
"Semakin membuatku penasaran aja ini cewek." Kata Akmal sendiri yang duduk melamun menatap ke arah jendela di kursi ruang kerjanya.
"Sepertinya Dia calon istri idaman."
Katanya dengan tersenyum sendiri.
"Punya calon istri kok tidak dikenalin."
Akmal sontak memutar kursinya mendengar suara seseorang padahal tidak ada orang mengetuk pintu masuk ke dalam ruangannya.
"Kalau masuk itu salam."
Akmal menatap tajam ke arah Ridho, sahabatnya sejak masih berada di bangku kuliah.
"Ada orang melamun mana denger orang ngucapin salam."
Ridho duduk di kursi depan Akmal.
"Kebiasaan kamu, seenggaknya itu ketuk pintu masuk ruang orang sembarangan kalau aku jantungan gimana."
"Ha ha ha... Udah nggak usah dibahas. Ada yang lebih penting untuk dibahas ini."
"Apa, target kemarin udah beres. Tinggal menunggu laporan dari lapangan aja."
"Bukan kerjaan Bro, tapi masalah kamu."
"Aku nggak punya masalah."
Akmal merasa bingung kenapa malah membahas dirinya.
"Mana calon istri kamu, udah punya nggak di kenalin." Tatap Ridho sambil menggerak-gerakan kedua alisnya.
"Calon istri apa, pacar aja belum ada."
"Kayaknya ada yang disembunyikan nih dari aku, cewek mana yang bisa menggetarkan hati dingin kamu itu."
"Apaan, belum menemukan yang pas aja."
"Mau sampai kapan Bro. Usia kamu makin bertambah apa kamu tidak punya keinginan untuk berumah tangga."
"Ya ada, tapi belum menemukan sosok yang tepat."
"Bukan belum ada kamu aja yang nggak nyari. Mana ada perempuan datang sendiri." Ledek Ridho.
"Udah nyari tapi dia belum mau."
Ridho langsung serius menatap ke arah temannya itu.
"Cewek mana yang nolak kamu."
"Bukan nolak, tapi memang cewek ini unik. Cantik, lemah lembut dan sederhana." Ucap Akmal dengan tersenyum sendiri membayangkan wajah Kasih.
__ADS_1
"Ha ha ha... Masak cowok mapan kayak kamu dia masih mikir - mikir Bro."
Secara Akmal ini pekerjaan udah mapan posisi cukup strategis di kantornya wajah juga punya nilai lebih, menurut Ridho temannya ini idaman para wanita.
"Itulah yang buat aku penasaran."
"Dia kerja.?"
"Masih kuliah."
Ridho lagi - lagi mlongo, temannya ini sudah kepala tiga tapi mengincar anak kuliahan.
"Mau kamu jadikan adik Bro. Pantas aja dia ketakutan sama kamu." Ledek Ridho.
"Enak aja kamu, tapi dia kelihatan dewasa."
"Kenal dimana." telisik Ridho yang benar merasakan penasaran.
"Warung nasi."
Ridho kembali mengerutkan dahinya.
"Warung nasi mana."
"Itu seberang kantor, ternyata masakannya enak juga terus nggak sengaja lihat cewek itu."
"Dia makan juga.?"
Udah kayak wartawan saja ini si Ridho.
"Dia gadis biasa Bro."
"Sederhana tapi anggun, cantik."
Akmal memang sudah cinta pada pandangan pertama.
"Jadi penasaran aku, lagian sejak kapan kamu suka makan nasi di depan."
"Baru juga kemarin, Aku lapar banget terus aku lihat warung lumayan rame belok aja. Tapi masakannya enak juga."
"Jangan - jangan tadi habis dari sana kamu."
"Iya, emang aku makan di sana tadi. Dan ketemu cewek itu lagi."
"Kamu jatuh cinta beneran Bro, bulan karena kasihan kan."
"Sembarangan kamu, aku sepertinya memang sudah jatuh cinta sama cewek itu."
"Besok aja aku kesana, penasaran aku mau lihat cewek itu."
"Awas ya kalau ikut jatuh cinta." Ancam Akmal.
__ADS_1
"Ha ha ha... Kurang cantik apa juga Anggun calon istri Ku sampai aku ikut jatuh cinta sama cewek itu."
"Waspada aja aku, kamu kan belum resmi menikah sama Anggun."
"Kayak anak kecil kamu Bro, pokoknya besok aja aku ke sana. Aku mau lihat cewek seperti apa yang menolak diajak kenalan sama kamu. Ha ha ha ha... "
Tawa Ridho sedikit mengejek Akmal dan lalu pergi meninggalkan ruangan temannya itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hari sudah malam, namun Kasih belum juga memejamkan kedua matanya. Dia baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya dan kini membaringkan tubuhnya di atas kasur sederhana yang ada di dalam kamarnya.
"Kira - kira tadi ngapain itu cowok minta kenalan." Kasih terbayang wajah Akmal.
"Mau main - main aja kali ya, namanya juga di warung pasti banyak cowok-cowok yang hanya suka menggoda." Katanya sendiri.
"Tapi bener juga apa yang dibilang sama Septi, lumayan cakep Dia."
"Astaghfirullah... Sadar Kasih."
Kasih mengusap wajahnya sendiri setelah dia tidak sengaja memuji Akmal.
"Udah ah, tidur besok berangkat pagi harus mampir ke warung dulu naruh kue ibu."
Kasih menutupi dirinya dengan selimut lalu mematikan lampu kamarnya dan memejamkan matanya juga alam tidur tak lupa dia juga sudah memanjatkan doa.
Esok harinya Kasih seperti biasa sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Kini Dia sedang menata barang bawaannya yaitu kue buatan ibunya yang harus dia taruh di warung nasi biasanya.
"Kasih pelan - pelan ya, itu banyak lho tidak kayak biasanya katanya Bude tadi untuk pesanan orang." Kata Ibunya yang membantu mengatakan kue di sepeda motor Kasih.
"Iya Bu, sudah kuat Bu. Insyaallah aman."
Kasih berpamitan dengan ibunya lalu menjalankan sepeda motornya.
Sesampainya di depan warung nasi, Kasih menghentikan sepeda motornya dan mengambil kue itu untuk dibawanya masuk.
Tapi karena Kasih mengambilnya kurang hati-hati tumpukan wadah yang berisikan kue itu miring.
"Ehh.. Gimana."
Kasih panik karena tumpukan wadah kue ini mau jatuh dan bisa merusak yang ada di dalamnya kalau sampai jatuh.
"Saya bantu Mbak."
Tiba - tiba ada seorang laki - laki yang datang membantu memegang tempat kue yang hampir saja jatuh ke tanah.
"Miring ini tempatnya, bisa jatuh kuenya."
Kasih menatap laki - laki itu dan kedua manik mereka saling bertemu.
"Makasih."
__ADS_1
Kata Kasih dan mendapat senyuman manis dari laki - laki itu.
🌹🌹🌹🌹🌹