
"Biar saya bawakan."
Laki - laki itu langsung mengangkat tumpukan wadah kue dan membawanya masuk ke dalam warung.
"Saya bisa sendiri."
Kata Kasih namun Laki-laki itu hanya tersenyum saja dan meneruskan langkahnya ke warung.
"Bu, ini kuenya."
Ibu yang punya warung bingung, namun Kasih muncul di belakang laki-laki itu.
"Oh.. Kirain tadi Kasih nggak ke sini."
"Saya membantunya di depan tadi."
"Makasih."
Ucap Kasih yang sudah berada di samping laki-laki itu.
"Jadi Masnya ini temannya Kasih." Tanya ibunya yang jualan.
Mereka berdua hanya tersenyum.
"Kasih, ini uangnya tadi langsung dikasih sama yang pesan."
"Biasanya nanti siang Bude."
"Nggak papa, Ini dibawa sekalian uangnya nanti siang tinggal ambil tempatnya."
"Makasih Bude, saya permisi ya sudah siang ingin ke kampus."
"Hati-hati Kasih "
"Iya Bude, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jawab Mereka.
Lalu Laki-laki itu segera mengikuti Kasih yang melangkahkan kakinya keluar dari warung.
"Mbak,.."
Kasih pun berhenti dan menoleh ke belakang.
"Sekali lagi terimakasih Mas."
Ucap Kasih.
"Iya sama - sama, saya ikhlas membantu. Boleh Saya berkenalan... Akmal."
Iya laki-laki itu Akmal, yang sengaja pagi-pagi datang ke warung itu karena mendengar percakapan antara Kasih dan yang punya warung kemarin.
Akmal mengeluarkan tangannya ke arah Kasih sambil tersenyum.
"Kasih.."
Kasih menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Nama yang cantik, senang berkenalan dengan Kasih. Saya Akmal."
"Iya Mas, makasih sekali lagi saya permisi sudah siang."
"Oh.. Iya, maaf malah menunda perjalanannya."
Kasih menuju sepeda motornya, Akmal pun masih mengamatinya.
"Hati - hati di jalan Kasih."
Kata Akmal dan Kasih menganggukkan kepalanya lalu menjalankan sepeda motornya menuju ke kampus.
"Akhirnya, satu langkah sudah dilalui."
Akmal tersenyum sendiri mengamati sepeda motor Kasih yang semakin tak terlihat.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Sesampainya di kampus Kasih memarkirkan sepeda motornya lalu menuju ke kelas karena sebentar lagi dosen akan datang.
"Tumben baru datang kamu."
Septi yang sudah duduk manis di bangkunya melihat Kasih baru datang.
"Kesiangan tadi Nganter kue dulu, dan insiden lagi."
Mendengar itu Septi mendekat.
"Insiden apa."
"Hampir aja semua kue ibu jatuh, nggak tau deh apa yang terjadi kalau sampai tumpah semua. Tapi, untungnya ada yang nolongin."
"Siapa.?"
Septi kepo.
"Selamat... Pagi."
Dosen mereka datang, dan Septi kembali ke tempat duduknya.
"Nanti cerita lagi."
Kuliah pun dimulai, Kasih sangat antusias mengikutinya. Dia sudah semester 5 dan semester depan harus magang jadi dia butuh bekal yang cukup agar bisa mendapat perusahaan yang bagus untuk magang.
Selesai perkuliahan Septi ya sudah penasaran dengan cerita Kasih tadi langsung mendekati temannya itu.
"Ayo.. Cerita."
Rengek Septi.
"Aku jadi lapar, makan dulu yuk."
"Oke, nanti cerita ya."
"Iya..."
Mereka berdua keluar dari kelas dan menuju ke kantin.
"Kasih, buruan cerita."
Septi yang hanya makan siomay sambil menyuapkan makanannya terus mencecar pertanyaan kepada Kasih.
"Cerita apa."
"Kasih... siapa tadi yang nolongin kamu."
"Oh.. Itu yang kemarin ngajakin kenalan."
Septi langsung menatap serius ke arah Kasih.
"Cowok kemarin, yang ngajak kamu kenalan.?"
"Iya.."
Kasih sudah menghabiskan makanannya lalu menegak minuman yang ada di dalam gelas.
"Kok bisa."
"Mana aku tahu, dia tiba-tiba datang lalu bantuin aku."
"Wah.. Kayaknya bener ini tebakan aku."
"Apa.?"
"Cowok itu sengaja mendekati kamu, masa kamu nggak merasa sih Kasih.."
Septi kadang gemes sama temannya ini yang selalu menganggap semua hanya biasa saja.
"Iya kebetulan aja dia mau sarapan kali."
"Nggak.. Nggak. Nggak Kasih ini fix Dia sengaja."
"Aku nggak tau ya Sep."
"Terus tadi Dia tadi ngajak kenalan lagi."
__ADS_1
Kasih menganggukkan kepalanya.
"Siapa namanya."
"Akmal."
"Ingat ya Kasih, ingat omonganku ini. Kalau hari ini Kalian ketemu lagi atau mungkin besok lah. Udah fix Dia mau deketin kamu."
"Iya Dia makannya di situ, masak nggak boleh ke situ sih. Kamu gimana sih Sep."
"Udah nggak usah ngeles terus kamu, Dia itu mau deketin kamu."
"Tau ah.. Nggak mikirin dulu itu, aku mau cari tempat makan yang bagus."
"Kamu itu, Kasih.... Bikin aku gemas aja." Septi melahap siomay nya lagi dan Kasih hanya terkekeh.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kasih..."
Akmal sedang mengecek beberapa dokumen yang ada di hadapannya, sambil tersenyum sendiri mengucapkan nama Kasih.
"Namanya cantik seperti orangnya."
Akmal menyandarkan kepalanya di kursi sambil memandang langit - langit kantornya.
"Tok... Tok...."
Terdengar ketukan pintu ruangannya.
"Ya masuk."
Muncullah Ridho yang tersenyum dan masuk ke dalam.
"Tumben ketuk pintu."
"Hmmm.. ketuk pintu salah apalagi langsung masuk tambah salah lagi."
"Iya.. Ada apa."
"Makan siang yuk, kamu punya janji lho sama aku." tagih Ridho.
"Janji apaan."
"Pura - pura lupa Dia."
Akmal berlagak mengingatnya padahal dia sengaja mau menggodanya.
"Ya.. Berlagak Dia. Kenalin sama cewek itu, ayo buruan udah lapar ini."
"Ha ha ha... Kalau jam segini dia belum datang. Lagian aku sudah berhasil kenalan sama dia." Pamer Akmal.
"Serius, mau juga dia diajak kenalan."
"Mau dong, Akmal gitu.."
"Siapa namanya."
"Kasih, cantikan namanya.?"
Akmal menggerak-gerakan alisnya.
"Buruan di deketin entar diambil orang tua rasa kamu."
"Kalem aja Bro... Dia gadis unik nggak kayak gadis lain. Harus main halus jangan kasar nanti malah lari. Yang penting pelan tapi pasti."
"Oke.. Semoga jadi jodoh kamu.."
"Aamiin... Tapi ada masalah dikit ini.."
"Apa.?" Ridho serius mendengarnya.
"Dia gadis dari keluarga sederhana, kamu tau Mama kan gimana."
Ridho langsung paham, apa yang dimaksud oleh Akmal...
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1