
Mereka sudah sampai di restoran itu setelah tadi sholat Maghrib terlebih dahulu dan kini tentu Risa yang paling semangat dengan membuat beberapa pesan sesuai dengan selera dia.
"Kamu nggak pesan Mie, Karin."
Tanya Gama.
"Mbak Karin mana suka mie."
Celetuk Risa dan Karina hanya tersenyum, dia hanya memesan nasi goreng yang ada di restoran itu.
"Kenapa tadi nggak minta aja jangan ke tempat yang menunya semua mie." Gama menatap Karina.
"Nggak papa Mas, di sini juga masih ada menu nasi kok. Lagian Risa suka dengan restoran yang seperti ini."
Gama pun hanya tersenyum dengan sikap Karina yang lebih baik mengalah dan mengutamakan kesukaan adiknya.
Lalu datanglah pesanan mereka dan mereka menikmatinya bersama sesuai selera masing - masing.
"Mbak, aku ke kamar dulu ya."
Ucap Risa setelah menghabiskan makanannya.
"Kamu kenapa?, sakit perut. Mbak kan udah sering bilang kalau pesan mie itu jangan terlalu pedas."
Karina nampak mengkhawatirkan Risa yang sudah berulang kali selalu sakit perut setelah makan mie karena terlalu kepedesan.
"Bukan Mbak, aku kebelet aja."
"Jangan lama - lama."
"Oke, Bos."
Risa meninggalkan mereka berdua dan memberi kode ke Gama untuk mendekati Karina karena mereka hanya berdua.
"Karin."
Panggil Gama.
"Iya Mas."
Karin menengadahkan kepalanya.
"Soal pembicaraan kita waktu itu, maaf kalau Mas mau menanyakan soal itu lagi."
Karina sudah paham ke mana arah pembicaraan mereka. Tapi Karina mau diam dulu biar Gama yang bicara
"Mas beneran serius sama kamu, dan masih menunggu jawaban dari kamu Karin."
"Maafin Karin ya Mas sebelumnya, Karin masih menggantung jawaban untuk Mas Gama ."
"Mas akan tunggu Karin, sampai kamu siap memberi jawaban."
"Karin merasa nggak pantas untuk Mas Gama. Masih banyak perempuan lain yang lebih pantas untuk mendampingi Mas Gama."
__ADS_1
Gama menatap Karin dengan serius.
"Menurut kamu perempuan yang seperti apa yang pantas mendampingi saya Karin."
"Yang setara dengan Mas Gama, yang pantas mendampingi Mas Gama untuk berumah tangga. Mas Gama Dokter berprestasi, pinter dan sempurna di mata perempuan. Tapi apalah Karin ini Mas, Karin nggak pantas mendampingi Mas Gama. Karin nggak sepadan dengan Mas Gama."
Karin mengungkapkan semua isi hatinya sama persis dengan yang dia curhat kepada Anggun soal kegundahan hatinya.
Anggun sudah memberi saran untuk jangan berfikir seperti itu karena Gama tidak pernah memandang orang yang dia suka dari sisi harta dan kepintaran.
"Karin, Mas nggak pernah memandang kamu dari sisi itu. Mas tidak ingin mencari pasangan yang seperti kamu bilang. Mas tulus sayang sama kamu tanpa melihat apa yang kamu punya. Karin apa kamu tidak bisa merasakan ketulusan cinta ku."
Karin hanya menundukkan kepalanya.
"Karin juga sayang Mas, tapi Karin sadar diri." Dalam hati Karina.
"Karin, Mas sayang kamu apa adanya. Mas ingin menghabiskan sisa umur dan menua bersama denganmu. Kasih kesempatan Karin sama Mas untuk membuktikannya sama kamu."
Karin mengangkat kepalanya.
"Apa Karin pantas mendampingi Mas Gama."
"Sangat pantas dan cuma kamu yang Mas mau."
Mereka saling menatap dan Risa datang mengganggunya.
"Ehem... Risa ganggu ya."
"Kok lama Dik."
"Antri Mbak."
Gama diam dan mengaduk minumannya lalu menyedotnya.
Risa memandangi Gama dan Karina bergantian, dia merasakan mereka berdua habis bicara serius.
"Hmmm.. Sepertinya lebih baik Risa kesana dulu ya. Silahkan Mas Gama dan Mbak Karin ngobrol dulu."
"Di sini aja kamu."
Ucap Karina dan Gama memandangnya.
"Mas Gama kenapa."
Gama tersenyum.
"Nggak papa Risa, mau nambah makan lagi kamu."
"Makasih Mas, Risa udah kenyang."
"Kayaknya kita pulang aja yuk, udah malam juga." Ucap Karina dan Gama menatapnya.
"Karin.. Apapun yang membuat kamu bahagia Mas juga akan bahagia. Mas akan tetap selalu menjaga kamu seperti pesan Bapak."
__ADS_1
Mereka berdua saling pandang, dan Risa memperhatikan mereka berdua bergantian.
"Maaf Mas..."
Karin menundukkan kepalanya.
"Mas masih boleh main ke rumah dan ketemu sama kalian kan."
Gama bergantian menatap Risa dan Karina.
"Mas Gama itu sudah Risa anggap seperti Kakak. Mas Gama ngomong apa sih, pasti boleh dong main ke rumah.. Kok jadi melo gini sih.."
"He he he..."
Gama mengusap kepala Risa sambil tersenyum dan Karina menatap mereka berdua.
"Ya udah kalau mau pulang, yuk kita pulang." Ajak Gama.
Gama berdiri dan menuju ke kasir untuk membayar pesanan mereka lalu menghampiri Risa dan Karina yang masih di meja.
"Yuk, kita pulang."
Karina diam saja dan berjalan dengan Risa menuju ke mobil di ikuti Gama.
🌹🌹🌹🌹🌹
Malam makin larut dan Gama sudah sampai rumahnya.
"Gimana Sayang, jadi ambil beasiswanya."
Tanya Mamanya Gama.
"Baiknya Gama ambil nggak Ma."
"Gadis itu yang membuat kamu ragu untuk pergi."
Gama sudah bercerita kepada Mamanya tentang Karina dan keluarganya.
"Gama tidak bisa meninggalkannya ke luar negeri Ma. Siapa yang jaga dia nanti."
Mamanya tersenyum dan mengusap tangan putra kesayangannya.
"Emang dia belum kasih jawaban."
"Gama tidak menganggap itu tadi jawaban Ma. Gama nggak yakin itu dari hatinya."
"Terus kamu mau menunggu dia berapa lama, sampai mengorbankan cita cita kamu."
"Ma, Gama sayang dia kalau memang tidak bisa memilikinya yang penting dia bahagia Ma dengan orang yang tepat. Baru setelah itu Gama akan melepaskannya dengan ikhlas."
Mamanya memandang dengan sayang, kepada putra kebanggaannya itu.
"Mama akan dukung apapun keputusan kamu."
__ADS_1
"Makasih Ma."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹