Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mukena Merah Muda #12


__ADS_3

"Hubungan kamu sama Mas Gama gimana Karin."


Tanya Anggun kepada Karina di sela menyantap makanannya.


Karina menatap ke arah Anggun dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih merasa jika kamu tidak pantas untuk mendampingi Mas Gama."


"Aku minder Gun, aku merasa nggak pantas."


"Tapi Mas Gama mengharapkan kamu."


"Aku harus giman Gun, Aku sudah meminta Dia untuk memilih yang lain namun Mas Gama masih terus merasa jika aku tanggung jawabnya. Aku sudah bilang jangan terlalu dipikirkan pesan Bapak."


"Karin, ini bukan masalah karena pesan Bapak kepada Mas Gama. Tapi, Mas Gama di sini benar-benar sayang sama kamu. Dia sudah bilang kan sama kamu kalau dia itu sebenarnya sudah jatuh cinta sama kamu sebelum Bapak memberikan pesan kepada dia. Mungkin saja Bapak berpesan seperti itu kepada Mas Gama karena Bapak merasakan kalau Mas Gama itu suka sama kamu."


Karina diam sambil mengaduk minumannya.


"Aku harus gimana."


"Karin, kenapa sih kamu minder. Mas Gama mau menerima kamu apa adanya. Kenapa sih Karin, kamu anggap Mas Gama itu nggak serius sama kamu." Anggun menatap Karina yang membalas menatapnya.


"Nggak tau Gun, aku merasa nggak pantes aja untuk mendampingi Mas Gama. Dia itu terlalu sempurna untukku, Dia Dokter, pinter, cakep belum lagi Dia anak orang kaya sedangkan aku apa Gun. Aku takut ditolak sama keluarganya, hanya anak yatim piatu. Aku takut di cap hanya menginginkan hartanya."


Anggun geleng-geleng nggak menyangka pikiran Karina sampai ke sana.


"Kamu kok mikir sampai ke sana Karin. Mas Gama itu tulus cinta sama kamu."


"Itu Mas Gama, gimana dengan keluarganya."


"Makanya kamu itu harus mengenal dulu keluarga Mas Gama, kamu jangan hanya berspekulasi sendiri."


"Aku takut kalau sudah terlanjur mengenalnya nanti aku akan susah melupakannya dan akan kecewa. Aku takut itu Gun."


"Kamu itu egois Karin."


Anggun sampai emosi dengan Karina.


"Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan perasaan Mas Gama sama kamu Karina. Itu hanya ketakutan kamu sendiri yang tak beralasan."

__ADS_1


Anggun bicara dengan penuh penekanan agar Karina sadar.


"Kamu nggak lihat pengorbanan yang sudah Mas Gama lakukan untuk kamu. Asal kamu tau Karina, Mas Gama telah melepaskan beasiswa S3 nya ke luar negeri demi kamu. Cuma demi kamu Karina, Mas Gama merelakan cita - citanya dengan alasan tidak tega meninggalkan kamu karena kamu tidak ada yang menjaga."


Anggun akhirnya mengungkapkan apa yang dia sembunyikan dari Karina atas pesan Gama.


Anggun bisa tau kalau Gama melepaskan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa S3 di luar negeri setelah mendengar percakapan Kakaknya dengan Gama.


Dari situ Dia tau betapa cintanya Gama kepada Karina, sampai rela melepaskan beasiswanya padahal sudah lama ia nantikan.


Karina tertegun, matanya terlihat nanar mendengar ucapan Anggun. Ada rasa menyesal di dalam dirinya selama ini hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Karin... Kamu itu beruntung dicintai sama Mas Gama. Dia sampai bilang sama Kak Lukman kalau dia akan ikhlas melepaskan kamu kalau kamu sudah mendapatkan seorang laki-laki yang cocok dan benar bertanggung jawab menjaga dirimu dan Risa. Sampai segitunya Mas Gama sayang sama kamu, tapi kamu malah mikir dirimu sendiri takut kecewa."


Karin terdiam dan akhirnya air matanya luluh membasahi pipi mulusnya. Anggun berdiri berpindah tempat ke samping Karina lalu memeluknya.


"Kamu beruntung Karina, Mas Gama itu yang awalnya tidak mengenal kamu, bukan siapa-siapa kamu tapi dia tulus sayang sama kamu."


"Hiks..hiks..."


Karina terisak di pelukan Karina tanpa berkata.


"Ada telepon kayaknya Karin."


Karina mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas.


"Panjang umur dia telepon."


Ucap Anggun begitu melihat nama Gama berada di layar ponsel milik Karina.


"Aku harus gimana Gun."


"Jawab itu telepon."


Karina menganggukkan kepalanya lalu menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Kamu dimana Karin. Aku kirim pesan kok tidak dibalas."

__ADS_1


Terdengar suara Gama yang khawatir.


"Karina di kampus Mas, maaf tadi ponselnya di tas."


"Kamu kenapa Karin, sakit. Suara kamu surau gitu."


Padahal Karina sudah berusaha berbicara dengan nada biasa saja untuk menutupi kalau dia baru saja menangis.


"Nggak Mas, Karin baik - baik saja."


"Kamu masih ada kuliah.?"


"Sudah selesai Mas."


"Makan siang yuk, Mas jemput ke kampus sekalian jemput Risa sekolah. Kamu sama siapa ini."


"Sama Anggun Mas, ini di kantin nemenin Anggun makan siang."


"Kamu belum makan kan.?. Mas jemput ya ini otw."


Anggun memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas, sepeda motor Karin gimana."


"Gampang nanti biar Mas minta sama orang untuk ambil."


"Iya Mas."


Karina menyudahi pembicaraannya.


"Anggun, aku harus gimana."


Anggun tersenyum.


"Perbaiki semuanya Karin, coba selami bagaimana karakter Mas Gama. Aku yakin dia tulus sayang sama kamu, coba nanti tanya sama Mas Gama soal beasiswanya dan lihat reaksi dia. Kamu bakalan tau seberapa besar sebenarnya cinta Mas Gama sama Kamu."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu Mereka berdua keluar dari kantin menuju ke parkiran karena Gama sudah dekat.


😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2