Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mencintai Tanpa Syarat #16


__ADS_3

Tok...tok...tok


"Kasih.."


Terdengar ketukan kamar Kasih dan teriakan memanggil namanya dari luar.


"Kasih, ini Ibu buka nak. Kamu lagi ngapain di dalam."


Kembali terdengar panggilan Ibunya yang memanggil Kasih.


Tok...tok...


"Kasih, buka Nak ada tamu."


Lagi - lagi Ibunya mengetuk pintu dengan suara agak lebih keras lagi.


Karena sudah beberapa kali memanggil dan mengantuk pintu tidak ada jawaban dari dalam kamar.


"Kasih..."


Tok...tok...tok...


"Kamu tidur, bangun Nak ada tamu nyari kamu."


Kasih yang sayup-sayup mendengar namanya dipanggil mulai menggerakkan badannya. Dia memang tidur setelah capek pulang dari kampus serta dan tempat kerja part time.


Sekarang Kasih kerja part time di sepupunya Septi, dia hanya mengerjakan desain saja jika ada pesanan.


"Kasih.. Bangun."


"Iya Bu..."


Kasih dengan badan yang masih lemas, bangun dari tempat tidurnya lalu membuka pintu kamarnya.


"Astaghfirullah Kasih, udah berapa kali Ibu manggil kamu."


"Kasih tidur Bu, ada apa Buk."


"Ada tamu itu nyari kamu."


"Siapa Bu."


"Nanti tau sendiri. Udah buruan pakai jilbabnya terus cuci muka, bantuin Ibu bawa keluar minuman itu."


Kasih masuk lagi ke dalam kamar untuk mengambil jilbab instannya lalu keluar menuju kamar mandi untuk mencuci muka.


"Siapa sih tamunya, kok buat minum banyak. Itu kedengaran rame di depan."


"Itu nyari Kamu."


Kasih mengerutkan dahinya, penasaran dengan tamu siapa yang datang.


"Kasih, ayo ini bawa satu nampan."


"Iya Buk."


Kasih mengikuti ibunya keluar menuju ke ruang tamu dengan satu nampan minuman. Sudah terdengar suara ramai mengobrol dengan ditemani Bapaknya.


Kasih berada di belakang Ibunya, dia berhenti begitu melihat siapa tamu yang datang.


"Mas Akmal.."


Katanya lirih dan terdiam memegangi nampan, dia sudah melihat senyum Akmal kearahnya.


"Kasih, kok diam di situ. Sini minumnya." Panggil Ibunya.


Semua orang menatap ke arah Kasih dengan tersenyum apalagi Akmal terlihat bahagia sekali.


Kasih berjalan dengan pelan dengan membawa nampan berisikan minuman untuk para tamunya.


"Silahkan Oma."


"Tante."


"Om."


"Silahkan Mas."

__ADS_1


Dengan malu Kasih meletakkan segelas minuman di hadapan Akmal.


"Makasih." jawab Akmal.


"Kasih apa kabar." Tanya Oma."


Kasih pun menyalaminya setelah selesai menata minuman di hadapan mereka.


"Baik Oma."


Kasih meraih tangan Oma dan mencium punggung tangannya.


Oma pun memeluk Kasih.


"Oma kangen Kasih."


Kasih tersenyum.


"Kasih juga kangen Oma."


Katanya malu - malu.


"Ada Tante Kasih."


Kata Oma, yang melepaskan pelukannya. Lalu Kasih pun mengulurkan tangannya agak ragu ke arah Mamanya Akmal karena takut tidak diterima lagi.


"Kasih .. Maafin Tante."


Diluar dugaan Kasih, Mama Rita meraih tangan Kasih dan langsung memeluknya.


"Tante khilaf, maafin Tante. Kamu mau kan memaafkan Tante."


Kasih menganggukkan kepalanya.


"Kasih sudah memaafkan Tante."


Mama Rita melepaskan pelukannya dan mengusap wajah kedua pipi Kasih.


"Makasih Kasih, Tante menyesal pernah bilang seperti itu kepada kamu. Tante malu sama kamu, Tante sudah jahat sama kamu tetapi kamu malah baik sama Tante. Kamu rela mendonorkan darah untuk menyelamatkan nyawa Tante."


Kasih tersenyum, dia seperti tidak percaya Mama Rita berubah sebaik itu kepadanya.


"Kita harus saling menolong Tante."


"Makasih Kasih. Tante berhutang nyawa kamu."


"Tante nggak berhutang apapun sama Kasih, Kasih ikhlas melakukan semua itu."


Akmal menatap ke arah dua wanita yang ia sayangi saling berpelukan.


"Ini Papanya Akmal, Kasih."


Mama Rita memperkenalkan suaminya.


"Kasih, Om."


Kasih meraih tangannya lalu mencium punggung tangannya.


"Om senang mengenalkan kamu, ini ya gadis pujaan jagoan Papa."


Kata Papa sambil melirik ke arah Akmal yang tersenyum malu karena ledekan Papanya apalagi didepannya ada Bapaknya Kasih.


"Silahkan di nikmati Om, Tante, Oma. Hanya ala kadarnya dari orang tua Kasih."


"Yang satu itu nggak di tawari Kasih."


Ledek Oma.


"Silahkan Mas." Kata Kasih malu - malu.


Akmal tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mengambil gelas yang ada di hadapannya dan meminumnya.


"Sebelumnya kami mohon maaf kepada keluarga Bapak mungkin kedatangan kami mengganggu waktu istirahatnya." Papanya Akmal mulai berbicara ingin mengutarakan maksud kedatangan mereka.


"Kami sekeluarga datang ke sini yang pertama ingin bersilaturahmi, lalu Kami sekeluarga juga minta maaf khususnya untuk Kasih, Saya wakil dari istri Saya minta maaf sedalam - dalamnya Kasih atas kekhilafan istri Saya."


Kata Papanya Akmal sambil menatap ke arah Kasih.

__ADS_1


"Selanjutnya kedatangan kami, sebenarnya ingin mengantarkan putra kebanggaan kami ini yang ingin membicarakan sesuatu dengan Bapak dan Ibu."


Akmal langsung menatap ke arah Papanya padahal tadi rencananya Papanya yang akan bicara dengan kedua orang tua Kasih tapi ini malah terbalik Dia disuruh bicara sendiri.


"Kok Akmal Pa."


Protes Akmal.


"Lho, kok Papa."


Ledek Papanya membuat semua orang tertawa kecuali Kasih yang harap - harap cemas.


"Pa, serius."


"Ha.. Ha... Iya, udah kebelet dia Ma."


Papanya benar - benar membuat malu.


"Tenang Akmal, Papa sampaikan maksud Kamu."


"Begini Pak, Bu. Anak laki - laki saya satu satunya ini yang sudah dewasa ingin meminta anak gadis Bapak dan Ibu untuk menjadi istrinya."


Bapak dan Ibunya Kasih saling tatap tidak menyangka kedatangan Mereka ingin melamar putrinya.


Sedangkan Kasih hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"Kasih.." Panggil Bapaknya.


"Iya Pak."


Kasih mengangkat kepalanya menatap ke arah Bapaknya.


"Kamu sudah mengenal nak Akmal ini."


Kasih menganggukkan kepalanya.


"Nak Akmal."


Panggil Bapaknya Kasih.


"Iya Pak."


"Sudah lama mengenal Kasih."


"Sudah sekitar setengah tahun ini pak."


"Kamu mencintai anak saya."


"Iya Pak, Saya mencintai Kasih dan ingin memperistrinya."


"Kasih, gimana."


Bapaknya kembali bertanya kepada Kasih.


"Kasih belum selesai skripsinya Pak, Kasih mau menikah nanti setelah wisuda." Ucapnya lirih.


"Kasih, menikahnya bisa nanti nggak harus sekarang." Jawab Akmal.


"Iya Kasih, benar apa kata Akmal."


Dibenarkan oleh Oma.


Kasih menganggukkan kepalanya.


"Gimana Buk."


Tanya Kasih kepada Ibunya.


"Kayaknya mereka butuh ngobrol dulu sepertinya." Ucap Mama Rita.


"Kalian bicara dulu berdua, kalau ibu pesan lebih baik lulus dulu setelah itu baru menikah."


"Baik Buk."


"Kalian ngobrol aja dulu."


Kasih pun keluar diikuti Akmal.

__ADS_1


🤭🤭🤭


__ADS_2