Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mukena Merah Muda #3


__ADS_3

"Bapak Heri harus menjalani cuci darah, itu jalan terbaik yang bisa kita lakukan."


Perkataan Dokter yang masih terngiang di telinga Karina.


Seorang diri di taman rumah sakit Dia menatap kosong ke depan, air matanya mengalir di pipi mulusnya. Rasanya ingin menangis dan menjerit sekeras-kerasnya, meluapkan sesak yang ada di dadanya.


"Kuatkan Karin, Ya Allah."


Ucapnya lirih.


"Apa yang harus Karin lakukan sekarang."


Karina bingung memikirkan kondisi Bapaknya, walaupun terlihat baik - baik saja pasti di dalam hatinya juga menangis.


"Kamu kuat Karin ."


Kata Dia untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Boleh Saya duduk."


Tiba - tiba ada suara seseorang dibelakang Karina yang membuat Dia reflek menoleh ke arah suara.


"Dokter.."


Karina sambil mengusap air matanya.


Dokter Gama tersenyum menatap Karina.


"Sendirian saja."


"I.. Iya Dok, silahkan duduk."


Dokter Gama mengambil duduk di ujung kursi supaya mereka ada jarak antar keduanya.


"Silahkan duduk Mbak Karina."


Dokter Gama melihat Karina yang malah hanya berdiri dan mereka sudah saling kenal sekarang.


"Makasih Dok."


"Maaf, kalau Saya mengganggu Mbak Karina."


"Tidak Dok, sama sekali tidak menggangu."


"Kok melamun sendiri, memikirkan Bapak." Tanya Dokter Gama sambil menatap ke arah kiri dimana Karina berada.


Karina hanya tersenyum sekilas menatap Gama lalu menghadap ke depan.


"Doakan yang terbaik untuk Bapak, memang cuci darah tidak dapat menjamin kesembuhan Bapak tapi insyaallah Bapak akan tetap sehat selama menjalankan cuci darah dengan rutin."


Mata Karina nanar menerawang ke depan.


"Cuci darah tidak akan memperbaiki ginjal Bapak Dok. Saya pernah mendengar cerita tentang sakit ginjal jika, sudah cuci darah lama kelamaan akan semakin sering dan jika tidak dapat bertahan, hiks...hiks..."


Karina tak mampu menahan tangisannya lagi, dia sebisa mungkin mengambil nafas untuk meredakan sesak di dadanya.


Gama menatapnya dengan iba, rasa prihatin tumbuh di dirinya.


"Sabar Mbak Karin, Bapak di doakan yang terbaik." Hanya itu yang bisa Gama katakan.

__ADS_1


"Maaf Dok, saya jadi Melo begini. Kalau begitu Saya permisi Dok kasihan Bapak sendirian."


Karina beranjak dari tempat duduknya.


"Mbak Karin, tunggu sebentar."


Gama ikut berdiri lalu, mengambil sebuah kartu nama dan memberikannya kepada Karina.


"Ini kartu nama Saya, jika Mbak Karina mau konsultasi atau butuh teman untuk curhat bisa menghubungi ini nomor Saya."


Karina menatap ke arah kartu nama itu, rasanya ragu ingin mengambil kartu itu tidak biasanya seorang Dokter memberikan kartu namanya.


"Ini sebagai bentuk pelayanan saya kepada pasien." Jelas Gama yang paham akan keraguan Karina.


"Kenapa Dokter berikan kartu nama kepada saya."


"Saya yakin Mbak Karina sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan mengenai kondisi Bapak Heri namun, karena keterbatasan kita untuk berjumpa dan konsultasi makanya Saya tetap ingin memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin kepada pasien."


Karina akhirnya mengerti dan mengambil kartu nama milik dokter Gama.


"Makasih Dok, Saya permisi."


"Iya silahkan, jangan sungkan untuk menghubungi nomor itu kapan pun dan Saya siap 24 jam." Kata Dokter Gama untuk meyakinkan Karina.


"Baik Dok, terimakasih."


Karina lalu pergi meninggalkan Dokter Gama yang masih memandang dirinya menuju ke ruangan perawatan Bapaknya.


"Rasanya ingin berada di sampingnya, kasihan tidak ada tempat curhat untuk berbagi keluh kesahnya." ucap Gama lirih sambil menatap punggung Karina yang semakin lama tak terlihat.


"Woyyy.... Ngapain disini kamu."


"Kamu, kalau aku jantungan gimana."


"Ha ha ha... Lihatin siapa sih."


Lukman teman seprofesi dengan Gama sejak tadi memperhatikan dirinya dari kejauhan.


"Kepo, kamu."


Gama duduk kembali di bangku itu diikuti oleh Lukman.


"Siapa gadis tadi."


"Pasien."


jawab Gama singkat aja.


"Cantik, sakit apa dia."


Gama langsung menatap arah Lukman begitu temannya itu menyebut Karina cantik.


"Apa kamu bilang cantik."


Entah kenapa Gama jadi emosi.


"Woy.. Kok sewot sih kamu. Suka ya sama Dia." goda Lukman yang tertantang menelisik kebenaran dari temannya itu.


"Bukan urusan Kamu, udah aku mau ke ruangan."

__ADS_1


Gama beranjak dan diikuti Lukman.


"Kalau suka buruan deketin, Dia keluarga pasien yang ada di sini kan."


Gama berhenti menatap tajam ke arah Lukman.


"Jangan kamu ganggu Dia!!!."


"Santai Bro... "


Lukman merangkul pundak Gama yang terlihat emosi.


"Dia namanya Karina kan.?"


Gama semakin curiga dengan temannya itu yang mengenali Karina.


"Darimana kamu tahu."


"Tenang saja Kamu, dia teman kuliah adik ku."


Gama menatap tak percaya.


"Jangan bohong kamu."


"Buat apa aku bohong, Karina itu teman Anggun kuliah baru semester 4 Dia tapi Bapaknya sakit disini."


"Kamu beneran nggak bohong kan."


Gama masih tidak percaya dengan Lukman yang kadang suka membual.


"Kalau kamu nggak percaya tanya Anggun sendiri."


Lukman berjalan dulu baru diikuti oleh Gama.


"Anggun tau kalau Karina lagi di rumah sakit."


"Nggak tau aku, cuma Karin pernah ke rumah waktu itu."


Gama punya insting untuk mencari tahu banyak tentang Karina dari adiknya Lukman.


"Kalau Anggun di rumah aku boleh ngobrol kan."


"Ha ha ha.. Kamu beneran jatuh cinta sama Karina." Lukman menatapnya.


"Entah, tapi ada rasa kasihan ketika aku menatap wajahnya yang sendu. Aku merasakan beban yang begitu berat yang dipikul di usianya yang baru sekitar 20 tahun ini. Ibunya sudah meninggal dan dia yang harus merawat bapaknya."


"Dia gadis sederhana Gam, jangan kamu permainkan."


"Aku pernah salah itu pun karena wanita dan sekarang aku sudah berubah dengan mencintai seseorang yang benar-benar berharga dalam hidupku."


Lukman merangkul pundak temannya itu sambil tersenyum senang.


"Perjuangkan jika memang kamu mencintainya."


"Bantu aku bicara sama Anggun ya ."


"Oke, nanti aku kasih kabar kalau pas Anggun di rumah kamu bisa ke rumah ku."


"Oke, makasih bro .."

__ADS_1


🙂🙂🙂🤭


__ADS_2