Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mencintai Tanpa Syarat #17


__ADS_3

"Mbak.. ikut.."


Kirana adik kecilnya merengek ingin ikut Kasih yang keluar, Dia bosan di dalam banyak orang dewasa.


"Ayo.."


Kasih mengulurkan tangannya dan diraih Kirana. Akmal mengikuti mereka berdua.


"Ayunan, Mbak."


Di teras rumah Kasih ada ayunan kayu yang biasa digunakan untuk permainan adiknya.


"Duduk sini ya."


Kirana duduk di tengah ayunan sedangkan Kasih ada di pinggir sebelah kiri.


Akmal berdiri mengamati mereka berdua.


"Nggak mau, aku sini."


Kirana malah minggir ke Kanan.


"Dek, jatuh."


"Kamu agak ke kanan Kasih."


Kata Akmal yang duduk di kursi samping ayunan itu.


"Mbak ayun."


Kirana nggak nyampai kakinya.


"Pelan aja ya."


Kasih menggerakkan kakinya hingga ayunan itu ikut bergerak.


Akmal berdiri lalu ke belakang ayunan.


"Kaki kamu angkat, Mas yang ayunkan."


Akmal mendorong pelan ayunan itu membuat Kirana senang.


"Asyik.. Lebih kenceng lagi."


"Dek, kalau jatuh."


Kasih memegangi Kirana yang senang di ayun dengan cepat.


"Kirana senang." Tanya Akmal.


Dan si kecil itu tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Adik kenal."


Kirana menggelengkan kepalanya.


"Udah Salim belum tadi."


"Takut..."


Kirana memeluk Kasih.

__ADS_1


"Salim dulu, kenalan dong. Ayo Salim."


Kirana mengulurkan tangannya dan di raih Akmal. Lalu dicium punggung tangan Akmal.


"Namanya siapa."


Akmal bertanya padahal udah tau, untuk mengajari Kirana saja.


"Kiyana." Jawabnya.


"Mas namanya siapa, coba tanya." pinta Kasih kepada adiknya.


"Mas ciapa."


"Mas Akmal."


"Kirana kelas berapa." Tanya Akmal.


"TK B."


Kirana lucu membuat Akmal gemas.


"Mau ayun lagi."


"Hmmmm..." Semangat Kirana.


"Pelan saja Mas."


Kata Kasih.


"Iya."


"Mas Akmal kok tau rumah Kasih."


Akmal tersenyum.


"Siapa lagi kalau bukan sahabat kamu satu itu."


"Septi."


Kasih nggak nyangka Septi nggak cerita sama dia.


"Iya, Mas minta alamat kamu ke Septi."


"Tapi ya nggak semudah itu Septi ngasih alamat kamu. Mas di cecar banyak banget pertanyaan." Lanjut Akmal.


Akmal berusaha menghubungi Septi untuk minta alamat rumah Kasih setelah Mamanya sembuh dari kecelakaan itu. Bukan tanpa rintangan Septi tidak semudah itu memberikan alamat rumah Kasih namun, akhirnya di beri juga karena Akmal yang mampu meyakinkannya.


"Dia tanya apa aja."


Akmal menghentikan ayunannya dan berpindah ke depan, Dia jongkok di depan Kasih karena Kirana sudah masuk mencari Ibunya.


"Dia tanya apa Mas serius sama Kamu."


Kata Akmal dengan menatap Kasih


Dia mengeluarkan kotak merah dari sakunya yang berbentuk hati.


"Kasih, Will You Marry Me."


Akmal memperlihatkan sebuah cincin yang terlihat cantik di dalam kotak itu.

__ADS_1


Kasih menatap cincin itu, rasanya campur aduk di dalam hatinya.


"Mas, apa Kasih pantas menerima itu."


"Cincin ini hanya kamu yang pantas mengenakannya, Kasih."


"Kasih, merasa kurang pantas Mas."


"Kasih, Mas sayang sama kamu. Mas nggak mau kehilangan kamu lagi, apa yang masih membuat kamu ragu Kasih."


"Kasih, takut mengecewakan keluarga Mas Akmal."


Kasih menunduk, memang masih ada rasa ragu di dalam dirinya terutama soal Mamanya Akmal yang pernah menolaknya.


"Kasih, keluarga Mas sudah menerima kamu. Mas sayang sama kamu apa adanya, Mas ingin kamu menemani Mas selamanya menghabiskan sisa usia Kita dengan bahagia bersama keluarga kita."


Kasih mengangkat kepalanya menatap Akmal yang masih berjongkok didepannya.


"Kasih nggak mau menikah sekarang."


"Mas setia menunggu kamu, Sayang."


Wajah Kasih langsung memerah mendengar panggilan Sayang dari Akmal.


"Kasih mau wisuda dulu."


"Iya, Mas pakaikan ya cincinnya."


Kasih menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, ini bukti cinta Mas sama kamu dan supaya orang lain tau kalau kamu sudah ada yang punya."


"Mas Akmal posesif."


"Biarin, Mas akan cemburu kalau kamu dideketin cowok lain. Mas pakaikan ya."


"Kasih bisa pakai sendiri."


Akmal tersenyum melihat Kasih mengambil cincin itu dan memakainya di jari manisnya sendiri, hilang sudah kesempatannya untuk menggenggam tangan Kasih.


"Tapi besok kalau sudah sah, nggak boleh pakai sendiri."


"Dipakaikan sama Mama."


"Nggak boleh, harus Mas yang pakaikan."


Mereka berdua malah saling ledek dan bercanda.


"Gimana jadinya."


Mamanya Akmal keluar karena mereka nggak kunjung masuk ke dalam rumah.


"Ini Ma."


Akmal menunjuk jari manis Kasih yang sudah tersemat cincin miliknya.


"Alhamdulillah."


Akhirnya keluarga Akmal pamit untuk pulang dan acara selanjutnya akan di bahas setelah Kasih nanti lulus kuliah.


🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2