
"Kenapa lama sekali. Apa kalian kira waktu kami itu tidak berharga??? cerocos Echa langsung.
" Aihhh manisnya Cha!!! segitu kangennya kalian sama kita, sampai sampai datang lebih awal" jawab Rangga
" Tak perlu basa basi,kami hanya tak mau ingkar janji. cepatlah kami tak punya banyak waktu''
"Nggak sabaran banget kalian. Tapi tunggu dulu,siapa mereka?? kalian bawa bodyguard?? ledek mereka.
" Kurasa tanpa kuperkenalkan kau tau siapa mereka. Oh ia kalian tidak berniat melawan perempuan kan?? menang kalah sama sama menanggung malu" sindir Yolana
" Apa maksudnya?? apa kalian tak mau melawan kita??
" Owh bukan seperti itu, dengan senang hati tentunya. tapi kami hanya berempat jadi kami mau mereka" jelas Vanessa.
Rio dan temannya akhirnya mau tak mau harus menuruti kemauan para wanita mereka tak mau di cap beraninya sama perempuan saja, Ariska dan Vanessa yang menemani para cowok menjadi satu tim Alicia dan Yolana menunggu di pinggir lapangan.
"kami sudah menuruti permintaan kalian jadi aku juga ada permintaan ,aku minta Alicia yang main "pinta Rio.
Mereka saling pandang
"Gue nggak pengen main Rio, gue mau fokus aja ngeliatin loe main dari sini, setampan apakah nantinya "jawab Alicia. dia memberanikan diri untuk mengucapkannya sahabat-sahabatnya melongo mendengar kalimat ambigu itu. apalagi Ardian sudah melotot dia tak menyangka akan mendengar kalimat itu dari Alicia tapi dia berpikir positif aja.
"oh baiklah aku sangat tersanjung mendengarnya. aku mau juga kalau kami yang menang kalian harus mau jalan dan berkencan dengan kami "lanjutnya
"Hei taruhan macam apa itu" protes Andre dan Vanno
"Wow!!! Apa kalian takut kalah ???
__ADS_1
"Baiklah bahkan aku sangat menantikannya" Alicia berseru dari pinggir lapangan .
sahabat-sahabatnya tanpak melotot, tatapan mereka seolah-olah akan menelannya.
"Apa yang kau lakukan is itu berbahaya kalian"
"Mulailah !!!Apa kalian tidak tahu waktu itu adalah uang lagian kami tak mau waktu kami terbuang sia sia.
Mau tak mau mereka akhirnya menurutinya, butuh perjuangan buat mereka ,secara ada dua ceweknya. keahlian mereka memang bisa diandalkan tapi kalau dibandingkan dengan pria tidak adil bukan. Setelah hampir menghabiskan banyak energi akhirnya most wanted memenangkan pertandingan itu hanya dengan skor beda tipis tak apalah yang penting menang.
"oh ya.. kita lupa ,seperti yang kalian lihat saya rasa tak perlu dijelaskan lagi jadi kita minta ini terakhir kalian mengganggu cewek kita "kata rivanno sebelum Rio dan teman-temannya pulang dengan kekalahan mereka.
"kita pulang aja yog udah kelar semuakan!"
Akhirnya keempat pasangan itu memutuskan untuk pulang pulang dengan membawa pemikiran masing-masing.
kediaman Alicia
"dari lapangan lagi Lic??"
"iya mah hitung-hitung DP duluan bentar lagi kan udah ujian akhir. nanti nggak bisa lagi seintens ini di lapangan"
"Apa baiknya aja sayang tapi jangan sampai lupa belajar.
__ADS_1
"Pasti Ma Alicia bakal kasih yang terbaik buat Mama sama papa ,tenang aja Putrimu tak akan mengecewakan," Alicia memeluk mamanya dengan penuh kasih.
"Alicia baik baik aja ma" bisiknya . "hati anakmu yang sedang tidak baik hari ini.Perasaanku sudah seperti roller coaster perputarannya begitu cepat bahkan belum dua kali 24 jam sudah tak tertolong lagi .miris sekali bukan ? hatiku retak mah perasaanku hancur sekarang , aku menyaksikannya di depan mataku sendiri aku tak mendengar dari orang lain. aku bersyukur mengetahuinya lebih awal, kelak hatiku tak lebih sakit dari ini"ucapnya di dalam hati dia berusaha menahan agar air matanya tak turun saat dia merasa tak sanggup lagi dia melepaskan pelukannya dan segera naik menuju kamarnya.
"sepertinya kau sedang tidak baik-baik anakku" lirih sang ibu sambil melihat kearah Alicia yang menapaki tangga rumahnya setelah Alicia menutup pintu kamarnya sayang mama melanjutkan kegiatannya.
sementara itu di kediaman Yuda Mahendra
Yuda baru aja tiba selepas mengantarkan Yolana ke rumahnya. begitu dia masuk ia langsung mengarahkan pandangannya ke segala arah ,tujuannya untuk mencari adik malangnya itu. Di ruang tamu tidak ada ruang keluarga juga tidak ada semua ruangan di lantai satu nihil.
" ke mana dia "
Dia menepuk jidatnya dan berlari ke lantai dua kenapa tadi nggak langsung naik aja ya kalau situasi begini biasanya cewek-cewek pasti cari bantal .dia melihat pintu kamarnya terbuka dan pemiliknya duduk di kursi belajarnya.
"Dek Abang masuk ya" ujarnya
"Hmm" sahut Stefanie sambil mengusap air matanya dia nggak mau abangnya melihat dia lemah.
"udah nggak usah ditutup dek dari Abang menangislah kalau itu membuatmu lega" ucap Yuda sambil menarik adeknya itu kepelukannya .Stefani menangis tersedu-sedu meluapkan kesal dan sakit hatinya.
"Hiks hiks.. dia jahat banget aku nggak yakin dia seperti itu hiks.. hiks ..aku enggak mau lihat dia lagi" tangisnya
"udah gak usah ditangisi pria bodoh seperti itu .masih banyak pria yang lebih baik untuk pelabuhan hatimu , bahkan banyak yang ngantri. Apa kau mau temen abang" saran Yuda
"Stef nggak mau kalau teman abang, buktinya udah ada tuh "ucap Stefani
"Baiklah sekarang kamu mandi biar segar dan jangan coba memikirkan dia lagi. lagian kemarin kemarin udah aku ingatkan ,tapi ada yang sok jago bilang siap untuk terluka" lede Yuda sambil berlari dari kamar itu
__ADS_1
" Abang " Rajuk Stefani dengan wajah yang ditekuk
" Mandi sana kau bukan anak kecil lagi " Akhirnya Stefie menuruti keinginan abangnya dia memasuki kamar mandi menuangkan sedikit aroma terapi untuk menenangkan pikirannya.