "
Kasih menggandeng tangan Septi menuju ke tempat itu.
"Mau pesan apa." Tanya Akmal.
Yang duduk didepan Kasih sedangkan Ridho berhadapan dengan Septi.
"Apa Sep."
Kasih menyenggol Septi yang disampingnya.
"Aku ikut aja."
Septi nggak enak karena dia hanya menemani.
"Pesan saja sesuai selera kamu Kasih."
"Ikut Mas Akmal aja."
Akmal pun malah tersenyum, lalu memanggil pelayan disana dan membuat pesanan untuk mereka.
"Ini temannya kasih waktu itu kan."
Tanya Akmal untuk mencairkan suasana.
"Iya Mas, maaf ya saya tadi hanya diminta Kasih untuk menemaninya."
Kasih yang malu mencubit lengan Septi.
"Nggak papa, Kasih tadi sudah bilang kalau dia memang nggak mau bertemu dengan saya kalau hanya berdua saja."
Lalu Akmal pun akhirnya mengenalkan Ridho kepada Kasih dan Septi begitu pula sebaliknya.
Hidangan pun datang, mereka menikmati terlebih dahulu sebelum ngobrol lagi.
__ADS_1
🙂🙂🙂🙂