Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mukena Merah Muda #18


__ADS_3

"Silahkan Sayang."


Gama membukakan pintu mobil untuk Karina.


"Makasih Mas."


Gama lalu berputar dan membuka pintu mobil sebelahnya lalu duduk di belakang kemudi.


Mobil boleh berjalan meninggalkan rumah karena menuju ke lokasi di mana Gama akan mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa.


"Mas udah belajar."


"Insyaallah Sayang." Katanya sambil tersenyum.


"Berapa jam waktunya Mas."


"Waktu tesnya 2 jam, kalau sudah selesai sebelum waktunya boleh keluar."


"Karina yakin Mas Gama pasti lulus, maafin Karin ya Mas gara - gara Karina Mas kamu harus membatalkan beasiswanya yang kemarin."


Gama tersenyum melirik ke arah Karina yang duduk di sampingnya.


"Bukan karena kamu sayang kan emang waktunya yang belum tepat, Mas ingin ke luar negeri ditemani sama kamu."


"Mas kenapa nungguin Karin."


"Karena Mas nggak bisa jauh dari kamu."


Pipi Karina merona, setiap mendengar jawaban dari Gama yang selalu memujinya.


"Alhamdulillah sudah sampai, Sayang nanti nunggu di ruang tunggu nggak papa ya."


"Iya Mas."


"Nanti ada layarnya di luar bisa lihat hasil yang mengikuti tes."


"Baik Mas, Karina akan doakan semoga mendapatkan hasil yang terbaik sesuai keinginan Mas Gama."


"Aamiin, makasih sayang. Ayo kita turun Sayang."


Mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam gedung itu untuk segera melakukan registrasi dan mengikuti ujian yang akan segera dilaksanakan.


Panggilan kepada para peserta untuk memasuki ruangan sudah berbunyi.


"Sayang, Mas masuk ya. Doakan semoga berhasil."


"Pasti Mas, jangan lupa berdoa ya Mas terus di baca yang teliti soalnya."


"Pasti Sayang, kalau bosen kamu jalan-jalan ya."


"Iya Mas, Karina mau cari mushola."


"Oke, hati - hati ya Sayang. Mas masuk dulu."


"Bismillah ya Mas, berhasil."


Gama tersenyum mengusap kepala Karina yang tertutup hijab membuat jantung Karina tak terkendali.


Setelah Gama masuk ke dalam ruangan Karina pun ingin melaksanakan sholat Dhuha, dia keluar dengan mencari Mushola yang ada di lokasi itu.


Setelah sholat Dhuha Karina kembali lagi ke ruang tunggu di sana banyak sekali keluarga dari peserta yang mengikuti ujian untuk mendapatkan beasiswa S3 ke luar negeri. Sebuah layar terpasang menunjukan hasil ujian para peserta yang tersaji secara real time.


"Alhamdulillah."


Ucap Karina begitu melihat nama Gama sudah nampak di jajaran teratas para peserta.


"Gama Pramuditya Putra."


Suara seorang wanita yang mengajak anak kecil duduk dekat layar itu dan membuat Karina menoleh ke arahnya.


"Apa itu kamu Gama." Lanjutnya tapi Karina hanya diam saja di sebelahnya.

__ADS_1


"Siapa wanita ini, kok tau Mas Gama."


Dalam hati Karina.


Karina hanya diam saja dan kadang melirik karo wanita yang ada di dekatnya itu. Namun tak lama wanita itu pergi karena anaknya rewel.


"Siapa wanita tadi, tapi jelas-jelas dia tadi menyebutkan nama Mas Gama lengkap." Karina masih bicara sendiri di dalam hatinya.


Beberapa orang di sekitar Karina sudah menuju ke pintu keluar karena melihat hasil mereka sudah selesai.


"Alhamdulillah Mas Gama Selesai."


Karina bersyukur dan ia beranjak dari duduknya menuju pintu keluar untuk menyambut Gama.


Beberapa saat ia berdiri, lalu tersenyumlah ia begitu melihat sosok calon suaminya yang keluar dengan senyum senang.


"Sayang, Alhamdulillah... Semua karena doa kamu Sayang."


Katanya sambil mengusap kepala Karina.


"Karena usaha Mas Gama sendiri, Karina cuma nungguin di sini aja."


"Makasih Sayang, Mas haus..."


"Ini minum Mas."


Karina memberikan air kemasan kepada Gama.


"Kita cari duduk dulu yuk."


Karina menganggukkan kepalanya, mereka pun berjalan mencari tempat duduk yang kosong dan adem.


"Minum dulu Mas."


Pinta Karina begitu mereka duduk.


Gama menegak minumannya menghabiskan setengah botol itu untuk menyegarkan tenggorokannya.


"Alhamdulillah..." Ucapnya.


Panggil seorang wanita yang menggendong anak kecil tadi.


Gama seketika menoleh ke arah suara itu. Karina pun hanya mengamati mereka berdua.


"Itu cewek tadi." Dalam hatinya.


"Ayo Sayang, kita pergi."


Gama seketika meraih tangan Karina dan menggenggamnya lalu beranjak dari sana.


Karina sendiri kaget karena baru kali ini mereka bersentuhan kulit secara langsung.


"Gama, aku cuma mau minta maaf."


Ucap Wanita itu dan Gama berhenti sejenak.


"Aku sudah memaafkan mu dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku."


Gama semakin erat menggenggam tangan Karina namun tidak memandang ke arah wanita itu malah Karina yang menatapnya.


"Ini siapa." Tanyanya.


"Istri Ku, ayo Sayang kita pulang."


Gama merangkul pundak Karina dan membawanya pergi.


Karina menangkap ada rasa tidak suka dari Gama kepada wanita itu entah apa yang pernah terjadi di antara mereka.


"Gama... Semoga bahagia selalu."


Wanita itu masih terucap walaupun Gama sudah meninggalkannya.

__ADS_1


"Silahkan masuk Sayang."


Gama membukakan pintu mobil untuk Karina dan tak lupa Ia mengucapkan terima kasih.


Mobil mulai berjalan Gama tak sedikitpun menyinggung siapa wanita itu dan Karina pun diam tak berani bertanya biarkan saja nanti Gama bercerita sendiri.


"Sayang, kita makan siang dulu ya. Oh ya... Risa sudah selesai kan ini sekolahnya."


"Ia Mas, bentar lagi waktu Risa pulang."


"Kita jemput sekalian ya."


Karina menganggukkan kepalanya.


Karina pun menghubungi adiknya untuk pulang bersama namun ternyata Risa ada kerja kelompok dan tidak bisa ikut dengannya.


"Kita makan sini ya Sayang."


"Iya Mas."


Mereka sebelumnya sholat dhuhur sebelum memesan makanan dan setelah selesai baru mereka duduk santai menunggu pesanan datang.


"Sayang, Mas mau cerita sesuatu."


"Soal apa Mas." Karina sudah punya tebakan pasti wanita tadi.


"Tentang siapa wanita tadi."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Dia, mantan Mas tapi kita sudah lama tidak punya hubungan dan baru kali ini juga ketemu lagi."


Gama bercerita dengan memandang ke arah Karina.


"Terus kenapa dia tadi minta maaf sama Mas."


"Mungkin dia merasa bersalah."


"Bersalah kenapa Mas."


Karina hanya mencoba menggali informasi.


"Dia dulu pergi meninggalkan Mas dan berselingkuh dengan teman dekat Mas sendiri. Maafin Mas ya Sayang baru cerita, bukan maksud Mas menyembunyikan masa lalu tapi biarlah yang sudah terjadi ya sudah selesai."


"Mas, Karina nggak papa itu juga masa lalu dan setiap orang punya masa lalunya sendiri."


Gama meraih tangan Karina dan menggenggamnya.


"Sayang, Mas ini nggak sempurna dan Mas ingin kamu menjadi pelengkapnya. Mas banyak kekurangan dan kamu yang bisa menutupinya dan apa bila ada kelebihan dari diri Mas ini semua karena ada kamu di samping Mas."


"Mas, kita saling melengkapi dan Karina minta untuk selalu jujur mau baik ataupun buruk diantara kita. Ajarin Karin ya Mas untuk jadi lebih baik lagi."


"Kita saling belajar sayang."


Katanya sambil menarik tangan Karina ingin menciumnya namun di tarik sama Karina.


"Jangan Mas, belum boleh."


Katanya sambil tersenyum dan menyembunyikan tangannya.


"Tadi gandeng boleh."


"Udah bonus itu, aslinya juga belum boleh. Biar mantannya tadi percaya kalau Karin istri Mas."


Canda Karina.


"Kamu kan memang istri Mas, tau gitu tadi Mas cium kamu."


Gama sedikit sebel dan pura - pura cemberut.


"Karin telepon Papa nih."

__ADS_1


"Ampun.. Iya maaf Sayang."


😃😃😃


__ADS_2