Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
Black Cat


__ADS_3

"Tadi lo apa-apaan sih! ngomong kayak gitu." kata Vira cemberut.


"Ngomong apa?" tanya Ari melirik Vira yang duduk disampingnya.


"Masa lo nggak inget?" ucap Vira menghadap Ari, cewek itu kesal dengan cowok di sampingnya ini. Ari menggeleng.


"Nggak inget." jawab Ari enteng.


"ARIIIIIII LO BENER-BENER YA!" seru Vira meremas-remas sabu tangannya, rasanya ia ingin meremas-remas rambut Ari sekarang juga tapi ia ingat posisinya sekarang sangatlah rawan kecelakaan bisa-bisa rencananya terlaksana tapi Vira bisa masuk ruang ICU gara-gara ke konyolannya.


tanpa rasa bersalah dan malah menyalah artikan, "Iya gue tahu kok kalo gue benar-benar ganteng dan manis," ucap Ari dengan Pe-De yang hampir membuat Vira ingin membuat semua isi makan siangnya.


"Ih Ari nyebelin." gerutu Vira melipat tangannya di dada, membelakangi Ari yang menyetir mobil.


"Nyebelin tapi ngangenin kan." gurau Ari.


Tapi Vira hanya diam melihat keluar jendela mobil, langit mendung dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. bersamaan dengan itu rintikan hujan mulai turun dari awalnya sedikit-sedikit semakin lama menjadi lebat, tanpa sadar Vira membuka jendela kaca mobil dan mengeluarkan tangannya. mengengadahkan tangannya ke rintikan hujan, dari tempatnya Ari memperhatikan Vira.


Hujan selalu membawa kenangan, dan setiap kenangan pasti ada luka. tidak hanya membawa kebahagian, tapi ada perasaan sedih kehilangan.


"Lo masih inget si Item nggak?" tanya Vira spontan.


Ari diam mengingat kucing peliharannya bersama Vira dulu, Kucing dengan bulu yang hampir putih dan hanya warna hitam di bagian matanya yang berbentuk hati.


"Iya, gue masih inget." jawab Ari mengerti arah pembicaraan Vira kemana.


"Si Item juga pergi saat hujan turun, seperti Oppa yang meninggalkan kita saat hujan turun." kata Vira.

__ADS_1


benar tebakan Ari, "Iya, andai saja waktu bisa terulang."


"Kalo bisa aku ingin Mama dan Papa nggak pisah." ucap Vira.


Wajah Ari terlihat sedih melihat wajah Vira yang seperti menahan semuanya, seakan hanya Vira yang merasakannya dan tidak ingin berbagi dengan siapa pun.


"Kalo lo butuh teman cerita, lo bisa cerita sama gue." kata Ari.


menoleh dan tersenyum ke arah Ari, "Thanks, Ri." jawab Vira.


***


Pintu terasa terbuka seorang cowok datang membawa nampan yang berisi dua gelas diatasnya, melihat cowok lain yang sedang duduk di pinggir kolam ikan Koi. kepalanya menggeleng pelan sebelum berjalan mendekati temannya itu, tidak perlu lama untuk bisa mengerti raut wajah sahabatnya sejak kecil itu.


"Pasti lo lagi mikirin dia?" tanya cowok itu menaruh nampan di atas meja.


tersenyum melihat temannya yang telah kembali dari dalam rumah, "Lo tahu kan, nggak mudah buat gue lupain perasaan ini." katanya.


menggeleng pelan, wajahnya terlihat mendung. "Gue nggak tahu, Rey. perasaan gue ke dia sewajarnya Kakak beradik." jawab Ari.


"Tapi dia nggak anggep lo sebagai Kakaknya, Ri. perasaannya dia ke elo tu murni karena suka." kata Rey.


"Entahlah, perasaan gue masih sama seperti yang dulu."


"Apa lo yakin, banyak yang berubah. semenjak lo pergi semuanya udah beda, lo nggak bisa bandingin seperti dulu." Kata Rey. "Apa lagi sekarang udah ada orang yang dia taksir."


"Gue tahu, karena itu gue nggak mau menyerah Rey."

__ADS_1


"Ri, gue sebagai temen cuma bisa kudung kalian dan berdo'a semoga apa yang lo harapkan bisa tercapai." kata Rey menepuk punggung Ari.


"Thanks Rey."


***


Mata Vira melebar membaca surat yang ia temukan di meja belajar Ari, cewek itu menatap dua cowok yang sedang main PS4 itu dengan tatapan tidak percaya.


"Ini seriusan?" tanya Vira menunjukan surat undangan sebagai Siswa pindahan baru.


Ari yang sedang mencoba mengalahkan musuh bersama Rey, sedikit mengabaikan Vira, "Iya" jawabnya singkat.


"Gue serius, Ri? lo bakal sekolah di SMA Theresia?"


"Iya,"


mendengar jawaban Ari yang 'Iya-iya' dari tadi membuat Vira kesal dan mencabut stick PS dari tangan Ari membuat cowok itu kaget dan menatap Vira kecewa.


"Vir, lo kenapa sih!? gue bentar lagi mau menang." ucap Ari dengan wajah melasnya.


"Jelasin dulu apa maksud ini." kata Vira melihatkan kertas di tangannya.


"Iya nih! Vir, lagi seru juga." ucap Rey yang masih bermain sendirian karena Ari tiba-tiba berhenti.


Ari menatap kertas di tangan Vira tanpa berminat, "Emang kenapa sih!? kan nggak ada bedanya swasta sama negeri, Vir." ucap Ari.


"Tapi Ri..."

__ADS_1


"Udah siniin Stick gue, gue mau lanjut main lagi." kata Ari kesal. "Lo ganggu tahu," ucap Ari kembali bermain bersama Rey tanpa memperdulikan Vira yang terlihat murung.


***


__ADS_2