
Setelah semua pekerjaannya selesai, Dokter Gama mengambil kunci mobilnya dan berjalan meninggalkan ruangannya.
Mendekati parkiran Dia menyalakan remote mobilnya untuk membuka pintu.
"Gadis itu."
Ucapnya saat melihat Karina lewat menggunakan sepeda motornya melintas di depan mobilnya yang terparkir.
"Siapa namanya tadi, Kok bisa nggak tanya sih."
Gumamnya sendiri sambil menyalakan mesin mobilnya. Lalu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Sedangkan Karina menjalankan sepeda motornya menuju ke rumah untuk melihat kondisi adiknya yang ia tinggal ke rumah sakit dari semalam.
Sebelum sampai rumah Karina berhenti untuk membeli lauk pauk di warung karena ia merasa capek dan kurang tidur semalam apalagi beban pikiran yang harus dia tanggung.
"Assalamualaikum."
Ucapnya sesampai di rumah sambil mengetuk pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam, Mbak pulang."
Risa adik perempuan satu-satunya yang sudah kelas 2 SMP di rumah sendiri.
"Iya, kamu masak nasi kan.?"
"Iya Mbak, udah matang."
"Ini lauk di tata ya, Mbak mau mandi dulu."
Risa menerima kantong plastik dan menatanya di mangkuk.
Selesai mandi Karina melaksanakan sholat Ashar, Dia berdoa dengan khusyuk untuk kesembuhan Bapaknya.
"Mbak, gimana keadaan Bapak.?"
Tanya Risa saat Karina sudah keluar dari kamar.
Karina berusaha untuk tegar agar adiknya tidak syok.
"Bapak baik." Katanya sambil tersenyum.
Risa duduk di sebelah Karina menatap wajah Kakaknya itu.
"Bapak beneran baik kan Mbak."
__ADS_1
Telisik Risa.
Karina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi tadi kata Dokter Bapak perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
"Pemeriksaan apa Mbak, Bapak cuma biasa asam lambung."
Karina menggelengkan kepalanya.
"Kata Dokter ada kemungkinan Bapak bukan sakit lambung tapi ada masalah di ginjalnya."
Risa seperti tak percaya, Dia menggelengkan kepalanya.
"Nggak Mbak, Bapak baik - baik saja ."
Dipikiran Risa kalau sakit ginjal itu sangat berbahaya.
"Dek.. Bapak akan melaksanakan pemeriksaan besok pagi dan semoga baik - baik saja semuanya. Itu juga baru diagnosa awal dari Dokter."
"Mbak, tau kan kalau sakit ginjal itu gimana."
Karina merangkul Adiknya dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Mbak, Risa takut."
"Jangan berfikir yang aneh-aneh dulu."
"Semoga Mbak, Risa hanya takut saja."
Hari makin sore mereka makan bersama karena Karina akan kembali ke rumah sakit tapi Risa merengek mau ikut menjaga Bapaknya.
Karena tidak tega juga meninggalkan Risa di rumah sendiri, Karina akhirnya memperbolehkan Risa untuk ikut ke rumah sakit dan besok pagi akan pulang setelah sholat subuh.
Malam terasa begitu lama di rumah sakit karena tempat yang seadanya, Karina dan Risa tidur beralaskan tikar di bawah tempat tidur Bapaknya.
"Karin, Risa kalian pulang saja. Bapak nggak papa di sini sendiri. Kalian harus sekolah." Kata Bapaknya karena Risa masih SMP dan Karina baru kuliah semester 4.
"Karin ijin Pak, Risa aja yang pulang dia harus sekolah."
"Risa mau di sini."
Karina menatapnya dan menggelengkan kepalanya.
"Tadi sore janjinya apa sama Mbak."
__ADS_1
"Tapi Risa mau di sini. Mau nemenin Bapak di periksa."
"Biar Mbak aja yang nemenin, kamu pulang ayo Mbak antar nanti kesiangan kamu."
Risa pun nurut sam Karina dan berpamitan dengan Bapaknya untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Karina hanya mandi lalu balik ke rumah sakit lagi, Risa sudah bisa mempersiapkan kebutuhan sekolahnya sendiri.
Siang menjelang sekitar pukul 10, Dokter Gama sudah datang ke ruangan melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana keadaannya Pak, apa yang di rasakan."
"Mual Dok, tapi sudah mendingan dari kemarin."
"Kita lakukan pemeriksaan selanjutnya, nanti akan dibantu sama Suster."
Karina mendengarkan penjelasan Dokter Gama dengan serius, dan sesekali manik mereka saling bertemu.
"Saya boleh mendampingi Bapak kan Dok." tanya Karina.
"Boleh sekali Mbak, kalau begitu saya harus ke pasien yang lain dulu."
"Baik Dok, terima kasih."
Dokter Gama pergi dari ruangan Bapak Heri diikuti Suster.
"Karin..."
"Iya Pak. Ada yang sakit."
Karina mendekati Bapaknya.
"Nggak.. Bapak perhatikan Dokter tadi sering melirik ke arah kamu."
Karina terlihat malu.
"Bapak apa sih, kalau saat menjelaskan memang melihat ke arah Karin. Supaya Karin memperhatikan."
Bapaknya tersenyum melihat Karina yang malu.
"Semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik yang bisa menjaga Kamu."
Doa dalam hati Bapak Heri.
🙂🙂🙂
__ADS_1