Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mencintai Tanpa Syarat #9


__ADS_3

"Ma, Akmal sudah punya pilihan."


Sesampainya di rumah Akmal dan Mamanya berdebat karena Akmal tidak suka dengan perempuan yang dikenalkan Mamanya apalagi mereka sudah membicarakan soal perjodohan.


"Mana, pilihan kamu. Seperti apa bibit, bebet dan bobotnya."


"Ma, kenapa sih Mama selalu menilai orang dari apa yang mereka miliki. Akmal sudah dewasa bisa memilih calon istri sendiri."


"Kalian kenapa sih, bikin kepala Oma pusing."


Omanya keluar dari kamar mendengar Akmal berdebat dengan Mamanya.


"Ini cucu Oma, dipilihkan wanita yang sudah jelas bibit, bebet dan bobotnya malah tidak mau." Adu Mama Rita kepada Mama mertuanya.


"Akmal, seperti apa wanita pilihan mu."


Omanya ini memang bijaksana orangnya.


"Dia sederhana saja Oma, Dia memang gadis biasa tapi Dia wanita yang istimewa di hati Akmal."


"Kenapa tidak dikenalkan pada kita."


"Akmal belum bisa Oma, ini sudah kesepakatan kita berdua Akmal akan mengenalkan kepada keluarga setelah Dia menyelesaikan skripsinya nanti."


"Dia masih kuliah."


"Iya Oma, dan Dia mau diajak serius setelah selesai kuliahnya karena itu bentuk pertanggungjawabannya kepada kedua orang tuanya."


Oma nampak tersenyum dan mengusap pundak cucunya.


"Apalagi masih mahasiswa, cuma mau manfaatin kamu doang itu." Celetuk Mamanya.


"Ma, Dia nggak seperti itu."


Akmal benar-benar tidak bisa berpikir kenapa Mamanya seperti itu.


"Rita, kenapa kita tidak mencoba untuk mengenal gadis pilihan dari Akmal."


"Gadis nggak jelas begitu Ma, masih mahasiswa mau diajak serius setelah nanti lulus eh.. Nanti udah lulus pilih yang lain."


Akmal rasanya ingin membentak Mamanya namun Omanya memberi tanda jangan.


"Akmal, coba kenalkan kepada Kita. Ajak kesini." bujuk Omanya.


"Bilang Oma mau kenal."


"Akmal nggak janji Oma, Dia gadis istimewa selalu menjaga nama baik orang tuanya sebelum Akmal menemui kedua orangtuanya."


Oma nampak tersenyum.


"Gadis apa itu, dia mau dekat sama kamu tapi nggak mau kenal sama keluarganya."


"Ma, cukup Ma. Akmal bisa memilih calon istri sendiri."


Akmal berdiri kemudian meninggalkan Mama dan Omanya.


"Itu kalau Mama manjain Akmal terus." Mama Rita menyalahkan Mamanya.


"Astaghfirullah Rita. Kamu yang nggak bisa mengambil hati Akmal."


"Sudah lah Ma."


Mama Rita meninggalkan Oma yang masih duduk di ruang keluarga.


Di dalam kamar, Akmal terduduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya yang terasa berat.


"Kasih, Mas harus gimana."


Kepala Akmal terasa penat, antara mau memperjuangkan Kasih tetapi juga tidak mau menjadi anak durhaka.


Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Ridho, teman sekaligus sahabat yang biasa menjadi tempat keluh kesahnya.

__ADS_1


"Aku harus gimana Do."


"Kayaknya saran Oma itu betul harusnya kamu memperkenalkan Kasih."


"Tapi kamu tau Kasih gimana orangnya."


"Ya, kamu cari cara supaya dia mau ketemu sama Oma dan Mamamu."


"Kalau untuk ketemu sama Oma aku masih merasa aman tetapi kalau ketemu Mama aku nggak mau Kasih sakit hati."


"Mama Kamu akan terus merendahkan Kasih kalau dia tidak mengenalnya."


"Huff... Perasaan Ku nggak enak kalau Kasih harus ketemu Mama."


"Kamu harus bisa menerima resikonya Bro, kalau kamu terus umpetin Kasih dari keluarga kamu Mama kamu akan terus menjodohkan kamu."


"Kamu minta tolong ke Septi, Dia pasti mau membujuk Kasih untuk bertemu dengan keluarga kamu."


"Aku akan coba Bro."


"Ketemu di resto aja jangan ke rumah kamu, Kasih pasti nggak mau."


"Baiklah."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Beberapa hari setelah itu, Akmal benar-benar memikirkannya dengan matang untuk memperkenalkan Kasih kepada Oma dan juga Mamanya.


"Kasih, nanti kita ketemu jam makan siang ya."


"Iya Mas, Kasih sama Septi ya."


"Iya nggak papa, Mas tunggu di resto ya kamu hati-hati."


"Iya Mas, udah dulu ya Kasih ada kelas Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Oma sangat antusias tetapi berbeda dengan Mamanya yang terlihat kurang bersemangat walaupun mau untuk bertemu.


Sesampainya di resto Mama dan Oma memesan makan siang, karena Kasih belum tiba.


Beberapa saat kemudian hp Akmal bergetar dan Kasih memanggil.


"Sebentar ya Oma, Ma. Akmal ke depan dulu "


Akmal ke depan dan menemui Kasih yang datang bersama dengan Septi.


"Ayo Kasih, Oma sama Mama mau kenal sama Kamu."


"Mas, Kasih takut."


Kasih berhenti lagi dan menggandeng tangan Septi.


"Kenapa takut."


"Kasih takut, Mama dan Oma Mas Akmal tidak suka dengan Kasih."


"Kasih, Mas memperkenalkan kamu sama Oma dan Mama sebagai bentuk keseriusan Mas sama Kamu. Setelah ini Mas akan berkunjung ke rumah Kamu untuk bertemu dengan kedua orang tua Mu."


"Mas, harusnya Mas Akmal itu ketemu dengan kedua orangtuanya Kasih dulu." Celetuk Septi, karena Kasih nggak berani ngomong langsung begitu.


"Setelah ini Saya akan menemui kedua orang tuanya Kasih, ini karena situasinya berbeda jadi maafkan Saya Kasih kamu saya kenalkan dulu kepada Oma dan Mama."


"Sebenarnya ada apa sih Mas."


Kasih berani bertanya akhirnya.


Akmal menghela nafasnya.


"Mama itu mau menjodohkan saya dengan anak temannya."

__ADS_1


Kasih menatap ke arah Akmal yang juga menatapnya.


"Dan Saya lebih memilih Kasih untuk menjadi istri saya."


"Kasih maafkan Mas, nggak jujur."


Kasih memang agak kecewa walaupun akhirnya Dia mau ketemu dengan Oma dan Mamanya Akmal.


"Ma, Oma.. Perkenalkan ini Kasih. Ini gadis yang ingin Akmal kenalkan."


"Cantik sekali, siapa namanya."


Oma menyambutnya dengan ramah lalu Kasih pun mencium punggung tangannya.


"Kasih."


"Panggil Oma ya, seperti Akmal."


"Baik Oma."


"Ini Mama Kasih."


Kasih pun mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Mama Rita namun setelah itu di lap olehnya.


"Ma, ini Kasih."


Kasih tetap memasang muka senyum tapi jujur di hatinya sudah tidak enak rasanya melihat Mama Rita mengusap punggung tangannya.


"Iya, ini perempuan pilihan kamu."


"Mama, kenapa sih. Kasih udah sopan sama Mama."


Mama Rita memasang muka tak suka dan itu sudah membuat Septi ingin menarik tangan Kasih dan mengajaknya pergi.


"Kamu mau apa dari anak Saya, Hah..."


Ledek Mama Rita dan Kasih masih berusaha menahannya.


"Ma."


"Diam kamu." Akmal di bentak Mamanya.


"Kalau cuma mau uangnya, mending kamu pergi tinggalkan anak Saya."


Akmal sudah memerah mukanya mendengar Kasih di lecehkan begitu.


"MAMA..!"


"Saya memang bukan orang berada nyonya, tapi saya tidak serendah itu. Saya masih punya harga diri. Permisi."


Kasih benar - benar tidak bisa menahannya lagi, Dia berani menjawab dan lalu pergi begitu saja meninggalkan keluarga Akmal.


"Kasih..."


Akmal memanggilnya tapi Kasih sudah tidak peduli pergi dengan diikuti Septi.


"Akmal, kita pulang sekarang."


Bentak Mamanya.


"Kamu kelewatan Rita, dia terlihat baik sayang sama Akmal."


"Mama nggak usah belain perempuan itu."


"Mama Keterlaluan...!"


Akmal ingin mengejar Kasih namun ada Omanya yang harus dia antar pulang.


Lalu kemana kasih. ???


🙂🙂🙂🙂

__ADS_1


__ADS_2