Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mukena Merah Muda #13


__ADS_3

"Risa udah kamu hubungi Karin."


Tanya Gama saat mobil mulai berjalan meninggalkan kampus.


"Udah Mas."


Gama sesekali melirik Karina yang duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa wajahnya lesu gitu, banyak tugas."


Karina menggelengkan kepalanya.


"Kamu sakit, kita periksa ya."


"Mas Gama kan Dokter, ngapain kita periksa. Kenapa nggak Mas Gama sendiri yang meriksa Karin."


Ucap Karin sambil melihat ke arah Gama yang tersenyum.


"Mau, Mas periksa.?"


Goda Gama, sambil tersenyum.


"Deg.. Mas Gama kalau senyum tambah cakep ya " Dalam hati Karina.


Karina langsung menyadarkan dirinya dengan menggelengkan kepalanya.


"Karin..."


"He.. Iya Mas."


"Kenapa lihatin Mas kayak gitu, mau Mas periksa."


Gama menghentikan mobilnya.


"Kok berhenti Mas."


Karina malah yang panik.


"Itu Risa. Kamu mikir apa sih Karin."


Ternyata sudah sampai di depan sekolah Risa.


"Assalamualaikum.."


Risa membuka pintu mobil lalu meraih tangan Gama dan Karina bergantian.


"Waalaikumsalam."


"Tumben Risa dijemput berdua, mau kemana Mbak, Mas."


"Mau memeriksa Mbak Kamu, dari tadi melamun Mulu." Goda Gama sambil melirik Karina yang malu.


"Mbak sakit."


"Nggak Dik, Mas Gama ngarang."


Katanya sambil manyun lalu Gama menjalankan mobilnya dan terkekeh melihat Karina.


"Mau makan apa."


Tanya Gama.


"Nasi.."


"Mie..."


Jawab Karina dan Risa berbarengan membuat Gama tertawa.


"Kalian kompak banget, kali ini nasi aja ya kemarin udah mie Risa."


"Oke deh ."


Gama melajukan mobilnya menuju sebuah restoran masakan Jawa favoritnya.


Setelah sampai mereka masuk dan memesan makanan.

__ADS_1


"Mbak, Risa mau sholat dhuhur dulu ya. Tadi buru - buru takut Mas Gama nungguin."


"Iya sana buruan."


Risa meninggalkan mereka berdua sambil menunggu pesanan.


"Karin, jadi mau diperiksa."


Gama masih saja menggodanya.


"Karin nggak sakit Mas, ini sehat - sehat aja."


"Terus kenapa kelihatan nggak semangat gitu."


Gama mengamati wajah Karina.


"Karin boleh tanya sesuatu Mas."


"Boleh "


Gama menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Mas Gama membatalkan beasiswa S3 ke luar negeri."


Gama kaget kenapa Karina bisa tanya soal beasiswanya.


"Beasiswa siapa Karin."


Gama berlagak saja.


"Beasiswa Mas Gama, kenapa Mas dibatalkan."


Gama menatap Karina dalam.


"Waktunya belum tepat aja Karin. Nanti pasti ada kesempatan lagi." Ucap Gama sambil tersenyum dan menatap Karina.


"Karena Karin ya Mas."


Karina nanar menatap Gama.


"Bukan karena kamu Karin, tapi nggak pas saja waktunya kalau harus berangkat sekarang."


"Mas Gama bohong."


"Mas nggak bohong, Karin tau darimana kalau Mas dapat beasiswa."


"Anggun... Maafin Karin Mas, Karin malah jadi beban buat Mas Gama."


Gama hanya tersenyum menatap Karina.


"Mas bukan membatalkan beasiswa tapi hanya menundanya saja karena waktu yang kurang tepat jika saat ini untuk pergi." Kata Gama sambil tersenyum memandang Karina.


"Kenapa nggak tepat Mas, kan sudah di nanti lama." Tanya Karina.


Gama tersenyum dan dengan penuh perasaan menatap Karina, begitu pula Karina menatapnya balik.


"Mas akan pergi jika kamu dan Risa sudah ada yang menjaga jadi Mas akan dengan lega pergi ke luar negeri seperti pesan Bapak."


Katanya dengan tersenyum dan lagi - lagi dia menjadikan pesan Bapak Heri sebagai alasan padahal sebenarnya karena rasa cintanya kepada Karina yang begitu dalam hingga tak tega untuk meninggalkannya.


Karina malah meleleh air matanya membasahi pipinya.


"Mas Gama kemarin nggak kenal Karina, nggak kenal Bapak tapi kenapa Mas Gama begitu perhatian dengan kami. Sampai pesan Bapak masih terus Mas Gama ingat dan ingin mewujudkannya."


"Karena Saya Sayang sama Kamu, andaikan Bapak bukan pasien saya waktu itu. Saya akan tetap memperjuangkan cinta saya kepada mu Karin. Saya sudah jatuh cinta sama kamu sebelum mengetahui jika kamu anak dari pasien saya."


Karina menatap Gama dengan penuh tanda tanya.


"Mas Gama pernah kenal saya."


Gama menggelengkan kepalanya.


"Terus, pernah lihat Karin dimana."


Gama tersenyum, dia mau jujur yang sebelumnya belum pernah ia ceritakan.

__ADS_1


"Hari itu saya memandang ke arah jendela di ruangan saya dan saya lihat seorang gadis sedang sholat di mushola rumah sakit mengenakan mukena berwarna merah muda. Dia terlihat cantik sekali, khusyuk dalam sholat dan menggetarkan hati. Siapa gadis itu saat itu pertanyaan itu yang muncul dari muncul dari mulut Saya, Karin."


Karin mengingat kejadian saat itu.


"Lalu saat saya berkunjung ke bangsal perawatan, saya melihat kamu ternyata kamu itu anak dari Bapak Heri. "


Gama tersenyum memandang ke arah Karina.


Karina tak sanggup berbicara lagi, enggak tau harus ngomong apa.


"Karin.. Jika memang kamu tidak bisa Mas miliki seutuhnya seenggaknya Mas sudah berusaha untuk menjaga kamu sesuai dengan pesan Bapak waktu itu. Mas akan ikhlas dan merasa lega untuk melepasmu jika kamu benar-benar sudah mendapatkan laki-laki yang bertanggung jawab menjagamu."


Ucap Gama dengan serius.


"Hiks..hiks...."


Karina malah menangis dan menelungkupkan wajahnya ke meja.


"Maafin Mas ya Karin. Ijinkan Mas untuk menjalankan amanat Bapak Heri, bagi Mas itu suatu yang harus Mas tepati."


"Mas, Mbak Karin kenapa."


Risa datang melihat Karina menangis.


"Maafin Mas, Risa."


"Mbak...."


Karina memeluk adiknya dan menangis.


"Mbak Karin kenapa."


Karina mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya, Gama menatapnya dengan iba.


"Mas..."


Karin menatap wajah Gama begitu sebaliknya.


"Apa Karin pantas untuk mendampingi Mas Gama."


Gama tersenyum.


"Cuma kamu yang Mas mau Karin, cuma kamu gadis yang bisa menurunkan ego Mas yang tak pernah mengalah dan memikirkan diri sendiri ini. Baru kali ini Mas merasakan betapa berartinya sebuah keluarga, orang tua dan kebersamaan kita bersama orang tercinta. Mas belajar semua itu dari kamu Karin."


Risa malah tersenyum, ternyata nangis bahagia.


"Apa keluarga Mas Gama bisa menerima Karina dan Risa yang hanya anak yatim piatu ini."


"Mama ingin bertemu sama kamu dan Risa." Kata Gama dengan tersenyum.


Karina terdiam ada sedikit rasa lega dihatinya.


"Kapan kamu siap ketemu Mama dan Papa. Mas Gama juga punya adik perempuan seumuran kamu Risa."


"Oh iya Kak, bisa main bareng dong."


"Bisa, dia juga cerewet kayak kamu."


"He he he..." kelakar Risa.


"Karin takut Mas."


"Mama sudah menanti kamu, Dia nggak sabar mau ketemu kamu. Katanya seperti apa gadis yang bisa merubah Mas yang keras kepala ini."


"He..."


Karina bisa tersenyum dan malah merasa malu.


"Hari ini boleh Mas."


Ucap Risa bersemangat.


"Risa..." Karina yang melotot.


😉😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2