Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mencintai Tanpa Syarat #18


__ADS_3

"Hari ini jadi bimbingan skripsi, Sayang."


Akmal pagi - pagi sudah melakukan panggilan video call dengan Kasih.


"Jadi Mas, semoga segera ACC. Terus daftar sidang."


"Aamiin, kamu pasti bisa, Sayang."


Kasih langsung memerah kalau Akmal memanggilnya Sayang.


"Mas, nggak ke kantor."


"Berangkat Sayang ini mau sarapan dulu."


Akmal masih berkemas di kamarnya dan Kasih juga masih menghadap ke laptop sedang mencetak skripsinya.


"Nanti siang, makan siang sama Mas ya. Mas jemput ke kampus."


Kasih menatap ke arah ponselnya.


"Siang ini Mas."


"Iya, nggak ada acara kan.?"


"Kasih ada kerjaan Mas, desain pesanan yang kemarin belum selesai harus selesai hari ini."


Akmal nampak sedikit kecewa karena Kasih sibuk, padahal Dia sudah merencanakan makan siang bersama yang sulit untuk mereka lakukan karena kesibukan masing-masing.


"Sebentar aja Sayang, rasanya udah lama kita nggak makan keluar bareng. Iya Sayang, please..." Akmal memohon.


Kasih terdiam, dia bingung antara kerjaan dan kebersamaan mereka.


"Nanti Kasih kabari lagi Mas, insyaallah Kasih usahakan bisa."


"Bener ya Sayang, Mas udah kangen."


Kasih pun tersenyum, membuat Akmal senang.


"Udah dulu ya Sayang, Mas berangkat ke kantor dulu nanti kalau kamu ke kampus hati - hati jangan lupa kasih kabar."


"Iya Mas."


Mereka menyudahi video call di pagi hari.


Kasih masih menata skripsinya namun pikirannya terganggu dengan permintaan Akmal yang mengajaknya makan siang.


"Aku hubungi Mas Ressa dulu, semoga bisa dikerjain di rumah aja."


Kasih menghubungi sepupunya Septi yang memegang bisnis itu, dan akhirnya di perbolehkan asalkan sore ini selesai dan kirim filenya.


Selesai menata Kasih langsung berangkat ke kampus setelah berpamitan dengan ibunya.


"Kasih hati - hati ya, jangan lupa pesan Ibu nanti sampaikan sama Bude besok libur dulu kuenya Ibu mau pengajian."


"Iya Buk."


Kasih menjalankan sepeda motornya menuju ke kampus dan sebelumnya seperti biasa akan ke warung untuk menaruh kue buatan ibunya.


Sesampainya di kampus Septi sudah menunggu Kasih.


"Gimana udah siap."


"Insyaallah Sep, semoga kali ini langsung ACC."


"Cie.. Udah nggak sabar nikah ya." Ledek Septi.


"Husstt.. Buruan."


Kasih segera masuk ke ruangan dosen untuk melakukan bimbingan skripsi. Sekitar satu jam kemudian dia keluar dan Septi setia menunggunya di depan.


"Gimana."


Septi yang sudah tidak sabar menunggu hasilnya langsung bertanya begitu melihat Kasih.


"Hi.. lihat ini."


Kasih memamerkan selembar kertas yang berisi persetujuan untuk sidang.


"Alhamdulillah.. Siap nikah ya berati."


Ledek Septi sambil memeluk sahabatnya.


"Kamu itu sidang baru mau daftar nikah Mulu."


"Ha ha ha.. Itu cowok kamu yang udah nggak sabaran."


"He he he... Dia terlalu sayang."

__ADS_1


"Cielah.. Ikutan bucin kamu."


"Sep, aku bingung."


"kenapa."


Mereka duduk di bangku taman kampus.


"Sore ini desain dari Mas Ressa harus selesai sore ini, sedangkan Mas Akmal ngajak makan siang."


"Ya nggak papa, makan siang aja kan. Turutin dulu mau Mas Akmal."


"Apa aku keluar aja kerja dari Mas Ressa, waktu aku habis Sep."


"Terserah kamu Kasih, kalau memang sudah tidak bisa menjalani jangan di paksa."


"Aku pikirkan dulu deh, tapi sayang lumayan bayarannya."


"Ha ha ha... Calon suami kamu kan kaya raya Kasih." Ledek Septi.


"Nggak mau aku nanti di katakan mau uangnya aja."


"Sekarang Mamanya Mas Akmal kan udah sayang sama kamu."


"Tetap ada rasa gimana gitu Sep."


"Bismillah aja di jalani dengan ikhlas, semua karena Allah."


"Iya Sep."


Lalu ponsel Kasih bergetar nama nama Akmal tertera di sana.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Sayang Mas Otw ya."


"Iya Mas, Kasih tunggu di mini market depan ya."


"Oke Sayang, tunggu Mas ya."


"Iya Mas, hati - hati ya."


"Iya Sayang."


Lalu Kasih meminta tolong ke Septi untuk mengantarkannya ke minimarket depan lalu tak lama mobil Akmal pun datang.


"Cie, siapa itu." Ledek Septi.


"Waalaikumsalam." jawab Kasih dan Septi.


"Kasih, sepeda motornya aku bawa aja ya. Nanti pulang minta antar Mas Akmal."


Kasih menatap Septi.


"Sekali - kali nggak papa Kasih, Mas Akmal dengan senang hati mengantar kamu."


"Iya Sayang, Mas juga khawatir kamu pulang sendirian."


Septi senyum bahagia, apalagi panggilan mereka ternyata sudah sayang.


"Besok aku gimana."


"Mas jemput ke rumah."


"Udah sana buruan berangkat."


Septi menyenggol lengan Kasih.


"Ayo Sayang, Mas udah lapar habis meeting."


Akmal membukakan pintu mobil untuk Kasih.


"Makasih Mas."


Akmal tersenyum dan menutup pintu tak lupa memberi kode ke Septi, atas idenya.


"Kita jalan sekarang Sayang."


Tanya Akmal setelah Dia duduk di depan setir.


"Iya Mas, kita kemana.?"


"Ikut Mas aja ya." Jawab Akmal dengan tersenyum.


Setelah 30 menit Akmal membelokan mobilnya ke sebuah restauran yang memiliki nuansa romantis.


"Bentar Mas bukain Sayang."

__ADS_1


Akmal turun duluan untuk membukakan pintu mobil untuk Kasih.


"Makasih Mas."


"Ayo Sayang, kita masuk."


Akmal mengulurkan tangannya untuk di gandeng oleh Kasih.


"Mas duluan, Kasih ikut di belakang aja." Kasih tidak menerima uluran tangan Akmal dengan tersenyum.


"Jangan dong, kamu di samping Mas. Silahkan Sayang jalan duluan."


Kasih pun berjalan dan Akmal mengimbangi di sampingnya.


"Kita duduk sebelah sana."


Kasih mengikuti Akmal.


"Silahkan duduk."


Akmal menggeser kursi untuk Kasih.


"Makasih Mas."


Lalu beberapa menu datang dan disajikan di hadapan mereka.


"Kita makan dulu ya Sayang, ngobrolnya nanti."


Kasih tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Selesai makan Akmal meneguk minuman yang ada di depannya.


"Sayang."


Ucapnya setelah minum sambil menatap ke arah Kasih .


"Iya Mas."


"Gimana skripsinya."


Kasih tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kertas dan menunjukkannya kepada Akmal.


"Wao... Hebat calon istri Ku yang cantik ini. Bangga Mas sama kamu Sayang." Puji Akmal membuat membuat Kasih malu.


"Kapan mau daftar sidang Sayang."


"Besok Mas. Insyaallah."


"Mas temenin ya besok."


Lalu hp Kasih berbunyi.


"Maaf Mas sebentar."


Akmal menatap Kasih dan mendengarkan percakapan Mereka.


"Iya Mas, sore ini saya usahakan selesai."


"Iya segera aku kirim hasilnya."


"Waalaikumsalam."


Begitu percakapan Kasih dan membuat Akmal menatapnya.


"Siapa Sayang."


Dengan nada tidak ramah Akmal bertanya.


"Mas Ressa , menanyakan desain Mas." Jawab Kasih dengan menundukkan kepalanya.


Akmal menghela nafas, sebenarnya dia sudah mau meminta Kasih untuk tidak bekerja tapi belum ada waktu yang tepat.


"Sayang."


Akmal sadar kalau pakai emosi akan memperkeruh suasana.


Kasih menatapnya.


"Kalau Mas boleh menyarankan, Sayang berhenti aja gimana. Sayang pasti capek dan lebih baik saat ini fokus untuk sidang skripsi dulu." Dengan lembut Akmal berbicara.


"Kasih, saat ini sebenarnya juga merasa capek karena pikiran Kasih terforsir. Tapi..." Kasih tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Sayang, Mas memberi saran begitu karena sayang sama kamu. Mas siap membantu kamu apapun Sayang, Mas siap 24 jam buat kamu, Mas akan selalu mendukung apapun keputusan kamu tapi jangan yang membuat kamu kesulitan sendiri."


Kasih menunduk, Dia sayang dengan pekerjaannya.


"Sayang, Mas siap lahir batin untuk kamu. Mas mencintai kamu tanpa syarat apapun."

__ADS_1


Kasih nanar menatap ke arah Akmal, rasanya mau menangis namun ia tahan.


😉😉😉😉😉


__ADS_2