
buku-buku bertebaran di atas meja, Vira mengerjakan soal Ujian semester tahun lalu yang ia foto copy. Di sampingnya ada Riva yang juga ikut mengerjakan tapi dengan soal yang berbeda, Ari datang menghampiri Vira dan duduk di kursi kosong depan Vira.
"Ngerjain apa sih?" tanya cowok itu tapi tidak mendapat jawaban dari Vira ataupun Riva, keduanya sibuk mengerjakan soal sampai tidak menyadari kehadiran Ari.
Jengkel dengan sikap Vira mencuekin dirinya, Ari mengambil lembar soal yang sedang dikerjakan Vira. Spontan Vira mendongak dan melihat kertas soalnya berada di tangan Ari, ia melihat Ari menatap kertas soalnya.
"Ari kembaliin." ujar Vira dengan wajah lelah dan kantung mata yang sedikit menghitam.
"Apaan, cuma mau lihat juga." ucap Ari tanpa minat.
"Iya, tapi aku lagi ngerjain." suara Vira terdengar tidak bersemangat.
"Emang lo bisa?" nada suara Ari terdengar meremehkan kemampuan Vira.
Vira kesal jika ada yang meremehkannya, mentang-mentang dia nggak sepinter Ari atau Riva bukan berarti Vira nggak bisa, dia bisa. "Bisa." jawab Vira.
"Sini kembaliin." Vira meraih soal yang ada di tangan Ari. Cowok itu berdiri dan berjalan dengan mengayun-ayunkan soal yang ada ditangannya, Vira mencoba meraih kertas tersebut.
"Ayo, ambil kalo bisa!" ujar Ari.
Vira mengejar Ari yang berjalan keluar kelas, "Ari, kembaliin!" teriakan Vira tidak membuat Ari menuruti perkataan cewek itu, "Kembaliin, Ri!"
"Ayo, sini ambil kalo bisa." kata Ari terus berjalan, Vira masih mengikuti cowok itu. Vira meloncat tinggi dan menangkap kertas miliknya.
"Yes! Kena." ujar cewek itu.
Ari terkejut dengan Vira yang begitu dekat dengannya, cewek itu tersenyum penuh kemenangan dan turun dari tubuh Ari yang tadi ia lompati. cowok itu membuang muka saat Vira menatapnya, mata Vira menatap Ari yang bergelagat aneh.
***
Duduk di depan kelas, Ari menyilangkan kakinya menatap Vira yang tersenyum lebar melihat soal yang sekarang ada di tangannya, "Seneng banget kelihatannya." ujar Ari. Vira melirik ke arah Ari yang duduk di sampingnya.
"Jelas dong! Ini kan soal yang kemungkinan semester ini keluar." jawab Vira.
"Cih, percaya banget."
Vira berbalik, "Percayalah, lagian lo ngapain ke kelas gue" "Sana balik." usir Vira mengibas-ngibas tangan, Ari masih duduk di depan Vira tidak menghiraukan cewek itu mengusirnya.
"Ngusir nih! ceritanya..." ucap Ari.
mendengus, "Habis, bukannya bantuin malah gangguin. bikin jengkel." sahut Vira cemberut, melipat tangan nya di dada.
di ambilnya lagi kertas milik Vira, cewek itu melotot ke Ari. "Mau di bantuin nggak?" tanya Ari yang melihat sekaligus membaca soal di lembar ujian tersebut. Vira terlonjak berdiri di depan Ari, cewek itu memasang mata imutnya.
"Serius!?" tanya Vira dengan suara cukup keras, yang membuat sebagian orang yang lewat di depan mereka menoleh, Ari mengangguk samar. ia tidak tahan jika menolak keinginan Vira, walau menuruti rencana Vino bukan berarti Ari akan benar-benar bersikap Bad Boy, dia akan tetap Good Boy.
***
"Ari, apaan sih! Itukan makanan gue, jangan dimakan dong!" seru Vira yang memukul-mukul Ari di kantin, karena cowok itu tiba-tiba datang dan memakan-makanan Vira. Padahal Vira baru makan sesendok dari nasi goreng, dan tiba-tiba Ari mengambil piring Vira.
"Hmmm.... Enak."
"Pesen sendiri sana." kata Vira mencoba mengambil kembali nasi gorengnya tapi tangan bebas Ari menghalangi tangan Vira yang ingin mengambil nasi goreng miliknya.
"Nggak mau, enakan ini." kata Ari menyuapi mulutnya Nasi goreng Vira.
Riva, dan Muri yang ada dimeja yang sama dengan Vira dan Ari hanya melihat dan tidak ada niat untuk menglerai dua orang yang sedang rebutan Nasi Goreng. Seorang cowok menghampiri meja mereka, menaruh sepiring Nasi Goreng di depan Vira, cewek itu mengangkat kepalanya.
"Kak Aji."
senyum Aji akan membuat fansclun nya meleleh termasuk Vira tapi itu dulu, Aji melihat Vira, "Dimakan ya?" kata cowok itu, jalan meninggalkan Vira dan Ari. Ari menatap Aji yang berjalan menjauh kembali ke gerombolannya, Ari melihat Nasi Goreng di depan Vira. Cowok itu berdiri dari duduknya berjalan pergi tanpa sepatah katapun, Riva mengikuti arah perginya cowok itu.
***
__ADS_1
Muri menyenggol lengan Vira, "Cieeee... Kak Aji, Vir." ujar Muri menggoda Vira, tatapan Vira malah jatuh ke punggung Ari yang berjalan pergi.
"Apaan sih!" ucap Vira mengambil piring bekas Ari.
"Lho, Vir. Ada makanan masih utuh kenapa malah milih yang bekas?" tanya Dian yang baru datang.
"Buat kamu aja, Yan." kata Vira mendorong piring yang masih utuh ke Dian, dengan senang hati Dian menerima piring nasi goreng dari Vira.
"Dian, jangan itu kan dari Kak Aji khusus buat Vira dari hati." kata Muri mengelingkan matanya, menakupkan tangannya dan dimiringkan kepalanya. Gerekan tangan Dian saat memasukan nasi goreng kemulutnya terhenti, ia melirik Vira yang memakan nasi goreng yang tinggal setengah itu.
"Nggak jadi deh." kata cewek itu.
"Udah makan aja, rezeki itu harus diterima jangan di tolak." kata Riva yang ikut nimbrung.
***
Vira memukul-mukul Ari yang mengganggu dirinya, cowok itu malah tertawa terbahak-bahak karena berhasil melihat membuat Vira kesal. Ari lari-lari menghindari serangan Vira yang terarah kepadanya, beberapa orang-orang melihat ke arah mereka. Dan beberapa dari mereka terpekik melihat adegan Vira dan Ari, sedikit yang berteriak tertahan ketika melihat idola mereka dipukuli Vira.
"Argh, lihat! Ari!" histeris cewek-cewek.
"ARI! JANGAN LARI LO!" teriak Vira yang berlari di belakang Ari sambil membawa tongkat sapu. "Gue nggak terima, lo udah kelewatan. Dasar cowok nyebelin. Berhenti lo, Ri!" teriak-teriak Vira masih mengejar Ari, cowok itu masih tertawa-tawa melihat Vira belum menyerah mengejar dirinya.
***
Seorang cewek duduk manis melihat ke luar jendela, menikmati setiap pemandangan di luar sana. Matanya terpejam, Satu tangan menopang kepalanya sedangkan tangan lainnya sibuk mengetuk-ngetuk meja kecil di depannya.
Seorang bapak penjual makanan dekat, berjalan ditengah-tengah kursi penumpang menawarkan dagangan yang beliau bawa.
"KANGCIMEN KANGCIMEN?" teriak Bapak penjual asongan di dalam Bus, "kangcimen, non, kacang, kuaci, permen." kata bapak itu menawarkan dagangannya.
Tari menggeleng, sambil tersenyum. "Terima kasih, Pak." jawab Tari, kembali menatap keluar jendela.
"Akhirnya lega." ujar seorang cewek yang baru datang.
Mbak Lika mengangguk, "Iya, Tar. Udah lega, kita sampai ke sana jam berapa?" tanyanya duduk di depan Tari.
"Hm, satu jam lagi mungkin." jawab Tari.
"Argh, pengen rasanya cepet sampai." kata Mbak Lika, Tari mengangguk. Cewek itu memejamkan matanya.
***
'Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya.' ucap Tari di dalam hatinya.
Bus yang di Naiki Tari berhenti di Terminal, ia dan Mbak Lika turun dari gerbong kereta dan berjalan ke pintu keluar. Di Luar terminal, dengan sekuat-kuatnya Tari menghirup udara sebanyak-banyaknya, menikmati kota yang telah lama Tari ingin kunjungi. Sebuah mobil berhenti di depan Tari dan Mbak Lika, keluar seorang Pria dengan pakaian rapi.
"Om Brama!" teriak Tari.
Pria itu tersenyum menghampiri Tari dan Mbak Lika, yang berdiri di pinggir Trotoar, "Apa kabar, Tari?" tanya Om Brama atau sering di panggil Om Bram oleh keponakan-nya. Tari tersenyum, lalu menghempaskan tubuhnya ke dalam pelukkan Om Bram.
"Baik, Om. Om dan Bulek, bagaimana?" tanya Tari yang sudah lama merindukan Om dan Buleknya.
"Semua-nya sehat, bagaimana dengan keluarga yang ada disana?" tanya Om Bram.
Tari menarik nafas berat, membuat Om Bram menatap Tari penuh tanya. "Semuanya sehat dan baik-baik saja? Mami dan Papi nitip salam buat Om dan Bulek.." jawab Tari penuh kecerian, senyumnya tak lepas dari bibirnya.
Membuat Om-nya itu bernafas lega. "Syukurlah, kamu ini bikin Om takut saja?" ujar Om Bram, " Kalo Nenek bagaimana sehatkan?" tanya Om Bram.
Tari tersenyum, "Nenek sehat, Om. Kalo saja Papi lagi nggak sibuk mungkin sudah datang ke sini bersama Nenek" tutur Tari.
"Eh ini siapa?" tanya Om Bram.
"Aduh, Tari lupa. Kenalin Om, ini Mbak Lika yang disuruh Papi buat nemenin Tari ke sini, nggak apa-apakan, Om. Kalo Mbak Lika tinggal disini?" tanya Tari.
__ADS_1
Om Bram mengangguk, "Iya, nggak apa-apa?" jawab Om Bram menepuk-nepuk bahu Tari, dan menyuruh Tari masuk ke dalam mobil.
***
"Arggh!..."
"Ada apa?" tanya Riva yang duduk di sebelahnya, Vira menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya hasil Ulangannya mendapat salah satu nilai terburuk di kelasnya, ke dua telapak tangannya menutupi wajahnya. Rasanya malu menyadari betapa bodoh dirinya, sebuah tepukan pelan di bahunya membuat Vira melepas ke dua tangannya di wajahnya.
"Kenapa lagi?" tanya Ari yang tiba-tiba muncul di kelas Vira.
Di berikannya kertas hasil ulangan minggu kemarin kepada Ari, dengan wajah menatap ke arah jendela, dengan enggan Ari menerima kertas yang diulurkan Vira kepadanya.
Terdengar tarikan nafas berat dari cewek yang berdiri di sampingnya. "Tu kan udah gue bilang, kalo ada ulangan belajar, Vir. Jangan kerjaan main meluluk." tegur Ari.
Vira memasang wajah cemberut, "Mana gue tahu kalo ada ulangan, nggak ada yang ngasih tahu kalo bakal ada ulangan." batah Vira dengan cemberut.
"Tapi kan seharusnya lo belajar di rumah, jangan nunggu ada yang kasih tahu. Satu lagi, lain kali inisiatif kek." ujar Ari jengkel.
"Bodo' ah, gue mau ke kantin." ucap Vira pergi dari bangkunya, Riva yang melihat hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah cewek yang ia suka.
beda lagi dengan Ari yang langsung berlari mengejar Vira, sepertinya ngambek dengan Ari yang membentaknya.
***
"Hai, gimana tadi ulangannya?" tanya Aji yang duduk di samping Vira yang melamun di lapangan Basket.
Vira menoleh menatap Aji, "Ancur, Kak." jawab cewek itu.
"Kok bisa, memang kamu nggak belajar?" tanya Aji lagi.
Vira menggeleng, "Enggak, habisnya nggak ada yang ngasih tahu kalo ada ulangan." jawabnya. Dari saku celana Aji, cowok iu mengeluarkan permen.
"Ini buat kamu." kata Aji.
"Permen." cowok itu mengangguk, Vira menerima permen yang diberikan Aji.
"Makasih ya, Kak." jawab Vira.
Dari jauh sepasang mata menatap ke arah dua orang yang duduk berdekatan, kedua tangan mengepal erat sampai kuku memutih. Sosok itu berbalik meninggalkan tempatnya, Ari dari balik pilar melihat ke arah Vira bersama Aji. Mata elangnya mengamati dua orang yang saling bercakap-cakap, Ari hanya diam saja sambil melihat.
"Kamu suka kan sama Vira."
Ari melirik sosok di sampingnya, "Hm,"
Cowok itu menepuk bahu Ari, "Berjuang!" teriak Rey berjalan pergi cowok itu bernyanyi-nyanyi nggak jelas seperti biasanya.
***
setelah Aji pergi muncul Ari, cowok itu mencabut permen yang di pegang Vira dan menggantinya dengan coklat. "Lo lebih suka ini kan dari pada yang ini." kata Ari menaruh sebatang coklat ke tangan Vira.
"Jadi kita tukeran?" ucap Ari menjawab pertanyaan di wajah Vira.
"Thanks kalo gitu." kata Vira.
Tangan Vira membuka kemasan coklat dan menikmati rasa manis dengan perpaduan Stroberry yang asam, Ari memang bisa mengerti selera Vira. Cowok itu mengupas bungkus permen, memasukan ke dalam mulutnya. awalnya ia berniat membuang permen tersebut tapi Ari urungkan niatnya itu, dan berakhir di mulutnya sekarang.
Mereka saling diam menonton anak-anak bermain basket, Vira mengamati Ari. "Lo nggak ikut main?" tanya Vira.
"Nggak, malas."
"Kenapa?"
"Malas saja," jawab Ari melepaskan permen dari mulutnya ketika melihat Aji yang berjalan di depan mereka berdua.
__ADS_1
***