
"Kasih..."
Akmal setelah selesai pengambilan darahnya, Ia mendekati Kasih dan Septi dia masih berada di ruang tunggu.
"Terima kasih sekali lagi, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kamu."
"Sama - sama Mas, maaf kami pamit. Semoga Tante segera diberi kesehatan seperti sediakala." Pamit Kasih.
"Kamu tadi ikut ambulans, Saya antar pulang ya." Tawar Akmal.
"Terima kasih Mas, nggak usah. Mas Akmal lebih dibutuhkan di sini. Kami bisa pulang sendiri." Tolak Kasih halus.
"Kasih, ada Papa yang jaga Mama. Lagian hanya sebentar ngantar kamu pulang sama Septi."
"Nggak usah Mas, terima kasih atas tawarannya.
Kasih menarik tangan Septi dan mereka berlalu meninggalkan Akmal.
"Kasih.."
Akmal mengikutinya, dan Kasih menoleh ke belakang.
"Masih ada kesempatan kan buat Aku, Mas Sayang sama kamu."
"Tante lebih membutuhkan Mas, Assalamualaikum."
Kasih berjalan kembali meninggalkan Akmal yang masih mematung menatap dirinya yang pergi bersama Septi.
"Kasih, aku akan buktikan."
Kasih tidak menggubrisnya, Dia berlalu menuju ke lobby untuk mengambil sepeda motornya yang masih ada di warung.
"Kasih, kamu masih sayang sama Mas Akmal."
Tanya Septi, kini mereka sudah berada di dalam taksi online.
"Aku nggak tau Sep."
Kasih menatap ke arah jendela, nanar matanya menerawang ke depan.
"Mas Akmal, terlihat banget sayang sama kamu."
"Aku takut kecewa Sep, biarlah waktu yang menjawab semua. Sekarang lebih penting skripsi ku, semoga segera wisuda."
"Aamiin, kita wisuda bareng Kasih."
Mereka berdua saling melempar senyum, walaupun di dalam hati Kasih terasa gundah.
🌹🌹🌹🌹🌹
Keesokan harinya, Mama Rita telah sadar dan ia bagusnya tidak mengalami luka yang terlalu serius di kepalanya hanya saja kemarin memang membutuhkan transfusi darah karena terlalu banyak pendarahan.
"Pa..."
Suara Mama Rita memanggil suaminya yang berada di sampingnya.
"Iya Ma, yang sakit mana Ma."
Mama Rita menggelengkan kepalanya.
"Mama mau apa."
"Akmal..."
Tadi pagi setelah salat subuh Akmal memang berpamitan untuk pulang karena ada meeting penting ke kantor jadi yang menunggu hanya Papanya saja. Saat Mamanya sadar Akmal sudah meninggalkan rumah sakit jadi belum melihatnya.
__ADS_1
"Akmal, tadi setelah salat subuh pulang Ma, karena harus ke kantor ada meeting penting. Semalam Akmal juga tidur di sini menemani Mama, bahkan kemarin Dia juga mendonorkan darahnya." jelas Papa.
Air mata Mama Rita luluh, mendengar itu.
"Mama jangan nangis."
Papa dengan sabar mengusap air mata istrinya.
"Mama, salah Pa. Mama minta maaf."
Papa tersenyum senang, istrinya sudah sadar.
"Akmal nggak marah sama Mama, dia sayang sama Mama."
"Maafin Mama Pa, merepotkan Papa."
"Iya, Mama nggak salah. Sekarang istirahat ya nanti Papa kirim pesan sama Akmal supaya langsung ke sini begitu selesai meetingnya."
"Iya Pa."
🌹🌹🌹🌹🌹
Akmal disibukan dengan pekerjaan kantornya karena sedang ada masalah jadi meeting dadakan pun diadakan.
Dia setiap menerima pesan dari Papanya dan sangat gembira jika Mamanya sudah sadar.
"Bro, aku langsung cabut ya."
Pamit Akmal ke Ridho.
"Gimana Tante keadaannya."
"Alhamdulillah sudah sadar ini aku mau langsung ke rumah sakit."
"Oke, duluan ya."
"Hati - hati."
Akmal meninggalkan kantornya dengan mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit di mana Mamanya dirawat.
Sesampainya di rumah sakit Akmal langsung menuju ke ruangan Mamanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ucap Papa dan Mamanya yang sedang disuapin makan.
"Gimana keadaan Mama."
Akmal mencium tangan Mamanya.
"Mama, baik Akmal. Maafin Mama ya nak."
"Mama nggak salah, Akmal yang tidak bisa mengerti mama."
Mereka berpelukan dan Mama Rita terasa haru menyesali perbuatannya.
"Mama akan ikuti semua mau kamu, jika menurut kamu itu yang terbaik."
"Makasih Ma, untuk saat ini yang penting Mama sehat dulu."
"Mama sehat, dan akan segera pulang."
"Alhamdulillah Ma."
__ADS_1
"Mama makasih Akmal, kamu sudah mendonorkan darahmu untuk Mama."
Akmal tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ma, sebenarnya bukan hanya Akmal saja yang mendonorkan darah untuk Mama."
"Siapa."
Akmal melihat ke arah Papanya yang sudah tahu jika kemarin kasih mendonorkan darah untuk istrinya.
"Jujur saja sama Mama Kamu."
Ucap Papanya.
"Siapa Akmal."
"Tapi Mama jangan marah ya."
"Siapa Akmal, siapa orang baik yang sudah rela mendapatkan darahnya untuk Mama.
"Kasih, Ma."
Mama Rita memandang Akmal seperti tak percaya orang yang telah Ia sakiti malah baik bersedia untuk mendengarkan darahnya.
"Kasih..."
"Iya Ma, Kasih dan temannya yang menolong Mama dan membawa Mama ke rumah sakit ini sampai dia juga rela mendonorkan darahnya untuk Mama."
"Mama sudah salah sangka sama Dia, Akmal."
"Tapi yang Akmal masih pikirkan, kok bisa Mama kecelakaan dan yang menolong Kasih dan Septi."
"Hiks... Hiks..."
Air Mata Mamanya luluh.
"Yang salah Mama, sebenarnya siang itu Mama ingin menemui dia karena gara-gara dia kamu membenci Mama. Mama mau memperingatkan dia untuk tidak menemui kamu lagi tapi naas saat Mama ingin menemuinya Mama tidak memperhatikan jalanan kalau ada mobil yang datang ke arah Mama."
Mama Rita bercerita apa adanya, membuat Akmal tak habis pikir Mamanya sampai berbuat seperti itu.
"Mama kok tega nyakitin Kasih, Kasih itu nggak pernah deketin Akmal tapi aku sendiri yang ngejar dia Ma."
"Maafin Mama Akmal, maafin Mama. mama takut kalau dia itu cuman memanfaatkan kamu aja."
"Ma, Kasih orangnya baik, dewasa dan nggak pernah merepotkan kedua orang tuanya. Dia gadis yang istimewa makanya Akmal ingin terus memperjuangkannya."
"Maafin Mama Akmal, Mama menyesal, Mama sudah jahat sama Dia."
"Dia pasti maafin Mama, karena Kasih buka seorang pendendam Ma. Dia memilih mengalah dan pergi demi kebahagiaan aku."
"Akmal, Mama akan merestuimu jika kamu memang mencintai gadis itu."
Akmal berbinar mendengar itu.
"Mama yakin."
Mama Rita menganggukkan kepalanya.
"Kapan Mama diajak ke rumahnya."
"Mama sembuh dulu ya."
Kata Akmal sambil memeluk Mamanya.
😍😍😍😍
__ADS_1