
"Kasih, itu Mamanya Mas Akmal."
Teriak Septi.
"Ayo mbak bawa ke rumah sakit, ambulance sudah perjalanan." Kata orang disana kepada Kasih dan Septi karena mereka berdua yang merasa kenal.
"Kasih.."
Septi menepuk pundak Kasih, yang melamun menatap ke arah Mama Rita yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Iya.. Sep."
Ambulance datang, petugas keluar lalu mengangkat Mama Rita masuk ke dalam.
"Ada keluarganya."
Tanya petugas dari ambulans.
"Mbak kalian yang mengenali korban ini, ayo ikut ke rumah sakit supaya bisa memberi kabar kepada keluarganya."
Kata seorang Ibu yang ikut menyaksikan peristiwa itu.
Lalu Kasih dan Septi pun ikut masuk ke dalam ambulans untuk mengikuti Mama Rita dibawa ke rumah sakit.
Di dalam ambulans kasih berpikir bagaimana caranya memberitahu kepada Akmal.
"Kasih, kamu telepon Mas Akmal."
pinta Septi.
"Tapi Sep."
Kasih sudah memblokir nomor Akmal agar tidak menghubungi dirinya.
Mereka sampai di rumah sakit yang tidak begitu jauh dari lokasi.
Mama Rita diturunkan dari ambulans dengan didorong di atas brainkar menuju ke unit gawat darurat.
"Kalian tunggu di luar." pinta Suster penjaga UGD
"Baik Sus."
Tak lama keluar Suster dari dalam Unit Gawat darurat dan mencari keluarga dari korban.
"Dengan keluarga pasien."
Kasih dan Septi mendekat ke suster.
"Silahkan ke bagian administrasi ada yang harus diselesaikan.
Mereka mengikuti Suster itu.
"Begini Mbak, korban saat ini membutuhkan transfusi dan golongan darahnya B. Kebetulan stok yang ada di rumah sakit ini kosong." Jelas Suster.
"Anda anaknya.?" Tanya Suster lain.
"Bukan Sus." jawab Septi.
"Lalu."
"Kami teman dari anak korban." Jelas Septi sedangkan Kasih masih berpikir bagaimana cara memberitahu kepada Akmal.
"Bisa segera dihubungi keluarganya."
__ADS_1
"Kasih, kalau kamu ragu untuk menghubungi Mas Akmal. Kamu kasihkan saja nomornya ke suster agar dihubungi dari pihak rumah sakit."
"Iya Mbak, mana nomor anak korban biar kami yang menghubungi."
Kasih memberikan ponselnya kepada suster lalu Suster itu segera melakukan panggilan ke nomor ponsel Akmal.
"Sus, golongan darah saya B. Boleh saya mendonorkan darah saya."
"Kasih..."
Septi menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika Kasih bersedia mendonorkan darahnya padahal dia sudah disakiti oleh Mama Rita.
"Nggak papa Sep, ini akan bahaya jika harus menunggu keluarganya. Saya bersedia untuk mendonorkan darah saya Sus." Ucap Kasih dengan mantap.
"Baik silahkan ikuti Kami."
Kasih tinggal ditemani oleh Septi mengikuti suster ke ruang untuk melakukan transfusi darah.
Tak lama Akmal yang sudah dihubungi dari pihak rumah sakit datang dengan tergopoh dan panik begitu mendapat kabar jika Mamanya mengalami kecelakaan.
"Sus, saya anak korban seorang ibu yang kecelakaan."
"Mas Akmal ya."
"Iya Sus."
"Silahkan ikut saya, Dokter akan bicara."
Papa masih dalam perjalanan karena yang lebih dekat dengan rumah sakit adalah Akmal.
Dokter menjelaskan keadaan Mama Rita kepada Akmal, jika Mamanya Ini segera membutuhkan transfusi darah.
"Golongan darah Saya, B dok."
"Tadi teman Anda sudah bersedia untuk transfusi darah juga."
"Iya, ada dua gadis yang tadi membawa Ibu Rita kesini dan salah satunya yang bersedia untuk mentransfusikan darahnya."
"Boleh saya bertemu mereka."
"Silahkan ikut Saya, dan Kita juga harus segera melakukan transfusi darah kepada Ibu Rita."
Setelah Akmal tadi menengok keadaan Mamanya dan Papa sudah datang, kini dia bersama Suster menuju ke ruangan khusus untuk melakukan transfusi darah.
"Itu mereka yang menolong Ibu Rita."
Septi yang duduk di sofa ruang tunggu saling bertatap mata dengan Akmal yang baru saja datang.
"Septi."
"Mas Akmal."
"Terus... Kamu bersama..."
Septi dengan isyarat matanya menunjukkan arah Kasih yang sedang berbaring karena proses pengambilan darah masih berlangsung.
Akmal masuk ke dalam begitu melihat Kasih dari pintu yang terbuat dari kaca dan tembus pandang dari luar.
"Kasih..."
Kasih menatap ke arah Akmal dengan tersenyum tipis di bibirnya.
"Terima kasih Kasih.."
__ADS_1
Akmal mendekatinya dan berjongkok di samping Kasih yang masih berbaring.
"Maafkan Keluarga Saya Kasih."
Kasih menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
"Pak Akmal kita harus melakukan cek terlebih dahulu."
"Baik Sus."
Akmal mengikuti suster karena harus melakukan serangkaian cek sebelum dilakukan pengambilan darah.
Beberapa saat kemudian, Akmal kembali ke ruangan dimana Kasih berada.
"Silahkan Pak berbaring di sini, tunggu sebentar ya Pak."
Kasih hampir selesai dan sedang dilakukan pembersihan oleh suster.
"Rawat dengan baik, gadis istimewa ini sus." Katanya sambil memandang ke arah Kasih dengan tatapan Sayang.
"Pasti Pak."
Akmal tak melepaskan pandangannya kepada Kasih, yang masih berbaring sambil menunggu penanganan dari suster.
"Tangannya di tekuk dulu ya mbak, apa merasakan pusing atau mual."
"Tidak Sus, tiduran dulu ya mbak sekitar 5 menit nanti baru bangun."
"Baik Sus."
Lalu Suster itu pergantian kepada Akmal untuk melakukan pengambilan darah. Tatapan Akmal tidak lepas dari Kasih ya masih beristirahat setelah diambil darahnya.
"Kasih, sekali lagi terima kasih dan jangan pulang dulu ya. Tunggu saya sebentar."
Kasih tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sus, bisa dipercepat."
Akmal meminta sesuatu hal yang konyol darah kan keluar dengan sendirinya bukan karena dipercepat tergantung dengan pembuluh darahnya.
"Maaf Pak, ini sesuai pembuluh darah yang Bapak miliki. Tenang saja Mbaknya masih nungguin."
Canda Suster dan Akmal pun terkekeh.
"Kasih.. Terima kasih."
Ucap Akmal lagi.
"Sama - sama Mas, Saya permisi."
Kasih yang sudah merasakan badannya kembali fit dia keluar dari ruangan itu untuk menemui Septi yang ada di ruang tunggu.
"Kasih, duduk dulu."
Septi menuntun Kasih untuk duduk di sofa.
"Aku nggak papa, Sep. Udah biasa juga melakukan donor darah."
"Iya tetap saja. Ini kan luar biasa dalam kamu kasihkan sama..." Septi tidak meneruskan ucapannya.
"Kita harus menolong kepada siapapun, Sep. Sekalipun dia itu musuh kita."
"Sabar ya Kasih."
__ADS_1
Septi memeluk sahabatnya.
🙂🙂🙂🙂