
"Kita sholat dhuhur dulu Sep, itu ada masjid."
Kasih yang dibonceng Septi hanya diam sepanjang jalan dan air matanya mengalir tanpa suara.
Baru setelah melihat masjid Kasih bicara dan Septi membelokan sepeda motornya.
Kasih turun dari motor, tanpa melihat ke Septi dan dia juga sudah mengusap air matanya.
"Kasih.."
Septi memanggilnya lalu mereka berdua ke tempat wudhu.
"It's Ok Kasih.. Lupakan dia."
Ucap Septi dan Kasih tersenyum saja, Namun jelas terdapat beban di wajahnya.
Mereka berdua segera melaksanakan sholat dhuhur sebelum waktunya habis.
Selesai berdoa Septi ke belakang, namun Kasih masih terduduk di sajadahnya. Dia menundukkan kepalanya, terdiam namun air matanya mengalir.
Septi mendekatinya kembali lalu merangkul pundaknya, membiarkan Kasih menangis di dalam diamnya.
"Sustt..."
Sesekali terdengar tarikan nafas berat dari Kasih.
"Menangis lah, kalau itu bisa membuatmu merasakan lebih lega."
"Hiks...hiks...hiks..."
Tangis Kasih benar-benar pecah dia sudah menahannya sejak tadi naik sepeda motor.
"Sekarang kamu harus fokus dengan kuliah kamu, ingat Ibu sama Bapak mereka berjuang untuk bisa membiayai kuliah kamu. Jangan kecewakan mereka Kasih, hanya karena seorang cowok yang tak tahu diri katanya sayang ternyata apa."
Septi ikut geram dengan sikap Akmal, walaupun sebenarnya dia juga paham Mamanya lah yang tidak menyukai Kasih.
"A...aku salah, hiks ..hiks... Ya."
"Kamu nggak salah, perasaan itu memang datang dengan sendirinya tapi kadang rasa itulah yang bisa membuat kita sakit juga."
"Sep..."
Kasih mengangkat kepalanya lalu mengusap mukanya yang penuh dengan air mata.
"Aku nggak mau lagi, hiks..hiks... kenal sama Dia. Aku nggak terima dikatakan seperti itu, kenapa juga sih aku bisa terbawa rasa sama Dia."
"Perasaan kamu nggak salah Kasih, tapi ini soal restu dari orang tua. Kalau seorang ibu tidak menyetujuinya apalagi itu Ibu dari cowok, kita mending mundur aja berat Kasih."
"Apalagi Kamu sama Mas Akmal juga belum jelas hubungannya." Tambah Septi.
"Sep, aku mau bangkit. Aku bakal buktiin bisa membanggakan kedua orang tua ku."
"Itu baru Kasih yang aku kenal. Udah nggak usah terlalu lalu lama menangisnya. Buat apa juga nangis buat cowok kayak gitu."
Kasih tersenyum walaupun hatinya masih terasa sakit, rasanya harga dirinya direndahkan oleh Mamanya Akmal.
"Hp kamu getar terus dari tadi."
Septi merasakan ada getaran di tas Kasih.
"Kalau dari cowok itu jangan di jawab."
__ADS_1
Septi sudah memberi peringatan kepada Kasih.
Kasih memperlihatkan layar ponselnya kepada Septi.
"Biarin aja nggak usah dijawab."
Kasih pun menganggukkan kepalanya dan menaruh ponselnya di tas kembali.
"Kita pulang yuk Sep, tapi ambil tempat kue dulu ya di warung."
"Oke..."
Mereka keluar dari masjid dan Septi segera menjalankan sepeda motornya dengan memboncengkan Kasih.
Setelah beberapa menit perjalanan, Septi menghentikan sepeda motornya di depan warung.
"Kamu tunggu disini ya Sep."
"Oke.. Hati - hati ya. Jangan lama - lama langsung saja keluar aku gak mau nanti cowok itu nyari kamu ke sini."
Kasih tersenyum lalu berjalan menuju ke warung itu.
Setelah mengambil tempat kue dan uangnya Kasih langsung berpamitan dengan ibunya yang punya warung.
"Kasih.."
Saat Kasih keluar warung Akmal baru saja datang dengan mobilnya bersama Ridho.
~Flashback On~
"Akmal.. Mau kemana kamu.!"
Akmal setelah mengantar Omanya masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Mamanya dia langsung berpamitan dengan Omanya dan pergi lagi.
Bela Omanya.
"Semua gara - gara Mama, yang suka memanjakan Akmal. Sekarang dia jadi pembangkang." Rita tak kalah dengan Oma.
"Kamu yang tidak bisa mengambil hati Akmal, Dia anak kamu tapi kamu tidak bisa menyelami hatinya karena kamu selalu menuntut apa yang kamu inginkan itu dituruti oleh Akmal."
"Sudah lah Ma, Mama nggak usah ikut ngatur."
Rita meninggalkan Oma yang menggelengkan kepalanya, heran dengan kelakuan menantunya.
Akmal keluar dari rumah tak peduli dengan panggilan Mamanya, Dia menyalakan mesin mobilnya lalu pergi untuk mencari Kasih.
"Aku harus kemana."
Akmal gelisah di dalam mobil sambil terus melakukan panggilan ke nomor ponsel Kasih.
" Kasih angkat."
Akmal lalu menghubungi Ridho, untuk menemani dirinya untuk mencari Kasih.
Ridho ada di kantor, lalu dipaksa Akmal untuk ikut dirinya mencari Kasih.
"Kamu gimana sih Bro, jelas lah Kasih malah." omel Ridho.
"Aku tau salah, tapi itu di luar dugaan ku Mama sampai bilang seperti itu."
"Kasih pasti sakit hati, Tante keterlaluan."
__ADS_1
"Kita kemana ini."
Ridho yang menyetir mobil Akmal karena dia khawatir, dengan kondisi sahabatnya itu.
"Ke kampus masih nggak ya."
"Kayaknya nggak ada, pasti Dia pulang kamu tau rumahnya."
Akmal menggelengkan kepalanya.
"Gimana sih, rumahnya aja nggak tau kamu."
"Aku belum pernah bertanya."
"Terus.. "
Ridho menggelengkan kepalanya, seperti kerja tak ada tujuannya.
"Kita ke warung biasanya siapa tau nanti Dia ambil kue disana." ide Akmal, dia baru ingat.
"Cukup bagus ide kamu."
Ridho menjalankan mobil menuju ke lokasi.
~Flashback Off~
"Kasih... Tunggu Kasih. Mas minta maaf Kasih."
Akmal berlari menuju ke arah Kasih yang tidak melihat ke arah Akmal namun terus berjalan dengan cepat menuju ke sepeda motor Septi yang telah menunggunya.
"Kasih.. Please, berhenti sebentar."
Akmal berhasil mendekat, namun Kasih masih berjalan dan terpaksa Akmal mempercepat langkahnya kembali dan mencegah di depan Kasih.
"Kasih.. Maafin Mas."
Akmal dengan kedua tangannya berada di depan dada seperti minta ampun.
Kasih pun berhenti namun Dia enggan menatap wajah Akmal.
"Ayo Kasih."
Teriak Septi.
"Sebentar Septi, aku mohon waktunya sebentar saja aku akan jelasin semuanya."
Septi pun hanya diam, itu memang urusan mereka berdua dan dia tidak hak untuk ikut campur.
"Kasih.. Maafin Mas, maafin Mama. Mama memang sikapnya seperti itu, tujuan Mas memperkenalkan kamu dengan Mama dan mama itu agar mereka kenal sama kamu supaya mereka tau sosok Kamu."
"Kasih... Dari lubuk hati Mas yang paling dalam. Maaf..."
Kasih akhirnya tak tahan juga air matanya mengalir.
"Kasih..."
"Hiks.. Hiks.... Kita nggak selevel Mas, jangan temui Kasih lagi. Sudah cukup semuanya."
Kasih berlalu ke sepeda motor Septi, Akmal menatapnya dengan iba.
"Kasih, Mas akan perjuangkan Kamu. Nggak peduli rintangan apapun di depan sana. Mas akan buktikan itu, Kasih..."
__ADS_1
Septi menjalankan sepeda motornya dengan membawa Kasih yang masih menangis.
🙂🙂🙂