
"Terima kasih Dok, maaf tidak bisa menawarkan untuk mampir karena sudah malam. Saya nggak enak menerima tamu laki-laki di malam hari."
Dokter Gama tersenyum memahami.
"Nggak papa, Saya sudah boleh mengantarkan kamu sampai rumah saja sudah senang." Katanya.
"Terima kasih sekali lagi Dok."
"Sama - sama, silakan masuk Saya akan pergi setelah kamu masuk ke dalam kamu."
"Baik Dok, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Karina membuka kunci rumah lalu memasukkan sepeda motornya ke dalam baru setelah itu Dokter Gama meninggalkan rumah itu.
"Bapak, belum tidur."
Bapak Heri ternyata menunggu Putrinya yang baru pulang kerja.
"Nunggu kamu, pulang sama siapa.?. Seperti ada suara orang tadi."
"Diantar teman Pak."
"Laki - laki.?"
Karina menganggukkan kepalanya.
"Teman kerja kamu.?"
"Bukan Pak."
"Siapa.?"
Karina ketakutan karena sebelumnya belum pernah diantar seorang laki-laki pulang ke rumah apalagi ini malam hari.
"Dokter Gama Pak."
Bapak Heri menatap bingung.
"Dokter Gama yang periksa Bapak itu.?"
Karina menganggukkan kepalanya.
"Ketemu dimana.?"
"Tadi Dokter Gama belanja di toko setelah itu menawarkan untuk mengantarkan Karin pulang."
"Kamu jangan mudah percaya sama orang yang baru kamu kenal."
"Iya Pak, tadi Karina juga sudah menolaknya tapi Dia maksa Pak."
"Ya udah istirahat kamu, sudah malam."
"Iya Pak."
Karina masuk ke dalam kamar dan segera mengganti baju, Dia langsung mau tidur karena capek dan besok ada kuliah pagi.
🌹🌹🌹🌹
Gama sendiri sudah sampai rumah juga, Dia memasukkan sepeda motornya ke garasi lalu menuju ke kamarnya.
"Gama, darimana.?"
Tanya Mamanya yang ada di dapur.
"Mama, dari cari angin aja Ma."
"Mama belum tidur."
"Haus, kamu nyari angin kemana sampai malam."
"Ke luar aja deket Ma, ke minimarket situ."
Kata Gama dan Mamanya memperhatikan wajah Gama yang terlihat bahagia.
"Kayaknya lagi bahagia." Sindir Mamanya.
__ADS_1
"He he he... Gama masuk ya Ma, mau istirahat. Mama juga tidur lagi."
"Nggak mau cerita sama Mama."
"Besok lagi aja Ma, udah malam. Istirahat Ma."
Gama meraih tangan Mamanya lalu berjalan ke kamar meninggalkan Mamanya di dapur.
Setelah masuk ke dalam kamar, dia membersihkan diri ke dalam kamar mandi dan segera ingin tidur.
"Dia sudah tidur belum ya."
Gama membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya membayangkan wajah Karina.
Di raih ponsel yang ada di atas nakas lalu mengirimkan pesan kepada Karina.
Lama tak ada jawaban Gama pun tertidur karena dia beranggapan Karina juga sudah terlelap.
Adzan subuh berkumandang, Gama segera menuju ke kamar mandi lalu bersiap ke masjid.
Senyumnya terpancar ketika melihat ada pesan yang sudah masuk di hpnya setelah pulang dari masjid.
"Maaf sudah tidur semalam Dok jadi baru sempat membalas pesannya, terima kasih ."
Gama mengetik balasan.
"Sama - sama, keselamatan kamu yang utama. Hari ini aktivitasnya apa.?"
Lama tidak ada jawaban Gama meletakkan ponselnya lalu berolahraga ringan untuk mencari keringat.
🌹🌹🌹🌹🌹
Karina setelah mempersiapkan sarapan, Dia bersiap untuk berangkat kuliah.
"Mbak."
Risa masuk ke dalam kamar Karina yang sedang bersiap.
"Kenapa Ris."
"Kemarin pas mbak Karin berangkat kerja Bapak melihatnya sedih gitu."
"Kenapa Bapak."
"Bapak merasa bersalah karena Bapak sakit jadi Mbak Karin harus kerja sambil kuliah."
"Kamu nggak bilang Mbak ikhlas gitu."
"Udah Mbak, tapi bapak masih kelihatan sedih. Risa takut Mbak kalau Bapak drop lagi."
"Kamu jangan bilang gitu Dik. Yuk kita sarapan Bapak sudah nunggu."
Mereka bertiga sarapan bersama dengan menu sederhana yang sudah disiapkan oleh Karina.
"Karin."
"Iya Pak."
"Maafin Bapak ya, gara-gara bapak sakit kamu harus bekerja."
"Pak, Karin nggak papa. Karin bisa membagi waktu antara kuliah dengan bekerja."
Karina menatap Bapaknya yang sekarang terlihat tambah kurus, keriputnya semakin kelihatan.
"Bapak cuma jadi beban buat kamu saja."
"Pak, Karin tidak merasa jika Bapak itu jadi beban buat Karina."
"Maafin Bapak ya ."
Karina, Risa dan Bapaknya berpelukan saling menguatkan satu sama lain.
"Pak, besok kita ke rumah sakit ."
Karina mengingatkan Bapaknya untuk jadwal cuci darah lagi.
"Iya, kalian hati - hati ya."
__ADS_1
"Iya Pak, Assalamualaikum."
Karina berangkat bersama Risa meninggalkan Bapaknya sendiri di rumah.
Sesampainya di kampus Karina memarkirkan sepeda motornya.
"Karin.."
Karina menoleh ke arah sumber suara ternyata Anggun yang memanggilnya.
"Anggun, diantar."
Anggun tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua berjalan menuju ke ruangan.
"Gimana kerjanya."
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja teman-temannya juga baik."
"Maaf ya aku belum sempat ke toko tante."
"Iya nggak papa."
Kata Karina sambil tersenyum.
Lalu terdengar nada dering telepon di ponsel Karina.
"Sebentar ya Gun."
Karina menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum Dok."
Anggun mendengar karena mengucapkan dok membuat Anggun menatapnya dan pikirannya sudah menuju kepada dokter Gama.
"Lagi di kampus, maaf ada apa ya Dok."
"Maaf ya Dok, Karin harus masuk kelas sebentar lagi dosanya datang."
"Waalaikumsalam."
Begitu percakapan singkat antara Karina dengan dokter Gama melalui telepon.
"Siapa Karin."
Tanya Anggun.
"Dokter Gama yang menangani bapak."
Anggun nampak tersenyum.
"Dokternya merawat Bapak tapi kok perhatiannya sama kamu."
"Apa sih Gun, nggak ini mengingatkan saja kalau besok jadwal cuci darah bapak."
"Oh... Yakin cuma gitu."
"Iya, Anggun. Apa sih yuk kita masuk kelas."
Karin berjalan duluan diikuti oleh Anggun dia senang sekali menggoda temannya.
"Karin, cakep nggak Dokternya."
"Apa sih Gun."
"Boleh nggak besok aku ikut ke rumah sakit, mau tahu seganteng apa dokternya ini." goda Anggun.
"Ngapain mau ikut.?"
Karina merasa aneh.
"Siapa tau Dokternya kecantol sama aku, ha ha ha..."
Karin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
"Pokoknya besok aku ikut ya."
Anggun masih merayu Karina.
__ADS_1
🙂🙂🙂🙂