
Riva yang mendengar geleng-geleng kepala, "Kocak tu si Ari, aneh-aneh aja?" Dian dan Muri ikut nimbrung.
"Gue setuju sama Riva, kocak." suara tawa Dian bikin cewek itu geli sendiri.
"Tapi aneh nggak sih, tiba-tiba Ari jadi aneh gitu." Muri menutup mulutnya. "Maksud gue jadi caper gitu ke elo, Vir."
Vira geleng-geleng kepala, "Mana gue tahu, salah minum obat kali tu bocah." menopang kepalanya, matanya melirik ke pintu kelas. Di luar Vira bisa melihat Ari dan kawan-kawannya tengah bertingkah aneh di depan kelasnya, cewek itu mendengus melihat tingkah konyol cowok yang sedang tertawa bersama teman-temannya. entah apa yang sedang di lakukan mereka tertawakan.
***
Di bawah pohon dekat parkiran, cowok-cowok anak IPS duduk manis sambil main gitar. Ari tertawa mendengar suara temannya yang bernyanyi-nyanyi tak jelas, matanya sambil melirik ke arah anak-anak yang baru keluar kelas. Dari gerombolan itu seorang cewek dengan langkah pelan berjalan di kerumunan, matanya menatap tajam ke arah Ari. Cowok itu malah menyeringai.
"Ari, ayo pulang." ajak cewek itu yang sudah berada di depan Ari.
"Nantilah, lagi seru nih!" jawab Ari mendengarkan suara teman-temannya, Vira kesal karena Ari lebih memilik mendengarkan suara temannya yang ancur ketimbang Vira yang mengajak cowok itu pulang. Berbalik dan meninggalkan gerombolan cowok-cowok yang sedang bernyanyi-nyanyi nggak jelas, beberapa teman Ari melihat Vira pergi.
"Nggak apa-apa tuh cewek lo di cuekin?" tanya Benny.
Ari melirik Vira yang menjauh, berbelok ke tikungan. "Udah biarin aja? Nanti juga bakal balik ke sini lagi." kata Ari santai.
Benny menaikan bahunya.
***
"Aish, bikin kesel aja?" "Emang dia kira gue nggak bisa pulang sendiri apa?" Vira menggerutu berjalan ke arah halte Bus, cewek itu duduk sambil memainkan ponselnya.
Langit kembali mendung, pelahan-lahan hujan turun. "Shit! Pakai acara hujan lagi." Vira duduk, beberapa anak sekolah berlari-lari mencari tempat teduh, Vira harus bergeser ke samping. "Apa gue Wa Riva aja, ya?" "Siapa tahu Riva belum pulang, dan gue bisa nembeng mobil Arga sampai gerbang komplek." pikir Vira.
Vira :
Riv, lo udah balik belum?
Riva:
Belum, Vir. Ini gue lagi nungguin Arga selesai rapat OSIS.
Riva:
Ada apa?
Vira :
Anu, Riv.
gue boleh nggak hari ini nembeng mobilnya Arga.
Riva:
Boleh, sekalian ada yang Arga mau omongin katanya.
Sekarang lo dimana?
Vira :
gue di halte dekat sekolah.
Riva:
Oke, sekarang gue sama Arga ke sana.
***
di atas motornya Ari mengamati Vira yang duduk di hatle bus dengan kumpulan orang-orang yang berteduh, cowok itu ada di bawah pohon tidak memperdulikan dirinya yang kehujanan. Matanya menangkap sebuah mobil berhenti di depan halte, melihat Vira membuka pintu belakang dan masuk.
"Shit! Gue kira dia bakal balik lagi ke parkiran." umpat Ari menyalan mesin motornya berjalan melewati mobil yang Di naiki Vira.
Riva berbalik dan menatap Vira, "Vir, itu bukannya Ari." tunjuk jari Riva ke arah motor yang laju di depan mobil Arga.
"Eh iya, lho Ari nggak pakai matel?" tanya Arga di kursi kemudinya.
"Mungkin matelnya ketinggalan atau emang sengaja di tinggal." ucap Vira ngawur, ia masih kesal dengan sikap Ari yang cuekin Vira tadi.
Arga dan Riva menoleh ke belakang, kaget dengan ungkapan Vira yang baru saja keluar. Mereka pun diam, Arga fokus menyetir dan sekali-kali mengajak ngobrol dua cewek yang ada di mobilnya.
"Eh, Vir. Mulai besok Judo udah mulai berangkat lagi, lo nggak lupakan?" tanya Arga. Vira mencodongkan badannya ke depan.
"Apa, Ga?"
"Judo udah mulai berangkat besok, lo nggak lupakan." ulang Arga.
Vira menepuk jidatnya, "Astaga, gue hampir lupa, Ga." kata cewek itu, Riva menoleh kebelakang. "Padahal Sensei udah nyuruh gue buat ngatur persiapan hari pertama masuk." "Aduh, gimana dong!?" tanya Vira menatap ke dua temannya itu.
"Ya, santai aja kali, Vir. Kan bisa diurung nanti." sahut Riva.
"Iya, nanti gue sama anak-anak yang lain bakal bantuin lo." kata Arga.
"Thanks, guys!" ucap Vira.
***
pagi-pagi Ari sudah duduk di atas meja depan Vira, di samping cowok itu ada Rey yang terlihat galau. Cowok itu baru saja di putusin oleh Mira anak XI IPS 5, temen sekelas Vira di kelas X dulu.
"Kemarin siang gue nungguin lo."
Kepala Vira terangkat, "Nungguin gue?" tanya cewek itu heran, terlihat tidak mengerti ucapan yang baru saja Ari katakan.
"Iya, nungguin lo balik ke parkiran dan merengek-rengek minta pulang." jawab Ari tersenyum kecil, Vira tersenyum miring. "Eh, lo nya malah naik mobil,"
Menegakan tubuhnya, "Lho, bukanya lo lagi asyik dengerin temen lo nyanyi yang suaranya ancur itu?" tanya Vira berbalik. "Dan gue kira lo lebih betah di sana dari pada pulang bareng gue." jawab Vira memutar bola matanya, tak mau kalah.
Ari menggebrak meja Vira dan mencodongkan badannya ke cewek di depannya, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Mata Ari dan Vira saling bertatap, ketika bibir cowok itu sedikit bergerak suara bell mengacaukan segelanya. Ari melompat dari duduknya, berjalan ke pintu kelas sambil sekali-kali menoleh melihat ke arah Vira. Rey yang sedari melamun di kaget kan dengan gebrakan meja di belakangnya, matanya mengikuti Ari yang jalan keluar kelas.
__ADS_1
"Gue berharap Ari ke jedot pintu!" umpat Vira pelan. membuat Rey melirik sepupunya aneh.
Apa yang di inginkan Vira nggak terjadi, Ari berjalan keluar kelas dengan aman. Cewek itu duduk di kursinya, dengan kesal membanting-banting buku paket yang tebak ke meja.
PUK! PUK! PUK!
Rey dan Riva cuma melihat Vira yang kesal, Muri dan Dian yang duduk di meja samping cuma saling menatap, nggak mengerti ada apa dengan temannya itu.
***
"Tahu nggak sih! Akhir\-akhir ini Kak Ari tambah keren loh!" seru seorang cewek di kerumunannya.
"Eh, iya... Kemarin waktu aku ke parkiran Kak Ari lagi nyanyi dan suaranya bagus banget."
Telinga Vira jadi panas mendengar cewek-cewek yang duduk di meja belakangnya memuji-muji Ari, cewek itu menggosok-gosok telinganya dan segeranya di tutup dengan tangannya.
"Huh, nggak bisa apa mereka berhenti ngomongi Ari."
"Emang apa salahnya sih?" tanya Dian.
Vira menatap Dian, "Salah kalo mereka ngomongi tu cowok di deket gue." kata Vira membara.
"Ya udahlah, jangan di dengerin." kata Muri, "Ini pakai ini biar lo nggak denger." kata Muri memberikan Earphone kepada Vira.
"Buat apa?" tanyanya.
"Buat nutupin telinga lo biar nggak denger mereka." jawab Muri.
Vira menerima earphone dari Muri dan memasang di telinganya, suara yang tadi terdengar di belakangnya berganti dengan suara penyanyi asal Inggris. walau nggak pinter bahasa inggris tapi Vira penikmat semua lagu, yang penting jangan di suruh nyanyi aja si Vira, bukan karena suaranya jelek tapi karena males.
***
"Vira!" panggil Ari yang duduk di motornya.
Menoleh dan menemukan Ari dengan motornya, "Maaf, Ri. Gue duluan." kata Vira yang naik ke mobil Arga, cowok itu di buat bingung dengan Vira yang udah dua hari naik mobil Arga.
"Kenapa tu anak?" tanya Oji yang nongol di samping Ari.
"Biasanya juga lari ke lo, Ri."
Ari naikan bahunya, "Mungkin dia ada urusan sama Arga." jawab cowok yang memakai helm, menyalakan mesin motornya, meninggalkan Oji yang melihat Ari sudah pergi keluar dari gerbang sekolah.
***
"Sorry ya, Ga, Riv, jadi ngerepotin kalian berdua."
"Santai aja kali Vir, kayak sama siapa aja?" jawab Arga yang menyetir mobil.
"Eh, iya tadi gimana ulangan dadakan kamu, Ga?" tanya Riva. "Kalo aku sama Vira lancar tuh!" seru Riva penuh semangat.
"Ya seperti biasa Riv, semua terkendali." jawab Arga tersenyum manis ke pacar tercinta nya, Vira yang duduk di belakang rasanya pengen muntah melihat interaksi kedua temannya itu.
"Berani lo rebut Riva dari gue, gue bongkar rahasia lo!" ancam Arga, wajah Vira langsung berubah.
"Argh! ih apaan sih lo ngancem-ngancem, lo kira gue bakal takut gitu."
"Oh gitu, oke gue aduin Ari kalo lo... ehmm ehmm... emmm..."
"Bawel lo jadi cowok, dasar ember rombeng!" umpat Vira yang membekap mulut Arga, Riva cuma menonton mereka berdua.
"Huaah!" "Gila lo ya!" bentak Arga yang menghentikan mobilnya di pinggir jalan, melepas bekapan Vira.
"Udah-udah, lagian kamu si Ga, malah ladenin Vira." kata Riva.
"Auk ah, mending kita mikirin Ujian Tengah Semester aja? kepala aku jadi pusing kalo harus berhadapan sama macan betina."
"Woi! siapa yang lo maksud macan betina!" bentak Vira.
Pada akhirnya Riva memilih diam mendengarkan Arga dan Vira yang masih cek-cok, tapi ada hiburan tersendiri buat Riva melihat kedua orang terdekatnya itu berantem.
***
"Duh sebel deh, gara-gara Ujian Semester semakin dekat. Ulangan dadakan selalu diadain akhir-akhir ini." umpat Vira kesal saat perdebatan antara dirinya dan Arga yang kembali ke masalah ulangan dadakan.
"Iya, gue yang biasanya santai nggak bisa santai."
"Emang Riva pernah santai."
"Vira!" seru Riva.
Vira terbahak-bahak, cowok diantara mereka geleng-geleng kepala menahan senyumnya. Mobil Arga berhenti di depan Gor tempat Arga dan Vira latihan Karate, Riva mengikuti kedua orang yang berjalan di kanan kirinya.
"Yahoo!" seru Vira melihat teman-teman latihannya.
"Hai, Vir." sapa teman-teman yang lainnya.
***
Di lapangan terlihat orang-orang berkumpul untuk melihat pertandingan Basket antar kelas, lain lagi dengan di kantin yang hanya berisikan beberapa orang di sana. Dengan pandangan menerawang ke depan, Vira duduk dengan Milkshake Coklat di depannya. Suara teriakan terdengar dari arah lapangan, meneriakkan salah satu nama pemain yang sangat di gandungi oleh cewek-cewek di sekolah Vira, seorang cewek menghampiri Vira dan duduk tepat di sampingnya.
"Coba tebak berapa skor mereka sekarang?" tanya cewek itu kepada Vira. Sebagai jawaban Vira hanya menaikan bahunya, cewek itu tersenyum. "25-22, skor yang wow banget bukan." ujar Dian penuh ke banggaan.
"Iya, sih! Wow, banget! Apa lagi dengan teriakkan histeris cewek-cewek yang nggak punya otak itu, bikin illfil aja?" ujar Vira.
Dian menyeringai, "Bilang aja, lo cemburu?" goda Dian.
Dengan ke cepatan kilat Vira melirik tajam ke arah Dian yang langsung diam. "Buat apa gue cemburu sama cewek-cewek nggak punya otak itu, lagian gue punya hak apa ke dia." ucap Vira meminum Milkshake coklatnya.
Muri, Dian dan Riva saling memandang, menahan senyum mereka melihat reaksi Vira.
***
__ADS_1
"Ari, lo hebat banget!" acungan jempol dari teman sekelasnya.
Cowok itu tersenyum membalas pujian teman-temannya, segerombolan cewek- cewek menyeruak masuk ke dalam lapangan menghampiri sang idola yang selesai berjuang di tengah lapangan. Kepalanya menjulur mencari seseorang yang ada di sekitarnya, tapi tak kunjung ketemu.
"Dimana itu anak?" gumam Ari celingak-celinguk mencari seseorang.
Seseorang menepuk pundak Ari, membuat cowok itu tersentak dan menoleh. "Gue duluan ya?" kata cowok itu, salah satu lawan Ari.
Ari tersenyum. "Oke! Kak." jawab Ari dengan wajah datar. Aji melambaikan tangannya, keluar dari kerumunan orang-orang.
Cewek-cewek itu berebutan mendekati Ari yang hampir selesai mengemasi barang-barangnya ke tas, salah satu temannya berdiri di samping Ari menatap ke pergian kakak kelas mereka.
"Sok banget tu!" ujar teman se-tim Ari.
"Sok gimana?" tanya Ari pongah.
"Sok Care sama lo," jawab Oji.
"Ah, biasa aja?" jawab Ari, ia mengemasi barang-barangnya dan berjalan pergi ke arah yang berlawanan dengann cewek-cewek yang tengah berebutan mendekatinya. Oji yang di tinggal mengejar Ari yang berjalan didepannya.
"Hai, tungguin gue!" teriak Oji.
***
Bell pulang sekolah sudah berdering 15 menit yang lalu menandakan jam pelajaran telah usai, Vira merapikan buku-bukunya yang bertebaran diatas meja. Didalam kelas hanya tersisa beberapa orang yang masih sibuk mengerjakan tugas dari Guru, dan segera dikumpulkan di depan kelas. Salah satu pintu kelas XI IPA 3 terbuka, seorang cowok menyandarkan badanya ke kusen pintu, menatap seorang cewek yang sibuk memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
Di belakang sebuah gulungan buku menimpa kepalanya, membuatnya memekik dan mengusap kepalanya yang terasa sakit. Lalu tubuhnya berputar 90 derajat ke belakang, menatap si tersangka yang menimpuk kepalanya. Ari menyeringai, menanggapi tatapan Vira yang tajam ke arahnya.
"Sakit tahu!" geram Vira.
Ari menegakkan tubuhnya, dengan dua tangan bersedekap. "Alah kayak gitu aja Sakit, gue yang tiap hari lo gebukin biasa-biasa aja, tuh!" ujar Ari songong. Vira menggertakan gigi-nya kesal, lalu berbalik kembali menghadap ke depan dan kembali ke aktifiasnya kembali.
"Vira, pulang mampir dulu yuk!" ajak Ari.
Mereka sudah keluar kelas, dan menuruni anak tangga. "Mampir kemana?" tanya Vira yang fokus dengan ponsel-nya.
"Kemana kek gitu? Udah lama kan kita nggak hang out bareng?"
"Gue sibuk, Ri. Banyak tugas." jawab Vira.
"Sama gue juga."
"Lho itu lo tahu, nggak nyadar nilai ulangan lo minggu kemarin jelek?" tanya Vira mengingatkan Ari dengan nilai ulangannya yang jelek.
"Duh perhatian banget deh!" seru Ari menakupkan tangan ke wajahnya. Pipi Ari merona. "Tahu dari mana." tanya Ari.
"Apaan, siapa yang perhatian sama lo, gue tahu karena Arga yang ngomong." jawab Vira, ke dua tangan Ari terangkat ke atas, ia letakkan di belakang kepalanya.
"Ya, mau bagaimana lagi! Namanya juga lagi bosen." jawab Ari. "Makanya lo juga sekali-kali harus jalan, Vir." ucap Ari bergebu-gebu.
"Enggak deh! Ri, buang-buang waktu aja? Mending belajar buat Semesteran." jawab Vira memikirkan Ujian Semester yang sebentar, Ari mendengus.
"Memangnya lo nggak bosen apa, belajar terus?" tanya Ari.
Vira menggeleng, "Nggak ada kata bosan untuk orang belajar." jawab Vira.
"Wah, tumben bijak. Biasanya juga susah disuruh belajar."
"Eh, iya, ya... Biasanya gue yang males kok sekarang jadi lo yang males ya?" tanya Vira sadar dengan yang terjadi.
Ari tertawa bakah-bakah. "Iya juga ya." jawab Ari.
Vira terdiam memikirkan perkataan Ari, yang ada benarnya juga. Akhir-akhir sifat kedua terbalik, Vira yang biasanya malas jadi sering belajar di kelas, sedangkan Ari yang biasanya paling rajin sekarang malah jadi pemalas. Ya, walau nilai cowok itu masih diatas rata-rata 80 keatas tapi tetap saja nilai Ari tiba-tiba merosot.
"Udahlah, ayo, balik." ajak Vira.
Membuat senyum Ari merekah ceria, Mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah, Vira kembali lagi kepada ponsel-nya. Ari menyerahkan helm yang biasanya di pakai Vira tapi tidak ada respon atau tanggapan dari cewek itu, dengan setengah terpaksa Ari memakaikan helm ke Vira. membuat Vira terkaget dengan tindakan Ari, mata mereka saling bertemu.
"Gue pakaian helmnya, lo sibuk main hp terus." jawab Ari yang tersirat di wajah Vira.
***
Di langan Ilalang, Ari dan Vira duduk berdua di bawah pohon rindang. Sore itu terasa sejuk beda dari hari-hari biasanya, buku-buku tertebaran di dekat mereka. Dengan kening berkerut-kerut, Vira mencoba memahami soal yang ada di pangkuannya, tangan kirinya usil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak galat. Ari mendongak dan menemukan wajah tegang cewek yang duduk di depannya, bibir Ari tertarik mengukir sedikit senyum.
"Aaarrrggghhh! Aku pusing!" teriak Vira frustrasi.
Ari mencodongkan tubuhnya ke depan Vira, dan di saat itu juga detak jantung cowok itu berdetak kencang dari biasanya jika berada di dekat Vira. Aroma shampoo yang di pakai Vira menusuk indra penciumannya, Aroma yang selalu membuat Ari teringat akan masa kecil mereka berdua.
"Yang mana kamu nggak ngerti?" tanya Ari.
Vira masih tetap terdiam mendengarkan pertanyaan Ari kepadanya, cewek itu mendongak dan menatap mata milik cowok di depannya yang terasa begitu dekat. Angin berhembus kencang ke arah mereka membuat kertas-kertas yang ada di dekat mereka bertebaran, tertiup angin membuat Ari dan Vira tersadar dan buru-buru berlari mengejar kertas-kertas tersebut.
"Ri, lo lari kesana!" teriak Vira.
***
"Hah...hah...haha...mending kita belajar di gazebo aja tadi." kata Vira yang terengah-engah setelah mengejar kertas yang bertebaran.
Ari duduk di samping cewek itu menyandarkan kepalanya di batang pohon, "Iya, tadi nggak kepikiran. Gimana kalo kita pindah aja?" usul Ari.
"Iya, pindah tempat aja?" ajak Vira.
Mereka berdua pun membereskan kertas-kertas yang berserakan dan memasukan ke dalam tas mereka, Ari menyiapkan motornya yang ia parkir tidak jauh dari tempat mereka.
"Akhir-akhir ini mobil lo dimana, Ri?" "Kok gue lihat gue sekarang lebih sering naik motir?" tanya Vira menggendong Tas-nya ke punggung.
"Oh," Ari garuk-garuk kepala yang tidak gatal cowok itu bingung. "Gue belum cerita sama lo ya?" tanya Ari.
kepala Vira menggeleng.
***
__ADS_1