Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
Since when?


__ADS_3

Waktu bergitu cepat berlalu, Aji dan Vira berjalan keluar Pameran yang sudah hampir tertutup di dalam mereka banyak berbicara tentang seni Lukisan ini dan sekali-kali bertukar pendapat. langkah Aji terhenti di sebuat stan aksesoris yang menarik perhatiannya, cowok itu mengambil salah satu gelang yang terdapat disana. Vira mengikuti Aji berhenti dan melihat yang ada di tangan cowok itu, tiba-tiba Vira berpikiran bahwa Aji ingin memberikan gelang itu kepadanya, karena jelas Vira menyukai mengoleksi gelang tangan.


cewek itu sudah berharap besar bahwa Aji akan memberikan gelang itu kepadanya, tapi sayang Aji tidak membeli gelang itu.


"Loh Kak kok nggak jadi beli?" tanya Vira spontan.


Aji menoleh, "Eh, enggak Vira." jawabnya lalu berjalan menhului Vira.


menatap gelang yang sangat menarik untuk Vira, cewek itu mengeluarkan uangnya dan membeli barang yang di pegang Aji.


"Terima kasih Kak, semoga hari Kakak menyenangkan." kata Penjual gelang.


Vira berjalan menyusul Aji yang sudah di parkiran, "Kok lama banget?" tanya cowok itu.


"Maafkan, tadi ada yang perlu Vira beli." jawab Vira menyembunyikan gelang yang telah ia beli, Vira berpikiran ingin memberikan gelang itu kepada Aji suatu hari nanti, karena sepertinya coowk itu menyukai gelang tersebut.


***


Vira dan Riva duduk berdua di bangku taman depan kelas mereka, kedua cewek itu dengan asyik membicarakan hari Vira bersama dengan Aji, terlihat Vira sangat atunsias dan Riva hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk Vira. wajah Vira terlihat ceria dari biasanya, cewek itu tidak menutupi kebahagiannya. apa lagi saat Vira menceritakan gelang yang di pegang Aji kemarin ia beli, dan sepertinya Aji suka tapi enggan membeli karena modelnya terlalu feminim.


"Anu Vir, lo nggak ngerasa aneh gitu?" tanya Riva.


Vira menatap temannya itu penuh tanya, "Aneh gimana?" sahutnya.


"Ya, tiba-tiba Kak Aji ngajak lo jalan padahal dulu boro-boro kan." kata Riva.

__ADS_1


Apa yang dikatakan Riva memang benar, Aji terkesan cuek dengan Vira malah terlihat tidak perduli dengan Vira yang bisa di bilang selalu mengikuti dan memperhatikan Aji diam-diam. Tapi bukan Vira jika memikirkan masalah yang panjang itu, Vira terkesan masa bodoh.


"Biarin deh! yang jelas kemarin aku bisa jalan bareng Kak Aji." ucap Vira sumpringah.


Ari muncul dengan membawa kantong plastik yang berisi pesanan dua cewek yang menjadi Ari kurir pesan antar, sebenarnya Ari kesal dengan tingkah dua cewek yang tiba-tiba mengusirnya saat ia sedang menikmati jam istirahat di depan kelas mereka dan saat Ari akan pergi ke Kantin atau Koperasi, dengan seenak jidat mereka menyuruh Ari untuk membelikan Jajanan yang sekarang ia bawa.


"Nih! pesanan kalian." Ari merengut sambil menaruh kantong plastik ke pangkuan Vira.


Vira melihat barang yang ada di pangkuannya, "Eh, kembaliannya mana?" tanyanya.


cowok itu berbalik dengan tampang kesalnya, Es Kykko masih menempel di mulutnya. "Kembalian apa?" tanya Ari. "Itu beli pakai duet gue tahu." ucapnya melepas Es Kykko.


"Harusnya gue yang minta ganti." tambah lagi oleh Ari.


"Ini anak ngajak ribut kayaknya." umpat Ari melinting lengan seragamnya dan mendatangi Vira.


Gelagat Vira kebingungan melihat Ari yang berjalan dengan Ekspresi kesal di wajahnya sampai melinting lengan seragam putih abu-abunya, saat Ari mendekati Vira dan siap meluap kan kesalnya, Vira malah memejamkan matanya. tapi apa yang ia dapat malah usapan kasar di kepalanya yang di lakukan oleh Ari, cowok itu mengacak-acak rambut Vira.


"Dasar Bocah!" ucap Ari.


membuka matanya dan melihat Ari yang menyeringai, "Iiih apaan sih!" sambar Vira menyingkirkan tangan Ari dari kepalanya.


***


"Sejak kapan lo suka lukisan?" tanya Ari ke Vira yang sedang sibuk melukis di halaman belakang rumah, cowok itu duduk di Ayunan kayu bersama Rey yang sedang Asyik bermain game.

__ADS_1


Vira tersenyum, "Sejak lama." jawabnya.


"Lo percaya, Ri?" tanya Rey yang nimbrung.


Ari menggeleng, Vira melotot ke sepupunya itu. "Pulang sana!" perintah Vira.


"Lo nyuruh gue pulang?" tanya Ari.


"Bukan lo tapi orang yang di samping lo iku yang mau gue usir." jawab Vira menunjuk Rey yang sepertinya tidak berpengaruh dengan ucapan Vira.


cowok itu malah terlalu asyik dan fokus dengan gamenya, "Gue bakal pulang kalo Cake bikinan Tante udah jadi." jawab Rey, Vira cemberut.


"Emang siapa yang mau ngasih lo makan gratis di sini?" tanya Vira sebelum di jawab Rey, cewek itu telah melontarkan perkataan lagi. "Khusus buat lo bayar, enak aja gratis terus bisa tutup Toko kue nyokap gue kalo lo makanin terus tiap hari." ujar Vira.


Rey mendekatkan wajahnya ke telinga Ari, "Lo pengen tahu alasan Vira suka Melukis?" tanya cowok itu tidak seperti berbisik, malah terdengar sedang berbicara seperti biasa.


Ari hanya diam dan menggerakan kepalanya pelan, "Alasannya adalah..."


"REY!" seru Vira melempar kuas di tangannya ke arah Rey yang langsung menghidar termasuk Ari yang reflek ikut menghindar.


"Vira suka melukis itu karena Kak Aji." jawab Rey tanpa menghiraukan peringatan dari Vira.


cewek itu berdiri dari duduknya dan menghampiri sepupunya yang menyebalkan itu dan siap untuk balas dendam, tapi smartphone nya berbunyi membuat Vira mengurungkan niatnya untuk membuat Rey menderita.


***

__ADS_1


__ADS_2