Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mukena Merah Muda #5


__ADS_3

Karina selalu menemani Bapaknya untuk cuci darah 2 kali dalam 1 Minggu ke rumah sakit.


Gama pun mulai melakukan pendekatan kepadanya dengan memberikan perhatian - perhatian kecil.


Saat proses cuci darah berlangsung Karina menunggu di luar ruangan, selain Dia juga ada beberapa anggota keluarga pasien lainnya.


"Mbak Karina."


Panggil Gama saat keluar dari ruangan.


"Iya Dok."


Karina yang tadi terdiam sambil membaca buku berdiri mendekat ke Dokter Gama.


"Ada yang ingin saya bicarakan."


"Baik Dok."


Karina berjalan di belakangnya Gama mengikuti ke ruang kerjanya.


"Di samping Saya Mbak, jangan dibelakang."


Gama berhenti dan meminta Karina untuk di sampingnya.


"Maaf Dok, nggak sopan."


Tolaknya halus.


"Wanita harus di samping laki-laki jangan di belakangnya."


Dengan bahasa tubuhnya Gama mempersilahkan Karina di sampingnya.


"Baik Dok."


Mereka berjalan beriringan menuju ke ruangan Dokter Gama.


"Silahkan masuk."


Gama membukakan pintu untuk Karina.


"Terima kasih Dok."


Mereka duduk saling berhadapan dengan dibatasi meja, tetapi mereka tidak hanya berdua ada Suster juga yang ikut masuk ke dalam.


"Ada masalah ya Dok."


"Saya melihat kondisi Bapak Heri semakin membaik tapi kita akan selalu melakukan pemantauan."


Wajah Karina nampak senang sekali mendengar itu.


"Alhamdulillah Dok, Saya senang sekali."


Karina tersenyum senang dan Gama memperhatikannya dengan tersenyum juga.


"Mbak Karina Saya berpesan supaya selalu memantau keadaan Bapak Heri selama di rumah dan jangan sampai telat untuk melakukan cuci darah."


"Baik Dok."


Lalu Karina pun pamit dari ruangan Dokter Gama dengan perasaan lega.


"Mbak Karina."


Dokter Gama mengikuti Karina yang keluar dari ruangannya padahal dia tadi masih duduk di kursinya.


"Iya Dok, apa ada yang ketinggalan."


"Bukan, bukan. Cuma ingin menanyakan sesuatu."


"Apa Dok."

__ADS_1


Karina penasaran.


"Apa boleh jika saya menghubungi Mbak Karina di luar dari permasalahan Bapak Heri."


Karina nampak berpikir, apa maksud dari Dokter Gama.


"Maksud Dokter."


"Saya ingin ngobrol dengan Mbak Karina tetapi bukan sebagai Dokter dan pasien tetapi sebagai teman."


Karina terdiam, bingung apa yang harus dia jawab.


"Kalau Mbak Karina tidak berkenan, Saya tidak memaksa. Maaf ya sudah menganggu waktunya."


Karina merasa tidak enak hati.


"Saya tidak keberatan Dok."


Kata Karina dengan tersenyum.


Gama pun senang sekali, dia akan mulai melakukan pendekatan yang signifikan ke Karina. Walaupun Dia sudah banyak mencari informasi dari Anggun tapi dia tetap ingin menunjukkan keseriusannya secara langsung.


"Baiklah, terimakasih Mbak Karina."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu permisi ingin melihat kondisi Bapaknya.


Aktivitas Karina sekarang bekerja sambil kuliah, setelah mendapat bantuan dari Anggun akhirnya dia bisa bekerja di minimarket milik Tantenya dan diperbolehkan sambil kuliah dengan mengambil jam kerja di sore hingga malam.


Awalnya Karina tidak bercerita kepada Bapaknya karena takut menjadi beban pikiran tapi akhirnya Dia pun jujur karena sering pulang malam dan banyak menunggu dia pulang.


Karina menjalankan semua itu dengan ikhlas selama dirinya masih mampu dan dia beranggapan jika itu memang tugas dia sebagai anak pertama.


Sehabis menemani Bapaknya untuk cuci darah sore harinya Karina pamit untuk berangkat bekerja.


Bapaknya memperhatikan sepeda motor Karina yang pergi meninggalkan rumah. Kini hanya Bapaknya dan Risa yang menemani di rumah.


Risa memperhatikan Bapaknya yang terlihat sedih memandang sepeda motor kakaknya pergi meninggalkan rumah.


"Kasian Mbak Kamu, Dia harus bekerja sambil kuliah."


"Bapak nggak usah mikir itu yang penting sekarang Bapak sehat dulu. Mbak Karina ikhlas menjalankan itu semua."


"Harusnya Bapak yang bekerja dan kalian berdua tinggal sekolah saja."


"Pak, Mbak Karina melakukan itu semua atas kemauannya sendiri."


"Maafin Bapak ya. Kalian jadi hidup susah begini gara-gara Bapak."


"Pak, jangan bilang begitu kita bahagia kita nggak hidup susah."


"Bapak mau masuk dulu."


Risa memandangi Bapaknya yang berjalan masuk ke dalam rumah. Dia merasakan jika bapaknya sangat merasa bersalah dengan dirinya serta kakaknya yang harus bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari.


"Beri kesehatan kepada Bapak ya Allah."


Hari makin malam, setelah sholat Maghrib Karina membuka bekal yang di bawanya dari rumah tadi untuk makan malamnya. Dia sangat beruntung ketemu dengan teman-teman kerjanya yang sangat baik, mereka makan bersama.


"Karin, HP kamu bunyi."


Temannya yang sedang beristirahat bersama Dia mengingatkan ponselnya karena Karina tadi ke kamar mandi.


"Iya Mbak, makasih."


Karina mengambil ponselnya dan di sana terdapat nama dokter Gama yang memanggil.


"Assalamualaikum Dok."


"Waalaikumsalam, Saya ganggu Mbak Karin."

__ADS_1


"Maaf ya Dok, ada perlu apa karena saya sedang ada pekerjaan."


"Mbak Karin bekerja.? ."


"Iya Dok, maaf apa ada hal penting yang harus disampaikan mengenai bapak."


"Bukan soal Bapak, Mbak Karina kerja dimana." Sebenarnya Dia sudah tahu tapi berpura-pura aja.


"Saya di minimarket Jaya Dok, maaf Dok sudah dulu saya harus kerja."


"Oke, selamat bekerja maaf mengganggu."


"Baik Dok, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Percakapan mereka berakhir dan Karina kembali bekerja sedangkan dokter Gama yang tadi berada di rumah bergegas mengambil jaketnya lalu keluar meninggalkan rumah.


Dokter Gama menghentikan sepeda motornya di depan minimarket di mana karena bekerja.


"Itu Dia. Kasihan harus bekerja sampai malam."


Gama memperhatikan Karina dari luar, lalu berniat masuk untuk membeli sesuatu agar bisa menyapa Karina.


"Ini Mbak."


Gama berdiri di depan kasir di mana Karina berada di situ.


"Baik Mas."


Karina terdiam begitu mereka saling bertatap.


"Dokter."


Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kok bisa disini ."


"Iya tadi kebetulan lewat terus mampir mau cari minum."


"Ini Dok, jadinya 35 ribu."


Gama mengeluarkan dompet lalu memberikan uang kepada Karina dan Karina mengembalikan kembalinya.


"Makasih Dok, selamat berbelanja kembali."


"Kamu pulang jam berapa."


Karina menatap Gama dan mereka saling pandang.


"Jam 10 Dok."


"Baiklah."


Gama Pun keluar dari minimarket karena tidak enak mengganggu pekerjaan Karina.


Pukul 10 malam tiba dan Karina sudah bersiap pulang tinggal mengambil sepeda motornya.


"Karin dijemput ya."


Ledek temannya.


"Nggak ada Mbak, siapa yang mau jemput."


"Itu, Pak Dokter tadi."


Karina membalik badannya dan sudah ada Gama di atas sepeda motornya sambil tersenyum memandangnya.


🙂🙂🙂🙂

__ADS_1


__ADS_2