
"Alhamdulillah, kita sudah sampai. Ayo turun."
Gama sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah kedua orang tuanya.
"Mas, Karin takut."
Karina masih terdiam saja di tempat duduknya.
"Ayo Mbak."
Risa sudah turun dan mengetuk kaca mobil.
"Kenapa takut, hmmm... Mama udah nunggu lho. Ayo turun sama Mas."
Gama membuka pintu mobil dan masih menunggu Karina turun.
"Karin, dengerin Mas. Mama itu udah pengen banget ketemu sama kamu, Mama mau kenal sama calon menantunya." Kata Gama dengan tersenyum kepedean.
"Apa sih Mas Gama."
Karina bersemu merah pipinya.
"He he he.. Merah itu pipi."
Ledek Gama.
"Gendong aja Mas kalau nggak mau turun." Ledek Risa.
"Mbak bisa turun sendiri."
Karina langsung turun dari mobil nggak mau sampai Gama benar-benar menggendong dirinya.
"Gitu dari tadi."
Ledek Risa.
"Ayo masuk."
Risa dan Karina mengikuti Gama yang berjalan di depan menuju ke pintu utama yang terbuka.
"Assalamualaikum."
Ucap Gama, namun Karina malah menarik tangan Risa.
"Dik, Mbak takut."
"Kenapa sih Mbak, ayo..."
"Waalaikumsalam."
Terdengar jawaban dari dalam rumah suara seorang wanita.
"Udah sampai ya, mana tamu istimewanya Gama."
Mama Dina yang mengenakan hijab keluar dan beliau merupakan Mamanya Gama melihat di belakang anaknya tak ada orang.
Gama menoleh ke belakang ternyata Karina dan Risa masih di depan.
"Sebentar Ma."
Gama ke depan melihat Karina dan Risa berdiri di pintu.
"Karin, Risa ayo masuk."
"Ayo Mbak."
Risa menarik tangan Karina dan membawanya masuk ke dalam.
"Assalamualaikum."
Ucap Risa dan Karina.
"Waalaikumsalam, wah ini tamu istimewanya." Lirik Mama Dina ke Gama yang tersenyum.
"Ma, kenalin ini Karina dan adiknya Risa."
Setelah diperkenalkan oleh Gama Karina meraih tangan Mama Dina dan mencium punggung tangannya begitu pula dengan Risa.
"Karina, Tante.."
"Ini Karina, cantik sekali."
Kata Mama Dina sambil melirik Gama dan menyambut dengan ramah membuat Karina merasa tidak enak.
__ADS_1
"Cantik dong Ma, pilihan Gama."
"Kalau ini,.."
"Risa, Tante."
"Adiknya juga cantik. Kelas berapa sayang "
"Kelas 3 SMP Tante."
"Wah.. Seumuran dengan Tika ya."
"Tika adik Mas, Risa." Terang Gama.
"Ayo.. Silahkan duduk kok berdiri aja sih dari tadi."
Karina dan Risa mengikuti Mama Dina dan duduk di ruang tamu.
"Karin, duduk sini sebelah Tante."
Karina yang awalnya duduk dengan Risa berpindah ke sebelah Mama Dina. Gama memandangnya dengan tersenyum.
"Biasa aja Karin, anggap ini rumah sendiri." Mama Dina memeluk pundak Karina membuatnya nyaman.
"Iya Tante."
"Sebelumnya Tante minta maaf nggak bisa datang waktu Bapak meninggal, Tante lagi ke luar kota nemenin Papanya Gama."
"Iya Tante, terimakasih doanya Tante."
Lalu terdengar salam orang masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Mereka
Lalu muncul Tika yang datang bersama Papanya yang pulang dari kantor.
"Sebentar ya itu Papanya Gama pulang."
Pamit Mama Dina.
"Ada tamu."
Kata Papa Eko, Papanya Gama.
Kata Mama Dina sambil melirik anak kebanggaannya.
Karina menatap ke arah Gam mendengar itu, ternyata selama ini Gama bercerita kepada keluarganya.
Karina dan Risa menghampiri Papa Eko dan juga Tika, mereka saling bersalaman.
"Tika, Risa ini seumuran kamu lho."
Kata Mama Dina.
"Hai, kelas 3 juga ya."
Tika juga ramah orangnya.
"Iya, Risa."
Mereka saling berkenalan.
Hari sudah sore sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang, Mama Dina menemani Papa Eko ke kamar, Tika juga membersihkan diri.
Karina dan Risa berada di ruang tamu ditemani Gama.
"Mas Gama, cerita ya sama Tante dan Om."
Gama tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.
"Mas cerita apa saja."
"Semuanya." Ucap Gama.
Lalu datang Mama Dina menghampiri mereka.
"Karin, Risa kita persiapan sholat Maghrib yuk. Gama bersihin diri dulu sama." Kata Mama Dina.
"Iya Ma, Karin Mas tinggal dulu ya."
"Iya Mas."
__ADS_1
Karina dan Risa mengikuti Mama Dina sedangkan Gama ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap sholat Maghrib.
Adzan berkumandang, Mereka segera melaksanakan sholat di mushola rumah dengan Papa Eko sebagai imamnya.
Selesai sholat Mama Dina mempersilahkan untuk makan malam bersama.
"Karin, Risa jangan sungkan anggap rumah sendiri."
"Makasih Tante."
Mereka menyantap makan malam bersama dengan menu yang sudah disediakan oleh Mama Dina.
Gama senang sekali kedua orang tuanya bisa menerima Karina dan Risa dengan ramah menganggap mereka seperti anaknya sendiri.
Selesai makan malam mereka mengobrol santai di ruang keluarga.
"Karina di rumah tinggal sama siapa."
Tanya Papa Eko.
"Hanya berdua Om, sama Risa."
"Kalian berani ya tinggal berdua saja. Kalau saudara dari Bapak dan Ibu masih ada."
"Kalau Bapak anak tunggal Om, saudara Ibu ada Bude tinggal di luar kota."
"Gama, kapan ke rumah Bude nya Karina." Goda Papanya.
Karina hanya menunduk saja, sedangkan Gama tersenyum ke arah Papanya.
"Papa kapan siap mengantar Gama kesana." Gama balik tanya.
"Masa harus papa antar, sendiri nggak berani."
"Kalau untuk meminta Karina sebagai istri Gama berani Pa. Tapi kalau mau membicarakan pernikahan ya harus sama Papa dong." Ucap Gama santai, Karina hanya diam saja.
"Memang Karina mau jadi istri kamu."
Gama menatap Karina begitu pula sebaliknya.
"Karin, mau kan jadi istri Mas?".
Karina gugup ditanya begitu kedua orang tua Gama.
"Karin, jawab dong. Kamu mau jadi menanti Mama." Kata Mama Dina dengan memegang tangan Karina.
"Karin... "
Karina takut ingin melanjutkan ucapannya semua mata menuju ke arahnya.
"Karin, kamu ragu ya untuk menjadi istri Gama."
"Apa Karin pantas Tante menjadi istri Mas Gama."
"Kenapa kamu tanya begitu, Gama itu sudah cerita semuanya tentang kamu, keluarga kamu dan Dia sangat cinta sama kamu. Sampai Dia rela melepaskan..."
"Ma.."
Gama langsung memotong pembicaraan Mamanya soal beasiswa itu.
"Karin, minta maaf Tante."
"Gama itu sayang banget sama kamu Karin, bahkan sekarang dia bisa berubah begitu mengenal kamu."
"Mas Gama galak Mbak "
Celetuk Tika.
"Tika, sekarang kan sudah berubah."
"Iya, aneh sekarang Mas Gama jadi sok manis." Ledek Tika.
"Gimana, kamu mau kan jadi menantu Tante."
Karina menunduk dan menganggukkan kepalanya, namun bisa dilihat oleh semuanya. Apalagi Gama yang langsung senang dan tersenyum lebar ke arah Karina.
"Kamu kenapa Gama." Tanya Mamanya.
"Gama seneng Ma, kapan ke rumah Budenya Karina Ma."
"Yeay. Emang Karina mau jadi istri kamu, dia kan maunya jadi menantu Mama." Goda Mama Dina.
"Apalah Ma, yang penting Gama seneng. Yes...yes.. Makasih Sayang."
__ADS_1
Karina langsung memerah mukanya, mendengar ucapan Sayang dari Gama.
🤭🤭🤭🤭🤭