Cerita Bahagia

Cerita Bahagia
Mencintai Tanpa Syarat #12


__ADS_3

"Kasih apa kabar."


Oma meraih tangan Kasih.


"Baik Oma."


Kata Kasih dengan tersenyum.


"Kamu sendirian."


"Iya Oma."


Kasih menganggukkan kepalanya.


"Oma minta maaf Kasih."


Kasih menatap ke arah Oma dengan heran.


"Oma nggak punya salah sama Kasih."


"Oma, minta maaf karena keluarga Kami sudah menyakiti perasaan Kasih."


Kasih tersenyum.


"Oma, Kasih memang sakit hati tapi setelah Kasih pikir mungkin inilah yang terbaik menurut Allah. Memang Kasih harus sadar dengan posisi Kasih."


"Kasih, Oma merasa tidak enak dengan kamu. Maafkan Mamanya Akmal ya, jangan dimasukkan ke dalam hati."


Kasih rasanya memang ingin marah meluapkan semuanya namun, tak pantaslah ia begitu dengan orang tua memang ini jalannya.


"Oma, yang dilakukan sama Tante memang yang terbaik supaya Mas Akmal mendapatkan wanita yang tepat yang pantas mendampingi nya."


"Wanita yang pantas untuk Akmal yang seperti apa menurut kamu."


"Pastinya yang terbaik Oma, yang sepadan dengan Mas Akmal."


Akmal bisa mendengar percakapan Mereka karena berada dekat dengan Mereka.


"Yang terbaik kamu Kasih."


Dalam hati Akmal.


"Kasih, Akmal tidak seperti Mamanya yang memang lebih suka memandang orang lain itu dari harta. Akmal tulus sayang sama kamu, jadi menurut Akmal kamu itu yang terbaik untuknya."


kasih tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan Kasih Oma, Kasih tidak pantas."


"Kasih, Akmal sayang sama kamu. Bukannya kalian sudah membuat komitmen akan membawa hubungan lebih serius lagi."


"Kasih sudah menyerah Oma, biarkan Kasih menjalankan takdir ini. Ini yang terbaik untuk Kasih Oma."


"Kasih apa sudah tidak ada kesempatan lagi untuk Akmal."


Kasih menggelengkan kepalanya walaupun di dalam hatinya sebenarnya juga masih ada rasa namun Dia selalu berusaha untuk menepisnya.

__ADS_1


"Kasih, Oma sangat senang sekali jika kalian berdua masih ingin bersama."


Kasih menatap ke arah Oma dan mencari kebohongan diwajahnya.


"Oma, Kasih dan Mas Akmal tidak mungkin bisa bersama kita berbeda. Seperti yang dibilang sama Mamanya Mas Akmal Saya nggak pantas."


Kasih hampir saja menjatuhkan air matanya.


"Kasih, permisi ya Oma. Maaf Kasih takut ditunggu sama Ibu."


Kasih tak ingin dia benar-benar menangis di hadapan Oma.


"Kamu beneran mau pulang."


Oma masih mencegahnya.


"Iya Oma, maaf ya Oma."


"Kasih..."


Akmal muncul dari persembunyiannya di dalam mobil.


Kasih menatap ke arah suara.


"Kamu wanita yang pantas mendampingi Saya."


Kasih mengalihkan pandangannya, lalu meraih tangan Oma dan berpamitan.


"Assalamualaikum Oma."


"Waalaikumsalam."


Akmal mengikutinya.


"Saya sudah memaafkannya tapi saya mohon jangan ganggu saya lagi. Biarkan saya hidup damai sama seperti sebelum kita saling kenal."


Kasih sudah di atas motor dan Akmal masih kekeh berdiri di depannya.


"Kasih, apa yang harus aku lakukan supaya kita bisa seperti dulu."


"Kita nggak akan pernah bisa seperti dulu lagi, kita berbeda."


Kasih menyalakan mesin motornya.


"Aku nggak akan menyerah Kasih, apa perlu aku meninggalkan semua ini biar kamu mau bersama ku lagi."


Kasih mendongakkan kepalanya menatap Akmal.


"Mas Akmal nggak akan sanggup hidup seperti Kasih. Nggak usah repot-repot untuk menyusahkan diri Mas, Kasih bukan perempuan yang perlu dikasihani. Permisi."


Kasih memundurkan sepeda motornya lalu meninggalkan Akmal begitu saja.


Air matanya sudah lolos begitu saja membasahi pipinya.


"Kasih.."

__ADS_1


Teriak Akmal dan Oma mendekatinya.


"Sudah kita pulang, memang kita yang salah Akmal. Kasih pasti sangat sakit hati dan dia berfikir Mama Kamu tidak menyetujui kalian jadi semuanya juga akan sia - sia."


"Tapi Akmal cinta Oma."


"Kasih perempuan yang kukuh dengan pendiriannya dan dia nggak mau menjalani hubungan tanpa ada restu."


"Ini semua gara - gara Mama, tapi Akmal nggak akan menyerah Oma untuk mengejar Kasih."


"Masih ada kesempatan kalau kamu memang cinta sama Dia."


Akmal pun mengantar Omanya pulang sebelum dia kembali ke kantor lagi.


"Darimana Ma."


Tanya Mama Rita kepada Oma ketika melihatnya pulang bersama Akmal.


"Hanya cari angin saja sama Akmal."


"Mama menemui cewek itu lagi sama Akmal. Apa sih istimewanya cewek itu sampai kalian berdua itu mati-matian memperjuangkannya."


"Ma, Dia punya namanya Ma."


Akmal emosi juga.


"Sudah Akmal lebih baik kamu ke kantor lagi." Pinta Oma.


"Semua gara-gara Mama, kenapa sih Mama menilai orang itu harta. Sekarang Mama sudah puas Kasih benci sama Akmal."


"Bagus.. Kalau dia benci sama kamu dan akhirnya meninggalkan kamu." Mamanya tak mau kalah.


"Tapi Akmal nggak akan pernah meninggalkan Dia."


"Akmal..! Sadar kamu. Dia cuma mau uang kamu saja."


"Mama.. Kasih bukan perempuan seperti itu."


"Kalau bukan cuma mau uang kamu terus mau apa. Mana ada perempuan seperti itu, tanpa ada hubungan yang jelas tapi kamu mau menunggu Dia sampai lulus kuliah. Udah kena pelet kamu Akmal."


"Mama sama sekali tidak bisa menghargai orang, Akmal tidak akan pernah meninggalkan Kasih dan Akmal tidak mau dijodohkan sama siapapun oleh Mama."


Akmal meraih tangan Omanya lalu pergi lagi ke kantor.


"Akmal.!!!"


Teriak Mamanya.


"Itu semua gara - gara Mama yang selalu mendukung Akmal." Mama Rita malah menyalahkan Oma yang selalu melindungi Akmal.


"Rita, sadar kamu. Anak kamu sudah dewasa dia bisa menentukan pilihannya sendiri. Kamu mau Akmal jadi tidak mau menikah gara-gara menuruti ambisi kamu."


Oma masuk ke dalam rumah meninggalkan menantunya.


"Apa sih hebatnya itu perempuan, bisa membuat Akmal begitu cintanya."

__ADS_1


Mama Rita merencanakan sesuatu.


😉😉😉😉


__ADS_2