Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mencintai Tanpa Syarat #19


__ADS_3

Tiga bulan kemudian..


Setelah perjuangannya selama 3.5 tahun menempuh pendidikan di perguruan tinggi akhirnya selesai sudah. Hari yang dinanti dimana saatnya memakai toga dan bersuka cita atas kelulusan yang mereka nantikan akhirnya datang juga.


"Maaf Mas belum tau bisa datang atau tidak, kerjaan belum selesai."


Kasih tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Dia memahami kalau Akmal sibuk.


Akmal sedang berada di luar kota sejak 3 hari yang lalu untuk urusan kerjaan. Rencana akan pulang sore begitu pekerjaan selesai dan akan menemani wisuda Kasih.


"Iya Mas nggak papa. Doakan semua lancar. Mas hati-hati disana."


"Maaf... Sayang."


Akmal menampakkan wajah menyesal padahal sudah janji akan menemani Kasih wisuda.


"Kasih nggak papa kok Mas, Alhamdulillah udah sampai kampus Mas. Udah dulu ya Mas. Assalamualaikum."


Kasih memang berada di dalam mobil saat video call dengan Akmal perjalanan menuju ke kampus.


"Iya Sayang, Waalaikumsalam."


Kasih bergabung dengan teman-temannya Mereka merayakan kelulusan yang sudah susah payah mereka perjuangkan.


Acara demi acara terlampaui dengan sukses namun di dalam hati Kasih tetap ada rasa kurang karena Akmal tidak bisa datang padahal selama perjuangannya Dia selalu ada, menemani saat malam hari harus menyelesaikan skripsi.


"Melamun aja."


Septi mengagetkannya.


Kasih tersenyum.


"Pak Su nggak datang beneran ya."


Kasih menganggukkan kepalanya.


"Sabar, nanti juga ketemu kalau udah balik."


"Iya, Sep tapi ada yang kurang aja."


"Senyum dong, itu Mama sama Papanya datang."


Septi melihat kedua orang tua Akmal yang datang bersama ibu dan bapaknya kasih.


Kasih menghampiri mereka.


"Ma, Pa."


Kasih menyalami mereka berdua dan bergantian mencium punggung tangannya.


Akmal meminta kepada kedua orang tuanya untuk menggantikan dirinya datang ke wisuda Kasih.


"Selamat ya Kasih."


"Terima kasih Ma, Pa. Mama dan Papa udah datang."


"Maaf ya Akmal nggak bisa datang."


Mama Rita memeluk calon menantunya.

__ADS_1


"Iya Ma, Kasih nggak papa. Mas Akmal kerja diberi keselamatan."


"Mau dong di peluk."


Tiba - tiba dengar suara seorang laki-laki dari belakang Kasih.


Kasih melepas pelukan Mama Rita, dan menengok ke belakang.


"Mas."


Kasih seperti tak percaya, Akmal ada di belakangnya dengan membawa buket bunga cantik dan sebuah boneka yang mengenakan topi toga.


Semua orang tersenyum senang, padahal mereka sudah tahu kalau Akmal datang dan meminta kepada mereka untuk diam.


"Selamat Sayang."


Akmal memberikan bunga dan boneka cantik itu.


"Mas, kok datang.. Hiks..hiks..."


Kasih malah mewek dapat kejutan.


"He he he... Kok nangis, senyum dong."


Akmal menggodanya .


"Mau peluk juga boleh."


"Nggak mau."


"Akmal, belum halal."


"Bercanda Ma."


Kasih menangis bahagia, Dia merasakan hidupnya sempurna. Semua orang yang disayanginya datang semua di hari bahagianya.


"Mas kok bisa datang."


Kasih penasaran, kini mereka sedang makan siang bersama.


"Begitu selesai Mas langsung cari penerbangan paling cepat, Mas nggak mau buat kamu kecewa Sayang."


"Dia rela lari-lari Kasih, untuk bisa sampai sini tepat waktu."


Tambah Mama Rita membuat Kasih menatap Akmal dengan nanar.


"Jangan nangis lagi, rasanya mau usap itu pipi." canda Akmal.


Kasih tersenyum namun air matanya mengalir.


"Sayang, setelah ini kita bahas pernikahan kita ya."


"Kasih nurut Ibu sama Bapak."


Akmal lalu mendekat kepada kedua orangtuanya Kasih dan membicarakan rencana pernikahan mereka.


Setelah dibahas semua dan kedua orangtuanya Kasih setuju, di sepakati 2 hari lagi lamaran dan pernikahan 1 minggu kemudian.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


2 hari kemudian


Kasih sudah terlihat cantik dengan make up yang sederhana dan kebaya yang bernuansa coklat susu di padukan dengan jarik yang manis menambah kecantikannya.


"Cie...."


Ledek Septi, melihat Kasih berkaca di depan cermin sambil tersenyum.


"Udah cantik, retak itu kaca nanti."


Ledek Septi dan Kasih lagi-lagi cuma tersenyum.


"Rasanya gimana Kasih, mau nikah."


Tanya Septi.


"Campur aduk, Sep. Seneng, terharu, bingung juga."


"Kok bingung." Septi mikir.


"Bingung aku Sep, belum bisa menjadi istri yang baik. Nggak tau caranya gimana."


"Ha ha ha.. Kirain bingung ngapain."


Kasih menatap Septi heran.


"Kamu mikir apa."


"Ha ha ha.. Masa kamu nggak paham."


"Husst..."


Lalu pintu kamar terbuka dan datang saudara Kasih.


"Kasih, ayo keluar sudah datang rombongannya."


"Iya Tante."


Kasih ditemani Septi keluar dari kamar menuju ke depan, semua mata tertuju ke mereka apalagi Akmal tak berkedip menatap Kasih yang terlihat sangat anggun dan cantik.


"Kedip." Senggol Ridho.


"Istri Ku cantik banget."


"Calooonnnnn Bro..."


Ledek Ridho.


"Bentar lagi."


Lalu acara pun segera dimulai, acara tukar cincin dilakukan oleh kedua orang tua mereka.


Mama Rita memakaikan ke jari Kasih sedangkan Ibunya Kasih memakaikan ke jari Akmal.


"Terima kasih Sayang."


Bisik Akmal saat mereka sesi foto.


Kasih hanya tersenyum malu rasanya baru kemarin kenal sebentar lagi mereka akan menikah.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2