Childhood Sweetheart

Childhood Sweetheart
Episode 30


__ADS_3

Vino duduk di meja kosong, jari-jarinya mengetik pesan kepada salah satu temannya tentang dimana dirinya duduk. Cowok itu menopangkan kepalanya disatu tangannya, sambil membuka Instagram dan melihat photo update terbaru dari cewek-cewek yang memfollow Instagramnya.


Davi dan Ari menghampiri meja yang di duduki Vino, yang sibuk dengan ponselnya. Dua cowok yang baru datang


saling memandang, Ari menaruh mangku Mie Ayam dan tiga gelas Teh tawar yang dibawanya. Davi menarung piring gado-gado dan nasi goreng menyusul mangku Ari, cowok itu menarik kursi yang ada disamping Vino.


"Ngeliatin apa sih?" tanya Ari yang duduk di depan Vino dan Davi, cowok itu sudah menyuapi Mie ke dalam


mulutnya yang mulai penuh.


Vino nyengir kuda, "Biasa," jawab cowok itu.


Ari menatap Davi, "Instagram." jawab Davi yang memakan gado-gadonya.


ponsel yang sedari tadi Vino pegang sekarang tergeletak tak berdaya. "Eh, jadi lo berubah pikiran?" tanya Vino.


"Hm."


"Lo bakal ikut Vira ke Pantai?"


"Iya," jawab Ari masih makan tidak melihat wajah Vino yang berseri.


"Kalo gue ikut bolehkan." perkataan Vino yang terakhir itu membuat Ari tersedak dari makanannya, Davi langsung memberikan minum kepada temannya.


kening Ari menyengit, "Apa tadi lo bilang?" tanya Ari. "Lo mau ikut?" Vai mengangguk penuh semangat, Ari menatap Davi untuk meyakinkan apa yang ia dengar tidak salah. cowok tubuh tinggi besar itu mengangguk, jadi Ari tidak salah dengar dengan apa yang dikatakan Daniel tadi.


"Iya, gue ikut ya? cuma dua hari kan?" tanya Vino memastikan.


Ari mengangguk, "Ya, emang cuma dua hari sih, sabtu sama minggu." jawab cowok itu.


"Oke, kalo gitu gue ikut nanti gue bilang sama di Arga temen lo itu." kata Vino, matanya melirik Davi. "Dav, lo ikut juga ya?"


cowok yang makan gado-gado hanya mengangguk pasrah, pasrah dengan keinginan Daniel. mereka bertiga melanjutkan makan siang mereka, tidak memperdulikan orang-orang yang menatap ke arah mereka. sekali-kali Vino, Ari dan Davi saling ngobrol, beberapa cewek dari kelas satu curi-curi pandang ke arah Ari dan teman-temannya.


***


"Guy's, kenalin ini Fiona?" kata Vino memperkenalkan cewek yang berdiri disampingnya, wajahnya terlihat cantik dan imut.


Vira melihat penampilan cewek di depannya dari atas kebawah, tangan Vira langsung merangkul tangan Ari. "Cewek baru ya?" tanya Vira songong, masih memegangi tangan Ari, Ari hanya diam melihat tangan Vira melingkari tangannya.


"Bukan!" seru Vino.


"Bohong!" seru Vira nggak mau kalah, Vino kalo udah ketemu Vira pasti ribut. Kalo Vira udah kalah pasti larinya ke Ari, tapi kalo Vira menang cewek itu akan tertawa kemenangan ala-nya

__ADS_1


Riva dan Arga yang ada di dekat Vira cuma geleng kepala dan mendesah, kalo bukan dengan Vino pasti dengan Arga. Jangan tanya kenapa Vira nggak nyari ribut sama Davi, selain badan Davi yang tinggi besar. Cowok itu pasti langsung mengalah kayak Ari, soalnya walau badan besar kayak gorila tapi hati Davi selembut Hello Kitty.


"Beneran."


"Benaran pacar baru."


Vino dan Vira masih berdebat, Davi menghampiri Ari. "Rey nggak jadi ikut?" tanya cowok itu yang membawa tas gunung.


"Iya, katanya nggak di izinin ceweknya." jawab Ari.


Davi berbalik menatap Arga, "Kita berangkat jam berapa?" tanya Davi. Arga melihat jam tangannya, ia mendongak dan melihat Davi.


"Lima belas menit lagi." jawab Arga.


"Ya udah, kita siap-siap sekarang." kata Davi mendekati Vino dan merangkul leher cowok itu untuk menjauh dari Vira, "Ari jagain cewek lo!" seru Davi membuat wajah memerah. Dari semua teman-temannya, hanya Davi yang tahu isi hatinya, Vino dan Vira bersamaan menatap heran Ari dan Davi bergantian.


***


tukang Ojek berhenti di depan terminal Bus, seorang cowok turun dari boncengan belakang motor melepaskan helm yang ia pakai. "Aduh susah banget sih lepasnya." umpat Rey.


"Pak, ini gimana?" tanya Rey jengkel.


"Sini Mas saya bantuin lepas." kata Driver ojek online.


"Rp. 18.000, Mas." jawab Driver Ojek Online.


"Ini, Pak. Makasih." kata Rey berlari ke arah loket. "Mbak, Bus jurusan Jogja Kencana Asih Jaya udah berangkat?" tanya Rey.


Mbak penjaga Loket, "Tunggu sebentar ya, Kak." kata wanita itu melihat ke komputernya, "Lima belas menit lagi, Kak." jawabnya.


"Oh ya udah." kata Rey.


"Tiketnya Kak!?" seru Mbak penjaga loket.


"Udah punya!" teriak Rey berlari menerobosi orang-orang yang ada di terminal.


Rey memang sempat dikasih tiket oleh Riva waktu temannya itu menemui Rey di rumah, dan memberikan Tiket yang khusus untuknya. "Terserah lo mau ikut apa nggak, gue kasih tiketnya ke lo. Tapi..." telunjuk jari Riva terangkat, "Kalo lo nggak jadi ikut, lo harus ganti uang tiketnya." ancam Riva.


Rey masih ingat ancaman cewek satu itu, dan sekarang dengan waktu lima belas menit Rey harus mencari teman-temannya dibanyaknya orang-orang di terminal.


"Argh, sial! Mending tadi gue ikut Riva sekalian." gerutu Rey.


Ada yang menepuk bahunya, membuat cowok itu menegakan tubuhnya. Dari belakang ia menoleh dan melihat Vira dan Ari menatapnya, Rey bernafas lega melihat dua orang didepannya sekarang. Vira seperti biasa memakan Lollipopnya sedangkan Ari membawa kantung plastik putih yang sepertinya milik Vira semua, "Aaahh, akhirnya gue ketemu kalian." sahut Rey yang akan memeluk Vira tapi di hadang oleh Ari, keduanya terlihat bingung. secara Rey dan Vira sepupu jadi wajar jika mereka berpelukan.

__ADS_1


Vira memiringkan kepalanya, "Hm, bukannya lo kemarin bilang nggak ikut?" tanya cewek itu memperhatikan Rey.


"Berubah pikiran, hm?"


"Iya, gue berubah pikiran. Kapan lagi bisa jalan bareng kalian." kata Rey yang berakting histeris.


"Nggak usah lebay!" Vira berjalan melewati Rey. "Ayo, yang lain udah nunggu tuh!" seru cewek itu yang memimpin dua cowok dibelakangnya.


Ari dan Rey berjalan di belakang Vira mengikuti cewek satu itu, sekali-kali Rey melirik Ari. pikirannya penuh dengan pertanyaan sekarang, bukan rahasia jika Ari naksir Vira tapi sikap Ari barusan seperti bukan Ari seperti biasanya.


***


Didalam Bus, Ari duduk dengan Davi, Vira dengan Riva, Rey dengan Arga sedangkan Vino dengan Fiona, yang membuat iri cowok-cowok yang ada di grup mereka. Sepertinya Vino puas melihat wajah-wajah kesal teman-temannya itu, ia tertawa tanpa suara.


"Aku juga pengen." rajut Arga ke Riva yang duduk di kursi samping, tapi langsung mendapat plototan dari Vira.


"Belum muhrim!" bentak cewek itu.


Arga mendengus dan kembali menatap keluar jendela, Ari duduk dibelakang kursi Vira. Matanya cowok itu sudah terpejam, Davi lebih asyik main Gamesnya. Kepala Vira muncul dari balik kursi, Davi udah terbiasa.


"Ssssttt, Ari!" panggil Vira.


Sepertinya Ari tidak mendengar panggilan cewek itu, ia menatap Davi yang masih sibuk dengan Games-nya. "Davi main games apa?" tanya Vira.


"DOC"


"DOC, apa itu? gue baru denger." kata Vira.


Davi mematikan ponselnya, "Lo mau main?" tanya cowok itu, Vira memiringkan kepalanya.


"Kalo di ajarin mau."


"Ya udah sini gue ajarin." kata Davi.


"Tapi gue nggak punya games-nya, perlu di download dulu?" tanya Vira.


Davi menggeleng, "Punya Aplikasi Shareit?" Vira mengangguk.


"Punya."


"Kalo gitu gue kirim lewat Shareit aja?" kata Davi meminta ponsel Vira. Ponsel berwarna hitam yang hampir sama dengan milik Ari, Davi mengambil ponsel Vira. "Nanti kalo udah selesai gue kembaliin ke elo, sekarang lo duduk yang manis ya?" kata Davi,Vira mengangguk patuh. Disamping tempat duduk Davi dan Ari, Vino menyengitkan keningnya melihat Vira yang jadi begitu penurut kalo dengan Ari dan Davi.


***

__ADS_1


__ADS_2