
Bus Jurusan Yogyakarta berhenti di Terminal, pintu Bus terbuka. Ari bangun dari tidurnya, melihat ke sekelilingnya yang terlihat sibuk dengan ponsel mereka. Davi seperti biasa main Games mobile, Rey mendengarkan musik sambil komat-kamit, Arga chattingan dengan Riva yang jelas-jelas duduk disamping, Daniel biasa bikin Vlog bersama temen ceweknya, sedangkan Vira kening Ari berkerut yang kepalanya di miringkan ke samping. Cewek itu terlihat sedang sibuk dengan ponselnya tapi entak apa.
"Mas, Mbak. Sudah sampai." kata kondektor Bus.
Semua orang langsung dasar, "Eh, udah sampai ya?" tanya mereka bersamaan.
"Iya, Mbak, Mas."
Mereka semua langsung beres-beres dan mengambil barang-barang mereka, Vira adalah orang terakhir yang turun dari Bus setelah yang lain turun. Cewek itu merentangkan kedua tangannya, menghirup udara.
"Uhuk-uhuk..." suara batuk Vira, asap hitam keluar dari sebuah mobil yang lewat didepan cewek itu.
"Argh, sialan." umpat cewek itu batuk-batuk.
Ari mendekati Vira, "lo nggak apa-apa?" tanyanya.
"Lumayan." jawab Vira yang berjalan menyusul yang lainnya, duduk sebentar.
"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Vino.
Arga melihat ponselnya, "Tunggu sebentar," kata cowok itu.
"Nunggu apa lagi?"
"Mobilnya belum datang." jawab Riva.
"Memang kalian ngerental mobil?" tanya Davi, Riva mengangguk.
"Habisnya bingung, jadi putusin buat ngerental mobil."
"Shit!" umpat Arga, "Ternyata mobilnya dibatalin." ucap cowok itu kesal.
"Udah, nanti gue pinjemin mobil sama Oom gue yang tinggal di sini." kata Davi.
***
"Nggak apa-apa ini, kita minjem mobilnya?" tanya Riva.
"Nggak apa-apa, Oom gue orangnya baik kok." jawab Davi yang duduk di kursi kemudi.
'masalahnya bukan baik atau nggaknya, cuma kelihatan kalo Oom Davi nggak suka gitu.' pikir Riva.
Vira duduk dekat jendela sebelahnya ada Rey yang ternyata masih komat-kamit, sedangkan sisanya ada dimobil satunya. "Kita kemana dulu?" tanya Rey yang udah melepas earphone ditelinga-nya.
"Ke laut," jawab Vira asal.
"Ngapain?"
__ADS_1
"Buang kamu, ngapain lagi." timpal Riva.
Rey menghela nafas, "Nasip-nasip, ngomong salah diem salah serba salah." meratapi nasipnya.
***
Vira berlari ketika melihat air di depannya, tapi di cegah oleh Ari yang menarik tangannya. "Pantai, Ri!" kata Vira penuh semangat, menunjuk ke arah ombak.
"Iya, Pantai." ucap Ari menatap Vira, mata Vira berbinar. "Tapi lo harus ganti baju dulu," "Biar nggak basah." ucap Ari mengacak-acak rambut cewek itu.
Tanpa menunggu lama, Vira berlari mengejar Riva. Masih di tempatnya Ari menatap Vira yang lari dengan Riva dan Fiona, ketiganya terlihat bertolak belakang.
"Seharusnya tadi gue aja Mira sekalian." ujar Rey melipat ke dua tangannya, cowok itu sudah berubah mode santai dengan celana pantai dan kaos omblong tanpa lengan. Ari menatap Rey yang juga sedang meminum kelapa muda, cowok itu menyengit menatap temannya itu.
Ari meninggalkan Rey dan berjalan ke mobil, mengganti pakaiannya dengan pakaian santai seperti teman-temannya. Mata cowok itu melihat tubuh tinggi kekar milik Davi, dan melihat badannya yang kurus kering. Vino dengan kulit putih, cowok keturunan Bule itu terlihat kontras dengan wajahnya yang campuran China-Indonesia.
"Huaaaaaaaaaa... Pantai, air-air..." lagi-lagi ketika melihat Vira yang berlari ke air pantai dengan ombak kecil, Ari langsung menggendong cewek itu ke atas bahunya.
"Ari, air..."
"Jangan kayak anak kecil."
"Tapi..."
Ari menurunkan Vira, di samping mereka terlihat Davi dan Rey yang menyeruput es kelapa muda seperti tidak terganggu dengan orang-orang yang berpasangan, karena ada orang yang paling ngenes Ke timbang mereka berdua. "Duduk," perintah Ari.
Vira mengambil Sunblock dari tangan Ari, dengan ekspresi kesal. "Pakai sendiri." kata cewek itu yang membuka tutup botol, dan menuangkan isinya ke telapak tangannya.
***
bergandengan tangan, berjalan-jalan di sisir pantai yang panas. Seharusnya mereka datang sore hari saat matahari akan terbenang tapi karena ocehan Vira waktu makan siang, meminta untuk ke Pantai dulu membuat mereka menurut. Dan sekarang Riva dan Arga berjalan-jalan di pinggir pantai, ombang pantai mengenai kaki mereka dan sekali-kali menghindar sampil tertawa. Dari ke jauhan Riva dan Arga bisa melihat teman-temannya sibuk, seperti Davi dan Rey sibuk makan-makanan yang mereka bawa dari rumah, atau Vino dan Fiona yang sedang membuat istana pasir, sedangkan Ari dan Vira, kejar-kejaran nggak jelas antara Ari yang mengejar Vira atau Vira yang mengejar Ari. Dua orang itu hanya memutari tempat duduk penjaga pantai, rasanya Riva ingin tertawa melihat tingkah dua orang itu.
"Kamu pengen kejar-kejaran kayak gitu?" tanya Arga yang mencoba membaca pikiran Riva, alis ceweknya.
"Ih koyol banget, biarin mereka ajak yang kayak gitu.
***
"Ari jangan lari, tanggung jawab lo!" teriak Vira yang mengejar cowok itu.
Ari menjulurkan lidahnya, berlari ke pantai. "Beliin gue Es Krim lagi!" Vira masih berteriak dan mengejar Ari, cowok itu malah tertawa.
Awalnya Ari membelikan Vira Es Krim ke cewek itu tapi entah kenapa melihat Vira yang begitu menikmati Es Krim membuat Ari tergoda untuk menggoda Vira, dan cowok itu pun merebut Es Krim yang Vira makan sampai habis dan hanya menyisakan corong Es Krim.
"Hahahahaaa... Nggak mau, siapa suruh lalai!" teriak Ari berlari.
Nafas Vira terengah-engah ia sudah tidak kuat lagi kalo di suruh lari mengejar Ari yang jelas Altelit Basket, "Berhenti gue capek." ucap Vira yang tiba-tiba berhenti dan mengbungku mengatur nafasnya, Ari ikut berhenti dan mendekati Vira.
__ADS_1
"Udah capek?"
Mengangguk lemah, "Iya, capek." jawab Vira.
"Mau Es Krim?" Ari menawarkan ke Vira, sambil tersenyum menanti jawaban cewek di depannya.
Kepala terangkat, "Mau, dua." kata cewek itu. Ari mengangguk, "Satu buat lo dan satunya buat gue." ucap Vira mengatur nafasnya.
"Tumben baik," kata Ari.
"Iya, kalo nggak gitu nanti lo ngambil Es Krim gue lagi." kata Vira.
Ari cuma tertawa terbahak-bahak, tangannya mengusap-usap kepala Vira. "Dasar, gemesin." ucap cowok itu
"Dari dulu emang udah gemesin." jawab Vira memasang wajah seimut mungkin, membuat Ari mencubit pipi cewek itu gemas, meringis kesakitan.
***
BRUUKKK!
Suara keras itu mengalihkan semua perhatian, Vira menatap Ari yang berdiri tidak jauh dengannya, cewek itu menghentikan pertengkarannya dengan Vino. Vino juga ikut menatap ke arah dimana Vira memandang, kening cowok itu bekerut. Ia seperti pernah melihat cewek yang duduk di depab Ari, tangan Ari terulur yang di terima oleh cewek yang menabrak cowok itu dan terjatuh.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ari seperti biasa.
Cewek itu mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang menolongnya, "Kak Rian," panggil cewek itu terkejut, Ari sama seperti cewek di depannya sama terkejut dengan sosok di depannya sekarang.
"Mentari."
"Kak Rian sedang apa disini?" tanya cewek yang bernama Mentari.
Ari garuk kepala canggung, "Lagi liburan sama temen-temen, kalo kamu?" tanya cowok itu terlihat canggung.
Mentari atau yang sering di panggil Tari itu tersenyum, "Sama lagi liburan." jawab Tari, cewek itu melihat ke belakang Ari dan melihat beberapa orang yang berdiri di sana. "Mereka temen kakak?" tanya Tari.
Ari mengangguk, "Iya, sini aku kenalin ke mereka." ajak Ari.
Dari belakang Tari terdengar seseorang memanggil nama cewek itu, "TARI!!" Tari berbalik dan melihat dua temannya yang melambaikan tangan kepadanya.
"Maaf, Kak. Aku udah di panggil temen-temen ku." kata Tari.
Ari tersenyum melihat Tari menyusul teman-temannya, "Siapa?" pertanyaan itu membuat Ari menoleh dan menemukan Vira menatap ingin tahu ke arah cewek yang sudah menjauh.
"Ah, itu adik kelas aku dulu waktu di Solo." jawab Ari.
Mengangguk-angguk, tapi pandangannya belum teralihkan dari cewek yang dikatakan adalah adik kelas Ari. Dari intuisi Vira ada sesuatu di antara Ari dan cewek tadi, ia melirik Ari yang membuat cowok itu kaget dengan lirikan Vira.
***
__ADS_1