
Semakin hari Akmal semakin menjadi pula, dia nggak mau berbicara dengan Mamanya karena nanti ujung - ujungnya juga akan berantem.
Papa yang mengamati sikap mereka berdua ikut khawatir, takutnya nanti antara Mama dan anak ini tidak mau saling berbicara.
"Akmal."
Panggil Papanya selesai sarapan pagi.
"Iya Pa."
"Ke ruang kerja Papa sebentar, ada yang ingin Papa bicarakan dengan kamu."
"Baik Pa."
Akmal mengikuti Papanya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya, sedangkan Mama Rita masih sibuk di dapur jadi tidak memperhatikan mereka berdua.
"Duduk Akmal."
"Makasih Pa, Papa ingin membicarakan soal apa."
Papa duduk di sofa depan Akmal.
"Papa perhatikan kamu dengan mama kamu kenapa tidak pernah bertegur sapa."
"Akmal malas Pa, nanti kalau bicara sama Mama yang dibahas itu lagi."
Papa bukannya tidak tahu apa masalahnya namun dia mencoba untuk menjadi penengah diantara Akmal dan Mamanya.
"Kamu suka dengan gadis itu."
"Akmal cinta Pa, tapi Mama memperlakukannya tidak baik. Siapa yang nggak sakit hati dituduh seperti itu dan sekarang Akmal pun tidak bisa ketemu sama dia."
"Mama kamu emang seperti itu sifatnya, suka menilai orang itu hanya dari luarnya. Tapi kenapa kamu tidak mencoba untuk menjelaskan kepada Mama kamu."
"Akmal sudah menjelaskan sama Mama, Pa. Tapi Mama ya masih sama seperti itu selalu menjelek-jelekkan Kasih."
"Kasih namanya.?"
"Iya Pa, Kasih. Dia masih kuliah semester 6 dan sebentar lagi dia akan menyusun skripsi."
Papa nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu tau keluarga dia bagaimana."
"Belum Pa."
"Kamu yakin keluarganya juga bisa menerima kamu.?"
"Kalau sekarang Akmal nggak yakin keluarganya mau menerima kalau anaknya aja sudah dikatakan sama Mama seperti itu."
"Kalau Papa, tidak akan mempermasalahkan seberapa kaya orang tuanya seberapa punya keluarganya yang penting dia perempuan baik dari keluarga yang baik. Karena didikan orang tuanya itu akan membentuk karakter dari gadis itu."
"Dia bertanggung jawab Pa, nyatanya Akmal deketin dia, dianya sama sekali nggak mau diajak pacaran. Malah kalau mau serius suruh nunggu dia sampai lulus kuliah karena dia harus bertanggung jawab kepada orang tuanya menyelesaikan pendidikannya."
__ADS_1
"Kamu serius mau nunggu dia."
"Akmal terlihat tidak serius ya Pa, Dia gadis cerdas Pa perkiraan Akmal satu tahun lagi dia wisuda."
"Papa harap kamu jangan berseteru terus dengan Mama Kamu, kalau kamu memang mencintai gadis itu tunjukan ke Mama kamu jika pilihan kamu itu yang terbaik."
Akmal menghela nafasnya.
"Mama itu...."
Akmal tidak jadi melanjutkan perkataannya dia berpikir benar juga apa yang dikatakan oleh Papanya.
"Baiklah Pa, Akmal permisi ya Pa."
Akmal berlalu menuju ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke kantor.
Mama Rita melihat Akmal keluar dari ruang kerja Papanya, namun dia hanya memandangnya dari arah dapur.
"Ngapain mereka berdua."
ucapnya.
Hari makin siang, Mama Rita hanya di rumah bersama dengan Oma dan Asisten rumah tangga mereka.
"Ma, aku pergi sebentar."
Pamit Mama Rita kepada Oma.
"Mau kemana."
Sambil mencium tangan Mama mertuanya, Mama Rita pergi meninggalkan rumah.
"Waalaikumsalam."
Oma sama sekali tidak tahu menantunya itu mau pergi kemana.
Mama Rita menggunakan taksi untuk pergi ke suatu tempat. Sesampainya di tempat tujuan dia tidak keluar dari taksi namun hanya berdiam diri di dalam.
"Apa ini warungnya."
Ucapnya sambil mengamati sebuah warung yang ada di depannya.
"Itu kantor Akmal berarti, kalau nggak salah berarti bener ini warungnya."
Mama Rita mengamati setiap orang yang keluar masuk ke dalam warung itu.
"Bu, kita menunggu sampai kapan."
Tanya sopir taksi.
"Gini aja Pak, Bapak seharian ini Saya kontrak ikut sama perintah saya aja nanti saya kasih bonus."
"Baik Bu."
__ADS_1
Adzan Dzuhur pun berkumandang, namun Mama Rita masih saja berdiam di dalam taksi seolah menunggu seseorang.
"Mana nggak muncul juga gadis itu."
Setelah setengah jam berikutnya datang sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh gadis berhijab yang menggunakan helm bersama temannya.
"Itu kayaknya."
Mama Rita mengamati dua gadis itu yang masuk ke dalam warung sambil menganggukkan kepalanya.
"Bener itu dia, jadi anaknya tukang buat kue."
Mama Rita menatap ke arah gadis itu yang keluar dari dalam warung sambil membawa tempat kue.
"Itu selera Akmal."
Mama Rita bersiap akan turun dari taksi untuk menghampiri gadis itu, sebelumnya berpesan kepada sopir.
"Pak, tunggu ya. Saya hanya sebentar aja."
"Baik Bu."
Mama Rita turun dari taksi berjalan untuk menghampiri dua gadis itu namun Dia yang tidak berhati-hati terlalu fokus pada gadis itu tidak melihat ada sebuah mobil yang bersamaan dengannya berbelok.
"Tin..tin.."
"Aa...aa.a...."
Brukkk....bruk......
Suara decitan ban mobil dengan aspal serta benturan membuat semua orang yang ada di sana seketika kaget.
"Ada kecelakaan... ada kecelakaan..."
Teriak orang - orang.
"Astaghfirullah... Seorang ibu tadi Sep."
Kasih tadi memang sekilas menghadap ke arah jalan dan melihat ibu itu.
"Takut Kasih, kamu mau lihat."
"Coba yuk, siapa tau orang yang kita kenal."
Ya.. Dua gadis itu Kasih dan Septi. Mama Rita mengetahui warung yang sering dikunjungi oleh Kasih itu dari obrolan Akmal dan Ridho.
Mereka berdua mendekat ke tempat kejadian untuk melihat korban.
"Seorang ibu.. Ada yang kenal nggak Ini." Teriak mereka.
Kasih berusaha untuk melihat seperti apa wajah dari ibu itu.
"Sep... Septi.. Ini kan..."
__ADS_1
Kasih menutup mulutnya percaya.
🙂🙂🙂🙂