
Gado-gado dan batagor
Riva berdiri di konter makanan bersama Arga, cowok itu siap sedia menemani Riva. sedangkan Vira duduk manis di kursi kantin, cewek itu tengah asyik membaca buku yang ia pinjam dari Dian tadi sebelum keluar kelas.
"Riv, temen kamu itu aneh ya?" tanya Arga yang berjalan bersama Riva menuju meja yang di duduki Vira.
"Aneh gimana?" tanya Riva.
"Ya aneh."
Riva memperhatikan Arga dan Vira bergantian, "Nggak aneh ah, biasa aja?" jawab cewek itu.
"Terserah kamu deh."
"Jadi terserah aku sih, emang Vira nggak aneh." kata Riva.
Arga berbalik, "Iya, Vira nggak aneh." jawab Arga.
cewek itu tersenyum, hampir 8tahun Riva berteman dengan Vira dan ia sudah tahu bagaimana sifat sahabatnya itu. semenjak kedua orang tua Vira memutuskan pisah, sikap dan sifat Vira pun mulai berubah, cewek itu mulai seenak jidatnya.
"Wah, udah datang nih!" seru Vira menutup bukunya, tangan Vira terulur ingin mengambil piring yang dibawah Riva tapi sebuah tangan mengambil piring itu duluan. "Hai!" seru Vira melihat piring makanannya diambil orang lain, dan orang lain itu tak lain adalah Ari yang sudah menyuapi batagor ke mulutnya.
Arga dan Riva cuma bisa melihat dua orang yang mulai bertengkar. "Ari balikin itu punya gue!" seru Vira mencoba mengambil piring yang dibawa Ari.
"Eeem, nanggung." kata cowok itu.
"Nanggung-nanggung, nanti kalo habis gimana!?"
"Ya, tinggal pesen lagi masih banyakkan." ujar Ari.
"Nggak mau, kembaliin nggak!" seru Vira.
Ari duduk di kursi kosong depan Arga, cowok itu menaruh piring yang ia makan diatas meja. "Pesen lagi sana," kata Ari masih menikmati Batagornya. Vira duduk cemberut disamping Ari, cowok itu melirik Vira dari sudut matanya.
"Ya ngambek lagi." Vira diam saja, jari Ari bermain-main di pipi cewek itu.
Arga melihat Vira bergantian dengan sepiring batagor miliknya yang belum ia makan, "Ini makan punya aku aja," kata Arga, kepala Vira mendongak melihat Arga. "Tenang, aku bisa makan bareng Riva, iya kan say?" tanya Arga menatap Riva.
cewek yang duduk disampingnya yang lagi makan siomay, mengangguk dengan mulut penuh. "He'eh." jawab Riva.
Vira menatap pasangan di depannya dengan sedih, sekaligus senang. "Makasih, guys. kalian yang paling T.O.P deh!" kata Vira mengacungkan jempol tanganya, matanya melirik Ari yang termenung, "Nggak kayak orang ini nih!" sindir Vira ke Ari.
yang disindir cuma bisa diam, "Ya, maaf. ini aku balikin." kata Ari.
"Nggak usah, makan aja sana. udah bekas lo juga kasih orang." umpat Vira sadis, cewek itu langsung menikmati Batagor milik Arga tanpa memperdulikan ekspresi bersalah Ari, padahal cowok itu iseng ngerjain Vira dan akan beliin yang baru buat cewek itu tapi malah ke duluan Arga, salahnya juga mungkin.
***
__ADS_1
"Setiap hari aku perhatiin kalian nggak pernah akur ya?"
Ari melirik Arga yang berjalan di sebelahnya, dua cowok itu berjalan beriringan menuju kelas mereka yang emang sekelas. "Gue juga nggak tahu, akhir-akhir ini seneng banget gangguin dia." kata Ari menatap lurus ke depan, Arga
mengangguk-angguk. "Tapi kalo udah lihat dia ngambel gitu jadi ngerasa bersalah sendiri."
"Iya, juga ya... biasanya Vira yang suka ngusilin lo."
dari belakang muncul sosok di antara mereka. "Itu namanya Cinta." ujar cowok yang memisahkan Ari dan Arga, cowok itu menatap kedua cowok disamping kanan dan kirinya.
"Rey, ngapain lo di sini?" tanya Ari.
"Iya, ini kan bukan kelas lo?"
"Numpang lewat." kata Rey yang pergi meninggalkan Ari dan Arga berdua.
***
Caffee, setiap hari libur Ari selalu mengisi waktunya bantu-bantu di Caffee milik sepupunya, hitung-hitung buat nambah uang jajan walau Ayah dan Bunda selalu kirim uang jajan lebih untuk Ari. cowok itu selalu berada di balik kasir, melayani setiap pembeli yang akan memesan, membayar makanan mereka atau sekali-kali membantu mengatar pesanan para pengunjung Caffee. siang itu matahari terasa terik dan panas, dan
Caffee dipenuhi oleh orang-orang yang datang.
"Ari, Ice Cappucino dua." kata seorang pelayan yang menghampiri Ari di kasir.
"Oke, Riv." jawab Ari mencatat pesanan di Komputer depannya.
cowok itu mendongak mengalihkan perhatiannya ke arah komputernya, "Ada apa, Riv?" tanya Ari, Riva menyandarkan punggungnya di meja, tatapan lurus ke 3 arah jarum jam.
"Lihat dua cewek yang duduk di meja nomor 12?" tanya Riva.
mengangguk, "Iya, gue lihat memang kenapa?"
"Dari kemarin dua cewek itu ngeliatin lo terus." kata Riva yang berjalan meninggalkan Ari ketika melihat pintu caffee terbuka.
Ari mencubit alisnya mendengar perkataan Riva dan melihat ke arah dua cewek yang dimaksud temannya itu dan benar dugaan Riva, dua cewek itu melihat ke arah Ari terus menerus.
***
suara tangisan Vira terdengar ketika gadis itu duduk di sudut caffee yang tersembunyi di depannya duduk Ari yang menopang kepalanya dengan kedua tangannya, menatap cewek yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Ari memiringkan kepalanya heran melihat Vira yang tiba-tiba datang ke caffee dengan menangis.
"Kenapa nangis?" tanya Ari masih menunggu Vira berhenti menangis.
"Papa, Ri. Papa mau nikah lagi!" ujar Vira sesunggukan.
tangan kanan Ari mengusap-usap kepala Vira, "Udah jangan nangis." kata Ari mencoba menghibur, "Janji deh, kalo lo berhenti nangis nanti gue beliin Es krim pulang dari sini." bujuk Ari, Vira mengusap wajahnya mendengar
perkataan Ari.
__ADS_1
"Kalo Ice Moccacino aja, boleh?" tanya Vira berhenti menangis.
kepala Ari mengangguk. "Iya, boleh." jawab Ari.
dari meja yang di tempati Arga, ia bisa melihat Ari dan Vira yang duduk tersembunyi. seorang pelayan datang menghampiri Arga dengan pesanan cowok itu, diluar turun hujan membuat Arga yang awalnya menunggu Riva di luar memutuskan untuk masuk dan berteduh.
"Padahal tadi panas banget" ujar pelayan yang menghampiri Arga.
cowok itu mendongak melihat Riva yang mengantarkan pesananya, ia tersenyum karena tidak
biasanya Riva mau mengantarkan pesanan Arga kalo cowok itu sedang mampir ke Caffee tempat kerja sambilan ceweknya itu.
"Iya, tiba-tiba aja hujan." jawab Arga melihat keluar jendela. "Nggak jadi jalan-jalan nih!" seru Arga kecewa.
Riva menatap Arga, "Tadi kamu ngeliatin apa?" tanya Riva yang sedari tadi memperhatikan Arga sebelum Damar menyuruh Riva mengantarkan pesanan Arga, dan menyuruh untuk mencari tahu apa yang sedang cowoknya perhatikan dari tempat Arga duduk.
"Oh!" Arga meminum pesanannya, "Itu tadi aku perhatiin Ari sama Vira." jawab Arga.
"Kenapa lagi mereka?" tanya Riva yang menarik kursi dan duduk dihapan Arga.
Arga mencodongkan tubuhnya ke depan Riva, "Aku nggak tahu apa yang sedang terjadi tapi, sepertinya Vira lagi ada masalah." jawab Arga berbisik, mendengar ucapan dari cowok di depannya membuat Riva berdiri dari duduknya.
"Kamu serius?" tanya Riva, Arga mengangguk.
cowok itu menarik tangan Riva untuk duduk lagi karena tidak nyaman dengan tatapan para pelanggan. "Tapi aku nggak tahu apa yang mereka omongin, yang jelas Vira datang nangis-nangis terus Ari nyamperin Vira." tutur Arga yang melihat kejadian Vira yang turun dari Taksi hujan-hujanan, masuk ke dalam Caffee dan mencari tempat paling
sudut. Arga juga melihat ekspresi Ari yang melihat Vira masuk basah-basahan terkena hujan, cowok itu langsung meninggalkan pekerjaannya di meja kasir dan menemui Vira.
"Aku harus menuin Vira." ketika Riva akan jalan ketempat dimana Vira dan Ari berada, tangan Riva ditahan.
"Nggak usah." kata Arga lembut.
Riva memprotes perkataan Arga dengan tatapan "Nggak usah gimana? Vira itu temen aku."
"Iya, aku tahu tapi kamu nggak usah ke sana." kata Arga, tatapan Riva semakin tajam. "Karena
sekarang Vira udah berhenti nangis." jawab Arga.
"APA!" "Jadi Vira tadi nangis." ucap Riva.
Arga menempelkan jarinya di bibir Riva, kepalanya mengangguk pelan. "Pelan-pelan, kayaknya tadi
aku udah bilang deh. " kata Arga.
Menyingkirkan jari Arga yang menempel di bibirnya, dan mengangguk mengerti.
"Ya, maaf."
__ADS_1
***