Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Seandainya 3


__ADS_3

~Qila PoV~


"Share Lok , ya. Aku udah di dekat rumah Mu."


Sebuah pesan masuk ke ponsel Ku.


"Kenapa La.?"


Tanya Ibu Ku.


"Pesan dari siapa, serius amat."


Lanjut Ibu bertanya lagi.


"Teman Ma, mau ke sini." Jawab Ku.


"Teman kampus.?"


"Iya, boleh nggak Ma." Tanya Ku sama Ibu.


"Ya, boleh dong. Masa main nggak boleh. Cewek.?" Tanya Ibu.


"Cowok Ma."


Ibu Ku langsung menatap Ku sambil tersenyum dan mungkin di dalam hatinya bertanya-tanya.


"Katanya mau ikut pengajian Bapak."


"Kamu undang Dia."


Aku hanya menggelengkan kepala saja.


"Biarin aja, udah di jalan.?"


"Udah Deket sini katanya Ma."


"Buruan di kirim share Lok."


"Iya Ma."


Aku pun mengirimkan lokasi rumah, dan pengajian memang baru akan dimulai setelah sholat Maghrib.


Selang beberapa menit saja ada suara seorang pria mengucapkan salam di depan rumah.


"Waalaikumsalam." Jawab Ku dan Ibu.


"Ke depan sana La, kayak suara Mas Mu." Kata Ibu dan aku ke depan.


"Dek.."


Benar saja suara Mas Rendi.


"Iya Mas, baru datang teriak-teriak."


Kataku sambil meraih tangan Mas Rendi dan mencium punggung tangannya.


"Cie... Di apelin ya." Ledeknya.


"Ha... Maksudnya Mas."


"Itu ke depan, cowoknya udah datang. Mama mana Dek."

__ADS_1


"Ada apa Ren."


Mas Rendi meraih tangan Ibu dan memeluknya.


"Sehat Ma."


"Alhamdulillah, tadi kata kamu ada siapa di depan."


"Itu cowoknya si kecil." Ledek Mas Rendi.


"Apaan sih Mas, temen itu."


Aku pun ke depan dan yang dimaksud sama Mas Rendi pasti Angga.


"Sampai sini juga Ga."


Sapa Ku, begitu melihat Angga sudah duduk di ruang tamu mungkin tadi masuk sama Mas Rendi.


"Hai.. Maaf ya aku langsung duduk tadi disuruh masuk sama Mas kamu."


"Iya, silahkan duduk. Tadi ketemu Mas Rendi dimana."


Aku mengambil duduk di depannya.


"Di depan, pas sampai Mas Kamu datang. Terus aku tanya aja apa beneran ini rumah kamu, ternyata dia Mas Kamu."


Lalu terdengar adzan Maghrib memang Angga datangnya udah sore menjelang petang.


"Pengajiannya di mulai jam berapa."


Tanya Angga.


"Habis Maghrib ."


"Dekat sini aja, bareng Mas Rendi aja tunggu sebentar ya pasti sebentar lagi Mas Rendi keluar." Kata Ku.


Benar saja Mas Rendi setelah mandi udah langsung keluar dan pergi ke masjid.


"Itu Mas Rendi. Mas, Angga mau ikut ke masjid."


"Oke, silahkan."


Mereka berdua keluar dari rumah menuju ke masjid dan aku pun memandangi mereka berdua dari dalam rumah.


"La, ayo sholat." Kata Ibu.


"Iya Ma."


"Dipandangi terus, kayaknya orang spesial." Ibu malah kepo sih.


"Bukan Ma, hanya teman."


Kata Ku sambil berlalu untuk mengambil wudhu.


Selesai jamaah, Angga kembali ke rumah bersama Mas Rendi dan tak lama Bapak - bapak sekitar rumah yang sudah mendapat undangan pengajian mulai berdatangan ke rumah untuk pengajian meninggalnya Bapak. Mas Rendi dan Angga lah yang menyalami mereka, awalnya Angga canggung tapi karena di minta untuk menemani Mas Rendi akhirnya dia mau.


Aku sendiri membantu Ibu mempersiapkan hidangan dengan Ibu di dalam rumah.


Selesai pengajian, Angga masih tinggal di rumah dan nampak ngobrol asyik dengan Mas Rendi.


"Dek, temannya nggak di tawari makan." Ledek Mas Rendi padahal hidangan ada di depan mereka.

__ADS_1


"Sambil ngobrol, silahkan sambil dinikmati hidangannya Ga." Kata Ku.


"Makasih La." Ucapnya dengan tersenyum.


Hari makin larut malam dan Angga pun berpamitan karena tidak enak juga bertamu di rumah seorang gadis terlalu malam.


"Aku pamit ya La, Makasih udah diberi kesempatan boleh ke sini."


Katanya saat di depan rumah dia akan menaiki sepeda motornya.


"Kamu apaan sih Ga, aku yang Makasih udah dibela-belain ke sini ikut pengajian Bapak."


"Aku seneng La, bisa kenal kamu sama keluarga kamu. Mas Kamu baik banget apalagi Ibu. Lain kali boleh main lagi kan."


Aku saya tersenyum dan menganggukkan kepala saja.


Lalu Dia pun berlalu meninggalkan rumah dengan menggunakan sepeda motornya, tak lupa aku berpesan untuk mengabari jika sudah sampai rumah.


Saat aku masuk ke dalam rumah Ibu dan Mas Rendi menatapku dengan tersenyum.


"Kenapa Mas, Ma. Lihatin Qila kayak gitu."


"Ma, aku rela kok kalau mau dilangkahi dulu sama Qila." Kata Mas Rendi dan aku sudah paham ke mana pembicaraan mereka.


"Mas apaan sih, siapa juga yang mau menikah melangkahi Mas Rendi. Aku mau wisuda dulu."


"Bagus kalau mau wisuda dulu, kamu harus ingat pesan Bapak kamu." Kata Ibu dan membuat Ku merasa bersalah saja.


"Ma, Qila sama Angga tidak ada hubungan apa-apa kita cuman teman."


"Tapi kelihatan kok Dek, dia suka sama kamu." Kata Mas Rendi.


"Suka boleh, tapi kamu harus bisa jaga diri dan Ibu nggak larang kamu pacaran cuma kuliah harus tetap jalan dan prestasi tidak boleh kendor."


"Qila sama Angga teman saja kok Ma."


Aku masih membela diri dan tidak mau terbawa perasaan walaupun memang Angga kelihatan perhatian.


"Oke sekarang kalian berteman tapi Mas sebagai laki-laki bisa menangkap kalau Dia suka sama kamu Dek. Mas juga nggak larang kalian ada hubungan cuma kalau dia nanti bilang suka sama kamu suruh temui Mas dulu "


Aku menatap Mas Rendi dengan penuh tanda tanya.


"Mas apaan sih, Qila nggak mau berharap juga."


"Ingat ya Dek, suruh Dia temui Mas."


"Tau ah Mas..."


Aku pergi saja ke kamar meninggalkan ibu dan Mas Rendi.


🌹🌹🌹🌹🌹


Sesampainya di rumah Angga tak lupa mengirimkan pesan ke Qila jika sudah sampai.


"Mas Rendi baik, tapi kelihatan kalau dia sayang banget sama Qila dan pasti melindunginya."


Katanya sambil menatap langit kamarnya.


"Apa Mas Rendi memperbolehkan ya aku pacaran sama Qila."


"Maju Ga, buktikan sama keluarga Qila kamu laki - laki bertanggungjawab."

__ADS_1


👍👍👍👍👍👍


__ADS_2