
Ardit berjalan dengan gagahnya dikoridor rumah sakit dan berulangkali berpapasan dengan rekan rekan kerja sang istri. Tak lupa dengan tegur sapa dan senyuman ramah di bibirnya. Kebahagiaan nya seolah mampu menyihir sikap dinginnya menjadi sangat hangat.
Banyak dari perawat yang terpesona dengan karisma seorang Ardit, tentu saja dengan penampilannya yang sekarang menjadi seorang pengusaha muda yang tidak bisa disepelekan bahkan dia termasuk dijajaran pengusaha muda yang terbilang sukses.
" Tampan sekali !!
" Apakah dia mau menjenguk salah satu keluarganya disini?
" Apa dia adalah salah satu donatur dirumah sakit ini? aku jarang sekali melihatnya!
"Semoga dia belum memiliki pasangan "
Dan salah satu dari mereka tertegun sebentar.Dia berusaha mengingat siapa orang yang berjalan dihadapannya itu.
" Siapa dia? Kenapa seolah aku sangat mengenalnya ya? oh ia.. aku tahu... Pasti dia orangnya. Pak Ardit ! serunya.
Ardit berhenti melangkah mendengar ada yang memanggil namanya.
" Apa anda memanggil saya! sahutnya
" Agh ia pak. saya yang memanggil "
" Apa saya mengenal anda? tanya nya lagi.
" Maaf pak kalau saya lancang. Tapi saya sangat mengenal istri bapak. Karena saya bekerja dengannya" jelas perawat itu yang ternyata adalah Mutia.
" oh ia. terimakasih. apa dokter Fani ada ditempat.!
" Dokter ada pak. dan jadwal nya sudah selesai hari ini. Dokter sedang beristirahat diruang pribadinya. Dia tidak suka diganggu kalau sudah masuk keruangan itu! jelas Mutia lagi
" Terimakasih. Tapi apa saya bisa mengetahui dimana letak ruangannya?
"Tentu saja pak. Mari saya antarkan "
__ADS_1
Mutiara lalu berjalan menuju ruangan Stefani diikuti Ardit.
" Dokter sangat lelah sepertinya akhir Minggu ini pak. jadwalnya sangat padat. Bahkan beliau sering mendadak ke rumah sakit ditengah malam karena ada emergency. Tadi aja baru selesai konsultasi!! Mutia berbicara sambil berjalan.
" Terimakasih telah menemani istri saya bekerja "
" Sudah menjadi pekerjaan saya pak. Ini ruangannya pak. silahkan masuk,pintunya tidak dikunci, hanya saya dan dokter yang bebas keruangan ini !
" Agh ia terimakasih suster Mutia "
" Sama sama pak. saya permisi dulu "
ceklek..
" Ada apa Mutia? Aku ga pesan apa apa lho. Aku ga lapar aku hanya istirahat sebentar saja menunggu pulang kerumah " Dokter Fani berbicara seolah dia tahu kalau yang masuk kedalam ruangannya itu adalah Mutia, karena memang hanya perawat itu yang boleh masuk keruangannya. itu pun hanya kalau ada hal yang penting saja.
Ardit berjalan perlahan setelah menutup pintu dan menguncinya mendekat kearah istrinya itu yang seolah tidak peduli dengan kehadirannya. Dokter Fani masih setia menatap layar hpnya dipinggir tempat tidurnya.
Ardit jadi ga sabaran melihat dia dicueki seperti itu. Dia mempercepat langkahnya dan duduk tepat disamping dokter Fani dan
" Ehh Mutiara, kamu kenapa coba?? Apa kamu ada ma... Ko seperti lengan cowok?? Kau.. kenapa me ..... !!???? Dokter Fani menghentikan ocehannya. Melihat apa yang terjadi sebenarnya, melongo sebentar kemudian meletakkan hp yang sedari tadi digenggamnya itu.Memandangi wajah didepannya dengan seksama, tangannya terulur mengusap wajah prianya itu. Matanya sudah berkaca kaca, dan air matanya tak terbendung lagi, menetes mengenai lengan Ardit.
" Kenapa menangis sayang? apa kamu tidak senang aku pulang lebih awal ? Ardit keheranan melihat istrinya menangis. Stefanie mengeratkan pelukannya.
" Hiks hiks hiks. Kenapa tak mengajariku kalau kamu pulang ??
" Aku mau kasih surprise sama kamu! ucap Ardit.
" Hiks surprise mu ga seru. Aku ga bisa menyambut mu dengan caraku !! protes Stefanie.
" Hei ini sudah cukup bagiku. aku bisa melihat kesayangan ku sehat meski kelihatannya sedikit lelah. Jangan bersedih lagi. Aku sudah kembali kesisimu dan gak akan meninggalkan mu lagi sendirian. aku akan selalu ada untukmu"
" Janji ga bakalan kemana mana lagi?
__ADS_1
"Paling mengurusi kantor ayah nanti. Biar nanti istri dan anak anakku tidak kelaparan " canda Ardit.
"Ckk anak anakku. Bahkan satu aja belum bisa kau pastikan " sindir nya
" Apa kau meragukan ku sayang? seandainya dulu ayah sama papah ga punya ide konyol itu,kurasa kita sudah bisa bercanda dengan putri kita " ucap Ardit.
" Hehehe. eh bicara tentang putri, tadi ada anak kecil yang meminta aku jadi pacarnya ! ingat Fani.
" Apa?? Anak kecil melamarmu begitu? heran Ardit.
" katanya aku cantik. dan dia memang tampan. dia bilang tampan itu harus dengan yang cantik hehehe."
" Teori dari mana itu??
" Ga tau tuh. dan lucunya dia sampe mogok makan kata neneknya. anehnya aku malah menawarkan putri ku sama dia ?
" Putrimu??
" Ia. hehehehe. besok dia mau kesini lagi mau ketemu sama putri ku itu.wkwk"
" Benarkah?? Kalau begitu bagaimana kalau kita produksi aja sekarang. Biar besok anak kecil itu tidak kecewa, jadi dia bisa bertemu dengan putri kita?
"Hahh , ish ada ada aja. dipikir produksi gampang. enak aja asal nyeplos "
" Wah kau meragukan ku sayang. Akan aku buktikan! Ardit langsung menyerang istrinya itu. Mengecup kening,mata kedua pipi dan berakhir manis dibibirnya. Dan memulai pemanasannya.
Mereka berperang lidah dengan lihainya seolah mereka adalah ahlinya. Mereka benar benar melampiaskan dua tahun yang terlewat begitu saja. Sebentar melepaskan pagutannya.
" Ini di rumah sakit sayang?
" Kenapa? ini kan ruangan pribadimu. Aku sudah tak bisa menahannya lagi. Sudah cukup lama kita menundanya. aku tak ingin gagal lagi " jawab Ardit sambil menarik napas panjang dan kembali meraup bibir istrinya itu. Stefani hanya pasrah dan menerima perlakuan itu.
Setelah pemanasan yang cukup panjang mereka sampai keintinya, setelah mencoba beberapa kali akhirnya mereka berhasil mencapai puncak nirwana bersama-sama. Keduanya tertidur setelah kelelahan dengan aktivitas berkeringat yang menguras tenaga itu.
__ADS_1
Semoga putrinya benar-benar hadir ya, biar Revan tidak merasa dibohongi oleh dokter Stefanie 😛😛😛.