
"Darimana kamu, Akmal!."
Mamanya bertanya dengan nada jengkel.
"Kenapa sih Ma."
Papa Bagus mendengar istrinya berteriak mendekatinya.
"Ini anak Papa, pergi kemana nggak jelas."
"Akmal dari kantor Pa."
Akmal meraih tangan Papanya.
"Ya udah bersihkan diri, makan."
Jam memang sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Akmal baru pulang membuat Mamanya semakin marah.
"Papa gimana sih, huh .."
Mama Rita pergi meninggalkan Suaminya.
"Ma. Ma..Ma..”
Papa Bagus juga kewalahan menyikapi sikap Mama Rita.
Akmal masuk ke dalam kamarnya, bukannya langsung mandi malah duduk di sofa meletakkan jasnya.
"Kasih..."
Sehabis bertemu dengan Kasih, Dia siang tadi langsung ke kantor tapi di sana pun dia juga tidak bisa berpikir mengenai kerjaan. Malah melamun di ruangannya memikirkan Kasih yang sudah begitu benci dengan dirinya.
"Maaf Kasih, apa kita nggak bisa baik lagi."
Adzan isya berkumandang, Akmal menarik nafasnya dan menghembuskannya lalu berdiri menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan menjalankan kewajibannya kepada Sang Pencipta.
Selesai menunaikan Sholat Akmal keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk makan malam bersama.
"Sini Akmal."
Panggil Omanya untuk duduk disampingnya.
"Iya Oma."
Mereka makan dengan tanpa suara, setelah menyelesaikannya Akmal langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia enggan berbicara dengan siapapun karena pikirannya kalut.
"Akmal kenapa."
Tanya Papa Bagus.
"Tau itu, tanya sendiri anaknya."
Ucap Mama Rita.
Oma pun beranjak dari meja makan lalu berjalan menuju ke kamar Akmal.
Tok..tok...
"Akmal ini Oma, boleh masuk."
Akmal membuka pintu kamarnya lalu mempersilahkan Omanya untuk masuk.
"Silahkan duduk Oma."
Oma menuju ke sofa yang ada di dalam dan Akmal pun mengikutinya.
"Kamu darimana tadi, bikin Oma risau."
Kata Oma sambil mengusap pundak Akmal.
"Akmal mencari Kasih Oma."
"Ketemu.?"
Akmal menganggukkan kepalanya namun wajahnya terlihat sedih.
"Dia pasti marah sama kamu."
__ADS_1
"Dia benci sama Akmal sekarang. Dia sudah nggak mau ketemu Akmal lagi."
Akmal menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Wajar saja kalau itu, sekarang kamu kasih waktu dia dulu untuk sendiri. Jangan kamu kejar terus nanti malah menjauh, kamu cukup mengamatinya saja dari kejauhan." Saran dari Oma.
Akmal menegakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah Oma.
"Oma, setuju kalau Akmal sama Kasih."
"Oma lihat dia anak yang bertanggung jawab dan Sayang keluarga."
Kata sambil tersenyum dan itu membuat Akmal memeluk Omanya.
"Oma makasih sudah mendukung Akmal. Tapi sekarang Kasih membenci keluarga kita, karena ucapan Mama yang bikin Dia sakit hati."
"Oma akan selalu mendukung kamu asalkan kamu bahagia. Oma percaya kamu akan mencari pasangan hidup yang tulus bisa menerima kamu tanpa melihat apa yang kamu miliki saat ini."
"Dia tau pekerjaan kamu.?"
Tanya Oma.
"Akmal pernah memberi kartu nama, Dia cuma tau Akmal kerja di kantor aja."
"Dia pernah nanya apa jabatan kamu di kantor."
Akmal hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kasih anaknya mandiri Oma, dia memang dari keluarga yang biasa dan setiap hari dia membantu ibunya untuk membawa kue dan meletakkannya di warung. Dia sama sekali tidak malu kalau berangkat kuliah dengan membawa kue dan setiap pulang akan mengambil uangnya."
"Akmal tidak pernah melihat dia dari status sosialnya Oma, aku benar-benar sayang sama dia." lanjut Akmal membuat Oma tersenyum.
"Perempuan jaman sekarang, susah mencari yang tulus mencintai seorang laki-laki tanpa melihat hartanya."
"Kalau memang dia pilihan kamu, Oma akan akan selalu mendukungmu perjuangkan dia."
"Caranya Oma, Kasih udah nggak mau Akmal temui lagi."
"Pakai taktik dong, kamu itu kurang kreatif." ledek Omanya.
"Gimana caranya Oma, Akmal udah kalut. Nomor hp-nya tidak bisa dihubungi mungkin nomor Akmal diblok sama dia. Rumahnya Akmal juga nggak tau, yang Akmal tau itu warung yang dikunjungi Dia setiap hari untuk menaruh kue ibunya."
"Dia kalau lihat Akmal, langsung lari Oma."
"Serahkan sama Oma, tapi kita cari waktu yang tepat dulu untuk menemui dia."
"Oma serius.."
"Kapan Oma tidak serius sama Kamu, cucu Oma paling ganteng masa tidak bisa mendapatkan cewek."
"Oma ada saja deh.. Tapi Mama nanti gimana."
"Kamu tenang aja, Mama urusan Papa Kamu nanti Oma yang bicara sama Papa Kamu ."
"Makasih Oma."
🌹🌹🌹🌹🌹
Sedangkan ditempat yang berbeda, Kasih sedang menghadap ke layar laptopnya untuk mengerjakan tugas kuliah.
"Hiks..hiks .."
Dia melihat ponselnya, biasanya Akmal jam segini menemaninya untuk mengerjakan tugas.
"Kamu jahat Mas."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tiga hari kemudian Kasih bersiap untuk pulang setelah mata kuliah hari ini selesai.
"Sep, aku pulang duluan ya."
"Kamu yakin nggak minta ditemenin."
Septi sudah dua hari kemarin selalu menemani Kasih sampai rumah karena takut Akmal nanti akan muncul.
"Nggak papa Sep, insyaallah aman."
__ADS_1
"Oke, Kalau ada apa-apa langsung telepon ya. Lagian aku mau jalan he he he he.."
"Iya sana pacaran, aku pulang ya."
"Oke hati - hati."
Kasih menjalankan sepeda motornya meninggalkan area kampus menuju ke warung biasanya untuk mengambil tempat kue dan uangnya.
Setelah sampai Kasih segera masuk ke dalam warung dan segera berpamitan setelah selesai.
"Kasih kok buru - buru terus, biasanya ngobrol dulu sama Bude."
"Maaf Bude, Kasih banyak tugas kuliah jadi mau langsung ngerjain di rumah." Bohong Kasih dia sebenarnya menghindari Akmal.
"Oh.. Ya udah hati-hati Kasih jangan lupa ya besok pesanannya."
"Baik Bude, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kasih keluar dari warung dengan menenteng tas yang berisi wadah kue.
"Kasih..."
Panggil seorang wanita dan membuat Kasih memandang ke arah suara.
"Oma..."
Kata Kasih melihat wanita yang berjalan ke arahnya.
Kasih bingung antara mau pergi tapi merasa tidak sopan tapi juga ogah untuk berbicara dengan keluarga Akmal lagi.
"Kasih, tunggu sebentar."
Oma bersama Akmal benar-benar menjalankan rencana mereka sebenarnya selama 2 hari kemarin Akmal selalu memantau Kasih dari kejauhan hingga dirasa sudah tepat mereka melancarkan aksinya.
Kasih berdiri dan Oma berjalan ke arahnya.
"Apa kabar Kasih."
"Baik."
Kata Kasih sambil meraih tangan Oma.
Kasih bersikap baik kepada Oma karena memang di saat pertemuan mereka kemarin terlihat kalau Oma bisa menerimanya.
"Panggil Oma dong."
Canda Oma dan nampak Kasih yang sungkan sambil mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Iya Oma."
"Kamu buru - buru ya mau pergi."
"Kasih, ada perlu Oma sudah ditunggu Ibu di rumah. Maaf Oma."
Sebenarnya hanya alibi dari Kasih untuk menghindarinya.
"Oma mau minta waktunya sebentar saja boleh."
"Ada apa Oma."
"Kita ngobrol yuk sebentar aja, Oma mau bicara sama kamu."
"Kasih nggak punya banyak waktu, maaf Oma."
"Hanya sebentar kok, mau ya Oma udah jauh ke sini."
Kasih merasa tak enak.
"Kita duduk sana aja Oma."
Kasih menunjuk ada bangku kosong di bawah pohon biasanya untuk makan di waktu jam makan siang jika warungnya tidak muat.
"Baiklah."
Mereka berdua duduk dibangku itu dan ada Akmal sebenarnya yang mengamati mereka berdua.
__ADS_1
🙂🙂🙂🙂