
Tubuh Vira terasa kaku, mendengar perkataan empat cowok tadi. sekarang Vira berjalan ke kelasnya dengan langkah gontai, beruntung karena kelasnya tidak berada di lantai dua, bisa-bisa Vira terjatuh karena tubuhnya tidak seimbang. Ari mengikuti Vira dalam diam, ia nggak suka melihat Vira bersedih seperti sekarang, ia lebih suka melihat cewek itu ngomel-ngomel nggak jelas seperti tadi atau nyuruh-nyuruh Ari apa pun asal jangan berdiam diri.
dari jauh memandang Vira bisa melihat Aji dengan mengobrol di depan kelas Stella, kedua orang tersebut seakan menikmati kebersamaan mereka. rasanya Vira ingin menangis, ia tidak bisa melihat pemandang tersebut. padahal ia baru pertama kali menyukai cowok dan baru pertama kali di tolak, Vira menghapus air matanya. sepertinya ia belum terlambat, Vira harus menyatakan perasaannya kepada Aji, sebelum cowok itu benar-benar menjadi milik Stella. toh mereka juga baru jadian kemarin, masih ada kesempatan untuknya Vira harus maju dan semua keputusan ada di Aji. apa cowok itu bakal menerimanya atau menolaknya.
***
Langin mendung dan gerimis pun turun, Vira berdiri berhadapan dengan Aji cowok itu terlihat bingung karena tiba-tiba Vira memintanya menemui cewek itu di taman belakang sekolah. kepala Vira tertunduk menatap tali sepatunya, ia masih bingung harus memulai dari mana pernyataan cintanya itu.
"Vir, kamu masih lama?" tanya Aji memecahkan keheningan.
Vira mendongak, cewek itu membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi terhalang. "Aku lagi buru-buru soalnya." kata kakak kelasnya itu.
"Kak Aji."
"Iya?"
Dengan sekuat-kuatnya Vira mengatakan isi hatinya, "Vira suka sama Kakak, Kakak mau nggak jadi pacar Vira?" tanya cewek itu menyatakan perasaaannya, Aji terlihat terkejut dengan pengakuan Vira kepadanya. cowok itu tersenyum dan mendekat mengusap kepada Vira.
"Maaf, Vira. Kak Aji nggak bisa nerima kamu, ada orang lain yang Kakak suka, dan sekarang Kakak sedang menjalin hubungan dengannya. Maaf." kata Aji berlalu pergi setelah mengusap kepala Vira, Akhirnya tangis Vira pecah bersamaan dengan hujan turun mengguyur derah.
Dadanya terasa sakit, lebih sakit dari apa pun. rasanya ada yang menusuk-nusuk ke dalam dada Vira, berkali-kali ia nggak bisa menghentikannya. tubuh Vira pun rubuh, ia menangis di derasnya hujan. menutupi wajahnya dengan tangannya. padahal ini kali pertama untuk Vira menyukai cowok lain selain teman masa kecilnya, cewek itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari taman. berjalan ke tengah-tengah lapangan, siswa-siswi SMA N 1 Harnus masih ada yang tetap tinggal di sekolah karena hujan turun deras membuat mereka enggan untuk berhujan-hujanan. apa lagi kebanyakan dari mereka mengendarai angkutan umum dan sepeda motor.
***
Perasaan Ari cemas saat melihat Vira keluar kelas duluan tanpa berkata apa-apa, cewek itu diam selama mata pelajaran. matanya kosong, ada sesuatu yang membuat pikiran Vira kosong dan cowok itu tahu apa penyebabnya. dengan tergesa-gesa Ari bangkit dari duduknya dan mencari Vira, diluar gerimis mulai turun.
"Ri, lo mau kemana?" tanya Rey yang baru bangun dari tidurnya menatap temannya yang berdiri diambang pintu.
Ari menoleh dan menatap Rey, "Gue mau nyariin Vira, firasat gue nggak tenang." kata cowok itu.
__ADS_1
Rey pun ikut berdiri, kalo firasat Ari udah nggak tenang tentang Vira, kemungkinan besar akan terjadi sesuatu dengan sepupunya itu. reaksi Rey membuat seisi kelas bingung.
"Gue ikut." kata cowok itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Riva yang menghampiri Ari dan Rey.
"Nyariin Vira." jawab Rey.
Ari menatap Rey, "Kita berpencar." kata cowok itu dengan muka paniknya, baru kali ini Ari panik setelah sekian lama. kecuali saat Vira hilang beberapa tahu yang lalu saat kedua orang tua cewek itu memutuskan berpisah.
"Oke, lo ke kanan dan gue ke kiri." perintah Rey cowok itu segera menghubungi beberapa temannya dan menanyakan keberadaan Vira siapa tahu mereka tahu.
"Tunggu!"
"Apa lagi sih, Riv?"
"Taman?" tanya Rey dan Ari bersamaan.
"Taman SMA kita tu banyak, Riv. di Timur, Selatan, Barat dan Utara ada taman." kata Rey neritik.
"Pokoknya taman, Vira ngomong gitu ke gue tapi gue nggak tahu taman mana." kata Riva. "Gue juga bakal bantu cari."
***
"VIRA.... SILVIRA, KAMU NGAPAIN DISANA!" teriak seorang guru. "CEPAT BERTEDUH!" tapi teriakan itu tidak Vira hiraukan, kepalanya terasa kosong dalam hati kecilnya pun juga berpikir apa yang sedang ia lakukan tapi otaknya sama sekali tidak berkerja. dari kejauhan terlihat Riva dan Arga berlari ke arah kerumunan ingin melihat apa yang sedang terjadi, keduanya terperangah melihat Vira berada di tengah hujan yang deras.
"Riv, kamu mau kemana?" tanya Arga menarik Riva.
"Aku mau bawa Vira ke sini, Ga."
__ADS_1
"Tapi hujan..."
sebelum Arga sempat meneruskan ucapannya, seseorang menerjang hujan deras dengan membawa payung yang entah dimana didapatkan. semua orang terkesima dengan cara cowok itu berjalan di tengah hujan membawa payung, dan cowok itu beridri di samping Vira berjongkok.
"Berdiri." katanya.
Vira mendongak dan melihat Ari ada di sampingnya memayungi cewek itu, wajah Vira pucat dan bibirnya pun membiru.
"Gue nyariin lo dari tadi, lo bikin gue, dan Rey khawatir." kata Ari datar.
"Maaf..." gumam Vira hanya bibirnya yang bergerak, cewek itu tengah ke dinginan karena angin tertiup. badannya basah kuyup. Ari melepas Jaket, saat melihat seragam sekolah Vira basah kuyup. segera memakaikan jaket tersebut agar tidak bisa di lihat oleh orang-orang di pinggiran yang masih menontin.
"Pakai." kata Ari menyuruh Vira memakai jaketnya, cewek itu menatap Ari bingung. "Baju lo transparan." bisik Ari dengan wajah yang mulai memerah, segera Vira memakai jaket Vira. ia juga ikut malu.
"Maaf."
Mereka pun berjalan ke tepian disana Rey telah menunggu Vira dan Ari, wajah khawatir Rey beransur tenang. "Lo gila ya?" omel cowok itu.
"Udah mending kita bawa Vira ulang sekarang," kata Ari mengeluarkan kunci mobilnya. "Lo bisa nyetirkan Rey." Rey mengangguk belum puas ngomelin Vira.
"Guys baju gue basah, gue boleh nggak ganti baju dulu?" tanya Vira dengan suara lirih.
"NGGAK!" seru Rey.
"Boleh, lo bisa pakai seragam olahraga gue yang ada di loker." kata Ari.
Vira mengangguk dan berjalan ke kelasnya di iringin oleh Ari dan Rey, setiap mata yang ingin menatap Vira langsung di halangi oleh Rey.
***
__ADS_1